Dan Orang memanggilku FERI



Saturday, February 26, 2005
KIsah CInta V

KAU TOLAK CINTAKU DENGAN BASMALLAH V

Jama’ah Shalahuddin menjelang Ramadhan

 

 

 
BAB II

PIR 21

Saat Cinta Disemaikan

 

17 Oktober 2003

 

“Aku merencanakan untuk mendapatkan tujuan sampingan pada PIR21 kali ini, Jujur saja, apakah ada yang keberatan dengan itu?”tanyaku dengan nada agak berseloroh.

“Gaaaaakk” jawab teman-teman pemandu hampir serempak sambil tertawa. Mereka maklum dan tahu persis betapa aku, dengan usiaku yang 27 tahun, sudah layak untuk dapat pendamping. Mengingat momentum PIR demikian penting bagiku untuk menjadi sarana berinteraksi dengan mereka-mereka yang diluar. Sebenarnya, agak pesimis juga untuk mencari pendamping via PIR. Kenapa? Karena menurutku pesertanya adalah mahasiswa yang notabene lagi anget-angetnya kuliah. Jadi, paling-paling nyantolsama pemandu-pemandu yang ada di luar Budi Mulia (BM).

“Oke, kalo gitu ya ayo dilanjutin koordinasi selanjutnya,”tawar Andri, bos pemanduan yang berbadan rada tambun.

 

23 Oktober 2003

***

Ruang Kelas BM, malam hari pas pelatihan calon-calon pemandu. Semuanya baru kelihatan, baik ikhwan dan akhwat. Paling tidak saya tahu siapa-siapa yang menjadi pemandu, baik dari dalam dan dari luar.

“Ehm, sekarang permainan melempar bola untuk media saling kenalan ya,” kata pak Ismara. “Nah, dimulai kamu. Saya lempar bola kemudian sebutkan nama dan umur.”

Bola dilempar  ke teman sebelahku. Lalu ke aku.

“Feriawan, 27 tahun”

“Haaaa…ha….ha…”

Yah, nasib. Apa salahnya usiaku? Ya nggak salah. Tapi di kelas ini aku paling tua. Jadi lucu memang.

“Permainan ini bisa dikembangkan lagi, misalkan ditambahi sudah punya jodoh pa belum…”

“Belum,”selorohku polos. Baru tahu kalo aku tidak tahu malu.

 

20 November 2003

 

Kamal, salah satu peserta PIR menghampiriku.

“Eh, geneyo antum durung nikah-nikah. Ngenteni apa sih?(Eh, kenapa kamu belum nikah-nikah. Nunggu apa sih?)

“Wah, ditolak terus je?”(Wah, Ditolak melulu )

“Mosok ganteng-ganteng koyok sampeyan ditolak”

“Lha poso-poso ngopo goroh?”(Lha puasa-puasa kenapa harus bohong)

“Ping piro?”(Berapa kali)

“lima”

“Haaa..  ha..ha..”(Ketawa)

“Cak, sebenarnya saya ini memang lagi cari pendamping. Tapi, sekarang ini saya kan gak tahu siapa-siapa yang siap untuk  dinikahi.”

Kamal mengrenyitkan dahi.

“Ada sepasang suami istri yang lagi I’tikaf juga di sini. Saya pikir mereka akan bisa membantu, menghubungkan lah. Kamu nulis dan doa aja. Nanti biar yang lainnya saya atur. Insya Allah mereka akan carikan yang terbaik untuk kamu.”kata Kamal.

“Bener? Wah Jazakallah”

 

22 November 2003

 

“ Surat sudah saya sampaikan”kata Kamal. Makin banyak doanya saja.

“Siapa sih dia?”

“Aku ga tahu. Kamu nanti  akan dihubungi sama Suami Istri yang sekarang dah pulang itu.”

Kriiiiing, sore hari telpon LABDA berbunyi.

“Ass ww, Halo, yaaaa..saya sendiri.”

“Oh..begitu”

“Siapa? Melati?(Disamarkan)…. Yaa..ya… nomornya 081XXXXXXXXX baiklah…ya…ya…IA saya akan kontak dia secepatnya. Heeh..wah makasih atas bantuan mbak ya. Ya…ya… Jazakillah. Wassalam wr.wb.

 

24 November 2003

 

<SMSMelati> Akhi, apa akhi yang menuliskan biodata. Saat ini saya bawa biodata akhi. Saya kira akhi perlu tahu yang mana saya. Saya yang tadi malam pake kacamata, baju bunga-bunga, rok hijau.

<SMS balas>ya, benar. Cuma saya tidak ingat yang mana Ukhti. Apa bisa pagi ini saya mengetahuinya?

<SMSMelati>Pagi ini saya akan pakai jilbab putih baju biru rok hitam.

<SMSbalas>Baiklah, saya akan perhatikan dari beranda masjid.

Jam 6 Pagi di beranda masjid. GIIIIILLAAA, kok hari ini yang pake rok hitam, kerudung putih dan baju biru ada 4 orang. Yang mana ini, wah bisa gila aku.

<SMSbalas>Maaf, pagi ini saya melihat orang dengan ciri yang sama ada empat orang. Saya jadi pusing.

<SMSMelati>Saya yang dijemput bapak ibu pake mobil merek kijing.

<SMSbalas>alhamdulillah, ternyata itu ukhti. Seperti yang saya duga.

 

24 November 2003

Siang Dalam bis kota jurusan Jogja-Semarang

“Rini, suatu saat nanti akan ada akhwat yang menanyakan tentang siapa saya. Jawab saja sejujur-jujurnya”

“Wah, siapa mas. Pemandu ya?”

“Maunya?”

“Siapa?”

“Ah, nanti kamu juga tau.”

“Penasaran aku mas.”

………

 

27 November 2003

<SMS asing> Aww. Halo..ini mas Feri ya. Lagi ngapain nih?

<SMSbalas> www. Benar, ini siapa?  Ukhti atau Akhi.

<SMSasing> Ukhti, mas ferry yang rajin cuci piring itu khan?

<SMSbalas> Lho kok tahu. Memangnya Ukhti siapa.

<SMSasing> Jelas. Mas juga yang pernah ditolak 5 orang khan?

<SMSbalas> Lho? Kok tahu juga. Ukhti ini siapa sih.

<SMSasing> Tebak aja. Kapan saya bisa main ke LABDA.

<SMSbalas> Kapan saja. Nanti saya ajak Ukhti jalan-jalan ke dekat sungai, indah lho pemandangannya.

<SMSasing> Gak ah..nanti kecebur

 

28 November 2003

<SMSasing> Oke dah. Nama saya Carrie, peserta PIR.

<SMSbalas> Yang mana Ya?

<SMSasing> Yang kemarin nawarin Kaos Amien Rais itu.

<SMSbalas>   Gak ingat ah…

 

14 Desember 2003

 

Taaruf pertama dengan Ukhti Melati. Ilham dan Mas Gofur ngobrol agak jauh. Saya, Ukhti dan Bu Ghofur membentuk forum sendiri. Tidak banyak yang diialogkan kecuali saya mesti membalas pertanyaan-pertannyaan Ukhti berkaitan dengan  akhlak, aqidah, keanggotaan liqo saya dll.

Malam hari, muncul pula sms dari Ukhti:

<SMSMelati> Akhi orangnya sok, sombong dan menyebalkan. Saya benci akhi

<SMSbalas > Untuk itulah saya butuh ukhti sebagai pendamping.

<SMSMelati> Saya bisa gila punya suami seperti akhi. Saya tidak mau. Saya tidak suka Akhi yang modelnya baca-baca pemikiran seperti pak Munir, cak Nur dll

<SMSBalas> Saya tidak keberatan ditolak. Saya terima. Tapi tolong jangan benci saya. Apakah sesama muslim dibenarkan saling membenci?

<SMSMelati> Maaf, saya khilaf

<SMSBalas> Tak apa, saya bisa mengerti. Ingat kata Aa Gym. Akhlak adalah apa yang keluar dari mulut kita secara spontan. Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk kita.

 

15 Desember 2003

<SMSMelati> Saya sudah menghubungi beliau, orang yang sanggup menjadi murobbi akhi.

<SMSbalas> Terimakasih, sekarang tidak ada lagi hutang ukhti kepada saya. Maka ukhti bisa melupakan saya agar tidak membebani pikiran Ukhti.

<SMSMelati> akhi, maafkan saya. Apakah akhi bersedia memaafkan saya?

<SMSbalas> Sudah saya maafkan. Sekarang jangan pernah hubungi saya lagi.

<SMSMelati> AKHIIII SAYA SUNGGUH MINTA MAAF. APAKAH AKHI MEMAAFKAN SAYA

<SMSBalas>SUDAH SAYA BILANG JANGAN HUBUNGI SAYA LAGI. UKHTI AKAN SESAT KAN, JIKA MASIH BERHUBUNGAN DENGAN SAYA?

 

16 Desember 2003

….waduh….kemarin saya ngomong apa. Waduh, gimana nih? Namanya sudah saya hapus di phonebok saya. Gimana cara saya minta maaf? Mana buku kenangannya gak ada lagi, udah habis dibagiin sama peserta. Ya Allah. Nasib dah !

17 Desember 2003

Suatu pagi, ba’da sholat dhuha.

<SMSMelati>Akhi, apakah akhi bermaksud mengakhiri taaruf kita.

Deg….jantungku deg-degan. Alhamdulillah, masih ada harapan untuk minta maaf

<SMSbalas>Tentu saja saya masih ingin. Maafkan saya ya Ukhti, kemarin saya telah berkata kasar kepada Ukhti.

<SMSMelati>Tidak apa-apa. Sekarang saya jadi tahu bagaimana meledaknya Akhi. Jujur saja, saya memang ada shock menerima surat Akhi. Saya tidak menduga mendapat peristiwa secepat ini.

 

Dan..selama seminggu pun kita saling berSMS ria untuk bisa tahu pribadi masing-masing.

 

 


BAB III

30 Hari Mengejar Ta’aruf

 

 

Melompat Lebih Tinggi

by Sheila On 7

 

Kita berlari dan teruskan bernyanyi

Kita buka lebar pelukan mentari

Bila ku terjatuh nanti

Kau siap mengangkat aku lebih tinggi

 

Seperti pedih yang telah kita bagi

Layaknya luka yang telah terobati

Bila kita jatuh nanti

Kita siap untuk melompat lebih tinggi

 

Bersama kita bagai hutan dan hujan

Aku ada karena kau telah tercipta

 

Kupetik bintang, untuk kau simpan

Cahayanya tenang, berikan kau perlindungan

Sebagai pengingat teman

Juga sebagai jawaban

Semua tantangan

 

Sebelum waktu memisahkan detikku, detikmu

Sebelum dewasa, menua, memisahkan kita

Degupan jantung kita akan selalu seirama

Bila kau rindu aku

 

--

 

 

Sebuah Email dariku melayang ke alamat Ukhti…..melati122108@surga.com 

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Sholawat ba’da tahmid wa tahlil.

Ukhti yang dirahmati Allah SWT, lengkap seminggu lebih kita dipertemukan Allah dalam lingkar ta’aruf dengan niatan untuk menikah, membangun mahligai rumah tangga yang insya Allah SAMARA (Sakinah Mawwadah Warahmah). Maka, adakah yang………………………………………………………………………………………………………..^-^ (kok kayak naskah pidato gini???) jadi kebablasan. Hi..hi..

Ukhti, sampai detik ini saya masih tidak merubah sikap saya kepada Ukhti, sejak pertama berkenalan dulu. Tetapi, saya belum tahu gimana sih ceritanya ukhti yang katanya sampai sakit perut dan …..ahh…terlalu mikir kali ye???Tapi memang tiap orang berhak memaknai segala sesuatu yang itu dirasa penting bagi dirinya. Might be, bagi Ukhti taaruf tersebut begitu penting. Dan saya yakin bahwa ini adalah yang PERDANA bagi ukhti sementara saya sudah ISI ULANG.

Mari kita reviu sejenak seminggu ini: masih ingat bagaimana saya menjadi ‘terdakwa’ yang diinterogasi oleh pertanyaan-pertanyaan Ukhti. Wis jan, ini bedaaaaa banget dengan taaruf-taaruf saya sebelumnya dimana saya menjadi pengendali forum dan bisa memainkan suasana sehingga santai, menyenangkan dan ada tawa sana-sini. Ini kok lain: bayangkan saja, Ukhti bawa segepok pertanyaan yang isinya ‘menelanjangi’ keislaman saya. Mana pertanyaannya berat-berat lagi.

Sudah saya tekatkan dari pondok bahwa saya akan berkata jujur, apa adanya, apapun yang terjadi, apapun hasilnya. Bagi saya kejujuran adalah yang terbaik untuk memulai segalanya, bagaimanapun dalam taaruf yang dilibatkan bukan hanya logika, perasaan tetapi juga hati dan yang terpenting adalah persaksian Allah atas niat yang dimulai sebelumnya.

Sekilas nampak memang wajah ukhti begitu tenang walaupun ada sesuatu yang tertahan. Sesuatu yang nampaknya berasal dari ‘kurang persiapannya’ukhti. Dan…..pertanyaan demi pertanyaan sudah saya jawab dan saya sangat yakin hasilnya akan negatif.

Benar saja…..dan lebih parah lagi karena di sms yang tertera di monitor hp saya berhiaskan NYANYIAN yang MERDU. Ha..ha….Jujur saja kalo saya sakit banget karena kejujuran dan ungkapan perasaan Ukhti. Dalam hati saya mbatin: ini orang sudah diberi kejujuran kok malah marahin saya. Tetapi bukankah segala yang diniatkan untuk Allah mesti diterima apa adanya, sepahit apapun? Saya ingat nasihat Aa Gym: kalau minder bisa nylesein masalah..ya minder aja ! Kalo marah bisa ngeberesin masalah..ya marah aja…Hai dengar !!!Mendingan menyelesaikan masalah tanpa marah, minder, dll. Senyum…tegar…!!!

Ya..udah senyum aja. Sok kuat…gitu …ha..ha dan singkat cerita sampai puncak kemarahan saya itu.

Eh..kalo boleh jujur saat itu nama Ukhti telah terhapus di phonebox HP saya. Semuanya telah berakhir. Semua sudah tamat sampai di sini. Eh..selang beberapa detik saya nyesel banget..kenapa? Karena saya udah salah: menutup persoalan dengan amarah. Saya dosa.

Jadi dalam hati saya b’doa semoga masih diberi kesempatan untuk minta maaf. Saya harus mencari di buku kenangan PIR nomor Ukhti yang ndilalahnya gak ada satu pun yang tersisa di pondok selain di dokumen PIR komputer yang saat itu terpassword.

Tepat di kebingungan saya selama sehari muncul hp saya nada sms masuk. Dan ternyata nomor Ukhtilah yang masuk. Kita pun ‘rujuk’lagi.

Momentum yang seperti apa yang membangun komunikasi, sehingga jika kita mesti berpisah maka tidak ada dendam dan sakit hati? Begitu yang terngiang-ngiang di dalam pikiran saya. Ah… momentum tarbiyah ini adalah jalan yang baik untuk membuka katub-katub yang selama ini ada di antara kita. Yang jelas, saya masih ‘asing’ untuk memasuki dunia ukhti. Layaknya virus yang mendapat serangan bertubi-tubi dari antibodi tubuh. Tetapi, pendekatan yang paling baik adalah hati. Maka gunakan bahasa hati.

So…mulailah serangan-serangan nakal saya via sms yang kesemuanya berisi keisengan-keisengan ringan. Targetnya satu: Ukhti tersenyum aja kepada saya dan tidak menganggap saya mahluk aneh yang sok serius dan nyeleneh: kaya pak munir atau kayak nurcholis.

Alhamdulillah : entah apa yang terjadi, saya berdoa saja semoga Allah membukakan pintu hati Ukhti agar bisa menerima saya seperti apa adanya. Niat saya Cuma itu, saya gak ada target  diterima sebagai calon suami. Bagi saya, diterima sebagai sahabat saja dah cukup. Masak minta lebih…..

Dari jawaban-jawaban Ukhti saya bisa tahu bahwa Ukhti ternyata tidak seSANGAR topeng yang dulu dipasangnya. Jalinan komunikasi bisa terbangun baik sehingga kalaupun harus berpisah maka bisa dilakukan dengan cara baik-baik.

Hari kelima dan keenam, jauh dari target yang saya duga, ternyata kita malah bisa bicara idealisme, sifat-sifat dan sampai perihal bayangan tentang pernikahan besok. Bahkan, saya merasakan bahwa kita sudah bisa mulai merasa sehati: ingat ketika saya medapat kecelakaan: nada sms ukhti menunjukkan batapa perhatian ukhti pada saya. Lebih jauh lagi malam-malam ada telepon masuk ke BM (saya yakin itu telepon Ukhti). Misscall dan lain sebagainya. Saya tersanjung (kayak sinetron aja).

Meskipun….pada akhirnya saya belum mendapatkan ketegasan dari Ukhti: sanggupkah Ukhti menerima pria seperti ini? Ketika pagi-pagi dengan tertatih-tatih (karena jari kaki kiri saya remuk) saya setengah berlari dari kamar saya ke kantor LABDA dan mengusir beberapa teman yang ada di sana ketika nonton film kartun. Saya membujuk mereka dengan alasan ini adalah persoalan masa depan. Maka walaupun menggerutu mereka masih bisa senyum kepada saya. Ah..mereka adalah teman yang baik.

Sampai dengan hari ini. Adalah hari dimana saya harus menjaga hati saya: bahwa semua ini masih pada dataran taaruf dan saya masih belum punya ikatan apapun dengan Ukhti kecuali ikatan taaruf itu sendiri. Semua khayalan yang melitas di kepada saya coba tepiskan walaupun setiap saat saya bermimpi-mimpi indah: Masya Allah, seolah saya tidak mau kehilangan Ukhti. Tetapi saya sadar bahwa inilah ujian dari Allah yang paling berat: saya harus rela kehilangan jika sewaktu-waktu Ukhti memang tidak mengikhlaskan saya sebagai calon suami Ukhti. Ukhti, ini lauh lebih berat daripada taaruf-taaruf sebelumnya yang hanya berjalan tiga hari sampai dengan empat hari dan tidak ada kecocokan apapun dari saya kepada mereka yang taaruf. (kalau yang ditolak, itu karena memang saya ngomong  langsung kepada Ukhti, tanpa proses taaruf).

Ukhti, setiap orang memang boleh memiliki harapan, dan harapan saya adalah menjadi suami bagi Ukhti. Sementara bagi ukhti, mungkin saya bukan pria yang sempurna seperti yang terbayang dalam mimpi-mimpi Ukhti. Mungkinkah dua hal itu menyatu?

Ketika Ukhti bercerita tentang Ikhwan UPD, bagi saya ini adalah bahan menarik buat saya untuk bercermin. Sayangnya, saya berusaha menggali apapun yang berkaitan dengan ikhwan2 UPD. Saya tanyai teman-teman JS, saya gali informasi dari internet. Tetapi memang saya tidak berhasil mendapatkan…ah..ya sudah…jadi diri sendiri aja.

Andai ukhti bersedia, saya ingin memperoleh informasi tentang teman2 UPD itu. Semoga saja saya bisa seperti mereka, sebaik mereka. Sekalipun itu hanya untuk diri sendiri. Dan mungkin …esok hari ukhti sudah bersama yang lain.

Ah….mungkin itu saja evaluasi seminggu bersama Ukhti. Ukhti boleh menanggapi, boleh membalas, untuk dilupakan ataupun untuk dikenang. Yang jelas saya senang bisa mengenal orang seperti Ukhti.

Barakallahu mina wa minkum

Wassalamualaikum wr.wb.

 

 

 

 

Feriawan

 


Memilihku atau Tidak Sama Sekali

 

Kriiiing…..

Telpon di Kantor Labda Berdering.

“Hallo, Assalamu’alaikum.”

“Waalaikum salam.”suara perempuan yang ada di seberang sana.

“Bisa Bicara dengan Feriawan?”

“Ya. Saya Sendiri!”

“Ooh. Ini saya, Melati,”katanya dengan sedikit ketawa.

“Melati siapa?”, kataku pura-pura tidak tahu.

“Melati…Melati Khairun Nisa, masa gak kenal sama suara saya?”katanya masih agak tertawa.

“Ya..ya..sudah tahu kok..ha..ha..ha, saya Cuma bercanda”

“Akhi ini lho. Selalu saja njahilin saya.”

“Habis Ukhti bawaannya serius melulu. Memangnya urat-urat di kepala gak pernah dikendorin tuh.”

“Enggak.”

“Wah…”

“Kenapa?”

“…….”aku mendiamkannya selama beberapa detik

“Kenapa?”katanya tidak sabar.

“Sssst….jangan diganggu dulu…!!!!”kataku setengah menghardik.

“Kenapa Akhi?”

“Saya sedang berkonsentrasi untuk serius !!!!”kataku dengan nada seperti robot.

“ Akhiiiiiiii………iiii”

“Haaa.haaa…ha..ha…!”

“Akhi, sebenarnya ada hal yang harus saya utarakan. Akhi tahu, segalanya sangat mendadak bagi saya. Saya sangat takut memutuskan sesuatu tanpa hadirnya murobi saya. Dulu, di UPD, segala hal bisa saya konsultasikan dengan murobi. Apalagi yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang menyangkut hal-hal penting dalam hidup saya. Saya udah transfer Murobi ke Jogja. Tapi untuk konsultasi ini itu sangat tidak mungkin bagi saya, dalam waktu sesingkat ini, bisa mendialogkan tentang akhi.”

“Hmm, lalu?”

“Ya…saya minta Akhi bersabar, ya. Kalau memang jodoh, toh nantinya akan bertemu juga.”

“Jangan khawatir Ukhti. Sampai saat ini saya bisa ngerti kok, gimana sulitnya Ukhti buat ngambil keputusan. Ukhti tu orangnya gampang gugup ya?”

“Iya. Saya ni orangnya homesick banget. Dulu awal-awal masuk UPD, saya paling sering pulang ke rumah Ortu. Seminggu sekali, bayangkan. Padahal jarak UPD dengan Jogja kan 300-an km. Saya sangat tergantung banget dengan rumah. Dengan Bapak sama Ibu. Teman-teman saya pun di sini dikit. Paling-paling teman seangkatan dan satu kuliah bareng.”

