BAGAIMANAKAH CARAMU BERISLAM DI ORGANISASI ISLAM
Apakah kamu sudah merasa nyaman menjadi orang di sebuah Lembaga Islam? Banyak sekali orang yang ingin terlibat dalam aktivitas dakwah di sebuah organisasi Islam, entah HMI, KAMMI, SKI dan lain sebagainya, tetapi sampai saat makin banyak keraguan-keraguan bahwa lembaga-lembaga itu sedemikian “berisi”.
Ketika saya masih aktif di Jamaah Shalahuddin, beberapa orang merasakan bahwa di lembaga itu dia ingin bisa aktif dan terlibat sebagai panitia, membantu mengedarkan proposal, terlibat dalam seminar-seminar yang dihadiri tokoh-tokoh penting, ataupun sekadar ingin tahu: apakah gerangan yang sedang terjadi. Hanya saja ketika ditanyakan apakah diantara mahasiswa-mahasiswa yang menjadi panitia itu mau untuk menjadi anggota JS maka secara ciut banyak orang yang merasa enggan. Mengapa?
Sedikit bergeser dari itu, banyak orang bertanya kepada saya tentang pengalaman saya ketika memulai “karier” di lembaga keislaman di kampus dari nol besar (karena SMA saya adalah SMA Katholik dan tidak mempunyai latar belakang Islam) dan kemudian sangat menikmati dan bahkan menjatuhkan tumpuan hidup pada lembaga-lembaga dakwah. Bagaimana saya bisa benar-benar menikmati menjadi seorang kader lembaga dakwah dan bahkan memberikan training-training di berbagai lembaga dakwah selain di JS.
INDAHNYA BERISLAM DARI NOL
Pada tahun 1993 adalah masa-masa dimana pengetahuan saya tentang tuhan mendapat benturan-benturan luar biasa secara filosofis. Semasa SMA, guru agama saya Drs Untung, seorang madura yang murtad kemudian mengajar pendidikan Agama Katholik, demikian bijak memberikan perbandingan asal muasal agama, sejarah agama-agama dan kemudian (khususnya) perkembangan agama katholik sampai dengan dewasa ini. Untuk banyak siswa barangkali hal-hal demikian tidak menggelitik, tetapi bagi orang yang sangat ingin tahu tentang tuhan, tentunya pengalaman sedemikian seperti halnya seseorang yang mendapati berbagai macam hidangan dan harus memilik mana yang paling enak dan tidak menimbulkan racun.
Dari sanalah keinginan tahu saya tentang tuhan berawal. Saya belum bisa memahami Sholat kecuali bahwa sholat berisikan bacaan demikian. Saya tidak pernah jum’atan blas semasa SMA. Saya pun tidak pernah bermimpi tentang menikmati Islam. Satu satunya yang mengganggu saya adalah pertanyaan tentang Tuhan.
Suatu malam saya berdoa tentang keinginan saya untuk ditunjukkan tentang agama Tuhan. Barulah kemudian saya tahu bahwa di UGM lah Allah memberikan jawaban itu.
Di JMF, lewat pendampingan agama Islam, terlihat sekali bagaimana polosnya saya yang banyak bertanya dibandingkan dengan mereka-mereka yang ternyata sudah dibesarkan oleh Rohis ataupun mengetahui Islam sejak awal di kala mereka menapaki bangku sekolah menengah. Mereka menjadi orang yang alim, anteng, ataupun begitu puas dengan keislaman yang diraihnya sehingga tidak memiliki pertanyaan-pertanyaan yang bernada mempertentangkan.
Beberapa orang yang lain, yang bisa dianggab sebagai bagian besar dari manusia ataupun mahasiswa Indonesia, berislam secara biasa saja. Mereka tidak terlalu tertarik berorganisasi Islam, hanya mengikuti kuliah keislaman dan sesekali menghadiri pengajian. Pada akhirnya pun selepas mereka mengikuti Pendampingan, mereka tidak memperoleh penambahan ataupun peningkatan pengetahuan keislaman.
Entah bagaimana yang terjadi dengan orang lain, saya benar-benar menikmati saat-saat saya mengenal Islam, bukan saja ketika saya bisa mengenal tentang sholat, membaca Qur’an ataupun mengerti tentang aliran-aliran Islam, tetapi juga kehidupan yang diajarkan oleh Allah semenjak kehadiran saya di kota Jogjakarta.
Hal yang paling saya awali pertama kali berdiskusi di SKI adalah pertanyaan tentang hidayah. Secara awam, hidayah bisa diartikan bahwa seseorang telah mengenal Allah dan menisbatkan dirinya untuk bersyahadat dan memeluk Islam.
Pada akhirnya saya protes kepada sang pemateri diskusi. Jika hidayah itu hadir sebagai sebuah ritual pemelukan Islam dan bersyahadat, maka beruntunglah anak-anak kiai, anak-anak rohis, anak-anak pengajian ataupun mungkin anak-anak Arab, Muhammadiyah ataupun NU. Sementara orang-orang seperti saya yang dibesarkan di kalangan abangan dan tidak tahu tentang islam adalah orang-orang yang kemudian masuk neraka begitu saja karena tidak pernah sholat, tidak pernah tahu tentang Islam sekalipun dalam hidupnya punya nilai tentang keimanan, kejujuran dan prinsip hidup.
Saya tidak ingat apa jawaban dari pemateri, yang saya gariskan di kepala dari sari jawabannya hanya satu: bahwa saya semestinya menerima saja sebagai pengejahwantahan iman saya kepada Allah dan bersegeralah untuk ber amar ma’ruf nahi munkar.