“Ukhti juga gak punya teman laki-laki.”

“He-eh.”

“Terus, komunitas bergaul Ukhti ?”

“Ya..itu, hanya di Liqo-an. Jujur aja Akhi, di rumah, saya banyak banget dapat pelajaran agama dari Ortu. Mereka kan aktivis Muhammadiyah. Sehingga nilai-nilai agama, ibadah dan lain-lain udah ditanamkan semenjak kecil. Tapi, baru dari komunitas tarbiyah ini saya mendapatkan sesuatu yang saya rasakan selama ini hilang. Bagaimana kita dijaga dari hal-hal yang tidak baik. Dapat ketenangan dan pencerahan. Kemudian…pokoknya banyak lah. Yang jelas kedekatan saya dengan Allah dapat terjaga.”

“Hmmm…saya ngerti.”

“Akhi, gimana tarbiyahnya?”

“Lancar, saya disuruh hapalan 10 ayat surah Ali Imron. Tapi Masya Allah…susah banget masuknya.”

“Latihan terus Akhi.”

“Ukhti, memangnya belum pernah taaruf sebelumnya ya.”

“He eh.”

“Keliatan,” kataku sambil tertawa kecil.”

“He..kenapa. Akhi, ada yang salah ya.”

“Ngga…ngga…tenang aja.”

“Akhi sendiri sudah berapa kali?”

“Emmm….lima kali, dan gagal semua?”

“Kenapa?”

“Pannnnjjanggg…nanti kalau kita bisa ketemu langsung.”

“Oohh”

“Emang kapan saya bisa ketemu sama Ukhti?”

“Belum saatnya.”

“Kapan?”

“Yaa..nanti kalau Murobbi Akhi dan Murobbi saya bisa dialog. Nanti biar dimusyawarahkan segala sesuatunya. Yang jelas Akhi baik-baik saja tarbiyahnya. Biar lancar.”

“Yahh…”

“Kenapa?Bukannya Akhi udah tau gimana fisik saya?”

“Ya..taunya kan pas kita ketemu dulu. Boleh gak saya minta fotonya?”

“Untuk apa?”

“Untuk ditunjukkan Bapak Ibu saya”

“Oohh…”

“Boleh gaaa,”kataku memelas.

“Nggak”katanya sambil tersenyum.

“Uh..”

“Kan yang pas foto di PIR dulu udah ada. Kenapa gak pake yang itu aja?”

Aku tersenyum kecil. Di kepalaku saya membayangkan fisiknya yang agak kecil, berkulit hitam,mengenakan jilbab warna biru kelam.

“ Ha..ha…”tawaku.

“Kenapa ketawa Akhi?”

“Engga, ukhti belum pernah liat fotonya kan?”

“Belum”

“Nah, fotonya itu kan pake kamera poket. Pas suasananya cahaya kurang, malam kan?”

“Terus?”

“Ya..itu. apalagi pake asa 200. Jangankan Ukhti, (menahan senyum,hi..hi…) orang mereka-mereka yang putih aja keliatan item…..(aku gak bisa menahan tawa) apalagi….(Ha..ha…ha…meledaklah tawa kami berdua).”

“Akhiiiiii……”dia juga tertawa meladak.

“Udah ya, Akhi. Segini dulu..Assalamu’alaikum.”

“Waalaikum Salam”

 

 

22 Desember 2003

Saya sudah baca Email dari Akhi. Terimakasih. Ternyata Akhi pandai sekali menulis.Tapi saya tidak tahu harus membalas apa.

Rilek aja. Itu kan Cuma evaluasi rutin, keisengan saya nulis. Ukhti ada aktivitas apa hari ini

Akhi. Apa pendapat akhi terhadap wanita karier. Saya sedang mencoba untuk memasukkan lamaran ke PT Kab Farma.

Memangnya? Saya sadar kalau biaya hidup tidak cukup seandainya disangga sama saya seorang. Asalkan, keluarga tetap menjadi prioritas dan suami dihargai sebagai kepala keluarga.

Terimakasih akhi. Ternyata baru beberapa hari tarbiyah Akhi sudah bisa menjadi qowwam yang baik. Saya tahu, saya harus belajar menjadi istri yang baik.

Oke. Ukhti bisa memasak? Seleranya masakan pedas? Asin dll?

Wah..tidak bisa memasak. Gak mahir, kecuali masakan sehari-hari. Selera masakan saya pedas tetapi tidak suka asin.

Bagus. Saya suka asin tetapi tidak bisa pedas. Terus saya akan mengajari Ukhti untuk bisa memasak kue, donat, kemudian daging dll.

Eh, akhi. Kalo taaruf, ngobrolnya jangan banyak-banyak. Entar pas nikah ga ada bahan yang mo diobrolin.

Ya…wiss..wassalam. Padahal kan sekarang ga termasuk taaruf.

 

24 Desember 2003

Aww.Akhi aktifitasnya hari ini apa. Saya sedang membaca koran dan siroh.

Www.Seperti biasa. Cek komputer, servis komputer dll. Apa kabar Ukhti?

Alhamdulillah. Baik. Akhi, apabila nanti saya bekerja di Jakarta bagaimana?

Saya akan berusaha


Posted at 08:49 pm by feriawan
Make a comment  

Kisah CIntaku IV

KAU TOLAK CINTAKU DENGAN BASMALLAH IV

(lanjutan KTDB II)

(Engkau Bintangku, Engkau Kayu Putihku, Engkau Si Hitamku).

(Pada episode kemarin terpotong sebuah surat kepada Neni, itu hanya sekilas iklan bahwa pada akhirnya Neni telah menikah. Kemarin...perkenalanku dengan Dayu mesra banget, dan kemudian suatu hari aku masuk angin. Dayu memberikanku ramuan kayu putih...buatannya sendiri.)


“Ya tidak hal. Nanti bisa nakutin akhwat. Sana..sambil berbaring di ruang putra.”dia berkata sambil sedikit ada nada memerintah halus.

Sampai di ruang putra au segera berbaring dan melakukan apa yang dia sarankan. Kaos kubuka. Minyak dengan bau rada tidak karu-karuan kuoleskan ke tubuh.

“Lho? Lho? Mas Feri mau ngapain!”tanya Huda yang tiba-tiba saja masuk ruangan putra.

“Mbakyumu itu. Suruh saya ngobati masuk angin sama minyak kayu putih ini.”

“Lho..kok baunya minyak tanah?”tanyanya sambil ketawa.

“Ini apa?”tanyanya lagi.

“Sari kayu putih sama mimyak tanah.”

“Siapa yang bikin?”

“Ya..mbakyumu itu.

“Entahlah..yang penting mari”, jawabku sekenanya. Huda berlalu keluar sambil tertawa. DI luar tampak kudengarkan dia berbincang-bincang dengan Dayu. Tak lama kemudian dia masuk lagi ke ruangan putra.

“Mas Fer. Kata Mbak Dayu kalau mau lebih cepat, nah minyaknya tadi diminum sedikit. Pasti ces pleng,”katanya.

“Ah..gak percaya. Itu akal-akalanmu saja, mau ngapusi aku.”

“Lho. Tenan iku.”

“Masak minyak seperti ini diminum?”

“Yaaa… terserah,”jawabnya sambil ngeloyor pergi.

Aku seolah tidak menanggapi kata-kata Huda. Tetapi lama-lama kok termakan juga. Seolah-olah ada bayangan Dayu yang sedang berbicara kepadaku ketika dia tadi berkata-kata. AH…apa salahnya.

Dengan sedikit menutup mata kuminum seteguk minyak yang bau dan aromanya minta ampun. Ah, mengapa aku seperti kerbau dicocok hidung ketika membayangkan Dayu. Biarlah.

“Lho? Mas? Diminum juga. Ha…ha…ha…orang saya tadi bercanda. Mbak! Mbak Dayu! Mas Feri minum minyak kayu putih campur minyak tanah. Ha..ha.ha.”

Huda muncul dan pergi  keluar begitu saja meninggalkan aku yang dongong. Aseeeeeemmmm.

 

Sesudah itu, interaksi aku dan Dayu makin sering. Sampai saat itu aku tidak terlalu gegabah untuk menebak bahwa dia mencintai aku. Bagaimanapun, mungkin saja saya dihinggapi rasa ge-er. Trauma terhadap rasa ge-er di benak ini sangat tinggi. Bagiku, ge-er itu sesat dan menyesatkan. Perasaan itu bisa jadi adalah indera yang paling sesat. Resiko ge-er bukan saja malu, tetapi juga membuat sejarah hidup menjadi memalukan. Tolol. Bodoh dan ingin menghilang dari kenyataan yang memalukan. Jadi, lebih mudah menipu perasaan daripada harus menanggung malu karena ge-er.

 Suatu hari, Nur, Tia dan Ani, adik-adik yang meng-kakak-kan aku di JS mengajak aku berbincang-bincang di ruang atas masjid.

“Mas Feri. Tahu ngga’ tadi malam aku ngobrol sama siapa.

Enggak

Aku ngobrol sama mBak Dayu.

Tentang?

Tengan Mas Feri.

Tentang Aku?

Iya.

Masa?

Sungguh. Dia kan nginap di kos ku.Kami mgobrol sampai jam tiga malam. Intinya, dia itu suka sama mas Feri.

Deg..deg…

Ah? Masa?

Begini, Mas. Waktu itu aku sedang bercerita tentang semua teman-teman kita di JS. Tetapi, saat kami membicarakan mas Feri. Eeeh..dia memintaku untuk lebih banyak bercerita tentang Mas, Gimana sifat-sifat Mas, gimana pengalamannya. Gimana kalo Mas lagi ngomong, lagi …ya..pokoknya gitu-gitu lah. Wah, wajahnya itu Mas. Wajahnya berbinar-binar dan bersemangat.

Aku sempat kaget lho mas melihat perubahan raut wajahnya. Kok bisa, gitu bayanganku. Lalu dia nambahi banyak tentang pengalamannya bersama mas Feri. Terus…

Terus apa?

Terus dia malah bertanya apakah dia bisa cocok sama Mas Feri. Dia bayangkan bagaimana besok kalo hidup bersama mas Feri. Katanya, dia akan banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman yang menarik.

Ehm

Iya. Wah, pokoknya seru baaangeeet. Kami ngomongin mas sampai tengah malam. Tahu ngga, ketika saya tanya bagaimana jika saya beritahukan percakapan kami sama Mas Fer, dia gak keberatan. Naaahhh…sekarang gimana Mas Fer?

Gimana apanya?

Mas Feri bisa tidak menerima dia?

Menerima apanya.

Aduh..mas feri ini pura-pura gak tahu deh. Mas Feri menyukainya apa tidak?

Ehm.

….

Ah, saya tahu mas Feri menyukainya. Saya yakin itu. Nah, sekarang saya ucapkan selamat buat Mas Feri. Semoga cintanya tetep anget. Dah ya mas. Selamat Tinggal Assalamu’alaikum

Wa’alaikum salam..hei mau ke mana. Aku masih pengen mgomong-ngomong nih. Hei..!!

Nur, Tia dan Ani meninggalkan saya sendirian di dalam masjid. Kepalaku masih diliputi tanda tanya. Tetapi perasaanku tidak bisa berbohong, aku bahagia sekali. Bahagiaaaa sekali. Harapan-harapan yang dulu pupus seolah dinyalakan kembali.

 

 

Seminggu berlalu. Seminggu lalu telah kuberikan padanya sepucuk surat tentang apa yang dikatakan Nur, Tia dan Ani Seminggu yang telah menelan tanda-tanya.. Seminggu lalu suratku berisikan semua harapanku yang tidak berbeda dengan harapan-harapannya. Ada perasaanku, ada isi hatiku, ada impian tentang masa depan. 

Akan tetapi mengapa sekarang menjadi dilema? Kenapa dia justru tidak muncul-muncul di JS? Mengapa justru terasa perpisahan yang berat? Adakah aku akan gagal lagi.

“Mas Feri,”kata Huda pagi itu.

“Ini ada surat dari Mbak Dayu. Jreg..jreng..jreng….!!!

“Sudah sana pergi saja.

“Oke Bos

“Makasih lo ya.

“Siiip.

 

Mas Feri

di Tempat

 

manusia boleh berharap, tetapi Allah jua yang menentukan. Saya takut mendahului takdir. Saya memang punya harapan, tetapi saya sadar bahwa itu bisa menjadi masalah ketika kita memang belum saatnya dipertemukan.

Semua memang salah saya. Saya minta maaf jika mas jadi seperti ini. Saya mohon luruskan kembali niat kita. Jangan ada lagi noda-noda yang membuat kita kehilangan arah.

Semoga Allah menunjukkan jalan yang lurus. Dan semoga kita bertemu di pintu sorga, kelak.

Wassalam

 

 

 

Ini…?..Ini maksudnya apa? Saya tidak mendapatkan jawaban terhadap suratku terdahulu. Bukankah aku memang ingin melamarnya? Bukankahrasa hati ini lepas dari semua yang dia katakan kepada Tia, Ani dan teman-teman lainnya? Bukankah semua adalah mauku? Mengapa harus ada maaf?

Lalu apakah dia menerima atukah menolak? Sungguh aku tidak tahu makna surat ini.Tapi biarlah…….

Mungkin ini bukan sebuah surat untukmu, tetapi seandainya kamu tahu Dayu. Aku akan menunggu jawaban darimu. Aku akan menyelesaikan skripsi secepatnya. Secepat-cepatnya dan melamarmu kemudian. Kamu tahu bahwa cinta bisa memberikan kekuatan. Cinta bisa membuat kesetiaan tumbuh. Cinta mampu menguatkan rasa-rasa yang mulanya hanya kecil, lalu bersemu, kuat dan kemudian mengakar.

Sekarang Dayu, semua itu telah berakar kuat dan semakin kuat. Aku tidak lagi begitu perduli apakah nanti akan kau terima atau kau hempas, yang jelas, dalamnya cinta adalah keyakinan. Aku tidak sekedar berjanji kepadamu, tetapi Allahlah saksinya bahwa aku akan setia di sini menunggumu, menunggumu sampai kau kembali.

Siapa bilang penantian itu membosankan? Penantian itu menyenangkan.

 

Lima bulan berlalu. Aku masih setia membangun impian. Aku masih belum lupa dengan impian-impian itu.

Skripsiku telah kelar. Semuanya telah usai. Betapa semua ilmu telah kuserap dengan sempurnya. Bayangkan: dua bulan menguasai statistik, SPSS dan teori penelitian kuantitatif sembari menngumpulkan data penelitian. Sungguh bukan hal yang mudah untuk membagi waktu, konsentrasi dan juga biaya.

Semua bahan-bahan tentang penguasaan statistik dan SPSS dapat dengan mudak ditemui di internet. Sungguh dunia maya membuat segalanya menjadi mudah. Malam hariku adalah malam-malam di warnet untuk menggali data guna menggenapi teori dan penguasaan statistik. Siang hari adalah saat-saat berjanji bertemu dosen pembimbing dan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ada. Sungguh bukan hal yang ringan untuk mendapatkan energi itu. Tetapi energi mana lagi yang mampu membuat manusia bergerak hebat, kecuali energi cinta.

 

Hari itu dua hari menjelang ujian skripsi. Semuanya telah selesai aku kerjakan. Pagi itu, Huda datang membawa berita.

“Assalamualaikum, Mas Fer,”sapanya.

“Waalaikum salam. Minta doa ya Hud, skripsiku ini biar dapat A.”

“Pasti kudoakan mas

Hei, wajahmu kok seperti itu. Ada apa nih.

Gak pa pa kok mas. Anu, saya ada berita

Berita apa

Berita sedih. Ini tentang mas Feri.

Aku? Aku tidak apa-apa kok. Apanya yang sedih.

Mas Feri cukup kuat kan kalau saya beritakan hal ini.

Ya. Saya kira begitu. Apa sih

Ini tentang Mbak Dayu.

Mbakmu itu? Ada apa

Besok dia menikah?

Apa….

…….

Ya.

Ohh….. Ya….bagus lah. Mestinya kita bahagia dong. Kok malah sedih. Ha..ha..ha. Mana undangannya.

Dia tidak memberikan undangan untuk kita. Katanya kehabisan.

Oh…ya… sudah. Sayang ya.

 Di hadapan Huda aku masih bisa tersenyum. Masih sangat bisa untuk menguatkan kepala ini agar tidak tertunduk. Masih bisa kualihkan pembicaraan kepada lelucon-lelucon yang membuat dia tertawa dan tidak bersedih. Masih bisa kualihkan percakapan tentang hal-hal serius tentang organisasi dan skripsiku. Tetapi hatiku tidak bisa berbohong. Aku hancur. Hancur…..

Ketika awal mula mengenal cinta dan kemudian kehilangan, sungguh kurasakan betapa susahnya menyusun kepingan-kepingan hati untuk bisa membangun ruang kosong demi cinta yang lain. Sungguh sekian banyak waktu harus dikorbankan demi menekan ego dan kekerdilan jiwa untuk tidak terkungkung dalam jeruji kekecewaan. Tetapi, begitu aku mencicipi sedikit saja manisnya cinta dalam ruang hati yang pernah hancur, mengapa demikian mudah roboh hanya dengan sekali tepuk. Mengapa tak seindah kisah dalam komik dan novel-novel.

Ada tanya dalam hati ini, kepada Allah, betapa berlikunya hidupku. Tetapi,mungkinkah ini awal dari semua yang indah-indah? Aku tak pernah tahu. Aku harus melanjutkan hidup.

 

Sore itu, aku terduduk di tangga tempat kita pernah berbincang, Dayu. Bintang di atas itu, tidak lagi bersinar. Bintang di atas itu telah gelap bersama hilangnya angin yang menarikan pohon-pohon kayu putih. Sinar surya tak lagi menyeruak ke dalam lorong-lorong tangga. Burung-burung tidak lagi melagukan nyanyian rindu. Daun-daun di luar berjatuhan dan terhempas di atas tanah kering, sekering hatiku. Kini, aku harus membangun kembali hati yang remuk ini.

 

Apa yang ada dalam benak Dayu ketika meninggalkanku? Sudah lupakah dia terhadap impian-impiannya?

Mas Fer. Mbak dayu kecewa mas.

Kecewa

Ya. Mbak Dayu malu karena telah banyak orang yang tahu tentang cintanya.

Maksudmu

Mas. Maaf kalau saya katakan bahwa mas terlalu menyebarkan kegembiraan mas ini kepada siapa saja. Dayu mendapat teguran dari murobi, terkucil dari komunitas dan kemudian langkah kontemplasinya adalah segera menikah. Segera menikah dengan orang yang dirasanya memiliki kekuatan agama yang lebih. Lebih baik dibandingkan dengan Mas Fer.

Oh…….

Ya. Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu besar mulut. Aku terlalu gembira sehingga terlalu banyak yang tahu. Lupa bahwa Dayu adalah anak tarbiyah yang demikian hati-hati menjaga hati. Lupa bahwa cinta harus tumbuh di atas garis yang benar, garis yang telah ditentukan oleh syariat.

Selamat jalan Dayu. Semoga kita benar-benar bertemu di pintu sorga. Aku di sini akan selalu memperbaiki diri. Doakan aku..

 

 

  


“Aku harus konsultasi dengan dosen. Kamu mau kan nunggu sebentar”, kata Setyoko.

“Baiklah. Lagian kita kan nggak terlalu sibuk,”jawabku.

“Yo wis.”

Belum sempat Yoko masuk ruang rapat….

“Asalamualaikum,”

“Waalaikum salam

Fer, kenalkan, ini Endah. Teman satu bimbingan

Feri  

Endah.

Satu angkatan ya dengan Yoko

Iya. Mas anak pondok juga?

Enggak. Cuma nyambi kerja di Laboratorium Dakwah.

Oh…senang berkenalan dengan mas.

Sama-sama.

Sebentar ya mas. Saya mau bicara dengan Yoko urusan skripsi.

 

 

 

 

Enam bulan berlalu sejak Dayu meninggalkanku. Ternyata tidak selama yang kubayangkan untuk menghapus luka lama. Sehabis menamatkan studi di perguruan tinggi, kulanjutkan hidup di LSM Labda Shalahuddin, LSM yang berkantor satu kompleks dengan Pondok Pesantren Budi Mulia.

            Adalah Setyoko, teman kerja satu LSM yang  kebetulan masih kuliah di Teknologi Pertanian angkatan 97. Setyoko adalah orang yang memperkenalkan aku kepada Endang Subekti, mahasiswi Teknologi Pertanian angkatan 97, yang kemudian menjadi salah satu perempuan yang memasuki episode cintaku yang ke empat.

            Pertemuanku dengan Endah yang terjadi secara tidak sengaja, ternyata menjadi awal dari kisah cinta yang baru.....(tentang ini akan dikupas padan KTDC edisi Menikah)


Posted at 08:37 pm by feriawan
Make a comment  

Kisah Cintaku III

KAU TOLAK CINTAKU DENGAN BASMALLAH III

(Episode Pendek Surat untuk Neni)

Lima tahun berlalu...........................semenjak Neni menolakku.....
Sebuah surat untuknya melayang lewat email. Sebuah surat keselamatan atas pernikahannya. dan bekas luka itu seolah memerih sesaat.

 

Assalamu alaikum wr.rwb.

 

Senang sekali bisa trima surat lagi dari Mbak Neni. Sekarang keadaannya mungkin dah laen, sudah bersama suami tercinta. Ha..ha.. saya jadi iri, (tambah broken kali..he..he, bercanda). Undangan dah saya terima, imut dan indah banget. Tapi mohon maaf karena saya masih di Solo dan tidak bisa mengambil ijin untuk menghadirinya, karena saya rencanakan bulan ini ada tiga hari ijin yang lain yang masih berkaitan dengan Endang. Bagaimanapun selamat atas pernikahan dan selamat menempuh hidup baru.

Ehm, (sekarang serius).Ada nada yang agak beda dari surat njenengan dibandingkan dengan surat yang kemarin dulu. Selalu dan senantiasa surat atau tulisan njenengan mengandung unsur menggurui, menasehati atau bahkan mendikte, mengarahkan pikiran orang. Mungkin ini yang diderita bangsa fakultas psikologi.Tetapi pada surat yang personal untuk saya, saya merasa diorangkan dan lebih didaulat sebagai lawan bicara yang sederajat. Itu. Dan itu lebih enak untuk saya.

Mbak tahu, Ada perasaan kehilangan dari diri saya ketika orang-orang yang ada di sekitar saya menikah: Hida, Nurul, Ayu, Arief Anwar, Hardoyo, Ade, dan kemudian banyak lagi. Perasaan ini bukan rasa patah hati ataupun merasa dinomor duakan. Tetapi perasaan ini lebih pada adanya sesuatu yang hilang pada hidup saya yang kemudian direnggut oleh orang lain. Mungkin mereka masih di sekitar saya, tetapi perasaan saya mengatakan bahwa mereka sudah berada di dunia lain. Termasuk ketika mendengar anda menikah, saya merasakan hal yang sama, bahkan ketika kita sudah sekian tahun tidak membuka katub-katub komunikasi. Mereka: derita maupun sukanya, bahagia maupun sedihnya adalah ruang dimana saya tidak bisa lagi turut campur dan merasai (empati). Pun ketika berbarengan mendengar Hermawan menikah. Itu makannya saya sering tidak bisa hadir manakala teman-teman saya menikah. Sekalipun untuk anda saya punya alasan berbeda, tetapi itu menjadi bagian dari alasan saya untuk menghindari setiap acara pernikahan teman-teman.Saya minta maaf. Saya akan terlihat bersedih dan kehilangan mereka, kehilangan anda.

Saya tidak tahu bagaimana dengan mereka, apakah mereka juga merasai demikian ataukah tidak, bahwa saya menerima luka mendalam ketika melepaskan orang-orang yang saya cintai untuk menikah dengan orang lain.Mungkin baru kali ini saya cerita dengan seseorang: anda.Bisa jadi bahwa orang-orang itu tidak pernah tahu, ataupun lebih diliputi perasaan bahagia dengan jodoh mereka daripada dengan saya, yang pasti itu hanya saya rasakan sendiri.

Lihat Arif Anwar, sekarang pun saya dan dia sudah tidak ada waktu banyak untuk ngobrol dan komunikasi. Atau siapa lagi yang dah nikah. Yah,,,mereka sudah ada di dunia lain. Istri dan anaknya. Njenengan barangkali dengan suami njenengan. Inilah mungkin perasaan orang tua ketika melepas pernikahan anaknya. Sakit meskipun dia berada tidak jauh dari dia. Yah.

Sekalipun begitu, saya sadar sepenuhnya bahwa itu sudah menjadi suratan Allah yang tidak bisa diutik-utik. Mereka menjalankan ibadah, anda menjalankan ibadah, dan saya tidak boleh cemburu sama Allah yang menyatukan mereka-mereka itu dengan lawan jenisnya. Dengan dunianya.

Kepada anda, saya ucapkan selamat berpisah, karena saya yakin segalanya pasti berbeda dan tidak bisa seperti dulu lagi. Tidak bisa lagi membuat anda menangis, tidak bisa membuat anda sebel, tidak bisa ngerjain anda lagi, tidak bisa bentrok lagi sama anda, tidak bisa nesu-nesuan lagi. Dan saya akan menjadi orang yang menipu diri saat berpapasan dengan anda untuk menyapa dan basa-basi tanpa ada lagi keisengan, karena menghormati suami anda. Selamat berpisah dan semoga berbahagia. Mohon maaf yang sangat mendalam selama umur saya bersama dengan anda, dan percayalah saya sungguh merasa kehilangan dengan anda sebagaimana kehilangan orang-orang yang dekat dengan saya.(kalau soal anda tidak jodoh  dengan saya, itu sudah saya pahami sejak lama, tidak perlu dijlentrehkan pun saya paham)Selamat datang di dunia anda yang baru.Dan selamat jalan. Saya masih menunggu pengalaman-pengalaman yang Njenengan punyai besok, dengan sangat senang hati saya akan mendengarkan kalo anda mau share, walaupun saya tahu  kalo saya agak berat untuk share dengan anda, baik karena status anda maupun karena ego saya sebagai lelaki. Wassalam.

 

Sekian

 

 

Feriawan A.N.


Posted at 04:05 pm by feriawan
Make a comment  

kisah cintaku 2


KAU TOLAK CINTAKU

DENGAN BASMALAH II

(MENJADI MUJAHID CINTA, BERJIHAD LEWAT ASMARA, SYAHID KALA CINTA BINASA)


......Berdebat, saling menyentil perasaan, saling berbantahan dan lain sebagainya.

Banyak saran-saran yang dia tujukan kepada kelakuan saya. Yang paling menonjol adalah ketidaksukaannya kepada saya yang menatap lawan jenis tanpa ada batasan. Semestinya, dalam pandangannya, seorang lelaki dalam memandang lawan jenisnya harus memperhatikan etika dan adab, khususnya agama. Semestinya seseorang lawan jenis membiasakan diri untuk goddul bashar (menundukkan pandangan) sehingga terjaga hatinya dari zina mata. Konon, setan akan mudah masuk dan merasuk ketika lawan jenis saling bertatapan.

Konsep goddul bashar yang dia utarakan, barangkali, masih teramat susah untuk dilakukan. Harus kuakui bahwa mata menjadi pintu dari segala dosa-dosa yang berkaitan dengan zina. Tergoda, terangsang, terkesima, takjub dan lain sebagainya terhadap lawan jenis, semua itu berawal dari tatapan mata. Akan tetapi menundukkan pandangan? Bukankah aneh jika dalam hidup kita harus terus-terusan menunduk terhadap lawan jenis. Di luar sana, ada beribu perempuan menampakkan wajahnya, ada beratur perempuan tanpa malu –malu memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnnya, ada berpuluh-puluh perempuan memperlihatkan pusar, pinggang dan pundaknya, ada juga yang menggunakan busana tipis yang memaksa kita menduga-duga apa yang tersembunyi di baik kain yang merawang itu. Semua itu merupakan cara setan untuk masuk dalam imajinasi dan fantasi seksual kita.

Lalu, adakah ruang bagi kita untuk menundukkan pandangan? Sementara pusat perbelanjaan, kampus sampai dengan tempat ibadah beraroma syahwat? Ini sungguh tidak adil. Apakah tidak lebih baik jika kita menerima keadaan ini sambil istighfar?

Menurut Neni, perempuan menutup aurat bukan karena keinginan perempuan untuk melindungi dirinya dari godaan sekitar. Fitrahnya, seorang perempuan adalah berhias dan tampil cantik, menampakkan keindahannya dan merangsang orang lain untuk memuji dan merayunya. Akan tetapi agama menetapkan aurat atas perempuan guna melindungi laki-laki. Perempuan memakai jilbab karena kasihan kepada laki-laki yang ternyata sangat rapuh terhadap penampilan fisik.

Tentang rapuhnya laki-laki, barangkali saya masih bisa menerima. Akan tetapi tentang aurat yang dikatakan menutupi ruang masuknya godaan setan ke mata laki-laki, aku protas keras. Mengapa? Bayangkan dengan jelas: aurat hanyalah kain yang menutup tubuh perempuan kecuali bagian-bagian yang nampak, berupa wajah dan telapak tangan. Bukankah banyak orang lain yang jatuh cinta gara-gara bibir seksi seseorang, ataupun alis mata, ataupun pipi yang merah ranum, ataupun alis mata yang menggoda? Haruskah konsepsi aurat berubah menjadi seluruh wajah. Berapa banyak pria yang tergoda karena suara seksi seseorang, merdu, mendayu-dayu, mendesah? Haruskah bibir perempuan tersebut di-staples, dijahit ataupun dilarang bicara dengan laki-laki? Atau suaranya di-galak-galakkan? Atau mungkin seseorang yang tergoda karena jari-jari lentik perempuan yang keluar dari renda-renda kain penutup lengannya. Akankah dia harus memakai kaos tangan?

Ini sungguh tidak logis dan mempersulit! Kenapa aurat cukup difahami sebagai kewajiban ataupun perintah Allah kepada manusia. Itu saja. Sungguh jika standarnya adalah naluri syahwat manusia, maka konsepsi aurat akan menjadi pandangan a la Islam liberal. Saya tidak setuju.

Bagaimanapun, saran dia agar saya berusaha menundukkan pandangan dapat saya terima sebagai penjagaan diri dan moral seseorang. Tidak harus sempurna, tetapi juga tidak berarti menerima keadaan masyarakat yang amoral sebagai sesuatu yang serba dimaklumi.

 

Sejuta perdebatan, sejuta rasa tercipta. Maka kutetapkan bahwa Neni adalah pribadi yang bisa melengkapi diri ini. Aku mulai berimajinasi untuk bisa menjadi suaminya. Menjadi orang yang melindunginya. Sudah dua tahun lebih kami saling mengenal. Paling tidak setahun lagi kuperkirakan masa studi kami berdua akan berakhir. Apakah salah jika kami saling mengikat janji untuk bisa menjadi suami istri satu sama lain. Bukankah dia sudah mengenal aku dan menerimaku? Bukankah aku sudah mengenal dia dalam banyak hal? Adakah kemungkinan ditolak lagi? Rasanya tidak. Ada banyak kemesraan tercipta pada hubungan-hubungan kami yang unik.

Malam itu (entah tanggal berapa aku lupa) kubulatkan tekad untuk mengutarakan isi hatiku. Aku sudah membuat janji untuk ketemu neni di kosnya. Segalanya sudah rapi: baju, potongan rambut, kalimat-kalimat yang akan diucapkan, semuanya sudah sempurna.

 

Wahai annisa….

Seorang mujahid cinta akan datang ke istanamu dan mengutarakan isi hatinya. Malam ini begitu indah…

Selaksa bintang-bintang berkedipan untuk menjadi saksi ikatan kita. Jalan-jalan yang terlalui adalah jalan-jalan yang memberikan sorak sorai seorang mujahid cinta…

Sekarang tidak ada lagi keraguan. Setiap langkah meninggalkan jejak yang jelas berirama satu-dua. Wajah dengan dagu yang terangkat. Pundak yang menegang, dada yang terbusung.

Sekarang…atau tidak sama sekali.

 

 

Menunggu….

Ssudah seperempat jam terbuang dengan kegelisahan di serambi depan kos-kosan yang diterangi bola lampu 15 watt. Cukup remang-remang bila dibandingkan dengan serambi seluas 10 x 15 meter. Dia muncul dengan senyuman yang tersungging seperti biasanya.

“Maaf, ya,”sapanya.

“Ga papa. Lagi ngapain sih?”tanyaku.

Nglempiti cucian. Kan sayang kalo nglumbruk di kamar. Jadi harus dirapikan dulu.”

“Oooh..”

“Gimana skripsinya”

“Yah….begitulah”

Baik? Begitukah?

Banyak orang secara enteng menanyakan kabar tentang skripsi kawannya atau orang lain tanpa perasaan canggung, tanpa basa-basi. Seolah-olah itu adalah bahasa keakraban. Untuk mereka-mereka yang masih berusia smester muda, barangkali akan menunggu pertanyaan demikian. Akan tetapi bagi mereka yang sudah usia kuliahnya bersmester tua, hampir dipastikan pertanyaan ini sangat menyayat hati. Hampir 80 persen orang ketika ditanya skipsinya akan memiliki ganjalan luarbiasa, seolah-olah badai besar sedang melibas habis dan memporak-porandakan ruang-ruang hati.

Banyak mahasiswa tua, mereka dengan mudah menyelesaikan kuliah dan hanya menyisakan tugas akhir ataupun skripsi. Akan tetapi kendala-kendala yang menghadang membuat orang begitu gamang menyelesaikan skripsi. Kegamangan itu berawal dari kemampetan ide yang harus dituangkan dalam selembar kertas, sulitnya bertemu dosen, dan kendala psikologis dalam melangkah ke kampus.

Seseorang bisa mampet idenya dalam mengerjakan skripsi karena beban luar biasa berat bergelanjut di kepala. Sekalipun 24 jam dia berhadapan dengan komputer, akan tetapi tidak ada satu jari pun yang mampu menggerakkan tuts-tuts keyboard sehingga mengalir bahasa-bahasa ilmiah yang cerdas. Sekalipun 24 jam sehari dia melangkah ke perpusatakaan, tetapi terkadang tidak ada satu ilham pun masuk ke kepala.

Bisa jadi, seseorang menjadi gamang dalam menyelesaikan skripsi karena beratnya beban psikologis yang ada di kehidupannya.Di rumah ataupun kampung halamannya, sang mahasiswa tua dimarahi dan didesak orang tua, di kampus tidak ada lagi teman-teman seangkatan. Jika bertemu adik-adik angkatan, selalu melontarkan pertanyaan yang sangat menyakitkan: Hai, kakak. Sudah selesai? Sekarang kerja di mana?

Sementara, sudah banyak adik-adik angkatannya yang diwisuda. Mau dikemanakan wajah ini.

Dan..lagi-lagi..di sini ditanyakan tentang skripsi. Ahhh…

 

Setelah seperempat jam berlalu dengan basa-basi, saatnya tiba.

“Mas Feri. Hari ini rapi sekali. Ada apa nih?”

Ada sedikit jeda. Jelas ini adalah saat-saat kritis dimana semua bahasa dan fokus harus dipusatkan.

“Sengaja.”

“Sengaja kenapa?”

“Ingin ngomong sesuatu sama kamu.”

“Ngomong apa”

“Ngomong tentang rencanaku.”

“Rencana Mas Fer?”

“Iya.”

“Apa itu?”

“Begini. Saya berharap satu tahun lagi lulus. Kemudian, setelah itu saya coba mereka-reka tentang kehidupan setelah itu. Kamu tahu setelah itu mau ngapain?”

“Ya…kerja.”

“Terus?”

“Nikah.”

“Terus.”

“Kok terus-terus. Memangnya mau apa lagi,”senyumnya mengembang. Dia tahu saya sedang hendak mencairkan suasana.

“Nah itulah. Makanya saya datang ke sini.”

“Kenapa?”

“Saya rasa saya sudah menemukan siapa yang ingin saya jadikan isri saya.”

“Oooh…itu,”wajahnya menandakan dia sudah mulai paham. Tetapi suasananya tidak seperti yang kuharapkan. Ada perasaan tidak enak untuk melanjutkan perbincangan ini. Tetapi..apa lacur.

“Intinya itu. Saya bermaksud mengutarakan isi hati saya.Kalau Mbak Neni menerima, saya bermaksud untuk menjadikan Mbak Neni sebagai istri saya kelak.”

Deg..deg…deg..

Tidak ada lagi yang bisa kudengar kecuali suara jantungku sendiri. Meski sikap tubuh dan wajahku masih bisa kuatasi supaya tidak nampak memalukan, tetapi keheningan yang hampir lima menit menyelimuti kami berdua membuat semuanya jadi tampak menekan nafas yang keluar dari paru-paru ini.

“Ehm..”, aku mendehem untuk menetralisir keadaan. Wajah dan pandangan Neni mulai menunjukkan bahwa dia akan memulai alur pembicaraan. Aku menunggu kata-kata yang meluncur dari bibirnya.

“Boleh saya bertanya?” Neni bicara.

“Ya.”

“Sejauh mana Mas Fer mempersiapkan masa depan.”

“Maksudnya?”

“Visi apa yang hendak Mas Fer bangun. Dalam berkeluarga tentunya bukan sekedar Mas Fer suka sama saya, kemudian kita menikah. Yang penting adalah: lalu apa setelah itu…”

“Ya..ya..saya tidak begitu tahu. Bukankah itu bisa kita bicarakan pada saat kita sudah bersepakat? Bukankah itu adalah fase di mana kita saling merencakan masa depan ketika semuanya sudah relatif bisa di tebak. Ya, mungkin yang utama bagi saya sekarang ini adalah saya mengutarakan maksud saya ini kepada Mbak Heni. bagaimana jawaban dari Mbak Heni, itulah yang barangkali menjadi pikiran saya.”

“Mas Fer. Saya merasa Mas Fer terlalu dini dalam mengutarakan maksud. Bukankah saat ini konsentrasi Mas Fer adalah pada skripsi. Tentang keluarga, saya melihat Mas Feri tidak begitu matang berecana.”

Aku merasakan pembicaraan ini semakin kaku. Aku mati-matian berusaha menahan debat dan egoisme yang meledak-ledak di dada. Melawan perasan, bagiku adalah hal yang tidak mudah. Tetapi ini adalah saat yang tepat untuk mengujinya, yaitu di hadapan orang yang dicintai.

“Saya tahu saya tidak begitu sempurna merencanakan ini. Tetapi..beginilah saya adanya. Saya membutuhkan orang yang mendampingi saya di kemudian hari. Jadi, kalo boleh, saya minta jawaban terhadap perasaan saya ini.”

Wajah Neni masih datar. Perasaan bodohku kambuh.Apakah aku telah salah selama ini.  Bukankah selama ini dia begitu mesra dan cocok padaku? Bukankah perhatiannya dalam mendiskusikan banyak hal kepadaku menandakan kemampuannya untuk menerimaku? Bukankah aku tidak sedang Ge-er?

Tetapi saat ini situasi hatiku penuh dengan keragu-raguan. Serasa aku harus menanggung malu untuk ke dua kali. Apakah memang ternyata selama ini aku Cuma Ge-er? Akankah semua perhatiannya adalah perhatian milik semua orang? Ataukah memang aku sedang diliputi perasaan sejuta kebodohan dan ketololan sehingga mau-maunya menyatakan cinta kepada orang yang selalu berkonflik kepadaku. Ah……..sial.

“Saya tidak bisa menerima mas Feri.”

BLARRR…..

 

Hati yang damai,berubah menjadi hujan badai.

Petir menggelegar disertai gemuruh yang memekakkan.

Terburai…

Tercabik-cabik…

RONTOK

Sang Mujahid cinta jatuh terkapar bersimbah malu…

Pulang dengan bunga layu…

Wajah kuyu…

Ora iso ngguyu

Amarga....

Ora payu..

 

 

“Ya.”

Dengan perasaan dikuat-kuatkan saya berusaha untuk tegar.

“Saya terima kok. Mbak Heni berhak untuk itu.”

“Maaf”

“Kalau boleh saya tahu. Kenapa Mbak menolak saya.”

“Tidak ada.”

…….

…….

..(kosong)

“Baiklah. Saya sudah menyampaikan isi hati saya. Sekarang saya pulang.”

Aku berdiri dan mencoba menyusun langkah demi langkah untuk menuju pintu pagar. Motor pinjaman itu terasa jauhhhh sekali. Langkah kaki ini serasa dibebani berton-ton baja. Kenapa jadi begini?

“Mas Feri.”

Suara Neni kembali menahan langkahku. Jantungku berdegup kencang.

“Ya.”

“Saya menolak Mas Feri karena Mas Feri tidak Dewasa.”

 

Sudah Jatuh tertimpa tangga

Apakah ini derita sang mujahid cinta yang kalah?

Hatimu yang terburai kembali diiris-iris, dirajang, diberi garam, cuka, diacak-acak kemudian dilumatkan dalam roda penggilingan yang mencabik setiap serat-serat yang tersusun di dalamnya.

Pahit, kecut,pedas dan serba nelangsa…

 

“Oooh.”

Wajah Neni dihiasi senyuman puas. Perasaanku bahkan mengatakan senyuman ini sinis.Aku membalas senyuman itu dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Tegar meski hati momrot.

“Terima kasih. Saya akan berusaha menjadi dewasa.”

Detik berikutnya menjadi suara nafas-nafas yang seolah mendekati kematian. Menyakitkan.

“Assalamualaikum,” sapaku terakhir.

 

Malam itu, dalam kamar. Kemarahan disertai keangkuhan bergelora sendiri.

Sungguh konyol ! Saat aku ngomong suka sama dia, bukan Cuma ditolak, tetapi juga dikatakan tidak dewasa. Menyakitkan. Menyedihkan. Kamu menjadi pecundang yang memalukan Fer. Dipecundangi luar dalam.

Saat itu, agaknya, saya sudah mulai terlatih untuk ditolak sehingga meskipun kecewa, saya dengan cepat sadar bahwa ada Allah yang akan mengatur segalanya.  Hanya seminggu waktu yang dibuthkan untuk menata perasaanku. Semuanya cepat kembali seperti semula.

Sejak saat itu pula saya banyak mencari dan menggali berbagai pemikiran dan arti kedewasaan. Memang sungguh memalukan dan sungguh apa yang dia katakan, sesungguhnya saya jauh dari kata DEWASA. Berbagai referensi yang saya baca menunjukkan bahwa orang yang dewasa adalah orang yang bisa mendengarkan orang lain: bahasa lisan, bahasa tubuh, latar belakang sampai dengan pola pikir orang lain. Dewasa juga berarti bisa menempatkan diri dalam situasi yagn tepat: mencari suasana yang sesuai untuk berbicara, memberikan sesuatu yang sesuai untuk berkomunikasi, pemilihan kata, pemilihan pakaian, bahasa tubuh dan semuanya. Dewasa juga berarti kemampuan diri untuk bertindak yagn sesuai kepada orang lain:  bertindak tepat tanpa disuruh, bersikap tepat, membawa diri dengan tepat, sampai dengan introspeksi, latihan-latihan dan juga pembelajaran dari orang lain, pengakuan-pengakuan kekurangan-kekurangan diri. Sehingga tahulah saya bahwa saya memang benar-benar jauh dari itu. Penolakan ini, membawa perubahan diri saya secara luar biasa.

Tetapi, bagaimanakah hari-hari selanjutnya bersama Neni?

Semenjak itu aku tidak lagi malu-malu membuka kegagalanku menjadi calon Neni. Bisa dipastikan semua teman-teman di organisasi kubiarkan tahu. Sangat tidak enak jika orang lain menduga-duga, justru bila diberitahukan perasaanku lebih lega, lebih jujur dan tidak ada beban.

Sayangnya Neni berbeda pikiran. Karena banyak orang yang tahu, dia menjadi marah. Beberapa teman dekatnya memberitahukan kalau dia sangat tidak suka mengetahui aku membeberkan kisah cintaku. 