Ini tidak adil.
Pada akhirnya kuliah maupun training saya rasakan semakin hampa ketika harus menelan sekian banyak materi tentang ma’rifatullah, ma’rifatul Rasul, Ma’rifatul Insan dan sampai dengan Ukhuwah Islamiah. Semuanya tidak masuk kepada pikiran saya. Masuk kuping kiri dan keluar dari kuping kanan. Hanya saja saya semakin tidak mengerti karena banyak pula orang yang berbicara dengan berapi-api dan terus mengulang-ulang tentang hal-hal baik tentang tuhan, tentang nabi dan tentang kehidupan. Semuanya baik, dan semuanya nampak damai damai saja. Sementara saya merasakan yang berbeda: kenapa semuanya tampak buruk dan tidak serba tanda tanya? Hidayah adalah tanda tanya, utusan Allah adalah tanda tanya dan semuanya yang disekitar kita adalah tanda tanya. Barangkali, dunia ini pun berawal dari sebuah tanda tanya.
Barulah saya merasa sangat beruntung bahwa saya boleh untuk mempertanyakan itu semua daripada mereka-mereka yang sudah “dibesarkan” oleh lingkungan Islam. Saya sangat menikmati menjadi bodoh dengan Tuhan dan Dunia sehingga saya bisa bertanya langsung kepada Allah tentang semua-muanya. Sesuatu yang barangkali untuk sebagian umat dirasakan sebagai bid’ah. Sekarangpun barangkali saya merasakan itu sebagai bid’ah.
Tidak semua orang bisa merasakan bahwa Allah itu ada. Ini Fakta! Sekalipun mereka berjilbab ataupun bergamis dan berjenggot panjang. Banyak diantara mereka yang sudah mengalami masa-masa pendidikan Islam dan bahkan dari kalangan Kiai tetapi sedikit yang menjadi “berisi” ketika ditanyakan tentang Allah. Bukan saja karena diskusi tentang Allah menjadi sangat ditakuti, tetapi juga karena tidak ada orang yang mendiskusikannya atau bahkan takut untuk memperbincangkannya. Lalu bagaimana setiap jiwa bisa mengenal Allah?
Sampai dengan sekarang saya merasakan: adalah hak saya untuk bisa berdialog secara pribadi dengan Allah sebagaimana nabi-nabi yang mendapat petunjuk, sebagaimana rasul-rasul yang memperoleh mediasi Jibril, sebagaimana para wali dan para imam yang memperoleh karomah dan keistimewaan dari Allah. Adalah hak saya untuk mendapatkan petunjuk langsung dari Allah tentang siapa Allah dan apapun di sekitar saya.
Aku dan Allah saling berbicara
Entah tepat atau tidak, mungkin inilah makna yang bisa saya petik dari surat Al-Fatihah dimana tiap-tiap pribadi pada akhirnya memohon untuk ditunjukkan mana jalan yang lurus dan bukan jalan yang dimurkai,sesat ataupun yang dholim.
Tidak ada satupun diantara sekian banyak training yang mengajarkan hal ini, kecuali bahwa tiap-tiap pribadi disuruh untuk melakukan Qiyamulllail yang lebih diisi dengan kengantukan ataupun tangis-tangis melankolis. Bagi orang-orang yang tiada pemahaman tentang semua itu, maka sangat tidak paham: apakah demikian berdosanya sehingga Qiyamullail saya hanya mengantuk belaka, malas dan tidak bersemangat, ataupun apakah hati saya demikian keras sehingga tidak sekalipun saya meneteskan air mata kala sholat di masa itu.
Memulai diskusi dengan Allah adalah adanya memulai hari dengan seperti biasa: pagi, matahari bersinar cerah, siang, senja dan malam manakala jengkrik telah berbunyi. Tetapi memulai hari bisa juga diartikan sebagai waktu-waktu berdiskusi dengan Allah tentang segala sesuatu, sebuah kitab maha besar dengan waktu sebagai penjilidnya dimana tiap-tiap halaman adalah hari-hari dan tiap-tiap kata adalah detik per detik peristiwa yang saya alami. Mempertanyakan mengapa saya miskin, mengapa saya kekurangan, mengapa saya harus kuliah dan mengapa saya harus terlahir dengan nama Feriawan dan mengapa..mengapa..yang lain.
Lalu? Entahlah..saya juga tidak tahu bagaimana pasalnya. Saya merasakan dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah berkata kepada saya lewat hari-hari yang saya lalui dengan demikian sistematis dan meyakinkan. Allah telah berbicara kepada saya lewat bahasa bumi yang demikian mudah saya cerna. Lewat pengalaman baik batin maupun hidup.
Saya tidak sedang mengemis iba kepada anda: Suatu ketika saya mendapati diri saya sangat menderita karena tidak mempunyai uang sama sekali. Orang tua telah berhenti membiayai kehidupan saya dan saya harus berjuang sendiri di Jogja untuk bisa makan dan kuliah. Saya putus asa. Nyaris tidak ada ruang dan dunia serasa sempit karena saya tida tahu harus kemana lagi untuk bisa menemukan tempat bekerja sambilan ataupun memperoleh rupiah. Saya sering menuliskan dialog dan kegundahan saya ini, berbicara pada diri sendiri dan mungkin sekali protes kepada Allah yang seolah menjauhkan saya dari rahmatnya.