 


Gagal dengan Neni, sama dengan mengakhiri waktu untuk mencoba berintrospeksi. Sepanjang saya melakukan kontemplasi diri untuk menemukan kata dewasa, sepanjang itu pula hati ini cenderung berpasrah diri, entah menyerah, entah sabar, entah kalah, yang jelas bagi saya saat ini menunggu lebih baik daripada memulai dan gagal.

Dalam bayangan saya, tentulah ada wanita yang tercipta. Allah tidak mungkin tidak adil untuk menciptakan perempuan yang terindah untuk saya. Itu pasti, hanya di mana..aku tak tahu. Ada harapan tersimpan walau tanpa usaha. Setiap perempuan, siapapun dia, punya potensi untuk menjadi istri, menjadi pendamping, menjadi belahan jiwa. Untuk itu ada baiknya bersikap baik dengan semua perempuan. Mencoba memahami jenis kelamin dari isi hati, bukan nafsu, naluri dan imajinasi.

Aku berusaha mereka-reka. Siapakah dia…arjuna yang senantiasa dinanti-nantikan kehadirannya oleh para perempuan? Mengapa aku melihat banyak pria yang begitu digilai oleh perempuan. Mengapa banyak laki-laki yang diimajinasikan oleh banyak perempuan? Mengapa aku tidak seperti mereka yang dengan mudah menjalin hubungan dan putus seenak perutnya?

Rasanya jika aku memandangi wajah di cermin, tidak jelek amat. Banyak diantara mereka yang lebih jelek tetapi mampu digilai oleh perempuan cantik. Apakah diri ini bodoh? Rasanya juga tidak. Aku memiliki IQ yang tergolong cerdas. Bisa belajar dari pengalaman dan mampu menyerap pengetahuan. Apakah aku kuper? Rasanya sudah banyak buku kubaca. Bahkan, saking ingin tahu rasanya bergaul yang baik, aku harus merelakan sedikit uang kuliah untuk dibelikan majalah-majalah remaja populer untuk memahami pergaulan yang menyenangkan. Tetapi semuanya sudah ada padaku, hanya saja..duhai wanita, mengapa engkau tidak memasukkan aku ke dalam imajinasimu.

Barangkali, inilah takdir. Aku mungkin cacat. Cacat yang kasap mata, yakni merupakan pria yang jauh dari dicintai perempuan. Kalau memang demikuan adanya, maka aku harus menerimanya. Tidak ada gunanya merenungi nasibku yang demikian. Dunia masih banyak yang membutuhkan diriku selain memikirkan perempuan.

Setelah sekian lama belajar tentang kedewasaan, barulah aku mengerti bahwa selama ini aku salah. Perempuan, siapapun dia, bukan mengukur lawan jenis berdasarkan kepandaian, bukan pula berdasarkan keperkasaan fisik, bukan pula dari kepiawaian dalam menguasai sesuatu. Perempuan, intinya, menyukai perhatian. Perhatian yang lahir dari sifat kebapakan, sifat yang tidak ingin menang sendiri tetapi mampu mendengarkan, yang tidak sekedar menilai tetapi juga memperbaiki, sifat yang tahu bagaimana menempatkan diri. Lambat laun aku mulai menyadari bagaimana aku memang layak untuk tidak disukai perempuan, pun dikatakan tidak dewasa, memang barangkali demikian adanya.

Yang terutama, adalah kebiasaanku untuk show force. Tanda ketidak dewasaan seseorang adalah betapa dia terkadang bertingkah norak: mempertunjukkan keahliannya, misalkan mempertontonkan jurus-jurus karate, menyanyi keras-keras, mengenakan busana yang mempertontonkan sesuatu di balik busana itu, bisa merk, pangkat atau sesuatu lainnya. Show force di sini diibaratkan sebagai tingkah ayam berkokok. Dia lenggak-lenggok ke sana ke mari untuk memikat lawan jenisnya.

Ah…bodohnya saya. Bukankah itu pertanda bahwa seseorang sedang tidak berpuas diri? sedang ingin dipuji? Sedang menipu kepercayaan dirinya? Betapa perempuan manapun akan sebal melihat laki-laki yang demikian?

Perempuan lebih menyukai laki-laki yang menemukan dirinya sendiri. Perempuan akan melihat laki-laki cool sebagai laki-laki cool tanpa harus bertingkah macam-macam. Perempuan akan menyukai laki-laki yang memang badung sebagai laki-laki badung tanpa harus bertingkah ala laki-laki badung. Intinya, perempuan dengan mata hatinya akan menyukai laki-laki yang telah menemukan diri. Jadi itulah kunci kegagalan saya selama ini.

Sepanjang saya memperbaiki diri, menahan diri dan menemukan diri untuk menjadi dewasa, sepanjang itulah aku mulai bisa merasakan betapa bisa berteman dan berkomunikasi dengan perempuan tanpa harus melibatkan dan mengimajinasikan tentang kesukaan dia padaku. Saya sadar, bahwa rasa ingin memiliki itu harus dibuang jauh-jauh. Justru dengan memberilah seseorang akan dicintai. Maka, sepanjang itu pula saya mulai belajar untuk bersikap baik kepada adik-adik angkatan, kepada teman seorganisasi, kepada siapapun dengan sebenar-benarnya perhatian. Perhatian yang saya berikan ini dengan segenap sikap jujur saya.

Mulailah saya menemukan banyak teman perempuan . Indikasi bahwa diantara mereka jatuh cinta kepada saya pun nampaknya ada, akan tetapi trauma kegagalan cinta karena sikap ge-er saya masih berasa. Maka kecenderungan saya adalah menahan diri. Biarlah semua berjalan apa adanya.

Aku mendapati adik-adik angkatan perempuan yang memanggil saya sebagai kakak. Sebagai orang yang mampu mereka ajak berbincang. Aku mendapati adik-adik yang mempercayakan persoalan mereka untuk bisa saya dengarkan. Allah, betapa senangnya dipercaya oleh mereka sebagai orang yang mampu mendengar. Sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya rasakan nikmatnya.

Adalah tiga diantara mereka Nur, Tia dan Ani. Teman seorganisasi di JS yang lucu-lucu dan menyenangkan. Dari merekalah aku bisa mendengarkan bagaimana perempuan-perempuan memiliki sesuatu berbeda dengan laki-laki.

Adalah Dayu, seorang kader baru JS yang dekat dengan saya. Dia berasal dari Fakultas Farmasi UGM. Awal pertemuannya tidak begitu jelas kuingat. Yang jelas Dayu hanyalah bagian sekian banyak perempuan di JS yang sejauh ini tidak istimewa di mataku.

Ceritanya, Dayu sangat repot menghadapi persoalan keorganisasian yang demikian bertumpuk-tumpuk, mulai dari soal komunikasi, koordinasi, training kader, administrasi dan lain sebagainya. Sementara itu, sangat disayangkan tidak ada diantara pengurus lain yang membantunya.

Sebagai senior, tentu saja saya tidak bisa melihat Dayu demikian kerepotan. Sayang, jika kader sepotensial Dayu harus pergi dari JS karena kerepotan. Kemampuanku dan pengalamanku dalam menyelesaikan persoalan keorganisasian kucoba bagikan kepada Dayu. Dayu pun mulai bisa memahami segala hal tentang organisasi.

Peristiwa ini adalah awal dari sekian kisah yang cinta yang kuingat. Suatu senja, di sudut sayap barat-selatan masjid kampus, kami duduk-duduk di tangga. Ba’da Ashar. Angin berhembus sedikit kencang menggerakkan pucuk-pucuk tumbuhan di sekitar masjid. Suara burung kecil ikut menghiasi nyanyian daun-daun yang saling bergesekan. Suhu tidak terlalu gerah, dan sinar matahari sudah berwarna kecoklatan.

Dalam lorong masjid, di tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dasar ini suhu terasa lebih sejuk, karena memang alas lantai masjid yang terbuat dari marmer dan sebagian lagi porselen menjamin suhu masjid ini terus dingin. Meski lorong ini agak gelap dibandingkan di luar masjid, tetapi cukup terang untuk melihat sudut-sudut ruangan yang menjadi aktifitas teman-teman Jama’ah  Shalahuddin UGM.

Dayu duduk pada sap tangga ke tujuh sementara aku duduk di tangga paling dasar. Jarak kami sekitar tiga meter. Cukup syar’I untuk membincangkan sesuatu.

“Mas Feri, aku mau tanya nih,” kata Dayu.

“Tanya apa, Dayu”jawabku.

“Mestinya, kita menggali potensi calon kader JS dahulu baru kemudian diberi idiologi JS, ataukah sebaliknya, kita memberikan idiologi JS ke kepala mereka baru kemudian digali masing-masing potensinya,”kata Dayu.

Untuk seorang senior yang tahu bagaimana mengkaderi seorang senior di dalam organisasi, jelas pertanyaan demikian tidak boleh diberi jawaban secara letter lux. Sudah seharusnyalah bahwa dia menemukan jawabnya sendiri dan kita yang senior cukup membimbingnya menemukan jawaban. Akan tetapi aku sadar bahwa pertanyaan itu sangat rumit.

“Sst…..” aku sekedar ingin menghentikan keseriusan dia dalam memikir antah berantah organisasi.

“Itu”.

Telunjukku membimbing arah pandangnya ke dinding masjid di atas kepalanya.

Ada bintang-bintang di atas kepalamu.”

Dia tersenyum. Manis sekali. Aku membalas senyumnya. Apakah bintang-bintang yang kumaksudkan. Bintang-bintang itu sebenarnya adalah sinar surya yang menerobos melalui celah-celah dinding masjid berbatako. Batako itu dibuat sedemikian rupa sehingga berongga, agar ventilasi ruangan terjaga. Sementara, rongga-rongga itu dirancang artistik menyerupai bintang bersiku lima. Karena matahari memancar terang dari sudut barat, sinarnya mampu menerobos celah batako hingga membentuk gambaran bintang di dinding sebelah dalam. Bayangan itulah yang kami lihat.

Bayangan itu sebenarnya tidak terlalu istimewa andaikata tidak ada pohon kayu putih di luar halaman masjid yang menjulang tinggi. Bayangan cemara itu terlihat dari dalam rongga-rongga dinding luar masjid. Angin yang mempermainkan pucuk-pucuk kayu putih mengakibatkan sinar matahari yang menerobos pun seolah dipermainkan pucuk-pucuk kayu putih. Bintang-bintang yang diciptakan oleh sinar matahari di dinding sebelah dalam, yang kami lihat, seolah berkelipan menari-nari.

“Dayu, sekarang coba kamu perhatikan bintang-bintang di atas, yang sedang menari-nari itu. Itu Indah sekali,”kataku.

”Tahu ngga. Bintang-bintang itu sangat istimewa. Bintang-bintang itu hanya bisa kamu lihat selama bulan Juli sampai Agustus. Setelah itu biasanya hujan akan menutup cahaya matahari dan bintang-bintang itu tidak muncul.”

Suasana saat itu begitu romantis, untukku, mungkin juga untuknya. Selama beberapa saat dia ikut menikmati tarian bintang di dinding atas masjid. Selama itu pula aku mencuri pandang ke arahnya.

“Nah, seperti itu pula seharusnya kita dalam mendidik siapapun di JS ini. Mereka adalah mahasiswa yang nantinya akan memiliki sinar. JS adalah lembaga yang semestinya membuat sinar mereka menjadi terlihat lebih indah, menjadi pohon kayu putih yang mempermainkan cahaya matahari, sehingga bintang-bintang tampak menari-nari.”

Selama beberapa saat dia tersenyum.

“Mas Feri bisa aja.”

   

Hari berganti, musim pancaroba. Sinar bintang di dalam masjid kampus tidak terlihat, kecuali aku yang selalu saja mengeluh karena masuk angin. Kondisi musiman manusia Indonesia ketika tubuh tidak siap menerima perubahan cuaca. Betapa membosankannya berada di JS pada saat kondisi badan begini buruk.

“Mas Feri sakit ya,”kata Huda. Kader baru JS yang senang humor.

“Iya, masuk angin,”

“Kenapa tidak diobati.”

“Sudah, pake balsem. Tapi sebenarnya saya pengen kerokan.”

“Istirahat…. Tidak usah bingung”

“Oke…Bos. Saya kira kalau kamu mau ngerokin.”

 Beberapa saat kemudian muncul Dayu. Rupanya dia mendengar pembicaraan kami.

“Jangan dikerok mas. Jika dikerok nanti malah melukai kulit dan merusak jaringan syaraf.”

“Emang begitu? Biasanya di mana-mana orang dikerok biar anginnya keluar.”

“Masuk angin itu tidak di kulit Mas Fer. Masuk angin itu terjadi pada tubuh yang bereaksi terhadap lingkungan. Bisa karena tubuh yang lelah, ataupun suhu sekitarnya yang dingin.Jadi pengobatannya ya merangsang suhu tubuh untuk bersesuaian dengan lingkungan. Nah, kerokan itu sebenarnya memijit otot untuk bereaksi. Fatalnya, dilakukan dengan cara melukai. Kalau kulit merah karena kerokan itu biasa. Tidak masuk angin pun bisa merah. Itu Cuma sugesti saja. Padahal bisa diobati dengan cara lain.”

Mau tak mau aku harus mendengarkan nasihatnya. Dia adalah mahasiswi Farmasi yang sudah makan kuliah banyak. Yah..siapa tau ilmiah.

“Terus? Gimana dong obatnya?”

Dayu Tersenyum.

“Masih ingat pucuk-pucuk kayu putih yang membuat bintang-bintang menari? Disanalah obatnya.”

Kenangan kemarin masih begitu kuingat. Rupanya kenangan itu membekas di benaknya.

“Tetapi pucuk-pucuk kayu putih itu mau dia apakan? Saya masih belum jelas,”tanyaku.

“Mas Feri ambil saja daun kayu putih yang ada di luar. Semangkuk saja. Nanti lihat saja, saya akan buat obatnya.

Aku keluar dengan kepala yang pusing dan ditambah bingung. Beberapa daun kayu putih bukan hal yang sulit untuk dipetik. Semuanya bisa dijangkau dengan tangan. Maka tidak sampai semenit kupenuhi sepanci kecil yang kuambil di dapur JS dengan daun-daun kayu putih.

Dayu menerima panci kecil itu. Secepat itu dia menuangkan sedikit minyak tanah ke dalam panci itu. Diremas-remasnya daun kayu putih beberapa menit. Tangan-tangan lentiknya begitu terampil melumatkan helai demi helai kayu putih sampai lumat benar. Sebentar kemudian diperasnya daun-daun itu, ampasnya dipisahkan. Sari perasan daun kayu putih itu dibiarkan dalam panci dan diberikan kepadaku.

“Ini obatnya. Sudah jadi. Sekarang balurkan minyak kayu putih ini ke badan, sampai masuk anginnya hilang.”

Aku tersenyum. Betapa menyenangkannya ketika sakit dirawat oleh seseorang yang dicintai. Tetapi…dia kan bukan siapa-siapa. AH..sudahlah. Buang pikiran itu jauh-jauh.

“Ini dipakai sekarang?”tanyaku.

“Iya.”

“Di sini?”

Tawanya mengembang.

Posted at 10:33 am by feriawan
Make a comment  

Friday, February 25, 2005
Kisah cintaku

Kautolak

Cintaku

Dengan

Basmallah

 

Sebuah Novel Otobiografi

 

By: Feriawan Agung Nugroho.

 


BAB I

 

Cintaku Yang Kandas

 

 

Namaku Feriawan Agung Nugroho. Umur 27 tahun. Lagi mencari jodoh untuk dijadikan pendamping hidupku. Katanya sih, juga untuk menjalankan sunatullah, sunnah nabi, melepas hasrat alami, dan lain sebagainya yang bisa saja dijadikan alasan. Intinya, saya ingin lawan jenis yang juga menginginkan saya sebagai lawan jenisnya sesuai syariat Islam.

 

Konon, sudah 5 kali saya ditolak. Meskipun, lebih banyak nolaknya (yang resmi 7 kali). Tetapi agaknya, lebih enak menceritakan di sini tentang peristiwa-peristiwa penolakan saya. Biasanya, laki-laki atau perempuan akan dengan bangga menceritakan peristiwa penolakannya terhadap seseorang daripada menderitakan ditolaknya dia oleh orang lain. Saya lain, saya lebih suka sebaliknya.

Sejauh yang saya tahu, ditolak atau menolak, sesungguhnya tidak membuat seseorang lebih tinggi, lebih rendah, ataupun menjadi wah. Mereka yang menolak tidak lantas menjadi lebih baik, perkasa, luar biasa, unggul, menang atau apapun daripada yang telah ditolaknya, kecuali orang-orang yang berakhlak rendah. Sebaliknya, mereka yang ditolak tidak lantas menjadi kalah, minder, mati, malu ataupun terkapar…kecuali yang bermental tempe ataupun tahu.

Seorang sahabat saya, Pahrurroji M Bukhori, mengatakan bahwa Rasul pun pernah menolak dan ditolak, meskipun ditolaknya ini hanya dugaan. Maka atas dasar ini saya memproklamirkan diri untuk berani menyatakan cinta, berani ditolak, berani menolak, Lillahi Ta’ala.


Pertemuan dan penemuan cinta pertama kali, diawali ketika saya menjadi seorang pemandu Opspek 97 di UGM. Saat itu, pada pertemuan pertama calon-calon pemandu dikumpulkanlah sekian banyak pemandu dari berbagai fakultas untuk diberi briefing dari sang ketua opspek. Kebetulan, kami satu gugus, yakni gugus gelanggang.

Ada salah seorang yang cukup menarik, tinggi, semampai, wajah melankolis, berjilbab hitam, bulu mata tebal, sorot mata sendu, langkah teratur, angin yang berhembus ketika dia berjalan melambai-lambaikan kisi-kisi jilbab hingga ke renda-rendanya seolah-olah menari-nari menampakkan keanggunan dari putri yang memakainya. Sepatu yang manis, dengan hak rendah dan berujung runcing nampak sekali dua kali muncul dari rok panjang yang menutup kaki-kakinya.

Rasanya, konsentrasiku tidak pada alur rapat. Aku lebih sibuk untuk terus menahan supaya degub jantung ini tidak memenuhi ruangan, supaya sikap dan tindak-tanduk ini tidak tampak sebagai orang yang kehilangan tingkah. Menahan nafas dan kata-kata supaya tidak tampak gagap, karena jarak kami begitu dekat, tidak sampai dua meter dari lingkarang forum yang hanya berisi sepuluh orang. Sesekali dia tersenyum ketika ada hal-hal yang lucu…..alamak…subhanallah…senyum itu sangat-sangat sangat sangat sangat…indah.

Hari itu adalah hari yang tidak pernah kulupakan…

 

Apa kabar hatiku.

 Aduhai..

engkau melayang-layang menghirup wangi nirwana.

Semuanya tampak indah.

Bunga..indah,

dedaunan..indah,

burung-burung …indah,

semua indah….

Inikah cinta yang meluluhrantakkan semua kedukaan.

Inilah waktu dimana aku menjadi seorang penya’ir,

tidak perduli apakah aku sedang mengarang roman picisan ataukah karya pujangga..

tidak perduli akankah ini impian semusim ataukah keabadian…

semuanya indah.

Semuanya milikku.

 

Seminggu Opspek kulalui dengan pendekatan dan pembahasaan yang sangat menarik. Dia orangnya mudah sekali menemukan topik dan pembicaraan yang memaksaku untuk mampu dekat dengannya. Semua cerita, semua bahasa, semua dunia pantas untuk kami bicarakan. Berdua.

Perasaanku selama seminggu mengatakan bahwa aku dan dia bisa saling mencintai. Tetapi….mungkinkah dia mencintaiku juga. Mungkinkah dia menerima apa yang selama ini ada di hati untuk diungkapkan. Sengguh bagiku lebih layak untuk menikmati semua bayangan ini daripada harus memulai untuk berbicar kepadanya tentang cinta.

Aku mencintaimu dengan ketakutan

Ketakutanku yang pertama, adalah bayangan untuk pertama kali harus menyatakan cinta kepadanya. Bagaimanakah rasanya menyatkan cinta kepada seorang wanita. Ini bukan persoalan main-main! Kata orang, yang paling mudah adalah dengan menggunakan surat. Surat cinta, begitu katanya. Surat yang berisi pernyataan, perasaaan dan curahan hati kita….kayak di filem-filem.

Tetapi, banyak orang menilai bahwa menyatakan cinta melalui surat cinta adalah tindakan pecundang yang pengecut. Betapa tidak! Karena toh sebagai laki-laki kita harus berani menyatakan perasaan kita. Terus terang aja aku ngga mau dikatakan pengecut. Pengecut adalah milik mereka-mereka yang pantas menyandang nama itu..bukan saya.

Cara yang lain adalah dengan mengajaknya kencan, duduk satu meja, kemudian ngomongin diri kita dan perasaan kita….kayak di filem-filem. Tetapi, apa dia mau diajak keluar?

Sebenarnya kalau boleh jujur, saya tidak mampu mengendalikan perasaan saya dan tidak punya keberanian untuk mengaku cinta kepadanya. Pengakuan, kalau dipikir-pikir akan memaksa kita merenungkan hal-hal: Pertama momen, kapan dan dengan cara apa kita mengutarakan I love you. Kedua, bahasa yang seperti apa supaya layak kita sampaikan kepadanya. Untuk merangkai kata-kata saja, aku membutuhkan waktu sebulan sampai ditemukan kata yang kira-kira sesuai. Dihafalkan dan kemudian disimulasikan. Wah, itu pun nampaknya masih kurang pas. Ketiga, apa ya kira-kira reaksi dia. Bayangan-bayangan ketika pernyataan cinta ini sampai kepadanya itulah yang justru membuat saya khawatir. Jangan-jangan dia marah dan menjauh, jangan-jangan ditolak, sebenarnya mungkin tidak apa-apa ketika ditolak..mungkin…tetapi malunya itu ..gimana kalau malu banget. Apakah yang terjadi pada hari-hari kemudian? Apakah kita masih memiliki angan-angan yang melambung, ataukah justru menjadi hari-hari kelabu karena dia jadi membenci kita? Apakah nantinya akan ada mimpi yang tumbuh menjadi kenyataan ataukah menjadi derita dan kekosongan sepanjang usia. Ingat Fer, kataku pada diri sendiri, ini adalah cinta pertamamu. Gagalnya akan terasa sampai ke hati.

Ada hal lain yang sangat mengganggu. Dari penampakannya jelas-jelas dia seorang akhwat. Seorang yang memiliki pancaran cahaya Islam yang demikian kuat dan tidak bisa diajak menjalin ikatan kecuali nikah. Saya mendengar bahwa seorang akhwat akan sangat membenci adanya ikatan di luar pernikahan. Bisa jadi mereka juga membenci cinta kepada lawan jenis. Cinta adi luar nikah adalah bahasa tentang nafsu. Penyakit hati. Mereka begitu berhati-hati dan begitu waspada terhadap virus-virus hati ini. Mereka sungguh-sungguh kaum yang takut kepada Allah sehingga tidak dengan mudah berpacaran, diajak kencan, diajak keluar ataupun melakukan hal-hal yang itu melibatkan perasaan cinta. Bisa jadi, bahwa cinta adalah hal-hal yang mendekati zina.

Tetapi Demi Allah, aku sungguh-sungguh mencintainya. Cinta ini tulus, setulus beningnya embun pagi. Aku tidak sedang bernafsu dengannya. Aku sedang tidak ingin untuk menjauhi Allah dengan perasaanku ini. Aku tidak sedang ingin menanggalkan baju-baju keimananku. Aku tahu bahwa perasaanku ini tidak sedang berbohong tentang kekagumanku padanya. Dia seolah mutiara yang tercipta dari Allah untukku yang sedang tidak ingin aku rusakkan. Kalaupun dia memang harus menjadi seorang akhwat yang memang memandang ikatan di luar nikah adalah haram, apakah salah jika aku mencintainya? Aku bahkan sangat-sangat menerima jika dia ingin bebas, tapi apakah dia juga tidak pernah mengenal cinta dan mengerti perasaanku ini?

Tetapi…….

Apatah guna semua renunganku di atas. Perjumpaan kami terasa sangat singkat…karena hanya dua minggu setelah itu kami berpisah. Aku tidak sempat menanyakan di mana alamatnya. Dia juga tampaknya tidak sedang ingin mengetahui di mana alamatku. Pada perpisahan pemandu Opspek saya rasakan betapa mendalam berpisah dengannya..yang mungkin dia tidak tahu. Aku hanya sempat mencatat namanya: Novita.

 

Aku melanjutkan aktivitas seperti biasa. Sebulan setelah itu aku pindah kost. Mencoba mencari kehidupan yang berbeda yang mungkin bisa lebih mewarnai hari-hari. Mewarnai aktivitasku dengan kegiatan kemasjidan yang diadakan di kampung setempat. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika kuketahui bahwa si dia, Novita, tercatat pula sebagai aktivis masjid setempat. Kami sama-sama terkejut mendapati diri kami berjumpa secara tidak terduga. Mungkin sudah jodoh…. Begitu perasaanku mengatakan. Allah memang Maha Baik.

  Hari-hari begitu berubah. Apa yang selama ini diimpikan seolah-olah menjadi kenyataan. Ada banyak perubahan pada diri saya. Semula, saya merupakan orang yang sangat takut dalam berkomunikasi, ataupun bergaul dengan perempuan, tetapi dia mampu mengajarkan, tanpa menggurui, bagaimana berkomunikasi dengan perempuan. Bagaimana bahas tubuh, bagaimana sikap duduk, bagaimana begini begitunya.

Ada juga hal-hal yang selama ini saya benci menjadi saya sukai. Semisal, pada suatu hari tatkala ada acara pengajian anak, saya bertindak sebagai panitia acara. Tetapi Novita mengajak saya untuk mencuci gelas-gelas kotor sehabis acara selesai. Saat itu di dapur masjid, di bawa keran dia mengajakku membilas gelas-gelas.

“Ya..baiklah. sebenarnya saya tidak tertarik untuk mencuci gelas,”kataku.

“Kenapa?”, tanyanya heran.

“Yah, bukan bermaksud melecehkan, hanya saja ini kan pekerjaan perempuan. Kenapa tidak minta bantuan teman-teman putri yang lain,” tanyaku.

“Aku ingin kamu yang bantu aku,”katanya sambil tersenyum.

“Aku mau..melakukan pekerjaan perempuan,”kataku.

“Hei…,”sergahnya.”Kamu bilang mencuci gelas  pekerjaan yang tidak menyenangkan?”

“Ya”

“Mau kalau kutunjukkan kalau mencuci gelas tu menyenangkan.”

“Mana bisa menyenangkan,”aku menantang.

“Ini….!!!!”Senyumya melambung sambil mencipratkan segenggam air cucian ke wajahku.

“Aduh, awas ya.!”kataku sambil membalas.

Kami saling tertawa, saling bercipratan, saling basah dan saling tertawa. Sat itu adalah saat yang layak untuk dikenang dimana aku merasakan betapa bahagianya mencintai. Betapa segalanya menjadi indah, manis. Semanis tebu. Novita memang pandai dalam menciptakan suasana menjadi indah.

Selama beberapa bulan aku mengetahu sifatnya dar a sampai z. Agak keras kepala, tetapi pandai dalam penyampaian. Pengangum orang-orang yang cerdas. Dan masih banyak lagi.  

Suatu hari, malam hari di masjid Al-Hidayah. Kami ngobrol.

“Fer, aku mau cerita sesuatu,” katanya. Deg..deg…sepertinya ada sesuatu yang berkaitan dengan kami berdua.

“Apa…sih,”

“Begini, saat-saat ini aku kok merasa ada sesuatu yang membuat saya nggak tenang,”jawabnya. Deg..deg…

“ Kenapa?”tanyaku.

“Ehm …” dia menahan senyuman.

“Kenapa sih.? Pake senyum-senyum segala,”

“Kamu jangan terkejut ya!”

Deg…deg…

Ada apa, non.”

“Aku …aku sedang memikirkan seseorang.”

Deg..jantungku ….

“Sama.”

Anganku melambung jauh. Akankah saat-saat ini adalah momentum yang kutunggu-tunggu untuk mengutarkan perasaanku. Saat ini bukankah dia begitu siap? Bukankah dia begitu sangat ingin untuk berbuka diri. Bukankah ini waktu yang sesuai dengan yang kau bayangkan Fer. Dia seolah berkata: Ayolah..jujurlah padaku. Ayolah Fer, jangan biarkan aku duluan yang bilang kepadamu. Kita sehati! Kita satu rasa. Kita punya impian yang sama. Mau kapan lagi?

Aku sudah memendam rasa ini sekian lama. Bunga ini sudah bersemi melebihi yang kubayangkan. Bunga cinta ini telah dipupuk, telah dirawat, telah di sirami dengan baik hingga berbuah. Akankah dia engkau biarkan layu bersama waktu bersama kepengecutanmu? Mau kapan lagi engkau raskan nikmatnya kecuali saat ini.

Maka dengan segenap keberanian yang aku susun. Dalam hati aku berkata: sekaranglah saatnya.

“Kamu mau mendengar sesuatu dariku?”kataku.

“Apa itu,”katanya menduga-duga.

“Ehm…”aku seolah hilang kata-kata. Hatiku berdegup kencang. Fer…ayolah… tidak ada waktu untuk menarik kembali kata-katamu. Kamu sudah setengah jalan. Ayolah…sudah basah. Untuk apa lagi dihentikan. Ayooooo…

“Aku…aku..”entah kenapa lidah ini kelu sekali. Bukankah kamu Cuma bilang..aku menyukaimu..itu saja. ITU SAJA. Kenapa mandeg dan berwajah demikian dungu. Kamu saat ini jika dipotret fer..sangat-sangat dungu. Mengapa harus terdiam beberapa menit. Mengapa? Bukankah detik-detik begitu berharga daripada melihat wajahmu yang tolol ini.

“Aku menyukaimu…”, akhirnya….  Akhirnya !!! akhirnya selesai sampai juga ke titik finish.Sedikit terasa lega di dada. Fer..selamat, kamu telah mendapatkan piala sebagai orang yang pernah mengucap cinta kepada seseorang. SELAMAT…tetapi..

Situasi mendadak dicekam keheningan. Suara-suara hening, semua tampak bergelut dengan jantung sendiri. Aku tidak berani menapat wajahnya. Entah gembira, entah benci, sedih atau apa. Ohhh..fer..apakah kamu sudah melakukan tindakan bodoh.

“Ehm…kamu suka saya. Tapi..maaf Fer, yang kumaksud sbenarnya bukan begitu. Kamu salah sangka. Aku bersikap padamu selama ini bukan untuk itu.”katanya dengan nada sedikit mendatar.

“Permisi ya”

Dia melangkah, dengan setiap langkah yang lembut yang masih terdengar di telinga. Dia melangkah pergi. Meninggalkan aku sendiri duduk di ruang tengah masjid. Wajahku, jantungku, perasaanku yang berkecamuk antara benci sendiri, takut, malu, tanda tanya: adakah dia sedang merenungkan perasaanku ataukah memang telah menolakku, ataukah karena dia akhwat yang sebenarnya memendam perasan yang sama tetapi takut untuk bersuara. Ruangan ini menjadi saksi ketakutanku yang meras tolol, bodoh, malu, tidak tahu diri, tidak berguna dan serba salah. Akankah aku bisa menyambut hari esok? Akankah aku bisa tidur malam ini. Akankah semuanya menjadi baik seperti biasa.

Sesobek kertas dengan tulisan jelas kutujukan kepada Novita.

 

Yts.

Novita

 

Assalamualaikum wr.wb.

Maaf atas peristiwa kemarin. Terus terang aku tidak paham apa jawabmu meninggalkanku. Sekalipun demikian aku juga tidak memaksamu menjawab. Aku sudah cukup puas dengan saat-saat itu, saat aku bisa jujur padamu. Terimakasih atas semua kebaikanmu.

Semoga kamu masih tetap seperti yang dulu, sebelum aku mengutarakan isi hatiku.

Wassal.wr.wb.

 

Feriawan

 

Hari berikutnya, saat pameran buku, aku bertemu lagi dengan Novika. Perasaaanku lagi-lagi berguncang hebat. Ada apa nih. Dia menungguku di luar ruang pameran.

“Fer, harap kamu ketahui bahwa aku selama ini hanya bersikap biasa saja kepadamu. Tidak ada maksud lain.”

“Saya tahu, saya hanya mengutarakan perasaan saya.”

“Kamu..mungkin kamu belum faham bahwa apa yang kumaksudkan kemarin bukan kamu. Jujur saja, kamu bukan tipeku. Maaf kalau ini terlalu kasar, tetapi agar kamu bisa mengerti bahwa memang begitulah adanya.”

PRAKKK, keringat mengucur deras, jantung berdegup kencang, perasaan kalah, arogan dan kesal, dendam dan sakit hari bercampur jadi satu. Apa salah dan kekurangan saya sehingga ditolak? Apa yang menjadikan saya tidak bisa diterimanya? Bukankah selama ini kita saling cocok dan saling bersahabat mesra dengan baik?

Dia telah meninggalkanku.

Mengapa kita harus berjumpa, kalau akhirnya harus berpisah. Sungguh syair-syari cengeng itu menjadi sangat merasuki jiwa lebih mendalam dibandingkan dengan dahulu ketika aku belum mengenal cinta. Semuanya menjadi beku. Dalam sebulan berat tubuhku susut dari 60 kilogram menjadi 57 kilogram. Wajah acak-acakan, tidak terurus, dan sungguh aku tahu bahwa selama ini aku terlalu GR. Gede rasa. Salah sangka. Dasar Feriawan…aku benci dirimu !!!!

Betapa perasaan kalah ini terbawa dalam setiap lagu-lagu yang ku nyanyikan, puisi yang ku ciptakan, senandung yang kulantunkan sampai dengan cerita-cerita yang kupilih untuk mengobati kekecewaan saya. Baru sekali kuutarakan cinta, baru sekali pula ini langsung ditolak. KO telak…

Perasaan sakit hati ini tidak terobati selama empat tahun. Sungguh waktu yang lama untuk menjadikan hati ini menjadi tenang. Sungguh betapa sulit untuk mencoba membangkitkan rasa yang sama pada orang lain. Tiada perempuan seindah dia, tiada wanita sesempurna dia apa adanya. Tidak ada yang bisa menggantikan dia. Tidak ada yang bisa menyamai  suasana yang diciptakannya. Tidak ada yang menyetarai dia. Semua perempuan yang melangkah di depanku…semuanya tidak menarik.

Sekali waktu kami masih saling bertemu. Ada waktu-waktu dimana pas kegiatan TPA, kegiatan kerohanian dan keorganisasian yang lain kami masih saling bertemu. Entah mengapa aku agak membencinya, mungkin karena penolakan itu. Rasa benci yang bermula dari tidak berharganya diri ini dihadapannya. Seolah diri ini telah tertendang jauh. Jauuuuh sekali. Tetapi rasa benci ini tidak bisa jauh-jauh terekspresikan kecuali hanya menghindar-dan menghindar layaknya seorang pengecut menemukan orang yang tengah memergoki kebodohannya.

Memang ada yang berbeda dari sikapnya, ada batas, ada jarak, ada yang membuat aku dan dia terpisahkan. Dan mungkin karena memang harus begitu.

Sebenarnya, dalam tempo empat tahun itu kami pernah sama sekali tidak bertemu selama setahun. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di Jama’ah Shalahuddin. Berorganisasi di BEM Fisipol UGM dan semua-mua yang bisa menghanyutkan aku dalam aktifitas kemahasiswaan. Hingga suatu saat badai krisis menghantam yang membuat orang tua tidak mampu lagi membiayai kuliah dan kehidupanku. Aku dipaksakan untuk mandiri secara dini. Sungguh mati aku belum pernah mengalami saat untuk mencari uang sendiri. Cari uang dari mana?

Entah kenapa Novita bertemu dan memberikan solusi. Dia mengajakku untuk bekerja paruh waktu di tetangga dekat rumah. Bu Mus, seorang pembuat roti membutuhkan tenaga kerja yang mau membantu mengolah adonan dan mendistribusikan roti ke sekolah-sekolah terdekat. Kebetulan saja Novita menjadi karyawan paruh waktunya.

Saat itu, benih-benih cinta yang hampir terkubur mendadak muncul kembali. Seolah penolakannya yang dahulu akan dia ralat. Sampai detik itu saya pikir saya akan kembali bersatu dengannya, ataupun barangkali dia telah berubah pikiran.

Ahhh, yang saya dapati justru sebaliknya: dia telah menjalin hubungan dengan ikhwan tetangga, sahabat karib saya sendiri. Pengakuan itu aku dapati ketika sama-sama mengobrol tentang kehidupan masing-masing.

Pada suatu hari kedapatan cerita dengan Mas Parman, teman sekerja yang lain. Mas Parman tidak sengaja melihat Novita yang ternyata cukup ceroboh mengenakan jilbab, sehingga auratnya (tepatnya rambutnya) terlihat. Ternyata rambutnya keriting. Aku agak tidak percaya dan agak risih mendengar aurat wanita diobrolkan.

Tetapi suatu hari ada seuntai rambut tercampur dengan adonan roti yang hendak aku kaliskan. Ketika kuamat-amati, rambut itu sepanjang 50 cm-an. Dan keriting. Rata-rata rambut kami di sini hanya sepanjang 10 cm. Rambut Bu Mus yang tidak memakai jilbab, pun hanya memiliki untaian rambut sepanjang 30 cm-an. Sementara anak perempuannya, SMP dan belum berjilbab, sangat jarang melangkahkan kaki ke dapur. Kalaupun pernah, rambutnya tidak sekeriting ini, cenderung lurus. Maka…kesimpulannya: ini adalah rambut Novita.

Ajaib !!!! Saat itu juga perasaan yang selama ini menggebu-gebu, perasaan yang selama ini menghantui, perasaan yang selama ini perduli, sayang, cinta dan sejuta pengorbanan dan kekalahan karena penolakan…..sungguh ajaib…langsung hilang, sirna, musnah entah ke mana. Ajaib dan sangat-sangat memalukan. Sungguh bodohnya aku selama ini mencintai Novita. Sungguh ironinya aku selama ini hidup dalam bayang-bayang kecantikannya karena membayangkan dia bagaikan si Maudy Koesnaidi dalam iklan sampoo yang membiarkan rambutnya yang lurus, terjuntai dipermainkan angin. Aku seolah melihat wajahnya yang mirip Maudy tetapi berambut a la Edi Brokoli. Ah, Feriawan. Ternyata selama ini cintamu adalah cinta pinggiran. Cinta yang tumbuh untuk menyukai seseorang karena fisiknya semata. Sungguh bodohnya aku selama ini, empat tahun menanti dan menangisi kegagalan cinta dan sekarang harus mendapati kenyataan bahwa semua yang kulakukan itu harus sia-sia, hanya karena  rambut keriting. Hanya karena keriting cinta melayang. Dan memang benar, karena ada seuntai rambut keriting yang tertinggal di karpet ruang kerja.

kami semua yang bekerja di sini berambut lurus. Memang ada pria yang keriting, tetapi panjang rambutnya tak lebih dari sepuluh senti. Sementara hanya dia yang berjilbab, dan kemungkinan rambutnya panjang ada.

Betapa rendahnya cintaku.betapa sangat rendahnya kadar pengetahuan ku tentang cinta. Betapa memang diri ini hanya dikuasai oleh nafsu belaka. Aku terlalu tertipu oleh bayang-bayang ilusi tentang kecantikannya. Mana rasa sayang karena sikapnya? Mana rasa kasih karena perhatiannya? Mana rasa pengorbanan karena perhatiannya? Semua itu seolah hilang karena mengetahui rambutnya yang keriting. Feri…feri.. betapa menyedihkannya dirimu. Betapa menggelikannya kisahmu ini.

Ahh..aku sungguh shock dengan peristiwa bodoh ini. Sungguh Allah Maha mengetahui dan maha penyayang kepadaku. Coba seandainya Novita menerima hatiku, lalu menikah, dan lalu kudapati pada malam pertama dia membuka kerudung, dan ternyata….keriting, apakah kenyataan ini  tidak menyakitkan dia? Apakah kemudian pernikahan batal hanya gara-gara masalah rambut? Apakah kemudian hari-hari dijalani dengan rasa hambar hanya karena masalah rambut? Apakah dia harus merebonding gara-gara itu? Tidak..tidak!!! Tidak. Untung saja semua itu belum terjadi.

Sejak saat itu, mulailah aku melakukan revisi ulang tentang cinta. Aku, tahu bahwa cinta tidak sekedar melihat dan membayangkan kecantikan, keangguna dan persona fisik saja, tetapi juga penerimaan hati. Aku tahu, cinta yang lebih kuat landasannya dan juga kesejatiannya, yang relatif abadi  daripada sekadar syahwat dan ilusi fisik belaka bukanlah cinta yang didasari oleh kekaguman terhadap fisik, apalagi imaninasi konyol tentang rambut. Aku mulai merubah image bahwa aku bisa mencintai orang tidak perduli apakah dia keriting, oval, berintik, botak, brodhol , jabrik, metal atau gundul sekalipun, aku tidak akan melihat fisik sekalipun dia pendek, gendut, buntek, hitam, cacat, anomali atau apalah…Saya tahu kalau semua itu ilusi. Aku harus mendapati hati yang suci, hati yang bisa berbagi dan bercinta dengan aku. Sifat yang sesuai, kharisma yang bersahaja, suara yang menyejukkan dan getar-getar ilahi dari setiap langkah yang dia titi. Aku tahu….itu pasti saya dapatkan.

Aku harus menutup kisah ini dengan tertawa sepuas-puasnya, betapa Allah Maha Baik.

 


Riwayat penolakan saya kedua, adalah dengan seorang akhwat dari fakultas Psikologi. Ada cerita mengapa konteks keilmuannya, Psikologi, saya tonjolkan. Semenjak gagalnya kisah cinta pertama, saya semakin tertarik untuk mempelajari Psikologi. Aku merasakan bahwa ada yang salah dengan diriku, dengan psikologikum dengan penilaianku kepada seseorang yang hanya didasarkan kepada standar fisik. Aku harus menyibak diri seseorang berdasrkan pengetahuan tentang psikologi, pengetahuan tentang jiwa, tentang segala sesuatu yang melingkupi diri seseorang. Mencintai pribadi seseorang, adalah cinta yang relatif abadi daripada mencintai dari sisi fisik saja yang dibatasi oleh waktu yang singkat. Padahal, pengetahuan psikologi yang kumiliki masih sangat jauh dari memadai.

Dengan dasar alasan untuk mengetahui psikologi, maka kedekatanku dengan mereka-mereka yang berstudi di Psikologi harus diintensifkan. Mereka-mereka itu, dalam pandanganku adalah orang-orang yang bisa membimbing saya dalam memahami cinta. Kebetulan juga, karena di fakultas tersebut cukup banyak perempuan, maka siapa tahu…he..he..he..

Singkat cerita, aku bertemu dengan salah seorang akhwat dari fakultas Psikologi. Dalam imajiku, seorang akhwat dari fakultas ini adalah seorang akhwat yang dewasa. Betapa tidak? Tentunya, dia akan belajar tentang manusia mulai dari lahir sampai dengan tua. Belajar tentang bagaimana bersikap, bertindak, berbahasa sampai dengan setiap gerak yang dia miliki berkesesuaian dengan orang lain. Dari sanalah aku akan bisa belajar banyak untuk menjadi orang yang memahami cinta, memahami tentang lawan jenis, memahami tentang bagaimana menyembuhkan diri sendiri yang terluka karena cinta.

Neni. Dialah perempuan muslimah psikologi yang pertama kukenal. 2 tahun lebih muda dari saya. Wajah melankolis, tinggi, putih, suku Ngapak (Banyumas), kalau dia berbicara akan terasa suasana ramai. Dia termasuk akhwat favorit: banyak didambakan oleh laki-laki. Konon sudah menolak banyak lamaran ikhwan. Dia aktif di berbagai gerakan dakwah. Sip lah pokoknya.