Saat itu saya tertelungkup di sudut masjid. Kemarin adalah uang terakhir yang saya gunakan untuk membeli nasi tempe penyet terakhir yang kemudian. Sepiring nasi yang terasa sangat nikmat, karena bisa saya nikmati sehari dua kali. Kini, perut saya terlalu melilit karena seharian tidak terisi nasi.
Tidak ada seorang pun yang berada di sekretarian JS (masjid kampus yang masih sebagian dibangun) saat itu sehingga tidak ada yang bisa saya mintai tolong untuk sekadar meminjam uang untuk jajan. Protes saya kepada Allah pun menjadi-jadi.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada orang (perempuan) yang (maaf) gila mengaku-aku sebagai orang yang tinggal di masjid itu. Kemudian dia mengaku bahwa suaminya pergi dan masjid itu sebagai tempat tinggalnya. Tuhan, kenapa pada saat perut sesial ini masih saja ada gangguan.
Diluar dugaan, orang gila ini kengeluarkan suatu bungkusan dan diberikan kepada saya dan dia menyuruh saya memakannya. Dibilangnya bahwa itu dari suaminya yang pergi dan menyuruh saya bermalam di masjid (yang dalam pikirannya adalah rumahnya).
Begitu dia pergi saya agak jijik menerima bungkusan itu. Ketika saya buka, Masya Allah, ternyata isinya adalah tiga potong sate kebab (sate dengan daging tebal berlapis bawang bombai dan tomat), nasi hangat, sayuran, apel dan juga buah peer. Saya menangis, bukan sekedar bersyukur karena telah mendapat shodaqah dari seorang gila sehingga bisa makan, tetapi juga betapa Allah menunjukkan kepada saya betapa cengengnya saya, sedangkan orang gila yang tidak bekerja pun mampu memperoleh rizki, dan bahkan bershodaqah, kenapa saya yang sehat dan waras tidak mampu menghidupi diri sendiri. Atau saya berprasangka bahwa saat itu saya sedang didatangi malaikat. (?)
Beberapa bulan kemudian ketika saya telah memperoleh pekerjaan, saya telah bisa makan enak dan bahkan bisa makan daging, buah serta susu, tetapi ternyata tidak ada yang lebih lezat daripada tempe penyet yang saya makan ketika kelaparan dulu. Justru, saat itu saya mengalami sakit dengan buang air besar berdarah, entah ambeien ataupun diare, yang jelas Allah telah menunjukkan bahwa kenikmatan itu bukan pada materi, tetapi pada kesyukuran.
Masih banyak lagi hikmah-hikmah yang bisa saya petih hasil berdialog dengan Allah, dan sungguh Allah maha pengasih, guru yang bijaksana serta sebenar-benarnya pencipta yang bertanggungjawab terhadap ciptaannya. Begitulah hidayah, adalah sebuah kepercayaan bahwa Allah benar-benar dzat yang maha besar dan dekat…dekat sekali dengan mahluknya.
Semakin jauh, pemahaman saya mendapati bahwa banyak orang berguru pada kiai, berdekat dengan murobbi, ulama ataupun orang-orang alim demi mndapatkan pengetahuan agama. Saya pribadi tidak menyalahkan hal itu. Tetapi sejauh pengalaman saya, sesungguhnya berislam yang paling efektif adalah dengan berdoa. Dengan berdialog langsung kepada Allah dan melihat bahwa apa yang ada di sekitar kita adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Jadi disanalah saya bisa merasa tenang dan tidak khawatir terhadap apapun walaupun saya sangat jauh dari wajah seorang santri yang pernah melalui didikan pondok. Saya lebih bebas memilih setiap pertanyaan dan jawaban yang akan saya cari baik lewat ulama, lewat buku, ataupun lewat apapun yang secara egois saya klaim bahwa itulah jawaban Allah. Saya tidak akan salah, karena jika salah, maka Allah sendirilah yang akan memberikan jalan kebenaran kepada saya, selama saya memohon dan membersihkan hati. Itulah hidayah bagi saya pribadi.
Dakwah Dalam gerakan
Ketika saya bertanya pada sebuah forum tentang apa yang melandasi seseorang menjadi anggota suat lembaga keislaman, hampir semua peserta menjawab bahwa yang mengikat mereka adalah dakwah.
Di Jamaah Shalahuddin, kata dakwah menjadi kata yang paling sering dibicarakan, didiskusikan dan dijadikan jargon dalam setiap kesempatan. Itu karena memang yang melandasi tiap-tiap pribadi yang tergabung dalam setiap lembaga keislaman akan diikat oleh misi yang dengan mudah dikatakan sebagai misi dakwah. Akan tetapi dari sekian banyak hal yang saya amati, ternyata memang sangat sedikit dari setiap manusia yang mampu menjelaskan kepada saya tentang apakah dakwah itu. Padahal, pada tiap-tiap training kata ini selalu diulang dan diulang, tetapi dalam perhatian saya, tiap peserta hanya memperoleh pemahaman yang dangkal tentang dakwah.
Beberapa golongan, menerjemahkan dakwah sebagai sebuah proyek raksasa untuk membuat tiap-tiap kepala menjadi seperti yang dimaui oleh Qur’an dan Hadist. Maka Dakwah adalah sebuah kerja raksasa dengan melibatkan semua daya upaya untuk memperdengarkan semua kebenaran Allah, baik secara sistematis maupun secara organik.
Beberapa golongan lain, menerjemahkan dakwah sebagai sesuatu yang sangat sederhana, tidak muluk-muluk, yakni mengajak setiap orang untuk berbuat baik, terserah dia mau atau tidak. Kalau tidak mau ya sudah, kalau mau ya sukur.