Pertemuan kami tidak sengaja. Dia kebetulan menjadi salah satu staf bidang kaderisasi di Jama’ah Shalahuddin. Saat itu, wajah dia sedang murung karena payahnya kinerja kaderisasi. Mungkin begitu…karena sesungguhnya saya tidak begitu dekat dengan orang-orang dari departemen kaderisasi. Saat pertama kali kutemui di bangku JS (Jama’ah Shalahuddin), wajahnya sedang ingin berbagi.

“Mbak Neni?” sapaku.

“Ya.”

“Sibuk ya?”

“Iya.”

“Gimana rapat koordinasinya? Jadi ga?”

“Aduh..gimana ya. Pokoknya rumit deh..?”

Nampaknya dia sedang tidak ingin bercerita. Barangkali karena kami memang jarang berbincang-bincang. Tetapi saya sangat yakin bahwa dia sedang ingin berbagi. Hanya, sepengetahuanku perempuan tidak mudah untuk berbagi dengan siapapun kecuali mereka yang sudah dikenalnya dengan baik.

“Sepengetahuan saya. Bidangnya mBak Neni merupakan bidang yang dikeluhkan oleh banyak pengurus. Karena dengar-dengar harapan mereka terhadap kader sangat tinggi. Sementara, tidak banyak kader yang diraih. Gitu?”

Dia sedikit mencerna kata-kata saya.

“Ya…sebenarnya tidak terlalu sih. Hanya saja saya jenuh, Bidang kami cari kader, tetapi jika sudah didapat memang tidak mudah untuk dimasukkan ke bidang-bidang lain. Makanya, banyak kader keluar. Yang masalah ruhiyah lah, yang masalah tidak tahu banyak lah, yang tidak pernah diajak koordinasi lah.”

Nah..betul kan? Akhirnya pancingan saya berhasil. Saya mengangguk-angguk. Sebenarnya pendapat saya tadi sangat spekulatif karena…ya Cuma menerka saja. Saya Cuma diam sejenak, karena menurut saya, pada menit berikutnya dia akan menanyakan pendapat saya.

“Kalau menurut Mas…maaf..”dia mencoba mengingat sebuah nama.

“Mas Feri. Iya kan?”,tanyanya  memastikan.

“Iya..saya Feri,”jawab saya sambil melemparkan senyum.

“Kalau menurut mas Feri apakah itu adil…Betapa bidang saya harus kerja begini..begitu..” katanya. Perbincangan selanjutnya tidak begitu menarik untuk aku ceritakan. Yang jelas, awal itu adalah awal bagi aku dan dia untuk bisa memasuki sekian banyak perbincangan, sekian banyak diskusi untuk saling dekat.

Namanya juga anak Psikologi. Maka, saya menjadi kelinci percobaan dari sekian kerja praktek dia.Yang ikut tes IQ lah, tes tinta tumpah lah, tes interpertasi gambar lah. Sedemikian pula aku menanyakan perihal tentang psikologi manusia. Beberapa buku-buku yang berkaitan dengan psikologi aku baca dan aku diskusikan jika ada hal-hal yang kemungkinan tidak kufahami.   

 Banyak pengalaman kudapatkan dari perkenalan dengan Neni. Betapa cara orang untuk berkomunikasi dengan sesama ataupun lawan jenis harus memperhatikan banyak hal. Neni menuturkan, bahwa yang terutama sekali harus di miliki seseorang untuk mampu berkomunikasi dengan orang lain adalah bagaimana menciptakan kesan, khususnya kesan pertama. Bukan karena iklan yang menyatakan bahwa: kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda…tetapi karena memang momentum pertama kita bersentuhan dengan orang lain adalah momentum yang tidak pernah terulang dan banyak kemungkinan tidak terlupakan.

Pada menit pertama seseorang akan memperhatikan penampilan: bagaimana wajahnya, bagaimana pakaiannya, serasi ataukah tidak, bagaimana cara berjalan, sudut mana dari sesosok manusia ini yang pertama kali menonjol dan berkesan keras di hati. Kita tidak pernah tahu kapan akan bertemu dan berkenalan dengan seseorang, untuk itulah perlunya setiap saat berpenampilan yang baik. Intinya, semua ini sangat melibatkan indera pengelihatan.

Pada menit ke dua, barangkali lima menit kedua, seseorang akan memperhatikan kata-kata, diksi yang dipilih, ataupun kalimat apa yang terlontar dari mulutnya: perkenalankah? Canda kah? Atau permintaan dan lain sebagainya. Butuh keberanian untuk melontarkan kata-kata yang bersahabat. Karena, begitu grogi, canggung, ataupun terlalu protektif, akan membuat kalimat yang diucapkan tidak mengalir lancar. Bersyukur jika lawan bicara kita merupakan seseorang yang cool,grapyak, supel  ataupun bisa mengerti. Orang yang demikian akan bisa memelihara kelemahan kita seolan-olah tidak ada sesuatu yang  mengganggu. Dia seolah memberikan energi, kesempatan ataupun kepercayaan diri kita untuk bisa menata sikap dengan baik, dan kitalah yang nantinya akan terbimbing olehnya.Tetapi sialnya jika orang yang kita ajak bicara merupakan orang yang biasa saja, atau bahkan lebih sulit, maka sikap grogi kita akan merupakan awal yang tidak menyenangkan bagi pembicaraan selanjutnya. Jadi, pada menit ke dua adalah menit milik indera pendengaran.

Pada babak selanjutnya adalah interaksi batiniah dan pikiran. Masing-masing dari kita akan menyusun dan mengidentifikasi tentang sifat-sifat lawan bicara, kecerdasan, tidak tanduk sampai dengan kebiasaan-kebiasaannya. Dalam hal ini, yang perlu dipelajari baik-baik adalah bahasa tubuh, baik bahasa tubuh kita atupun bahasa tubuh lawan. Bahasa tubuh bisa diartikan sebagai gerak ataupun posisi tangan, badan, kerut wajah, sorot mata dan setiap perubahan fisik yang menyertai kata-kata yang terlontar baik disadari maupun tidak. Misalkan saja, mata yang tidak memandang lawan bicara akan menciptakan kesan tidak perhatian, posisi tubuh yang menghadap disertai dagu yang agak dimanjukan menandakan perhatian terhadap lawan bicara.

Neni memberikan banyak pertimbangan tentang cara-cara bergaul yang baik. Neni mempengaruhi perubahan sikapku dalam bergaul. Bersamanya, aku bisa merasakan persahabatan. Bersamanya, aku menjadi orang yang tidak egois. Tidak lagi selalu berkata:…aku itu….aku itu….aku itu…..(sebuah ciri bahwa seseorang sangat egois dan membosankan). Perlahan namun pasti banyak teman yang kudapatkan. Kata-kataku tidak lagi menyinggung perasaan orang.

Neni merepresentasikan anak psikologi yang sempurnya. Sungguh, dalam pikiran saya, anak psikologi tentunya akan menjadi orang yang paling berbahagia karena tahu bagaimana menyenangkan orang lain.

Persahabatan saya dengan Neni menciptakan kesan yang mendalam. Dia telah membuat hidup saya begitu ceria dan berubah menjadi cerah. Maka, rasa cinta yang kedua seolah terlahir kembali.

Pada dasarnya Neni merupakan orang yang keras dalam pendirian. Dia juga cenderung suka berkonflik. Kami biasa bertengkar dalam banyak hal. Akan tetapi kami sama-sama menyadari bahwa pertengkaran di sini bukanlah pertengkaran yang melibatkan kebencian. Sebuah pertengkaran yang lahir karena kemesraan. Pertengkaran yang seolah menjadi bagian cara kami sama-sama saling berkomunikasi. Apa saja bisa menjadi bahan pertengkaran yang menarik: masalah warna baju, selera makan, sampai dengan politik dan agama.

Banyak teman-teman yang melihat kami ini aneh: bertengkar tetapi selalu dekat. Banyak pula yang menggoda kami untuk menjalin ikatan serius. Hanya saja, lebih banyak yang setuju jika hubungan kami dilanjutkan lebih serius. Bagaimana bisa berlanjut, orang setiap hari jika ketemu isinya hanya berkelahi melulu. Apatah keluarga yang kami ciptakan nanti.

Tetapi, hati ini tidak bisa mengingkari bahwa aku menyukai hubungan yang unik ini. Aku tidak bisa mengelak bahwa dia keunikan-keunikan hubungan dan komunikasi kami justru terasa sangat menyenangkan. Berdebat, saling menyentil perasaan......(bersambung)


Posted at 03:45 pm by feriawan
Comments (2)  

Menjadi Orang Islam I

BAGAIMANAKAH CARAMU BERISLAM DI ORGANISASI ISLAM

 

Apakah kamu sudah merasa nyaman menjadi orang di sebuah Lembaga Islam? Banyak sekali orang yang ingin terlibat dalam aktivitas dakwah di sebuah organisasi Islam, entah HMI, KAMMI, SKI dan lain sebagainya, tetapi sampai saat makin banyak keraguan-keraguan bahwa lembaga-lembaga itu sedemikian “berisi”.

Ketika saya masih aktif di Jamaah Shalahuddin, beberapa orang merasakan bahwa di lembaga itu dia ingin bisa aktif dan terlibat sebagai panitia, membantu mengedarkan proposal, terlibat dalam seminar-seminar yang dihadiri tokoh-tokoh penting, ataupun sekadar ingin tahu: apakah gerangan yang sedang terjadi. Hanya saja ketika ditanyakan apakah diantara mahasiswa-mahasiswa yang menjadi panitia itu mau untuk menjadi anggota JS maka secara ciut banyak orang yang merasa enggan. Mengapa?

Sedikit bergeser dari itu, banyak orang bertanya kepada saya tentang pengalaman saya ketika memulai “karier” di lembaga keislaman di kampus dari nol besar (karena SMA saya adalah SMA Katholik dan tidak mempunyai latar belakang Islam) dan kemudian sangat menikmati dan bahkan menjatuhkan tumpuan hidup pada lembaga-lembaga dakwah. Bagaimana saya bisa benar-benar menikmati menjadi seorang kader lembaga dakwah dan bahkan memberikan training-training di berbagai lembaga dakwah selain di JS.

 

INDAHNYA BERISLAM DARI NOL

Pada tahun 1993 adalah masa-masa dimana pengetahuan saya tentang tuhan mendapat benturan-benturan luar biasa secara filosofis. Semasa SMA, guru agama saya Drs Untung, seorang madura yang murtad kemudian mengajar pendidikan Agama Katholik, demikian bijak memberikan perbandingan asal muasal agama, sejarah agama-agama dan kemudian (khususnya) perkembangan agama katholik sampai dengan dewasa ini. Untuk banyak siswa barangkali hal-hal demikian tidak menggelitik, tetapi bagi orang yang sangat ingin tahu tentang tuhan, tentunya pengalaman sedemikian seperti halnya seseorang yang mendapati berbagai macam hidangan dan harus memilik mana yang paling enak dan tidak menimbulkan racun.

Dari sanalah keinginan tahu saya tentang tuhan berawal. Saya belum bisa memahami Sholat kecuali bahwa sholat berisikan bacaan demikian. Saya tidak pernah jum’atan blas semasa SMA. Saya pun tidak pernah bermimpi tentang menikmati Islam. Satu satunya yang mengganggu saya adalah pertanyaan tentang Tuhan.

Suatu malam saya berdoa tentang keinginan saya untuk ditunjukkan tentang agama Tuhan. Barulah kemudian saya tahu bahwa di UGM lah Allah memberikan jawaban itu.

Di JMF, lewat pendampingan agama Islam, terlihat sekali bagaimana polosnya saya yang banyak bertanya dibandingkan dengan mereka-mereka yang ternyata sudah dibesarkan oleh Rohis ataupun mengetahui Islam sejak awal di kala mereka menapaki bangku sekolah menengah. Mereka menjadi orang yang alim, anteng, ataupun begitu puas dengan keislaman yang diraihnya sehingga tidak memiliki pertanyaan-pertanyaan yang bernada mempertentangkan.

Beberapa orang yang lain, yang bisa dianggab sebagai bagian besar dari manusia ataupun mahasiswa Indonesia, berislam secara biasa saja. Mereka tidak terlalu tertarik berorganisasi Islam, hanya mengikuti kuliah keislaman dan sesekali menghadiri pengajian. Pada akhirnya pun selepas mereka mengikuti Pendampingan, mereka tidak memperoleh penambahan ataupun peningkatan pengetahuan keislaman.

Entah bagaimana yang terjadi dengan orang lain, saya benar-benar menikmati saat-saat saya mengenal Islam, bukan saja ketika saya bisa mengenal tentang sholat, membaca Qur’an ataupun mengerti tentang aliran-aliran Islam, tetapi juga kehidupan yang diajarkan oleh Allah semenjak kehadiran saya di kota Jogjakarta.

Hal yang paling saya awali pertama kali berdiskusi di SKI adalah pertanyaan tentang hidayah. Secara awam, hidayah bisa diartikan bahwa seseorang telah mengenal Allah dan menisbatkan dirinya untuk bersyahadat dan memeluk Islam.

Pada akhirnya saya protes kepada sang pemateri diskusi. Jika hidayah itu hadir sebagai sebuah ritual pemelukan Islam dan bersyahadat, maka beruntunglah anak-anak kiai, anak-anak rohis, anak-anak pengajian ataupun mungkin anak-anak Arab, Muhammadiyah ataupun NU. Sementara orang-orang seperti saya yang dibesarkan di kalangan abangan dan tidak tahu tentang islam adalah orang-orang yang kemudian masuk neraka begitu saja karena tidak pernah sholat, tidak pernah tahu tentang Islam sekalipun dalam hidupnya punya nilai tentang keimanan, kejujuran dan prinsip hidup.

Saya tidak ingat apa jawaban dari pemateri, yang saya gariskan di kepala dari sari jawabannya hanya satu: bahwa saya semestinya menerima saja sebagai pengejahwantahan iman saya kepada Allah dan bersegeralah untuk ber amar ma’ruf nahi munkar. 

Ini tidak adil.

Pada akhirnya kuliah maupun training saya rasakan semakin hampa ketika harus menelan sekian banyak materi tentang ma’rifatullah, ma’rifatul Rasul, Ma’rifatul Insan dan sampai dengan Ukhuwah Islamiah. Semuanya tidak masuk kepada pikiran saya. Masuk kuping kiri dan keluar dari kuping kanan. Hanya saja saya semakin tidak mengerti karena banyak pula orang yang berbicara dengan berapi-api dan terus mengulang-ulang tentang hal-hal baik tentang tuhan, tentang nabi dan tentang kehidupan. Semuanya baik, dan semuanya nampak damai damai saja. Sementara saya merasakan yang berbeda: kenapa semuanya tampak buruk dan tidak serba tanda tanya? Hidayah adalah tanda tanya, utusan Allah adalah tanda tanya dan semuanya yang disekitar kita adalah tanda tanya. Barangkali, dunia ini pun berawal dari sebuah tanda tanya.

Barulah saya merasa sangat beruntung bahwa saya boleh untuk mempertanyakan itu semua daripada mereka-mereka yang sudah “dibesarkan” oleh lingkungan Islam. Saya sangat menikmati menjadi bodoh dengan Tuhan dan Dunia sehingga saya bisa bertanya langsung kepada Allah tentang semua-muanya. Sesuatu yang barangkali untuk sebagian umat dirasakan sebagai bid’ah. Sekarangpun barangkali saya merasakan itu sebagai bid’ah.

Tidak semua orang bisa merasakan bahwa Allah itu ada. Ini Fakta! Sekalipun mereka berjilbab ataupun bergamis dan berjenggot panjang. Banyak diantara mereka yang sudah mengalami masa-masa pendidikan Islam dan bahkan dari kalangan Kiai tetapi sedikit yang menjadi “berisi” ketika ditanyakan tentang Allah. Bukan saja karena diskusi tentang Allah menjadi sangat ditakuti, tetapi juga karena tidak ada orang yang mendiskusikannya atau bahkan takut untuk memperbincangkannya. Lalu bagaimana setiap jiwa bisa mengenal Allah?

Sampai dengan sekarang saya merasakan: adalah hak saya untuk bisa berdialog secara pribadi dengan Allah sebagaimana nabi-nabi yang mendapat petunjuk, sebagaimana rasul-rasul yang memperoleh mediasi Jibril, sebagaimana para wali dan para imam yang memperoleh karomah dan keistimewaan dari Allah. Adalah hak saya untuk mendapatkan petunjuk langsung dari Allah tentang siapa Allah dan apapun di sekitar saya.

 

Aku dan Allah saling berbicara

Entah tepat atau tidak, mungkin inilah makna yang bisa saya petik dari surat Al-Fatihah dimana tiap-tiap pribadi pada akhirnya memohon untuk ditunjukkan mana jalan yang lurus dan bukan jalan yang dimurkai,sesat ataupun yang dholim.

 Tidak ada satupun diantara sekian banyak training yang mengajarkan hal ini, kecuali bahwa tiap-tiap pribadi disuruh untuk melakukan Qiyamulllail yang lebih diisi dengan kengantukan ataupun tangis-tangis melankolis. Bagi orang-orang yang tiada pemahaman tentang semua itu, maka sangat tidak paham: apakah demikian berdosanya sehingga Qiyamullail saya hanya mengantuk belaka, malas dan tidak bersemangat, ataupun apakah hati saya demikian keras sehingga tidak sekalipun saya meneteskan air mata kala sholat di masa itu.

Memulai diskusi dengan Allah adalah adanya memulai hari dengan seperti biasa: pagi, matahari bersinar cerah, siang, senja dan malam manakala jengkrik telah berbunyi. Tetapi memulai hari bisa juga diartikan sebagai waktu-waktu berdiskusi dengan Allah tentang segala sesuatu, sebuah kitab maha besar dengan waktu sebagai penjilidnya dimana tiap-tiap halaman adalah hari-hari dan tiap-tiap kata adalah detik per detik peristiwa yang saya alami. Mempertanyakan mengapa saya miskin, mengapa saya kekurangan, mengapa saya harus kuliah dan mengapa saya harus terlahir dengan nama Feriawan dan mengapa..mengapa..yang lain.

Lalu? Entahlah..saya juga tidak tahu bagaimana pasalnya. Saya merasakan dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah berkata kepada saya lewat hari-hari yang saya lalui dengan demikian sistematis dan meyakinkan. Allah telah berbicara kepada saya lewat bahasa bumi yang demikian mudah saya cerna. Lewat pengalaman baik batin maupun hidup.

Saya tidak sedang mengemis iba kepada anda: Suatu ketika saya mendapati diri saya sangat menderita karena tidak mempunyai uang sama sekali. Orang tua telah berhenti membiayai kehidupan saya dan saya harus berjuang sendiri di Jogja untuk bisa makan dan kuliah. Saya putus asa. Nyaris tidak ada ruang dan dunia serasa sempit karena saya tida tahu harus kemana lagi untuk bisa menemukan tempat bekerja sambilan ataupun memperoleh rupiah. Saya sering menuliskan dialog dan kegundahan saya ini, berbicara pada diri sendiri dan mungkin sekali protes kepada Allah yang seolah menjauhkan saya dari rahmatnya.

Saat itu saya tertelungkup di sudut masjid. Kemarin adalah uang terakhir yang saya gunakan untuk membeli nasi tempe penyet terakhir yang kemudian. Sepiring nasi yang  terasa sangat nikmat, karena bisa saya nikmati sehari dua kali.  Kini, perut saya terlalu melilit karena seharian tidak terisi nasi.

Tidak ada seorang pun yang berada di sekretarian JS (masjid kampus yang masih sebagian dibangun) saat itu sehingga tidak ada yang bisa saya mintai tolong untuk sekadar meminjam uang untuk jajan. Protes saya kepada Allah pun menjadi-jadi.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada orang (perempuan) yang (maaf) gila mengaku-aku sebagai orang yang tinggal di masjid itu. Kemudian dia mengaku bahwa suaminya pergi dan masjid itu sebagai tempat tinggalnya. Tuhan, kenapa pada saat perut sesial ini masih saja ada gangguan.

Diluar dugaan, orang gila ini kengeluarkan suatu bungkusan dan diberikan kepada saya dan dia menyuruh saya memakannya. Dibilangnya bahwa itu dari suaminya yang pergi dan menyuruh saya bermalam di masjid (yang dalam pikirannya adalah  rumahnya).

Begitu dia pergi saya agak jijik menerima bungkusan itu. Ketika saya buka, Masya Allah, ternyata isinya adalah tiga potong sate kebab (sate dengan daging tebal berlapis bawang bombai dan tomat), nasi hangat, sayuran, apel dan juga buah peer. Saya menangis, bukan sekedar bersyukur karena telah mendapat shodaqah dari seorang gila sehingga bisa makan, tetapi juga betapa Allah menunjukkan kepada saya betapa cengengnya saya, sedangkan orang gila yang tidak bekerja pun mampu memperoleh rizki, dan bahkan bershodaqah, kenapa saya yang sehat dan waras tidak mampu menghidupi diri sendiri. Atau saya berprasangka bahwa saat itu saya sedang didatangi malaikat. (?)

Beberapa bulan kemudian ketika saya telah memperoleh pekerjaan, saya telah bisa makan enak dan bahkan bisa makan daging, buah serta susu, tetapi ternyata tidak ada yang lebih lezat daripada tempe penyet yang saya makan ketika kelaparan dulu. Justru, saat itu saya mengalami sakit dengan buang air besar berdarah, entah ambeien ataupun diare, yang jelas Allah telah menunjukkan bahwa kenikmatan itu bukan pada materi, tetapi pada kesyukuran.

Masih banyak lagi hikmah-hikmah yang bisa saya petih hasil berdialog dengan Allah, dan sungguh Allah maha pengasih, guru yang bijaksana serta sebenar-benarnya pencipta yang bertanggungjawab terhadap ciptaannya. Begitulah hidayah, adalah sebuah kepercayaan bahwa Allah benar-benar dzat yang maha besar dan dekat…dekat sekali dengan mahluknya.