Dari semua pemahaman itu saya mengalami kegamangan. Alangkah sombongnya manusia jika dakwah diartikan sedemikian naif, bahwa diri ini menjadi suci, menjadi bersih dan kemudian mengajak orang lain menjadi sebersih dia. Benarkah bahwa orang yang sangat suci akan mampu membuat orang lain berubah dan mengaca kepadanya? Benarkah orang yang bersih akan membuat orang lain simpati dan menirunya? Ataukah bisa dikatakan the super holy man berteriak-teriak di jalan akan membuat orang lain menjadi ikut di jalannya? Ataukah dengan membuat setiap usaha sistemik entah dengan syariat Islam ataupun dengan semua usaha akan mampu membuat semua mahluk bernama manusia akan menjadi setuju dan tunduk? Maaf, Saya pribadi tidak akan pernah mampu menjadi orang yang sedemikian itu, meskipun saya sangat menghargai bila ada yang mau berbuat demikian!
Pelajaran penting tentang dakwah saya dapati dari beberapa hal: pertama adalah ketika saya KKN di desa Ngluwar. Karena kebodohan kelompok kami dalam bersosialisasi, saya mendapatkan nasihat dari tokoh pemuda di kampung.
“Mas, di Indonesia ini banyak orang pintar mas. Tetapi mas, tidak penting menjadi orang pintar saja. Sudah terlalu banyak. Tetapi yang paling baik adalah orang yang bisa bermasyarakat.”
Teguran ini begitu telak. Betapa ketika dahulu sebelum KKN saya sangat bernafsu mempelajari berbagai macam buku, memenangkan perdebatan wacana, lari dari forum ini ke forum itu, tetapi saya tidak mendapatkan apapun dari semua itu. Saya tidak mendapatkan penghargaan dari apapun kecuali hanya sebatas tepukan tangan ataupun acungan jempol. Pada akhirnya, semuanya hanyalah kemenangan semu.
Pengalaman kedua adalah ketika mengunjungi anak yatim di sebuah panti asuhan. Saya diberi kesempatan untuk mendongeng di hadapan sekumpulan anak panti asuhan. Betapa saya harus mengeluarkan energi untuk membuat cerita yang lucu dan menarik, dengan segenap ekspresi seperti ketika saya mendongeng di TPA. Tetapi anehnya, meski keringat bercucuran dan wajah sudah jadi awut-awutan, tidak seperti di TPA, wajah anak-anak di Panti Asuhan ini kosong dan tidak berisi, tanpa ekspresi. Mereka hanya sibuk memperhatikan gerakan tangan saya dan setiap mainan yang saya pegang, kemudian apa yang saya kenakan dan lain sebagainya. Saya benar-benar merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.
Barulah ketika saya berinisiatif untuk menggendong salah satu peserta, saya mendapati kejadian yang tidak diduga. Hampir semua anak ingin saya gendong dan berebutan. Tidak hanya satu, dua, tetapi lima sekaligus mereka nemplok ke tubuh saya seraya berteriak,”bapak…bapak…gendong”. Masya Allah…apakah yang sedang berkecamuk di kepala saya? Saya sendiri tidak tahu. Mungkin pula saat itu saya menitikkan air mata.
Lebih jauh lagi, suatu pengalaman yang indah adalah ketika berjalan-jalan di sekitar pemukiman Kali Code yang berisi perkampungan yang kumuh. Jemuran di sana-sini dan anak-anak yang lalu lalang. Betapa kemudian saya merasakan bahwa dakwah bukan sekedar berkata, bukan sekedar berbuat, tetapi lebih dari itu adalah ..BERBAGI.
Betapa banyaknya orang-orang yang datang dan menghadiri pengajian. Betapa tiap hari jum’at setiap pribadi mendapati khutbah. Betapa banyaknya dari kita yang naik haji. Tetapi betapa banyaknya perubahan di negeri ini dari masyarakat yang bersahaja, berbudaya, menjadi masyarakat yang semakin tidak beradab. Semua itu telah banyak disinggung sementara banyak para pendengar pidato terkantuk-kantuk dan tidak tahu harus berbuat apa. Maka jika dakwah diartikan sebagai bentuk perilaku yang dilakukan hanya untuk orang lain semata, bukankah itu sangat membebani? Apakah tidak membosankan bahwa setiap juru dakwah adalah ibarat lilin- lilin yang menerangi dunia? Saya tidak bisa mendapati dakwah dengan cara demikian.
Sejauh pengalaman saya dari KKN, dari Anak Yatim dan Dari Fakir miskin, maka saya merasakan bahwa berdakwah adalah mencari rahmat Allah. Betapa susahnya saya melukiskan perasaan bahagia saya ketika setelah KKN saya menjadi orang yang sangat mudah bergaul dengan siapapun, didengarkan siapapun, menjadi damai dan indah dengan siapapun? Betapa saya susah menggambarkan suasana kebahagiaan saya ketika bisa mengangkat dan mengelus kepala anak-anak yatim? Betapa saya sangat terharu mendapati seorang ibu di pemukiman kumuh berterima kasih ketika saya bisa mendengarkan pengalaman hidup dia? Dan alangkah lebih bahagianya ketika saya mampu berbuat lebih dari itu? Apakah dari semua itu kemudian saya menjadi mahluk pasif yang hanya mengartikan dakwah hanya sebatas mencari kebahagiaan dari orang lain? Tidak! Ketika saya ceritakan pengalaman-pengalaman itu kepada orang lain, kepada sahabat-sahabat saya, sungguh bahwa rasa-rasanya kata-kata saya memiliki ruh. Ruh yang jauh lebih dasyat dan mengena di hati, dalam pikiran maupun perbuatan orang lain daripada sekadar kata-kata, ayat-ayat, cerita nabi atau apapun yang disampaikan hanya sebatas membaca buku. Dakwah dengan berbagi pengalaman…..Indah sekali.
Dari sanalah saya sangat tertarik membaca riwayat Rasulullah yang begitu menyatu dengan kehidupan umatnya dari semua kelas, dari semua golongan. Riwayat tokoh-tokoh yang sukses sebagai juru agama dan juga penyebar kedamaian di bumi ini. Hampir dipastikan bahwa semua dari mereka memiliki rasa cinta dan juga semangat untuk berbagi, mendengar dan kemudian menyatu dengan kaumnya. Betapa Rasulullah sangat memahami mengapa seseorang sampai melemparinya dengan batu dan kotoran binatang. Betapa Rasulullah sangat paham mengapa seseorang mengencingi masjid. Betapa Rasulullah sangat paham mengapa seseorang bisa gagal dalam berpuasa. Maka bisa dibayangkan betapa Rasulullah adalah orang yang paling sering berbagi, berdekatan dengan umatnya dan paling mendapatkan kebahagiaan.
Dari sinilah saya sering memulai proses pencerahan teman-teman JS. Saya seringkali membenturkan otak nakal saya, berharap ada nalar kritis yang bisa mereka temukan dalam kehidupan mereka kemudian. Sekedar mengingatkan bahwa dakwah itu tidak didapati pada buku-buku, pada kiai, pada murobbi ataupun pada siapapun di dunia ini. Dakwah itu didapati dari pengetahuan akan tanda-tanda kekuasaan Allah, berbagi dengan mahluk lain dan mengetahui apa yang tahu dan tidak diketahuinya. Maka nikmat manakah yang engkau dustakan.
Awal mula saya bergabung dengan lembaga Islam sebenarnya sederhana: ingin bisa sholat dan membaca Al-Qur’an. Sebagai jebolan sekolah kaum Nasrani tentunya akan sangat penting untuk mendapat legitimasi bahwa dirinya adalah bagian dari orang-orang muslim. Akan tetapi ketika sudah masuk di dalam lembaga Islam seperti JS, JMF ataupun HMI, saya sangat kaget bahwa komunitas-komunitas ini bahkan tidak menyediakan ruang kepada setiap individu untuk mendapatkan hal-hal yang (sekarang saya rasa) sederhana seperti itu. Justru dipaksakan untuk memakan wacana-wacana, keorganisasian, amal jama’I, kepanitiaan dan lain sebagainya serta juga dipaksakan untuk membaca realitas-realitas sosial dan penyikapannya menurut Islam. Jelas dalam tempo singkat saya menjadi eneg dan mumet, karena seolah-olah saya tidak menemukan apa yang selama ini saya cari: Islam, Iman, ketenangan batin dan jaminan akan akhirat saya. Saya menjadi disibukkan dengan ritual-ritual bakti sosial, pendampingan agama Islam, seminar dan lain sebagainya. Saya merasa sebagai robot ataupun jongos yang tidak punya waktu untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri, ataupun bahkan dengan gamblang mendeskripsikan kebutuhan saya sendiri.
Barangkali, rasa bodoh inilah yang mendorong saya untuk mencari tahu banyak hal tentang Islam sendirian. Entah kenapa, tidak ada yang mengajak saya untuk ikut suatu jama’ah tertentu, murobbi tertentu ataupun ustadz tertentu. Akhirnya saya tumbuh berislam secara liar: membaca buku-buku di perpustakaan JS (yang saat itu tidak terurus), di perpustakaan, toko buku, pinjam teman, lalu mendownload artikel-atikel dari internet. Tema-tema sufistik, orientalis sampai fundamentalis saya lahap demi membongkar tentang Islam dan kesejatian kebenarannya. Sejauh itu, saya pun mulai rajin menuliskan pokok-pokok pikiran dan gagasan-gagasan saya, hampir setiap hari. Artikel saya tuliskan di papan mimbar bebas Jamaah Shalahuddin dengan tanpa motifasi, entah dibaca-entah tidak. Selang beberapa waktu kemudian saya sadari bahwa ternyata tidak ada satu pribadipun di JS yang identik dengan saya. Liar, penuh dengan manouver pemikiran dan sangat haus akan membaca.
Di JS, bukannya tidak ada orang yang tertarik dengan membaca, berdiskusi ataupun berasyik masyuk dengan pencarian makna. Banyak diantara mereka menjadi kolektor buku-buku dengan kualitas yang sangat bagus, terbaru ataupun bahkan memiliki perpustakaan pribadi. Sayangnya sangat sedikit diantara mereka yang mengerti betul bagaimana memahami buku-buku yang dimilikinya, apakah mereka sudah membaca buku-bukunya sampai tuntas, apakah dengan itu mereka menemukan “aha” dari buku-buku yang dia baca.
Seseorang membutuhkan waktu berbulan-bulan demi buku yang dia pinjam dari temannya, bahkan seringkali tidak dikembalikan. Secara psikologis pun seringkali orang-orang menjadi mengantuk dan memerlukan energi banyak untuk memulai membaca buku. Saya sangat heran. Ada yang jauh lebih bodoh lagi, yakni bahwa seseorang cenderung memilih buku-buku yang tipis daripada buku-buku yang tebal, yang bergambar ataupun yang memiliki sampul bagus.
Saya dalam sehari mampu melahap satu buku setebal tiga ratus halaman sekalipun dengan font arial ukuran 11. Mengapa? Karena saya memulai segala sesuatu karena saya tertarik, unik, menggelitik ataupun merangsang naluri ingin tahu saya. Saya tidak tahu bagaimana menumbuhkan rasa ingin tahu ini, tetapi banyak pihak menyebutkan bahwa cara saya memahami sesuatu itu lebih dalam daripada orang lain. Lebih nyeleneh ataupun bisa diartikan tidak pernah terpikirkan oleh orang lain.
Jika sudah ada ketertarikan ini, maka bagi saya tebal dan tipisnya buku bukanlah ukuran. Baik dan buruknya sampul bukanlah ukuran. Yang menjadi ukuran adalah seberapa menarik hal itu di kepala saya.
Suatu saat saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memahami pasar modal, Soros dan pengaruhnya kepada kebangkrutan sebuah negara Indonesia. Betapa saya ingin sekali bisa memahami itu. Dan sampai kini pun saya merasakan bahwa konsep zakat ternyata bisa menjadi solusi terhadap kondisi demikian.
Suatu saat saya sangat disibukkan dengan buku tipis berjudul logika hanya untuk memahami bagaimana otak saya bekerja. Suatu saat yang lain saya sangat tertarik dengan pemikiran para tokoh-tokoh agama tentang dunia.
Saya ingin menjelaskan apa yang disebut penyakit otak. Dalam pandangan saya, buku yang baik adalah buku yang memberikan kita jawaban terhadap pertanyaan, baik yang tersirat maupun yang memang dipertanyakan sejak awal. Saya yakin, bahwa setiap kepala memiliki pertanyaan tentang apapun. Tentang hidup, tentang agama, tentang makan, tidur, peristiwa ataupun bahkan yang ghaib-ghaib. Hanya saja saya melihat bahwa banyak orang mengebiri pertanyaan di kepalanya sendiri dengan bermalas-malasan mencari jawaban. Menunggu orang lain yang menjelaskan kepadanya, ataupun tidak terlalu memperdulikan sama sekali apakah dia tertarik ataukah tidak. Maka sampai pada penyakit yang lebih kronis bagi otaknya yaitu tidak lagi mampu bertanya. Tidak ada rasa heran dan curiga mengapa batu itu keras, mengapa pipis itu mengeluarkan air, mengapa si Suto menjadi pengemis, mengapa masjid berbentuk mbelenduk dan lain sebagainya. Dia menerima dunia sebagai sesuatu yang wajar dan biasa saja. Inilah saat dimana dia membiarkan dirinya kosong dan jauh dari mengenal dunia.
Orang sering mengatakan bahwa dunia membuat kita lupa dan lalai, sehingga kita cenderung meninggalkan dunia, semua itu bagi saya hanyalah reduksi bahwa dunia ini adalah harta, tahta dan wanita. Jika dunia ini beserta isinya adalah mahluk terkecil seperti tengu sampai dengan langit yang membahana, ataupun ruang berpikir manusia yang melampaui batas alam, tentulah siapapun tahu bahwa dunia ini adalah jalan bagi manusia untuk menuju Allah. Dunia adalah ayat-ayat Allah yang kasab oleh mata dan batin.
Membaca, adalah mengkoneksikan kepala saya dengan dunia. Saya seolah berhadapan dengan sang penulis yang mencoba bertutur tentang sesuatu kepada kepala saya. Bebas dari jeratan waktu.
Mengetengahkan Pribadi
Lucunya, dengan semakin kuatnya bacaan saya menimbulkan dampak yang tidak terlalu positif. Saya memiliki kerangka logika, sistematika berpikir dan argumentasi yang sangat tajam untuk melawan setiap orang di JS. Saya sadar bahwa banyak orang yang menentang arus berpikir saya. Sayangnya, banyak diantara mereka yang tidak memiliki kekuatan argumentasi untuk melawan logika-logika saya. Bisa jadi karena memang belum terlatik untuk berpikir kritis, berdebat ataupun berargumentasi, kebanyakan diantara mereka menjadi orang-orang yang sakit hati dan hanya memberikan permakluman terhadap logika nakal saya. Tidak jarang tulisan saya dibredel, dirobek, dicerca, didiskusikan diam-diam dan bahkan difatwa sesat.
Saya sakit hati? Awalnya ya, tetapi saya berkaca kepada Rasulullah yang memang memiliki riwayat di tentang dan dicerca beratus-ratus kali lebih hebat dari saya. Semakin berumur membuat saya sadar bahwa terkadang bukan pemikiran dan logika yang dikedepankan ketika orang berinteraksi. Akan lebih baik jika saya memelihara sikap saya, kata-kata saya, dan juga segala sesuatu yang menjadi baik jika dikomunikasikan dengan orang lain.
Demi menjaga sebuah suasana diskusi agar tidak menimbulkan dendam terhadap perdebatan yang ada, saya mulai rajin untuk belajar tentang psikologi. Saya belajar bagaimana memulai pembicaraan, bagaimana menjaga ritme suara, bagaimana mengenal bahasa tubuh, bagaimana memilih topik yang sekiranya tidak membosankan bagi orang lain, bagaimana merangsang orang lain untuk tidak dijadikan sebagai objek pembicaraan tetapi juga menjadi “penting” keberadaannya di dalam diskusi. Lambat laun saya mulai menemukan kunci-kunci pergaulan sehingga pendapat saya, kata-kata saya, perilaku saya menjadi selektif dan bisa diterima banyak orang. Tidak lama juga saya bisa membaca suasana forum, suasana berpikir orang, menebak arah pembicaraan orang, membantu orang menemukan kata-kata, dan yang paling penting adalah membiarkan kita mengerti tentang isi hati ataupun isi kepala orang lain. Dan semua itu sangat-sangat indah.
Orang tua saya yang dulunya tidak tertarik kepada masalah agama, lambat laun menjadi positif thinking kepada saya. Tetangga, anak-anak sampai dengan siswa SMP ataupun SMA bisa berdiskusi dengan saya dari tema yang paling ringan sampai yang paling berat dengan bahasa dan penumbuhan rasa ingin tahu. Sangat indah rasanya bila orang lain merasakan pengalaman batin yang bermakna ketika bertemu dengan kita.
Aku memahami Al-Qur’an
Melihat Al Qur’an yang berbahasa Arab, membacanya dan kemudian menghapalkannya, bagi saya adalah perkara yang dulunya paling menjemukan. Saya berkenalan dengan Al-Qur’an sejak SD dengan Juz Amma yang berbahasa Indonesia. Dan ketika masuk perguruan tinggi saya berhadapan dengan kitab Al-Qur’an, maka dalam otak saya bergelanyut hal-hal yang membuat saya enggan membukanya. Pertama, karena saya harus membaca tulisan dari huruf hijaiyah/huruf Arab, dimana berbeda dengan tulisan latin yang biasanya. Kedua, saya sama sekali tidak tahu apapun dengan bacaan yang saya baca. Kata per kata, kalimat per kalimat berlalu begitu saja tanpa saya tahu maknanya. Ketiga, bahwa sebelum ataupun setelah membaca saya tidak merasakan perubahan apapun di kepala saya selain bahwa ada sebuah iming-iming, saya telah mendapat pahala, selebihnya saya tidak tahu apapun.
Dari hal itu saya bisa dikatakan mulai malas membaca Al-Qur’an. Saya bukannya membenci ataupun menafikan bahwa Al-Qur;an adalah kitabullah. Tetapi saya tidak tahu apa yang bisa saya petik dari membaca sesuatu yang saya tidak tahu untuk apa. Barangkali, nabi Muhammad, masyarakat Arab, ataupun orang yang tahu bahasa Arab adalah orang yang beruntung karena di sana Allah telah berbicara dengan bahasa yang bisa dicerna dengan mudah. Sementara di Indonesia, dengan kebutaan bahasa Arab yang sangat tinggi, untuk apa membaca Al Qur’an? Kalau hanya untuk pahala, alangkah sangat naifnya bahwa Allah menciptakan tulisan-tulisan yang mestinya berisikan makna indah itu hanya untuk dibaca dan dibayar dengan pahala.
Secara ngawur saya menyatakan bahwa umat Islam Indonesia adalah umat Islam yang bodoh. Mereka berislam tanpa tahu apa sebabnya, mereka membaca Al-Qur’an tetapi tidak tahu apa yang dibacanya, bahkan kemungkinan yang lebih jauh: mereka sholat, puasa, syahadat, dan lain sebagainya ritualitas agama tetapi tidak tahu untuk apa semua itu dilakukannya. Sungguh bodoh.
Bagi saya, membaca itu tidak di bibir. Jika membaca adalah di bibir, maka Rasulullah tidak akan terlahir sebagai manusia buta huruf. Jika membaca adalah di bibir, itu berarti yang dilakukannya hanyalah menerjemahkan tanda. Dan tidak ada bedanya anak TPA dengan perguruan tinggi. Anak TPA membaca Iqro sampai Qur’an, dan yang perguruan tinggi membaca Irqo’ dan Qur’an. Bagi saya membaca adalah serangkaian proses membayangkan, melogikakan, mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan bahkan memahami dengan sebaik-baiknya sesuatu yang disampaikan si pemberi pesan. Membaca yang baik adalah laksana sang prajurit yang menjawab: JELAS dan LAKSANAKAN ketika Jendral berbicara. Membaca adalah menjadi saksi atas sebuah peristiwa. Membaca adalah menghadirkan diri kepada sang pemberi berita.
Untuk itulah saya lebih suka menyimak terjemahan Al-Qur’an. Saya tahu bahwa dari sana akan muncul banyak distorsi makna, kata dan bahkan bahasa ketika suatu hal itu dilepaskan dari bahasa Arabnya. Akan tetapi ini jauh lebih baik daripada saya tidak mengerti sama sekali apa kandungan Al-Qur’an. Dan sedikit demi sedikit saya mulai mencoba memahami bahasa Arab.
Sungguh, dalam Al-Quran terjemahan yang saya baca, ternyata beraneka warna pengetahuan bisa saya serap. Ada yang begitu dahsyat sehingga menimbulkan kekaguman saya, ada yang menakutkan, ada yang memberikan solusi dan ada pula yang memberikan pertanyaan, serta ada pula yang terasa seperti humor ataupun hiburan yang bermakna.
Semakin canggihnya teknologi serta semakin majunya piranti elektronik membuat saya semakin mudah dalam memahami Al Qur’an. Dalam beberapa Software seperti Holy Qur’an, Muhaddits, Al Bayan, saya bisa mengklasifikasikan ayat-ayat Allah dan juga menemukan korelasi maksud Allah tentang persoalan-persoalan tertentu. Inilah saat dimana saya benar-benar menikmati Al-Qur’an sebagai surat cinta Allah.
Bagaimana memulai karier aktivis?
Betapa membosankannya sebuah kegiatan di suatu organisasi kampus. Seseorang yang mengaku aktif di suatu organisasi seringkali berakrab ria dengan tugas-tugas kepanitiaan, kepengurusan dan lain sebagainya yang sangat menyita waktu dan tenaga sehingga tugas utamanya menjadi mahasiswa terbengkalai. Organisasi kampus pun layaknya sekumpulan tugas-tugas kepanitiaan dimana setiap bulan dihadapkan kepada program kerja-program kerja, membuat proposal, memanggil pemateri, penceramah, pemandu diskusi, mencari dana ke rektorat maupun dekanat, mengedarkan proposal ke perusahaan-perusahaan terdekat dan kemudian diakhiri dengan seremonial tepukan tangan di kegiatan, untuk akhirnya menyusun LPJ. Itu saja.
Saya bukan saja menjadi orang yang sangat malas untuk menjadi panitia, tetapi juga bosan bahwa setiap anak baru selalu dibebani tugas-tugas kepanitiaan, selain training kepemimpinan (tentu saja). Orang-orang tua di organisasi lebih menyebalkan lagi. Mereka hanya menyusun konsep (yang terkadang usang) dan proposal yang menyontek dari proposal tahun lalu, dengan perhitungan sponsorship yang tidak berbeda dan juga perasaan bahwa panitia hanya dijadikan jongos yang dipekerjakan begitu saja oleh pengurus.
Untuk beberapa orang, kegiatan kepanitiaan sangat menarik. Bukan saja mereka menemukan kesibukan dan aktifitas yang lebih refresh dibandingkan kegiatan perkuliahan, ada kenalan baru, tetapi juga ditambah dengan adanya wahana dan wadah baru untuk menambah pengalaman, berkenalan dengan tokoh dan lain sebagainya. Harus diakui banyak hal yang membedakan bahwa orang pernah mengikuti suatu kepanitiaan dengan orang yang tidak terbiasa mengikuti kepanitiaan. Dalam tugas-tugas kepanitiaan orang dilatih sejak awal untuk memahami tentang perencanaan kerja, pengenalan karakter teman, pengalaman psikis ketika proposal ditolak, ketika pembicara mangkir ataupun gagal dilobby, sampai dengan situasi-situasi mendadak, semisal jumlah peserta sedikit dll. Belum lagi persoalan kekurangan dana, nombok sampai dengan kebingungan menentukan bentuk cinderamata untuk pembicara dll.
Ketika sampai suatu saat saya merasa sangat bosan hanya bergerak dari suatu panitia ke panitia ini itu, saya mulai belajar menciptakan konsep-konsep kegiatan mulai dari seminar, pelatihan sampai dengan kaderisasi.
Dari berbagai kegiatan kepanitiaan inilah, bagi saya, sangat tahu persis bagaimana menghargai kerja keras orang. Setelah sekian waktu saya sudah melanglang buana dari satu kepanitiaan ke kepanitiaan lain, kemudian naik derajat menjadi mc di berbagai acara, melonjak lagi menjadi moderator dengan memoderatori banyak tokoh seperti Amien Rais, Eep Saefullah, Heddy Shri Ahimsa, Revrisond Baswir, Munir Mulkhan, Dosen-dosen UGM, Mahasiswa, Pengamat sosial, Aktifis LSM yang tidak terhitung banyaknya kemudian naik pangkat menjadi penceramah di berbagai forum mahasiswa dengan berbagai issue-issue, dan terakhir mengisi training-training baik di tingkat SMTA sampai dengan para Profesional. Saya merasakan betul bagaimana setiap komponen kepanitiaan itu saling terkait. Saya tidak segan-segan memberi selamat, khususnya kepada panitia-panitia sebagai orang di balik layar yang bekerja keras di lapangan sehingga suatu acara dapat berjalan baik.
Hanya saja, saya yakin bahwa tidak semua orang bisa seperti saya: terlibat organisasi, ikut kepanitiaan, mendapat pengalaman dan kemudian mampu berpikir konseptual sampai dengan operasionalisasi kegiatan. Dalam berbagai dengar pendapat dengan para pelaku organisasi, ada diantara mereka yang lebih menikmati berorganisasi sebagai nuansa romantisme: menemukan teman curhat, menemukan kakak, adik, guru, sahabat, dan lain sebagainya. Ada juga yang menjadikan organisasi sebagai piranti ataupun media untuk mengaktualisasikan diri: mengolah kemampuan yang dimiliki untuk difasilitasi oleh organisasi yang bersangkutan, menemukan media untuk melebarkan pengaruh pribadi, pengaruh kelompok dan atau aliran yang dia yakini. Ada juga yang memang sejak awal memiliki harapan-harapan pribadi yang ingin dia dapatkan di organisasi yang bersangkutan.
Berangkat dari itu semua, seringkali banyak orang keluar dari organisasi karena dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya (sebagaimana awalnya saya masuk JS) hanya diperlakukan sebagai panitia dan tidak sebagai pengkonsep. Banyak orang keluar karena merasakan betapa garingnya dan jayusnya pertemuan demi pertemuan di organisasi. Betapa waktu kuliah yang disisihkan untuk ke JS tidak sepadan dengan manfaat yang diperoleh dari organisasi yang bersangkutan. Betapa membosankannya jika seseorang tidak tahu untuk apa dia berada di organisasi itu. Dan betapa indahnya jika ada orang yang bisa menjelaskan bahwa berorganisasi itu indah. Dan setiap pertemuan ada manfaatnya.
Begitulah…nanti disambung lagi…………….