Semakin jauh, pemahaman saya mendapati bahwa banyak orang berguru pada kiai, berdekat dengan murobbi, ulama ataupun orang-orang alim demi mndapatkan pengetahuan agama. Saya pribadi tidak menyalahkan hal itu. Tetapi sejauh pengalaman saya, sesungguhnya berislam yang paling efektif adalah dengan berdoa. Dengan berdialog langsung kepada Allah dan melihat bahwa apa yang ada di sekitar kita adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Jadi disanalah saya bisa merasa tenang dan tidak khawatir terhadap apapun walaupun saya sangat jauh dari wajah seorang santri yang pernah melalui didikan pondok. Saya lebih bebas memilih setiap pertanyaan dan jawaban yang akan saya cari baik lewat ulama, lewat buku, ataupun lewat apapun yang secara egois saya klaim bahwa itulah jawaban Allah. Saya tidak akan salah, karena jika salah, maka Allah sendirilah yang akan memberikan jalan kebenaran kepada saya, selama saya memohon dan membersihkan hati. Itulah hidayah bagi saya pribadi.

 

Dakwah Dalam gerakan

Ketika saya bertanya pada sebuah forum tentang apa yang melandasi seseorang menjadi anggota suat lembaga keislaman, hampir semua peserta menjawab bahwa yang mengikat mereka adalah dakwah.

Di Jamaah Shalahuddin, kata dakwah menjadi kata yang paling sering dibicarakan, didiskusikan dan dijadikan jargon dalam setiap kesempatan. Itu karena memang yang melandasi tiap-tiap pribadi yang tergabung dalam setiap lembaga keislaman akan diikat oleh misi yang dengan mudah dikatakan sebagai misi dakwah. Akan tetapi dari sekian banyak hal yang saya amati, ternyata memang sangat sedikit dari setiap manusia yang mampu menjelaskan kepada saya tentang apakah dakwah itu. Padahal, pada tiap-tiap training kata ini selalu diulang dan diulang, tetapi dalam perhatian saya, tiap peserta hanya memperoleh pemahaman yang dangkal tentang dakwah.

Beberapa golongan, menerjemahkan dakwah sebagai sebuah proyek raksasa untuk membuat tiap-tiap kepala menjadi seperti yang dimaui oleh Qur’an dan Hadist. Maka Dakwah adalah sebuah kerja raksasa dengan melibatkan semua daya upaya untuk memperdengarkan semua kebenaran Allah, baik secara sistematis maupun secara organik.

Beberapa golongan lain, menerjemahkan dakwah sebagai sesuatu yang sangat sederhana, tidak muluk-muluk, yakni mengajak setiap orang untuk berbuat baik, terserah dia mau atau tidak. Kalau tidak mau ya sudah, kalau mau ya sukur.

Dari semua pemahaman itu saya mengalami kegamangan. Alangkah sombongnya manusia jika dakwah diartikan sedemikian naif, bahwa diri ini menjadi suci, menjadi bersih dan kemudian mengajak orang lain menjadi sebersih dia. Benarkah bahwa orang yang sangat suci akan mampu membuat orang lain berubah dan mengaca kepadanya? Benarkah orang yang bersih akan membuat orang lain simpati dan menirunya? Ataukah bisa dikatakan the super holy man berteriak-teriak di jalan akan membuat orang lain menjadi ikut di jalannya? Ataukah dengan membuat setiap usaha sistemik entah dengan syariat Islam ataupun dengan semua usaha akan mampu membuat semua mahluk bernama manusia akan menjadi setuju dan tunduk? Maaf, Saya pribadi tidak akan pernah mampu menjadi orang yang sedemikian itu, meskipun saya sangat menghargai bila ada yang mau berbuat demikian!

Pelajaran penting tentang dakwah saya dapati dari beberapa hal: pertama adalah ketika saya KKN di desa Ngluwar. Karena kebodohan kelompok kami dalam bersosialisasi, saya mendapatkan nasihat dari tokoh pemuda di kampung.

“Mas, di Indonesia ini banyak orang pintar mas. Tetapi mas, tidak penting menjadi orang pintar saja. Sudah terlalu banyak. Tetapi yang paling baik adalah orang yang bisa bermasyarakat.”

Teguran ini begitu telak. Betapa ketika dahulu sebelum KKN saya sangat bernafsu mempelajari berbagai macam buku, memenangkan perdebatan wacana, lari dari forum ini ke forum itu, tetapi saya tidak mendapatkan apapun dari semua itu. Saya tidak mendapatkan penghargaan dari apapun kecuali hanya sebatas tepukan tangan ataupun acungan jempol. Pada akhirnya, semuanya hanyalah kemenangan semu.

Pengalaman kedua adalah ketika mengunjungi anak yatim di sebuah panti asuhan. Saya diberi kesempatan untuk mendongeng di hadapan sekumpulan anak panti asuhan. Betapa saya harus mengeluarkan energi untuk membuat cerita yang lucu dan menarik, dengan segenap ekspresi seperti ketika saya mendongeng di TPA. Tetapi anehnya, meski keringat bercucuran dan wajah sudah jadi awut-awutan, tidak seperti di TPA, wajah anak-anak di Panti Asuhan ini kosong dan tidak berisi, tanpa ekspresi. Mereka hanya sibuk memperhatikan gerakan tangan saya dan setiap mainan yang saya pegang, kemudian apa yang saya kenakan dan lain sebagainya. Saya benar-benar merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.

Barulah ketika saya berinisiatif untuk menggendong salah satu peserta, saya mendapati kejadian yang tidak diduga. Hampir semua anak ingin saya gendong dan berebutan. Tidak hanya satu, dua, tetapi lima sekaligus mereka nemplok ke tubuh saya seraya berteriak,”bapak…bapak…gendong”. Masya Allah…apakah yang sedang berkecamuk di kepala saya? Saya sendiri tidak tahu. Mungkin pula saat itu saya menitikkan air mata.

Lebih jauh lagi, suatu pengalaman yang indah adalah ketika berjalan-jalan di sekitar pemukiman Kali Code yang berisi perkampungan yang kumuh. Jemuran di sana-sini dan anak-anak yang lalu lalang. Betapa kemudian saya merasakan bahwa dakwah bukan sekedar berkata, bukan sekedar berbuat, tetapi lebih dari itu adalah ..BERBAGI.

Betapa banyaknya orang-orang yang datang dan menghadiri pengajian. Betapa tiap hari jum’at setiap pribadi mendapati khutbah. Betapa banyaknya dari kita yang naik haji. Tetapi betapa banyaknya perubahan di negeri ini dari masyarakat yang bersahaja, berbudaya, menjadi masyarakat yang semakin tidak beradab. Semua itu telah banyak disinggung sementara banyak para pendengar pidato terkantuk-kantuk dan tidak tahu harus berbuat apa. Maka jika dakwah diartikan sebagai bentuk perilaku yang dilakukan hanya untuk orang lain semata, bukankah itu sangat membebani? Apakah tidak membosankan bahwa setiap juru dakwah adalah ibarat lilin- lilin yang menerangi dunia? Saya tidak bisa mendapati dakwah dengan cara demikian.

Sejauh pengalaman saya dari KKN, dari Anak Yatim dan Dari Fakir miskin, maka saya merasakan bahwa berdakwah adalah mencari rahmat Allah. Betapa susahnya saya melukiskan perasaan bahagia saya ketika setelah KKN saya menjadi orang yang sangat mudah bergaul dengan siapapun, didengarkan siapapun, menjadi damai dan indah dengan siapapun? Betapa saya susah menggambarkan suasana kebahagiaan saya ketika bisa mengangkat dan mengelus kepala anak-anak yatim? Betapa saya sangat terharu mendapati seorang ibu di pemukiman kumuh berterima kasih ketika saya bisa mendengarkan pengalaman hidup dia? Dan alangkah lebih bahagianya ketika saya mampu berbuat lebih dari itu? Apakah dari semua itu kemudian saya menjadi mahluk pasif yang hanya mengartikan dakwah hanya sebatas mencari kebahagiaan dari orang lain? Tidak! Ketika saya ceritakan pengalaman-pengalaman itu kepada orang lain, kepada sahabat-sahabat saya, sungguh bahwa rasa-rasanya kata-kata saya memiliki ruh. Ruh yang jauh lebih dasyat dan mengena di hati, dalam pikiran maupun perbuatan orang lain daripada sekadar kata-kata, ayat-ayat, cerita nabi atau apapun yang disampaikan hanya sebatas membaca buku. Dakwah dengan berbagi pengalaman…..Indah sekali.

Dari sanalah saya sangat tertarik membaca riwayat Rasulullah yang begitu menyatu dengan kehidupan umatnya dari semua kelas, dari semua golongan. Riwayat tokoh-tokoh yang sukses sebagai juru agama dan juga penyebar kedamaian di bumi ini. Hampir dipastikan bahwa semua dari mereka memiliki rasa cinta dan juga semangat untuk berbagi, mendengar dan kemudian menyatu dengan kaumnya. Betapa Rasulullah sangat memahami mengapa seseorang sampai melemparinya dengan batu dan kotoran binatang. Betapa Rasulullah sangat paham mengapa seseorang mengencingi masjid. Betapa Rasulullah sangat paham mengapa seseorang bisa gagal dalam berpuasa. Maka bisa dibayangkan betapa Rasulullah adalah orang yang paling sering berbagi, berdekatan dengan umatnya dan paling mendapatkan kebahagiaan.

Dari sinilah saya sering memulai proses pencerahan teman-teman JS. Saya seringkali membenturkan otak nakal saya, berharap ada nalar kritis yang bisa mereka temukan dalam kehidupan mereka kemudian. Sekedar mengingatkan bahwa dakwah itu tidak didapati pada buku-buku, pada kiai, pada murobbi ataupun pada siapapun di dunia ini. Dakwah itu didapati dari pengetahuan akan tanda-tanda kekuasaan Allah, berbagi dengan mahluk lain dan mengetahui apa yang tahu dan tidak diketahuinya. Maka nikmat manakah yang engkau dustakan.

Awal mula saya bergabung dengan lembaga Islam sebenarnya sederhana: ingin bisa sholat dan membaca Al-Qur’an. Sebagai jebolan sekolah kaum Nasrani tentunya akan sangat penting untuk mendapat legitimasi bahwa dirinya adalah bagian dari orang-orang muslim. Akan tetapi ketika sudah masuk di dalam lembaga Islam seperti JS, JMF ataupun HMI, saya sangat kaget bahwa komunitas-komunitas ini bahkan tidak menyediakan ruang kepada setiap individu untuk mendapatkan hal-hal yang (sekarang saya rasa) sederhana seperti itu. Justru dipaksakan untuk memakan wacana-wacana, keorganisasian, amal jama’I, kepanitiaan dan lain sebagainya serta juga dipaksakan untuk membaca realitas-realitas sosial dan penyikapannya menurut Islam. Jelas dalam tempo singkat saya menjadi eneg dan mumet, karena seolah-olah saya tidak menemukan apa yang selama ini saya cari: Islam, Iman, ketenangan batin dan jaminan akan akhirat saya. Saya menjadi disibukkan dengan ritual-ritual bakti sosial, pendampingan agama Islam, seminar dan lain sebagainya. Saya merasa sebagai robot ataupun jongos yang tidak punya waktu untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri, ataupun bahkan dengan gamblang mendeskripsikan kebutuhan saya sendiri.

Barangkali, rasa bodoh inilah yang mendorong saya untuk mencari tahu banyak hal tentang Islam sendirian. Entah kenapa, tidak ada yang mengajak saya untuk ikut suatu jama’ah tertentu, murobbi tertentu ataupun ustadz tertentu. Akhirnya saya tumbuh berislam secara liar: membaca buku-buku di perpustakaan JS (yang saat itu tidak terurus), di perpustakaan, toko buku, pinjam teman, lalu mendownload artikel-atikel dari internet. Tema-tema sufistik, orientalis sampai fundamentalis saya lahap demi membongkar tentang Islam dan kesejatian kebenarannya. Sejauh itu, saya pun mulai rajin menuliskan pokok-pokok pikiran dan gagasan-gagasan saya, hampir setiap hari. Artikel saya tuliskan di papan mimbar bebas Jamaah Shalahuddin dengan tanpa motifasi, entah dibaca-entah tidak. Selang beberapa waktu kemudian saya sadari bahwa ternyata tidak ada satu pribadipun di JS yang identik dengan saya. Liar, penuh dengan manouver pemikiran dan sangat haus akan membaca.

Di JS, bukannya tidak ada orang yang tertarik dengan membaca, berdiskusi ataupun berasyik masyuk dengan pencarian makna. Banyak diantara mereka menjadi kolektor buku-buku dengan kualitas yang sangat bagus, terbaru ataupun bahkan memiliki perpustakaan pribadi. Sayangnya sangat sedikit diantara mereka yang mengerti betul  bagaimana memahami buku-buku yang dimilikinya, apakah mereka sudah membaca buku-bukunya sampai tuntas, apakah dengan itu mereka menemukan “aha” dari buku-buku yang dia baca.

Seseorang membutuhkan waktu berbulan-bulan demi buku yang dia pinjam dari temannya, bahkan seringkali tidak dikembalikan. Secara psikologis pun seringkali orang-orang menjadi mengantuk dan memerlukan energi banyak untuk memulai membaca buku. Saya sangat heran. Ada yang jauh lebih bodoh lagi, yakni bahwa seseorang cenderung memilih buku-buku yang tipis daripada buku-buku yang tebal, yang bergambar ataupun yang memiliki sampul bagus.

Saya dalam sehari mampu melahap satu buku setebal tiga ratus halaman sekalipun dengan font arial ukuran 11. Mengapa? Karena saya memulai segala sesuatu karena saya tertarik, unik, menggelitik ataupun merangsang naluri ingin tahu saya. Saya tidak tahu bagaimana menumbuhkan rasa ingin tahu ini, tetapi banyak pihak menyebutkan bahwa cara saya memahami sesuatu itu lebih dalam daripada orang lain. Lebih nyeleneh ataupun bisa diartikan tidak pernah terpikirkan oleh orang lain.

Jika sudah ada ketertarikan ini, maka bagi saya tebal dan tipisnya buku bukanlah ukuran. Baik dan buruknya sampul bukanlah ukuran. Yang menjadi ukuran adalah seberapa menarik hal itu di kepala saya.

Suatu saat saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memahami pasar modal, Soros dan pengaruhnya kepada kebangkrutan sebuah negara Indonesia. Betapa saya ingin sekali bisa memahami itu. Dan sampai kini pun saya merasakan bahwa konsep zakat ternyata bisa menjadi solusi terhadap kondisi demikian.

Suatu saat saya sangat disibukkan dengan buku tipis berjudul logika hanya untuk memahami bagaimana otak saya bekerja. Suatu saat yang lain saya sangat tertarik dengan pemikiran para tokoh-tokoh agama tentang dunia.

Saya ingin menjelaskan apa yang disebut penyakit otak. Dalam pandangan saya, buku yang baik adalah buku yang memberikan kita jawaban terhadap pertanyaan, baik yang tersirat maupun yang memang dipertanyakan sejak awal. Saya yakin, bahwa setiap kepala memiliki pertanyaan tentang apapun. Tentang hidup, tentang agama, tentang makan, tidur, peristiwa ataupun bahkan yang ghaib-ghaib. Hanya saja saya melihat bahwa banyak orang mengebiri pertanyaan di kepalanya sendiri dengan bermalas-malasan mencari jawaban. Menunggu orang lain yang menjelaskan kepadanya, ataupun tidak terlalu memperdulikan sama sekali apakah dia tertarik ataukah tidak. Maka sampai pada penyakit yang lebih kronis bagi otaknya yaitu tidak lagi mampu bertanya. Tidak ada rasa heran dan curiga mengapa batu itu keras, mengapa pipis itu mengeluarkan air, mengapa si Suto menjadi pengemis, mengapa masjid berbentuk mbelenduk dan lain sebagainya. Dia menerima dunia sebagai sesuatu yang wajar dan biasa saja. Inilah saat dimana dia membiarkan dirinya kosong dan jauh dari mengenal dunia.

Orang sering mengatakan bahwa dunia membuat kita lupa dan lalai, sehingga kita cenderung meninggalkan dunia, semua itu bagi saya hanyalah reduksi bahwa dunia ini adalah harta, tahta dan wanita. Jika dunia ini beserta isinya adalah mahluk terkecil seperti tengu sampai dengan langit yang membahana, ataupun ruang berpikir manusia yang melampaui  batas alam, tentulah siapapun tahu bahwa dunia ini adalah jalan bagi manusia untuk menuju Allah. Dunia adalah ayat-ayat Allah yang kasab oleh mata dan batin.

Membaca, adalah mengkoneksikan kepala saya dengan dunia. Saya seolah berhadapan dengan sang penulis yang mencoba bertutur tentang sesuatu kepada kepala saya. Bebas dari jeratan waktu.

 

Mengetengahkan Pribadi

Lucunya, dengan semakin kuatnya bacaan saya menimbulkan dampak yang tidak terlalu positif. Saya memiliki kerangka logika, sistematika berpikir dan argumentasi yang sangat tajam untuk melawan setiap orang di JS. Saya sadar bahwa banyak orang yang menentang arus berpikir saya. Sayangnya, banyak diantara mereka yang tidak memiliki kekuatan argumentasi untuk melawan logika-logika saya. Bisa jadi karena memang belum terlatik untuk berpikir kritis, berdebat ataupun berargumentasi, kebanyakan diantara mereka menjadi orang-orang yang sakit hati dan hanya memberikan permakluman terhadap logika nakal saya. Tidak jarang tulisan saya dibredel, dirobek, dicerca, didiskusikan diam-diam dan bahkan difatwa sesat.

Saya sakit hati? Awalnya ya, tetapi saya berkaca kepada Rasulullah yang memang memiliki riwayat di tentang dan dicerca beratus-ratus kali lebih hebat dari saya. Semakin berumur membuat saya sadar bahwa terkadang bukan pemikiran dan logika yang dikedepankan ketika orang berinteraksi. Akan lebih baik jika saya memelihara sikap saya, kata-kata saya, dan juga segala sesuatu yang menjadi baik jika dikomunikasikan dengan orang lain.

Demi menjaga sebuah suasana diskusi agar tidak menimbulkan dendam terhadap perdebatan yang ada, saya mulai rajin untuk belajar tentang psikologi. Saya belajar bagaimana memulai pembicaraan, bagaimana menjaga ritme suara, bagaimana mengenal bahasa tubuh, bagaimana memilih topik yang sekiranya tidak membosankan bagi orang lain, bagaimana merangsang orang lain untuk tidak dijadikan sebagai objek pembicaraan tetapi juga menjadi “penting” keberadaannya di dalam diskusi. Lambat laun saya mulai menemukan kunci-kunci pergaulan sehingga pendapat saya, kata-kata saya, perilaku saya menjadi selektif dan bisa diterima banyak orang. Tidak lama juga saya bisa membaca suasana forum, suasana berpikir orang, menebak arah pembicaraan orang, membantu orang menemukan kata-kata, dan yang paling penting adalah membiarkan kita mengerti tentang isi hati ataupun isi kepala orang lain. Dan semua itu sangat-sangat indah.

Orang tua saya yang dulunya tidak tertarik kepada masalah agama, lambat laun menjadi positif thinking kepada saya. Tetangga, anak-anak sampai dengan siswa SMP ataupun SMA bisa berdiskusi dengan saya dari tema yang paling ringan sampai yang paling berat dengan bahasa dan penumbuhan rasa ingin tahu. Sangat indah rasanya bila orang lain merasakan pengalaman batin yang bermakna ketika bertemu dengan kita.

 

Aku memahami Al-Qur’an

Melihat Al Qur’an yang berbahasa Arab, membacanya dan kemudian menghapalkannya, bagi saya adalah perkara yang dulunya paling menjemukan. Saya berkenalan dengan Al-Qur’an sejak SD dengan Juz Amma yang berbahasa Indonesia. Dan ketika masuk perguruan tinggi saya berhadapan dengan kitab Al-Qur’an, maka dalam otak saya bergelanyut hal-hal yang membuat saya enggan membukanya. Pertama, karena saya harus membaca tulisan dari huruf hijaiyah/huruf Arab, dimana berbeda dengan tulisan latin yang biasanya. Kedua, saya sama sekali tidak tahu apapun dengan bacaan yang saya baca. Kata per kata, kalimat per kalimat berlalu begitu saja tanpa saya tahu maknanya. Ketiga, bahwa sebelum ataupun setelah membaca saya tidak merasakan perubahan apapun di kepala saya selain bahwa ada sebuah iming-iming, saya telah mendapat pahala, selebihnya saya tidak tahu apapun.

Dari hal itu saya bisa dikatakan mulai malas membaca Al-Qur’an. Saya bukannya membenci ataupun menafikan bahwa Al-Qur;an adalah kitabullah. Tetapi saya tidak tahu apa yang bisa saya petik dari membaca sesuatu yang saya tidak tahu untuk apa. Barangkali, nabi Muhammad, masyarakat Arab, ataupun orang yang tahu bahasa Arab adalah orang yang beruntung karena di sana Allah telah berbicara dengan bahasa yang bisa dicerna dengan mudah. Sementara di Indonesia, dengan kebutaan bahasa Arab yang sangat tinggi, untuk apa membaca Al Qur’an? Kalau hanya untuk pahala, alangkah sangat naifnya bahwa Allah menciptakan tulisan-tulisan yang mestinya berisikan makna indah itu hanya untuk dibaca dan dibayar dengan pahala.

Secara ngawur saya menyatakan bahwa umat Islam Indonesia adalah umat Islam yang bodoh. Mereka berislam tanpa tahu apa sebabnya, mereka membaca Al-Qur’an tetapi tidak tahu apa yang dibacanya, bahkan kemungkinan yang lebih jauh: mereka sholat, puasa, syahadat, dan lain sebagainya ritualitas agama tetapi tidak tahu untuk apa semua itu dilakukannya. Sungguh bodoh.

Bagi saya, membaca itu tidak di bibir. Jika membaca adalah di bibir, maka Rasulullah tidak akan terlahir sebagai manusia buta huruf. Jika membaca adalah di bibir, itu berarti yang dilakukannya hanyalah menerjemahkan tanda. Dan tidak ada bedanya anak TPA dengan perguruan tinggi. Anak TPA membaca Iqro sampai Qur’an, dan yang perguruan tinggi membaca Irqo’ dan Qur’an. Bagi saya membaca adalah serangkaian proses membayangkan, melogikakan, mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan bahkan memahami dengan  sebaik-baiknya sesuatu yang disampaikan si pemberi pesan. Membaca yang baik adalah laksana sang prajurit yang menjawab: JELAS dan LAKSANAKAN ketika Jendral berbicara. Membaca adalah menjadi saksi atas sebuah peristiwa. Membaca adalah menghadirkan diri kepada sang pemberi berita.

Untuk itulah saya lebih suka menyimak terjemahan Al-Qur’an. Saya tahu bahwa dari sana akan muncul banyak distorsi makna, kata dan bahkan bahasa ketika suatu hal itu dilepaskan dari bahasa Arabnya. Akan tetapi ini jauh lebih baik daripada saya tidak mengerti sama sekali apa kandungan Al-Qur’an. Dan sedikit demi sedikit saya mulai mencoba memahami bahasa Arab.

Sungguh, dalam Al-Quran terjemahan yang saya baca, ternyata beraneka warna pengetahuan bisa saya serap. Ada yang begitu dahsyat sehingga menimbulkan kekaguman saya, ada yang menakutkan, ada yang memberikan solusi dan ada pula yang memberikan pertanyaan, serta ada pula yang terasa seperti humor ataupun hiburan yang bermakna.

Semakin canggihnya teknologi serta semakin majunya piranti elektronik membuat saya semakin mudah dalam memahami Al Qur’an. Dalam beberapa Software seperti Holy Qur’an, Muhaddits, Al Bayan, saya bisa mengklasifikasikan ayat-ayat Allah dan juga menemukan korelasi maksud Allah tentang persoalan-persoalan tertentu. Inilah saat dimana saya benar-benar menikmati Al-Qur’an sebagai surat cinta Allah. 

 

Bagaimana memulai karier aktivis?

 

Betapa membosankannya sebuah kegiatan di suatu organisasi kampus. Seseorang yang mengaku aktif di suatu organisasi  seringkali berakrab ria dengan tugas-tugas kepanitiaan, kepengurusan dan lain sebagainya yang sangat menyita waktu dan tenaga sehingga tugas utamanya menjadi mahasiswa terbengkalai. Organisasi kampus pun layaknya sekumpulan tugas-tugas kepanitiaan dimana setiap bulan dihadapkan kepada program kerja-program kerja, membuat proposal, memanggil pemateri, penceramah, pemandu diskusi, mencari dana ke rektorat maupun dekanat, mengedarkan proposal ke perusahaan-perusahaan terdekat dan kemudian diakhiri dengan seremonial tepukan tangan di kegiatan, untuk akhirnya menyusun LPJ. Itu saja.

Saya bukan saja menjadi orang yang sangat malas untuk menjadi panitia, tetapi juga bosan bahwa setiap anak baru selalu dibebani tugas-tugas kepanitiaan, selain training kepemimpinan (tentu saja). Orang-orang tua di organisasi lebih menyebalkan lagi. Mereka hanya menyusun konsep (yang terkadang usang) dan proposal yang menyontek dari proposal tahun lalu, dengan perhitungan sponsorship yang tidak berbeda dan juga perasaan bahwa panitia hanya dijadikan jongos yang dipekerjakan begitu saja oleh pengurus.

Untuk beberapa orang, kegiatan kepanitiaan sangat menarik. Bukan saja mereka menemukan kesibukan dan aktifitas yang lebih refresh dibandingkan kegiatan perkuliahan, ada kenalan baru, tetapi juga ditambah dengan adanya wahana dan wadah baru untuk menambah pengalaman, berkenalan dengan tokoh dan lain sebagainya. Harus diakui banyak hal yang membedakan bahwa orang pernah mengikuti suatu kepanitiaan dengan orang yang tidak terbiasa mengikuti kepanitiaan. Dalam tugas-tugas kepanitiaan orang dilatih sejak awal untuk memahami tentang perencanaan kerja, pengenalan karakter teman, pengalaman psikis ketika proposal ditolak, ketika pembicara mangkir ataupun gagal dilobby, sampai dengan situasi-situasi mendadak, semisal jumlah peserta sedikit dll. Belum lagi persoalan kekurangan dana, nombok sampai dengan kebingungan menentukan bentuk cinderamata untuk pembicara dll.

Ketika sampai suatu saat saya merasa sangat bosan hanya bergerak dari suatu panitia ke panitia ini itu, saya mulai belajar menciptakan konsep-konsep kegiatan mulai dari seminar, pelatihan sampai dengan kaderisasi.

Dari berbagai kegiatan kepanitiaan inilah, bagi saya, sangat tahu persis bagaimana menghargai kerja keras orang. Setelah sekian waktu saya sudah melanglang buana dari satu kepanitiaan ke kepanitiaan lain, kemudian naik derajat menjadi mc di berbagai acara, melonjak lagi menjadi moderator dengan memoderatori banyak tokoh seperti Amien Rais, Eep Saefullah, Heddy Shri Ahimsa, Revrisond Baswir, Munir Mulkhan, Dosen-dosen UGM, Mahasiswa, Pengamat sosial, Aktifis LSM yang tidak terhitung banyaknya kemudian naik pangkat menjadi penceramah di berbagai forum mahasiswa dengan berbagai issue-issue, dan terakhir mengisi training-training baik di tingkat SMTA sampai dengan para Profesional. Saya merasakan betul bagaimana setiap komponen kepanitiaan itu saling terkait. Saya tidak segan-segan memberi selamat, khususnya kepada panitia-panitia sebagai orang di balik layar yang bekerja keras di lapangan sehingga suatu acara dapat berjalan baik.

Hanya saja, saya yakin bahwa tidak semua orang bisa seperti saya: terlibat organisasi, ikut kepanitiaan, mendapat pengalaman dan kemudian mampu berpikir konseptual sampai dengan operasionalisasi kegiatan. Dalam berbagai dengar pendapat dengan para pelaku organisasi, ada diantara mereka yang lebih menikmati berorganisasi sebagai nuansa romantisme: menemukan teman curhat, menemukan kakak, adik, guru, sahabat, dan lain sebagainya. Ada juga yang menjadikan organisasi sebagai piranti ataupun media untuk mengaktualisasikan diri: mengolah kemampuan yang dimiliki untuk difasilitasi oleh organisasi yang bersangkutan, menemukan media untuk melebarkan pengaruh pribadi, pengaruh kelompok dan atau  aliran yang dia yakini. Ada juga yang memang sejak awal memiliki harapan-harapan pribadi yang ingin dia dapatkan di organisasi yang bersangkutan.

Berangkat dari itu semua, seringkali banyak orang keluar dari organisasi karena dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya (sebagaimana awalnya saya masuk JS) hanya diperlakukan sebagai panitia dan tidak sebagai pengkonsep. Banyak orang keluar karena merasakan betapa garingnya dan jayusnya pertemuan demi pertemuan di organisasi. Betapa waktu kuliah yang disisihkan untuk ke JS tidak sepadan dengan manfaat yang diperoleh dari organisasi yang bersangkutan. Betapa membosankannya jika seseorang tidak tahu untuk apa dia berada di organisasi itu. Dan betapa indahnya jika ada orang yang bisa menjelaskan bahwa berorganisasi itu indah. Dan setiap pertemuan ada manfaatnya.

 

Begitulah…nanti disambung lagi…………….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Posted at 03:27 pm by feriawan
Comments (2)  

Friday, January 28, 2005
surat untuk ilalang

Assalamu’alaikum wr.wb.

Salam kenal,

Saya Feriawan Agung Nugroho, salah seorang yang nulis di Al Manar, temennya Saleh, Saherman, dan temen-temen Al Manar lainnya, satu pondokan dengan Adib pas belum nikah. Setelah nikah saya tinggal di Solo.

Pertama kali saya nggak sengaja nyasar di blogmu, ilalang, meski masuknya ke sana suliiit banget karena imagenya gegedean dan memakan space warnet. Pas itu aku lagi nyari-nyari artikel tentang FSLDK di Google. Well, kesannya nyantol dan nancep aja pas baca orek-orekanmu yang berkisar tentang Rani, hidupmu dan semua kesibukanmu yang sepertinya pure gambaran aktivis, atau kalo boleh menuduh lebih lanjut, kamu sedang beringas-beringasnya menduniakan pikiran, perasaan dan idealisme sembari bertanya tentang dunia dan gambaran dunia lewat apa dan siapa saja. Maaf kalo kelewatan.

Kalo ada waktu dan ada ruang pikiran yang sempat kamu sisakan untuk ceritaku ini, saya sangat berterima kasih. Saya mau curhat dikit, yang mungkin akan berguna buat kamu besok..

Sebulan lalu berlalu, dan ketika saya mengetik surat untukmu ini masih ada sedikit serakan di meja kerjaku. Aku bekerja di sebuah BMT di kabupaten karanganyar. Sebulan lalu, kami memasang lowongan di media cetak lokal. Dibutuhkan untuk menjadi manager, marketing, accounting dan teller. Hanya sehari.

Setelah itu, sampai dengan batas waktu terakhir pengumpulan, di meja kerja sudah ada 175 map seisinya yang mewakili para pencari kerja di Solo.

Mungkin sadis, mungkin saja memang inilah zaman dimana yang disingkirkan adalah para pemula dan para manusia non pengalaman dan ketrampilan. Caraku menyeleksi adalah dengan melihat ranking curiculum vitae mereka. Hanya ada SATU syarat yang sejujurnya berlaku: PENGALAMAN KERJA. Tentu saja disertai bukti bahwa mereka telah bekerja di perusahaan dengan level Regional atau kalo perlu Nasional. Kurang dari syarat utama itu: masuk timbunan sampah…………

Sebagai perusahaan yang menghargai MANUSIA ADALAH ASSET, ataupun MODAL, maka perusahaan tidak mau gambling atau kompromi untuk mendidik seorang manusia untuk mampu bergerak seiring langkah perusahaan. Perusahaan tidak mau memulai sesuatu dari nol. Perusahaan butuh sekrup dan bukan besi yang harus ditempa, dibentuk dan diulir sampai menjadi sekrup. Tanpa kompromi….

Hanya hitungan jari…mereka yang terseleksi.

Saya pandangi timbunan sampah dengan sekian foto yang siap dibakar…ada diantara mereka yang sudah beristri, ada sarjana fresh, ada yang memalsu ijazah dengan menutup bagian IP ataupun kualifikasi, ada yang dari agama lain, ada yang sudah memiliki anak banyak, ada yang pensiunan, dan banyak diantaranya yang menyertakan surat tanda pengangguran.

Kertas-kertas itu sedang berbicara bahwa diantara mereka ada doa-doa dan harapan untuk memiliki mata air di telaga kehidupan mereka, baik di siang atau di malam hari. Kertas kertas itu berbicara bahwa untuk mengirimkan kertas-kertas itu sampai ke tanganku mereka telah berusaha memakan bangku dari TK sampai PT dengan segenap perangko, legalisir, SIM yang mungkin habis nembak, KTP dan semua-mua yang ujung-ujungnya berakhir di tempat sampah…..

Aku seolah menjadi saksi sekaligus palu yang menyeleksi hidup-hidup mereka bahwa yang kalah dalam kompetisi harus tergilas dan masuk keranjang sampah. Baik dari UGM, IAIN, UPN, UII, UMY, UNY, UNS dan sejenisnya……

Pada sisi lain saya (lagi-lagi) harus mengeluh bahwa dunia pendidikan sekarang adalah dunia tanpa tanggung jawab terhadap keberhasilan masa depan. Mencetak intelektual bermental kuli, bahwa setiap lulus mereka rela untuk menjadi jongos demi segepok uang…demi hidup menjadi jongos. Jarang dari mereka memiliki mental untuk wirausaha dan mandiri ataupun menjadi tuan dari buda-budak lainnya. Jarang…..

Aku, barangkali, lebih beruntung. IP ku tidak bisa mencapai 3. Belum punya pengalaman kerja. Tidak punya uang ataupun perusahaan untuk menjadi kaya. Tapi dengan kemampuan organisasi, training dan penguasaan software komputer, mampu menjadi super jongos (lagi-lagi jongos), untuk masuk tanpa sogokan, KKN dan bergaji cukup untuk menikahi seorang perempuan.

Aku sedang berpikir tentang kamu dan sekian banyak mahasiswa yang mati-matian mengejar IP tinggi, ataupun sibuk berorganisasi. Bukannya pesimis. Tetapi saya sangat jarang menemukan bahwa seorang mahasiswa memiliki perencanaan tentang hidup dan alasan praktis untuk sekedar bertahan hidup demi hari-hari yang tidak gratis. Akankah mereka terjebak oleh janji-janji MLM? Ataupun buaian lowongan surat kabar dengan gaji 2-3 jt? Ataukah ngantri menjadi pegawai negeri? Ataukah demi arus yang tidak jelas ini mereka hanya ingin hasilnya maksimal. IP maksimal, jadi pemikir maksimal, jadi pendakwah maksimal. Tidak tahu..hanya saja saya selalu bimbang bahwa kertas-kertas lamaran ini hanya berakhir di kiloan pemulung. Pemulung yang mandiri dan mampu menghidupi anak istri dan memiliki simpanan sawah di desanya. Belum terhitung jasa dan pahala yang didapati ketika mendaur ulang dan membersihkan sampah-sampah…

Itu saja…semoga kamu bisa menjadi teman berbagi yang indah. Makasih


Posted at 03:55 pm by feriawan
Make a comment  

Tentang Pengangguran di Sosialtry UGM

Ini surat saya tempo hari

Assalamualaikum wr.wb.

Hari ini saya habis menyeleksi 80 lebih berkas lamaran yang telah masuk ke perusahaan. Setelah sebelumnya, tiga minggu yang lalu, kami mencantumkan lamaran ke sebuah harian di kota Solo. Yang dibutuhkan hanya tiga posisi, berarti 3/80 dari semua kesempatan yang ada. Dari sanalah saya bisa memandangi wajah-wajah yang mungkin saat ini berdoa dan berharap bahwa dirinya diapresiasi dengan baik untuk masuk kualifikasi.

-*****

Saya masih ingat, beberapa bulan lalu sebelum menikah saya adalah bagian dari sekian sarjana yang mencari lowongan. Sebagai orang baru yang ingin berkarier, jujur saja bahwa saya tidak pernah punya bayangan tentang apa sesungguhnya dunia kerja. Saya hanya berpikir bahwa pengalaman saya berorganisasi, kemampuan, ketrampilan saya, kecerdasan saya yang diwakili dengan beberapa fotocopy-an dan legalisir-an itu menjadi perayu bagian personalia perusahaan-perusahaan yang saya masuki. Setiap hari saya baca koran-koran dan menuju halaman-halaman yang membuka kran-kran lowongan untuk dimasuki dan disesuaikan dengan kriteria saya.

Jangan ditanya kondisi psikologis saya saat itu: stress!!!! Kebutuhan ekonomi selalu menodong saya untuk segera mendapatkan uang. Tidak ada gunanya berhemat ketika di kost-kost-an saya dulu uang semakin menipis walaupun sudah berhemat makan dua kali sehari, sikat gigi sudah jabrik, odol sudah dilipat sampai kurus dan digulung rapat, sabun mandi dari Rinso.. saya bahkan tidak tahu lagi kapan bisa makan daging. Harap diketahui bahwa orang tua saya juga bukan orang yang mampu..jadi mau tidak mau saya harus bisa hidup sendiri.

Stress karena setiap pagi hari hanya menunggu senja supaya bisa tertidur dan berharap esok ada kabar baik. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali setiap hari hanya menunggu lowongan, pasang kuping, cari info lewat teman dan pengumuman di kampus. Di mana letak harga diri ini? Seolah hidup ini begitu sia-sia karena tidak ada kesibukan yang bisa dilakukan. Kalau toh ada tidak mungkin bisa menjawab apakah ini merupakan hal yang menguntungkan untuk diuangkan. Sama sekali tidak berharga, tidak berguna dan rendah sekali.

Stress karena setiap hari hanya menemukan kesemuan-kesemuan: MLM dimana instrukturnya selalu menjanjikan sukses..sukses…sukses…, buku-buku psikologis yang memaksa kita untuk menciptakan harapan-harapan meskipun otak saya sadar bahwa itu semua hanya semu. Dan stress karena menyadari bahwa setiap detik yang saha habiskan sekarang dan esok tidak ada yang gratis……

*****

Sekarang ini, saya dengan selembar kertas berisikan kolom dengan point-point yang saya centangi, tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh tiap-tiap pelamar: jenis kelamin Ijazah, rekap nilai, pas foto, copy KTP, DRH, surat lamaran, bukti pengalaman kerja, pengalaman di bidangnya minimal 2 tahun di perusahaan terkemuka, surat keterangan sehat, SKKB dan beberapa kriterium ringan lainnya.

Saya sedang menjadi hakim…ketika berkas demi berkas itu harus saya ambil hanya yang telah memiliki pengalaman kerja 2 tahun untuk diberi lingkaran besar. Merekalah orang-orang yang diberi kesempatan untuk langsung diwawancarai. Dan dari mereka hanya ada dua buah.

Saya sedang menjadi wasit…ketika diantara sekian banyak tumpukan hanya sepuluh lebih dikit yang terkualifikasi memiliki pengalaman kerja sesuai yang dibutuhkan perusahaan, kuliah di bidang yang sesuai dengan yang dibutuhkan, dan memiliki domisili yang dekat serta sarana yang mendukung (motor).

Saya sedang menjadi ALGOJO..ketika sebagian besar dari sisa-sisa berkas itu akan segera dibuang….masuk ke dalam mesin penghancur. Sebelum dibuang saya pandangi sekali lagi diantara berkas-berkas yang percuma itu:

Sarjana teknik, Sarjana Perkapalan, Ahli Madya, Sarjana pendidikan, Sarjana agama, Sarjana Peternakan, Sarjana Hukum, Sarjana Ekonomi….Pertambangan UPN, UGM, IPB, ITB, UNS, UMS, Akademi Perawat, …………belum kawin, kawin,…belum berpengalaman,……kursus komputer, bahasa inggris, menguasai GPS….. dan Masya Allah..ada yang memalsu ijazah.

******

Tuhanku ya Allah…..ternyata hidup di dunia, di negeri ini memang merupakan takdir yang pahit. Sarjana-sarjana itu sudah terdidik untuk menjadi kuli. Bermental kuli.dan betapa aku juga termasuk dari orang orang yang terdidik untuk bermental kuli. Dihimpit oleh kenyataan bahwa setiap hari segala sesuatu harus diraih dengan uang dan tidak punya waktu untuk berpikir bahwa dia harus berbuat untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, tetapi menunggu sampai ada celah atau lowongan untuk mengabdi kepada orang. Dan betapa pemain-pemain (sarjana-sarjana) baru yang mulai masuk ke dalam waiting list harus siap-siap untuk didepak dan dicutat jauh-jauh karena sama sekali nol dengan dunia kerja. Dan barangkali selamanya mereka tidak pernah kenal dengan dunia kerja.

Sebagai orang yang sudah menjabat di perusahaan ini, tentu saja saya tidak mau rugi. Saya tidak bisa bermodalkan kasihan, mengeluarkan dana terlalu banyak untuk dengan sabar mewawancarai orang per- orang, memberi waktu mereka untuk berpengalaman, ataupun menerima orang yang benar-benar fresh. Perusahaan tidak mau rugi dengan menempatkan orang yang belum punya pengalaman, apalagi mendidik mereka sampai berpengalaman.

Padahal, dari persaingan keras itu pun perusahaan masih memberlakukan aturan yang demikian ketat: menahan ijazah bila sudah diterima, melalui masa training dan penyesuaian dengan hanya diberi uang makan dan transport selama tiga bulan. Dan harus memenuhi target perusahaan. Karena bagi perusahaan: menambah karyawan berarti menambah omset ataupun keuntungan perusahaan. Menerima karyawan berarti BERMINTRA dengan PERUSAHAAN. TIDAK ADA LOWONGAN YANG DIBUKA TANPA MENGAMBIL KEUNTUNGAN YANG LEBIH BESAR BAGI PERUSAHAAN..!!!!

Ya..Allah. Ijinkan aku memohon ampun apabila telah mematahkan harapan-harapan dari suami yang memiliki istri dan anak, dari sarjana dan kaum intelektual yang telah memohon restu dari ibunya, dari mereka yang membayar fotocopy dan uang sogokan untuk karyawan PT agar legalisir ijazahnya lancar. Bagi mereka yang telah tekun mendapatkan IP sangat cum-laude. Bagi mereka yang berdoa di malam hari..karena hari ini mungkin saya telah membuang harapan mereka itu di tempat sampah. Dan semoga bangsa ini dapat belajar, bahwa menciptakan pekerjaan jauh lebih baik dan bermartabat daripada ikut pada barisan pencari kerja di perusahaan, karena setiap saat kesempatannya semakin sempit dan hasilnya mungkin tidak sebanding dengan ongkon kuliah mereka. Berbahagialan simbok yang berjualan di pasar, mereka mampu menyelamatkan diri mereka. Dan semoga para intelektual yang terhempas itu diberi kekuatan iman, diberi ketabahan dan rejeki yang dimudahkan supaya tidak menjadi barisan orang-orang yang melawan takdirmu.

Wassalam wr.wb.

Ditulis dengan diiringi lagu "sarjana muda" Iwan Fals. Mungkin sekarang jadi sarjana Sosiatri….

Feriawan Agung Nugroho, S.Sos.


Posted at 03:54 pm by feriawan
Comments (2)  

Namaku Feriawan. Berkarier sebagai aktifis mahasiswa muslim sejak 1996 di Jamaah Shalahuddin UGM sampai lulus. Pernah di HMI, pernah di LABDA Shalahuddin PP Budi Mulia. Sekarang kerja di sebuah BMT di Karanganyar solo. SUdah menikah. Ingin berbagi pengalaman dengan mereka yang masih mencari pujaan hati, di jalan yang Islami.
   

<< September 2016 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed