KAU TOLAK CINTAKU
DENGAN BASMALAH II
(MENJADI MUJAHID CINTA, BERJIHAD LEWAT ASMARA, SYAHID KALA CINTA BINASA)
......Berdebat, saling menyentil perasaan, saling berbantahan dan lain sebagainya.
Banyak saran-saran yang dia tujukan kepada kelakuan saya. Yang paling menonjol adalah ketidaksukaannya kepada saya yang menatap lawan jenis tanpa ada batasan. Semestinya, dalam pandangannya, seorang lelaki dalam memandang lawan jenisnya harus memperhatikan etika dan adab, khususnya agama. Semestinya seseorang lawan jenis membiasakan diri untuk goddul bashar (menundukkan pandangan) sehingga terjaga hatinya dari zina mata. Konon, setan akan mudah masuk dan merasuk ketika lawan jenis saling bertatapan.
Konsep goddul bashar yang dia utarakan, barangkali, masih teramat susah untuk dilakukan. Harus kuakui bahwa mata menjadi pintu dari segala dosa-dosa yang berkaitan dengan zina. Tergoda, terangsang, terkesima, takjub dan lain sebagainya terhadap lawan jenis, semua itu berawal dari tatapan mata. Akan tetapi menundukkan pandangan? Bukankah aneh jika dalam hidup kita harus terus-terusan menunduk terhadap lawan jenis. Di luar sana, ada beribu perempuan menampakkan wajahnya, ada beratur perempuan tanpa malu –malu memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnnya, ada berpuluh-puluh perempuan memperlihatkan pusar, pinggang dan pundaknya, ada juga yang menggunakan busana tipis yang memaksa kita menduga-duga apa yang tersembunyi di baik kain yang merawang itu. Semua itu merupakan cara setan untuk masuk dalam imajinasi dan fantasi seksual kita.
Lalu, adakah ruang bagi kita untuk menundukkan pandangan? Sementara pusat perbelanjaan, kampus sampai dengan tempat ibadah beraroma syahwat? Ini sungguh tidak adil. Apakah tidak lebih baik jika kita menerima keadaan ini sambil istighfar?
Menurut Neni, perempuan menutup aurat bukan karena keinginan perempuan untuk melindungi dirinya dari godaan sekitar. Fitrahnya, seorang perempuan adalah berhias dan tampil cantik, menampakkan keindahannya dan merangsang orang lain untuk memuji dan merayunya. Akan tetapi agama menetapkan aurat atas perempuan guna melindungi laki-laki. Perempuan memakai jilbab karena kasihan kepada laki-laki yang ternyata sangat rapuh terhadap penampilan fisik.
Tentang rapuhnya laki-laki, barangkali saya masih bisa menerima. Akan tetapi tentang aurat yang dikatakan menutupi ruang masuknya godaan setan ke mata laki-laki, aku protas keras. Mengapa? Bayangkan dengan jelas: aurat hanyalah kain yang menutup tubuh perempuan kecuali bagian-bagian yang nampak, berupa wajah dan telapak tangan. Bukankah banyak orang lain yang jatuh cinta gara-gara bibir seksi seseorang, ataupun alis mata, ataupun pipi yang merah ranum, ataupun alis mata yang menggoda? Haruskah konsepsi aurat berubah menjadi seluruh wajah. Berapa banyak pria yang tergoda karena suara seksi seseorang, merdu, mendayu-dayu, mendesah? Haruskah bibir perempuan tersebut di-staples, dijahit ataupun dilarang bicara dengan laki-laki? Atau suaranya di-galak-galakkan? Atau mungkin seseorang yang tergoda karena jari-jari lentik perempuan yang keluar dari renda-renda kain penutup lengannya. Akankah dia harus memakai kaos tangan?
Ini sungguh tidak logis dan mempersulit! Kenapa aurat cukup difahami sebagai kewajiban ataupun perintah Allah kepada manusia. Itu saja. Sungguh jika standarnya adalah naluri syahwat manusia, maka konsepsi aurat akan menjadi pandangan a la Islam liberal. Saya tidak setuju.
Bagaimanapun, saran dia agar saya berusaha menundukkan pandangan dapat saya terima sebagai penjagaan diri dan moral seseorang. Tidak harus sempurna, tetapi juga tidak berarti menerima keadaan masyarakat yang amoral sebagai sesuatu yang serba dimaklumi.
Sejuta perdebatan, sejuta rasa tercipta. Maka kutetapkan bahwa Neni adalah pribadi yang bisa melengkapi diri ini. Aku mulai berimajinasi untuk bisa menjadi suaminya. Menjadi orang yang melindunginya. Sudah dua tahun lebih kami saling mengenal. Paling tidak setahun lagi kuperkirakan masa studi kami berdua akan berakhir. Apakah salah jika kami saling mengikat janji untuk bisa menjadi suami istri satu sama lain. Bukankah dia sudah mengenal aku dan menerimaku? Bukankah aku sudah mengenal dia dalam banyak hal? Adakah kemungkinan ditolak lagi? Rasanya tidak. Ada banyak kemesraan tercipta pada hubungan-hubungan kami yang unik.
Malam itu (entah tanggal berapa aku lupa) kubulatkan tekad untuk mengutarakan isi hatiku. Aku sudah membuat janji untuk ketemu neni di kosnya. Segalanya sudah rapi: baju, potongan rambut, kalimat-kalimat yang akan diucapkan, semuanya sudah sempurna.
Wahai annisa….
Seorang mujahid cinta akan datang ke istanamu dan mengutarakan isi hatinya. Malam ini begitu indah…
Selaksa bintang-bintang berkedipan untuk menjadi saksi ikatan kita. Jalan-jalan yang terlalui adalah jalan-jalan yang memberikan sorak sorai seorang mujahid cinta…
Sekarang tidak ada lagi keraguan. Setiap langkah meninggalkan jejak yang jelas berirama satu-dua. Wajah dengan dagu yang terangkat. Pundak yang menegang, dada yang terbusung.
Sekarang…atau tidak sama sekali.
Menunggu….
Ssudah seperempat jam terbuang dengan kegelisahan di serambi depan kos-kosan yang diterangi bola lampu 15 watt. Cukup remang-remang bila dibandingkan dengan serambi seluas 10 x 15 meter. Dia muncul dengan senyuman yang tersungging seperti biasanya.
“Maaf, ya,”sapanya.
“Ga papa. Lagi ngapain sih?”tanyaku.
“Nglempiti cucian. Kan sayang kalo nglumbruk di kamar. Jadi harus dirapikan dulu.”
“Oooh..”
“Gimana skripsinya”
“Yah….begitulah”
Baik? Begitukah?
Banyak orang secara enteng menanyakan kabar tentang skripsi kawannya atau orang lain tanpa perasaan canggung, tanpa basa-basi. Seolah-olah itu adalah bahasa keakraban. Untuk mereka-mereka yang masih berusia smester muda, barangkali akan menunggu pertanyaan demikian. Akan tetapi bagi mereka yang sudah usia kuliahnya bersmester tua, hampir dipastikan pertanyaan ini sangat menyayat hati. Hampir 80 persen orang ketika ditanya skipsinya akan memiliki ganjalan luarbiasa, seolah-olah badai besar sedang melibas habis dan memporak-porandakan ruang-ruang hati.
Banyak mahasiswa tua, mereka dengan mudah menyelesaikan kuliah dan hanya menyisakan tugas akhir ataupun skripsi. Akan tetapi kendala-kendala yang menghadang membuat orang begitu gamang menyelesaikan skripsi. Kegamangan itu berawal dari kemampetan ide yang harus dituangkan dalam selembar kertas, sulitnya bertemu dosen, dan kendala psikologis dalam melangkah ke kampus.
Seseorang bisa mampet idenya dalam mengerjakan skripsi karena beban luar biasa berat bergelanjut di kepala. Sekalipun 24 jam dia berhadapan dengan komputer, akan tetapi tidak ada satu jari pun yang mampu menggerakkan tuts-tuts keyboard sehingga mengalir bahasa-bahasa ilmiah yang cerdas. Sekalipun 24 jam sehari dia melangkah ke perpusatakaan, tetapi terkadang tidak ada satu ilham pun masuk ke kepala.
Bisa jadi, seseorang menjadi gamang dalam menyelesaikan skripsi karena beratnya beban psikologis yang ada di kehidupannya.Di rumah ataupun kampung halamannya, sang mahasiswa tua dimarahi dan didesak orang tua, di kampus tidak ada lagi teman-teman seangkatan. Jika bertemu adik-adik angkatan, selalu melontarkan pertanyaan yang sangat menyakitkan: Hai, kakak. Sudah selesai? Sekarang kerja di mana?
Sementara, sudah banyak adik-adik angkatannya yang diwisuda. Mau dikemanakan wajah ini.
Dan..lagi-lagi..di sini ditanyakan tentang skripsi. Ahhh…
Setelah seperempat jam berlalu dengan basa-basi, saatnya tiba.
“Mas Feri. Hari ini rapi sekali. Ada apa nih?”
Ada sedikit jeda. Jelas ini adalah saat-saat kritis dimana semua bahasa dan fokus harus dipusatkan.
“Sengaja.”
“Sengaja kenapa?”
“Ingin ngomong sesuatu sama kamu.”
“Ngomong apa”
“Ngomong tentang rencanaku.”
“Rencana Mas Fer?”
“Iya.”
“Apa itu?”
“Begini. Saya berharap satu tahun lagi lulus. Kemudian, setelah itu saya coba mereka-reka tentang kehidupan setelah itu. Kamu tahu setelah itu mau ngapain?”
“Ya…kerja.”
“Terus?”
“Nikah.”
“Terus.”
“Kok terus-terus. Memangnya mau apa lagi,”senyumnya mengembang. Dia tahu saya sedang hendak mencairkan suasana.
“Nah itulah. Makanya saya datang ke sini.”
“Kenapa?”
“Saya rasa saya sudah menemukan siapa yang ingin saya jadikan isri saya.”
“Oooh…itu,”wajahnya menandakan dia sudah mulai paham. Tetapi suasananya tidak seperti yang kuharapkan. Ada perasaan tidak enak untuk melanjutkan perbincangan ini. Tetapi..apa lacur.
“Intinya itu. Saya bermaksud mengutarakan isi hati saya.Kalau Mbak Neni menerima, saya bermaksud untuk menjadikan Mbak Neni sebagai istri saya kelak.”
Deg..deg…deg..
Tidak ada lagi yang bisa kudengar kecuali suara jantungku sendiri. Meski sikap tubuh dan wajahku masih bisa kuatasi supaya tidak nampak memalukan, tetapi keheningan yang hampir lima menit menyelimuti kami berdua membuat semuanya jadi tampak menekan nafas yang keluar dari paru-paru ini.
“Ehm..”, aku mendehem untuk menetralisir keadaan. Wajah dan pandangan Neni mulai menunjukkan bahwa dia akan memulai alur pembicaraan. Aku menunggu kata-kata yang meluncur dari bibirnya.
“Boleh saya bertanya?” Neni bicara.
“Ya.”
“Sejauh mana Mas Fer mempersiapkan masa depan.”
“Maksudnya?”
“Visi apa yang hendak Mas Fer bangun. Dalam berkeluarga tentunya bukan sekedar Mas Fer suka sama saya, kemudian kita menikah. Yang penting adalah: lalu apa setelah itu…”
“Ya..ya..saya tidak begitu tahu. Bukankah itu bisa kita bicarakan pada saat kita sudah bersepakat? Bukankah itu adalah fase di mana kita saling merencakan masa depan ketika semuanya sudah relatif bisa di tebak. Ya, mungkin yang utama bagi saya sekarang ini adalah saya mengutarakan maksud saya ini kepada Mbak Heni. bagaimana jawaban dari Mbak Heni, itulah yang barangkali menjadi pikiran saya.”
“Mas Fer. Saya merasa Mas Fer terlalu dini dalam mengutarakan maksud. Bukankah saat ini konsentrasi Mas Fer adalah pada skripsi. Tentang keluarga, saya melihat Mas Feri tidak begitu matang berecana.”
Aku merasakan pembicaraan ini semakin kaku. Aku mati-matian berusaha menahan debat dan egoisme yang meledak-ledak di dada. Melawan perasan, bagiku adalah hal yang tidak mudah. Tetapi ini adalah saat yang tepat untuk mengujinya, yaitu di hadapan orang yang dicintai.
“Saya tahu saya tidak begitu sempurna merencanakan ini. Tetapi..beginilah saya adanya. Saya membutuhkan orang yang mendampingi saya di kemudian hari. Jadi, kalo boleh, saya minta jawaban terhadap perasaan saya ini.”
Wajah Neni masih datar. Perasaan bodohku kambuh.Apakah aku telah salah selama ini. Bukankah selama ini dia begitu mesra dan cocok padaku? Bukankah perhatiannya dalam mendiskusikan banyak hal kepadaku menandakan kemampuannya untuk menerimaku? Bukankah aku tidak sedang Ge-er?
Tetapi saat ini situasi hatiku penuh dengan keragu-raguan. Serasa aku harus menanggung malu untuk ke dua kali. Apakah memang ternyata selama ini aku Cuma Ge-er? Akankah semua perhatiannya adalah perhatian milik semua orang? Ataukah memang aku sedang diliputi perasaan sejuta kebodohan dan ketololan sehingga mau-maunya menyatakan cinta kepada orang yang selalu berkonflik kepadaku. Ah……..sial.
“Saya tidak bisa menerima mas Feri.”
BLARRR…..
Hati yang damai,berubah menjadi hujan badai.
Petir menggelegar disertai gemuruh yang memekakkan.
Terburai…
Tercabik-cabik…
RONTOK
Sang Mujahid cinta jatuh terkapar bersimbah malu…
Pulang dengan bunga layu…
Wajah kuyu…
Ora iso ngguyu
Amarga....
Ora payu..
“Ya.”
Dengan perasaan dikuat-kuatkan saya berusaha untuk tegar.
“Saya terima kok. Mbak Heni berhak untuk itu.”
“Maaf”
“Kalau boleh saya tahu. Kenapa Mbak menolak saya.”
“Tidak ada.”
…….
…….
…
..(kosong)
“Baiklah. Saya sudah menyampaikan isi hati saya. Sekarang saya pulang.”
Aku berdiri dan mencoba menyusun langkah demi langkah untuk menuju pintu pagar. Motor pinjaman itu terasa jauhhhh sekali. Langkah kaki ini serasa dibebani berton-ton baja. Kenapa jadi begini?
“Mas Feri.”
Suara Neni kembali menahan langkahku. Jantungku berdegup kencang.
“Ya.”
“Saya menolak Mas Feri karena Mas Feri tidak Dewasa.”
Sudah Jatuh tertimpa tangga
Apakah ini derita sang mujahid cinta yang kalah?
Hatimu yang terburai kembali diiris-iris, dirajang, diberi garam, cuka, diacak-acak kemudian dilumatkan dalam roda penggilingan yang mencabik setiap serat-serat yang tersusun di dalamnya.
Pahit, kecut,pedas dan serba nelangsa…
“Oooh.”
Wajah Neni dihiasi senyuman puas. Perasaanku bahkan mengatakan senyuman ini sinis.Aku membalas senyuman itu dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Tegar meski hati momrot.
“Terima kasih. Saya akan berusaha menjadi dewasa.”
Detik berikutnya menjadi suara nafas-nafas yang seolah mendekati kematian. Menyakitkan.
“Assalamualaikum,” sapaku terakhir.
Malam itu, dalam kamar. Kemarahan disertai keangkuhan bergelora sendiri.
Sungguh konyol ! Saat aku ngomong suka sama dia, bukan Cuma ditolak, tetapi juga dikatakan tidak dewasa. Menyakitkan. Menyedihkan. Kamu menjadi pecundang yang memalukan Fer. Dipecundangi luar dalam.
Saat itu, agaknya, saya sudah mulai terlatih untuk ditolak sehingga meskipun kecewa, saya dengan cepat sadar bahwa ada Allah yang akan mengatur segalanya. Hanya seminggu waktu yang dibuthkan untuk menata perasaanku. Semuanya cepat kembali seperti semula.
Sejak saat itu pula saya banyak mencari dan menggali berbagai pemikiran dan arti kedewasaan. Memang sungguh memalukan dan sungguh apa yang dia katakan, sesungguhnya saya jauh dari kata DEWASA. Berbagai referensi yang saya baca menunjukkan bahwa orang yang dewasa adalah orang yang bisa mendengarkan orang lain: bahasa lisan, bahasa tubuh, latar belakang sampai dengan pola pikir orang lain. Dewasa juga berarti bisa menempatkan diri dalam situasi yagn tepat: mencari suasana yang sesuai untuk berbicara, memberikan sesuatu yang sesuai untuk berkomunikasi, pemilihan kata, pemilihan pakaian, bahasa tubuh dan semuanya. Dewasa juga berarti kemampuan diri untuk bertindak yagn sesuai kepada orang lain: bertindak tepat tanpa disuruh, bersikap tepat, membawa diri dengan tepat, sampai dengan introspeksi, latihan-latihan dan juga pembelajaran dari orang lain, pengakuan-pengakuan kekurangan-kekurangan diri. Sehingga tahulah saya bahwa saya memang benar-benar jauh dari itu. Penolakan ini, membawa perubahan diri saya secara luar biasa.
Tetapi, bagaimanakah hari-hari selanjutnya bersama Neni?
Semenjak itu aku tidak lagi malu-malu membuka kegagalanku menjadi calon Neni. Bisa dipastikan semua teman-teman di organisasi kubiarkan tahu. Sangat tidak enak jika orang lain menduga-duga, justru bila diberitahukan perasaanku lebih lega, lebih jujur dan tidak ada beban.
Sayangnya Neni berbeda pikiran. Karena banyak orang yang tahu, dia menjadi marah. Beberapa teman dekatnya memberitahukan kalau dia sangat tidak suka mengetahui aku membeberkan kisah cintaku.
Gagal dengan Neni, sama dengan mengakhiri waktu untuk mencoba berintrospeksi. Sepanjang saya melakukan kontemplasi diri untuk menemukan kata dewasa, sepanjang itu pula hati ini cenderung berpasrah diri, entah menyerah, entah sabar, entah kalah, yang jelas bagi saya saat ini menunggu lebih baik daripada memulai dan gagal.
Dalam bayangan saya, tentulah ada wanita yang tercipta. Allah tidak mungkin tidak adil untuk menciptakan perempuan yang terindah untuk saya. Itu pasti, hanya di mana..aku tak tahu. Ada harapan tersimpan walau tanpa usaha. Setiap perempuan, siapapun dia, punya potensi untuk menjadi istri, menjadi pendamping, menjadi belahan jiwa. Untuk itu ada baiknya bersikap baik dengan semua perempuan. Mencoba memahami jenis kelamin dari isi hati, bukan nafsu, naluri dan imajinasi.
Aku berusaha mereka-reka. Siapakah dia…arjuna yang senantiasa dinanti-nantikan kehadirannya oleh para perempuan? Mengapa aku melihat banyak pria yang begitu digilai oleh perempuan. Mengapa banyak laki-laki yang diimajinasikan oleh banyak perempuan? Mengapa aku tidak seperti mereka yang dengan mudah menjalin hubungan dan putus seenak perutnya?
Rasanya jika aku memandangi wajah di cermin, tidak jelek amat. Banyak diantara mereka yang lebih jelek tetapi mampu digilai oleh perempuan cantik. Apakah diri ini bodoh? Rasanya juga tidak. Aku memiliki IQ yang tergolong cerdas. Bisa belajar dari pengalaman dan mampu menyerap pengetahuan. Apakah aku kuper? Rasanya sudah banyak buku kubaca. Bahkan, saking ingin tahu rasanya bergaul yang baik, aku harus merelakan sedikit uang kuliah untuk dibelikan majalah-majalah remaja populer untuk memahami pergaulan yang menyenangkan. Tetapi semuanya sudah ada padaku, hanya saja..duhai wanita, mengapa engkau tidak memasukkan aku ke dalam imajinasimu.
Barangkali, inilah takdir. Aku mungkin cacat. Cacat yang kasap mata, yakni merupakan pria yang jauh dari dicintai perempuan. Kalau memang demikuan adanya, maka aku harus menerimanya. Tidak ada gunanya merenungi nasibku yang demikian. Dunia masih banyak yang membutuhkan diriku selain memikirkan perempuan.
Setelah sekian lama belajar tentang kedewasaan, barulah aku mengerti bahwa selama ini aku salah. Perempuan, siapapun dia, bukan mengukur lawan jenis berdasarkan kepandaian, bukan pula berdasarkan keperkasaan fisik, bukan pula dari kepiawaian dalam menguasai sesuatu. Perempuan, intinya, menyukai perhatian. Perhatian yang lahir dari sifat kebapakan, sifat yang tidak ingin menang sendiri tetapi mampu mendengarkan, yang tidak sekedar menilai tetapi juga memperbaiki, sifat yang tahu bagaimana menempatkan diri. Lambat laun aku mulai menyadari bagaimana aku memang layak untuk tidak disukai perempuan, pun dikatakan tidak dewasa, memang barangkali demikian adanya.
Yang terutama, adalah kebiasaanku untuk show force. Tanda ketidak dewasaan seseorang adalah betapa dia terkadang bertingkah norak: mempertunjukkan keahliannya, misalkan mempertontonkan jurus-jurus karate, menyanyi keras-keras, mengenakan busana yang mempertontonkan sesuatu di balik busana itu, bisa merk, pangkat atau sesuatu lainnya. Show force di sini diibaratkan sebagai tingkah ayam berkokok. Dia lenggak-lenggok ke sana ke mari untuk memikat lawan jenisnya.
Ah…bodohnya saya. Bukankah itu pertanda bahwa seseorang sedang tidak berpuas diri? sedang ingin dipuji? Sedang menipu kepercayaan dirinya? Betapa perempuan manapun akan sebal melihat laki-laki yang demikian?
Perempuan lebih menyukai laki-laki yang menemukan dirinya sendiri. Perempuan akan melihat laki-laki cool sebagai laki-laki cool tanpa harus bertingkah macam-macam. Perempuan akan menyukai laki-laki yang memang badung sebagai laki-laki badung tanpa harus bertingkah ala laki-laki badung. Intinya, perempuan dengan mata hatinya akan menyukai laki-laki yang telah menemukan diri. Jadi itulah kunci kegagalan saya selama ini.
Sepanjang saya memperbaiki diri, menahan diri dan menemukan diri untuk menjadi dewasa, sepanjang itulah aku mulai bisa merasakan betapa bisa berteman dan berkomunikasi dengan perempuan tanpa harus melibatkan dan mengimajinasikan tentang kesukaan dia padaku. Saya sadar, bahwa rasa ingin memiliki itu harus dibuang jauh-jauh. Justru dengan memberilah seseorang akan dicintai. Maka, sepanjang itu pula saya mulai belajar untuk bersikap baik kepada adik-adik angkatan, kepada teman seorganisasi, kepada siapapun dengan sebenar-benarnya perhatian. Perhatian yang saya berikan ini dengan segenap sikap jujur saya.
Mulailah saya menemukan banyak teman perempuan . Indikasi bahwa diantara mereka jatuh cinta kepada saya pun nampaknya ada, akan tetapi trauma kegagalan cinta karena sikap ge-er saya masih berasa. Maka kecenderungan saya adalah menahan diri. Biarlah semua berjalan apa adanya.
Aku mendapati adik-adik angkatan perempuan yang memanggil saya sebagai kakak. Sebagai orang yang mampu mereka ajak berbincang. Aku mendapati adik-adik yang mempercayakan persoalan mereka untuk bisa saya dengarkan. Allah, betapa senangnya dipercaya oleh mereka sebagai orang yang mampu mendengar. Sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya rasakan nikmatnya.
Adalah tiga diantara mereka Nur, Tia dan Ani. Teman seorganisasi di JS yang lucu-lucu dan menyenangkan. Dari merekalah aku bisa mendengarkan bagaimana perempuan-perempuan memiliki sesuatu berbeda dengan laki-laki.
Adalah Dayu, seorang kader baru JS yang dekat dengan saya. Dia berasal dari Fakultas Farmasi UGM. Awal pertemuannya tidak begitu jelas kuingat. Yang jelas Dayu hanyalah bagian sekian banyak perempuan di JS yang sejauh ini tidak istimewa di mataku.
Ceritanya, Dayu sangat repot menghadapi persoalan keorganisasian yang demikian bertumpuk-tumpuk, mulai dari soal komunikasi, koordinasi, training kader, administrasi dan lain sebagainya. Sementara itu, sangat disayangkan tidak ada diantara pengurus lain yang membantunya.
Sebagai senior, tentu saja saya tidak bisa melihat Dayu demikian kerepotan. Sayang, jika kader sepotensial Dayu harus pergi dari JS karena kerepotan. Kemampuanku dan pengalamanku dalam menyelesaikan persoalan keorganisasian kucoba bagikan kepada Dayu. Dayu pun mulai bisa memahami segala hal tentang organisasi.
Peristiwa ini adalah awal dari sekian kisah yang cinta yang kuingat. Suatu senja, di sudut sayap barat-selatan masjid kampus, kami duduk-duduk di tangga. Ba’da Ashar. Angin berhembus sedikit kencang menggerakkan pucuk-pucuk tumbuhan di sekitar masjid. Suara burung kecil ikut menghiasi nyanyian daun-daun yang saling bergesekan. Suhu tidak terlalu gerah, dan sinar matahari sudah berwarna kecoklatan.
Dalam lorong masjid, di tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dasar ini suhu terasa lebih sejuk, karena memang alas lantai masjid yang terbuat dari marmer dan sebagian lagi porselen menjamin suhu masjid ini terus dingin. Meski lorong ini agak gelap dibandingkan di luar masjid, tetapi cukup terang untuk melihat sudut-sudut ruangan yang menjadi aktifitas teman-teman Jama’ah Shalahuddin UGM.
Dayu duduk pada sap tangga ke tujuh sementara aku duduk di tangga paling dasar. Jarak kami sekitar tiga meter. Cukup syar’I untuk membincangkan sesuatu.
“Mas Feri, aku mau tanya nih,” kata Dayu.
“Tanya apa, Dayu”jawabku.
“Mestinya, kita menggali potensi calon kader JS dahulu baru kemudian diberi idiologi JS, ataukah sebaliknya, kita memberikan idiologi JS ke kepala mereka baru kemudian digali masing-masing potensinya,”kata Dayu.
Untuk seorang senior yang tahu bagaimana mengkaderi seorang senior di dalam organisasi, jelas pertanyaan demikian tidak boleh diberi jawaban secara letter lux. Sudah seharusnyalah bahwa dia menemukan jawabnya sendiri dan kita yang senior cukup membimbingnya menemukan jawaban. Akan tetapi aku sadar bahwa pertanyaan itu sangat rumit.
“Sst…..” aku sekedar ingin menghentikan keseriusan dia dalam memikir antah berantah organisasi.
“Itu”.
Telunjukku membimbing arah pandangnya ke dinding masjid di atas kepalanya.
“Ada bintang-bintang di atas kepalamu.”
Dia tersenyum. Manis sekali. Aku membalas senyumnya. Apakah bintang-bintang yang kumaksudkan. Bintang-bintang itu sebenarnya adalah sinar surya yang menerobos melalui celah-celah dinding masjid berbatako. Batako itu dibuat sedemikian rupa sehingga berongga, agar ventilasi ruangan terjaga. Sementara, rongga-rongga itu dirancang artistik menyerupai bintang bersiku lima. Karena matahari memancar terang dari sudut barat, sinarnya mampu menerobos celah batako hingga membentuk gambaran bintang di dinding sebelah dalam. Bayangan itulah yang kami lihat.
Bayangan itu sebenarnya tidak terlalu istimewa andaikata tidak ada pohon kayu putih di luar halaman masjid yang menjulang tinggi. Bayangan cemara itu terlihat dari dalam rongga-rongga dinding luar masjid. Angin yang mempermainkan pucuk-pucuk kayu putih mengakibatkan sinar matahari yang menerobos pun seolah dipermainkan pucuk-pucuk kayu putih. Bintang-bintang yang diciptakan oleh sinar matahari di dinding sebelah dalam, yang kami lihat, seolah berkelipan menari-nari.
“Dayu, sekarang coba kamu perhatikan bintang-bintang di atas, yang sedang menari-nari itu. Itu Indah sekali,”kataku.
”Tahu ngga. Bintang-bintang itu sangat istimewa. Bintang-bintang itu hanya bisa kamu lihat selama bulan Juli sampai Agustus. Setelah itu biasanya hujan akan menutup cahaya matahari dan bintang-bintang itu tidak muncul.”
Suasana saat itu begitu romantis, untukku, mungkin juga untuknya. Selama beberapa saat dia ikut menikmati tarian bintang di dinding atas masjid. Selama itu pula aku mencuri pandang ke arahnya.
“Nah, seperti itu pula seharusnya kita dalam mendidik siapapun di JS ini. Mereka adalah mahasiswa yang nantinya akan memiliki sinar. JS adalah lembaga yang semestinya membuat sinar mereka menjadi terlihat lebih indah, menjadi pohon kayu putih yang mempermainkan cahaya matahari, sehingga bintang-bintang tampak menari-nari.”
Selama beberapa saat dia tersenyum.
“Mas Feri bisa aja.”
Hari berganti, musim pancaroba. Sinar bintang di dalam masjid kampus tidak terlihat, kecuali aku yang selalu saja mengeluh karena masuk angin. Kondisi musiman manusia Indonesia ketika tubuh tidak siap menerima perubahan cuaca. Betapa membosankannya berada di JS pada saat kondisi badan begini buruk.
“Mas Feri sakit ya,”kata Huda. Kader baru JS yang senang humor.
“Iya, masuk angin,”
“Kenapa tidak diobati.”
“Sudah, pake balsem. Tapi sebenarnya saya pengen kerokan.”
“Istirahat…. Tidak usah bingung”
“Oke…Bos. Saya kira kalau kamu mau ngerokin.”
Beberapa saat kemudian muncul Dayu. Rupanya dia mendengar pembicaraan kami.
“Jangan dikerok mas. Jika dikerok nanti malah melukai kulit dan merusak jaringan syaraf.”
“Emang begitu? Biasanya di mana-mana orang dikerok biar anginnya keluar.”
“Masuk angin itu tidak di kulit Mas Fer. Masuk angin itu terjadi pada tubuh yang bereaksi terhadap lingkungan. Bisa karena tubuh yang lelah, ataupun suhu sekitarnya yang dingin.Jadi pengobatannya ya merangsang suhu tubuh untuk bersesuaian dengan lingkungan. Nah, kerokan itu sebenarnya memijit otot untuk bereaksi. Fatalnya, dilakukan dengan cara melukai. Kalau kulit merah karena kerokan itu biasa. Tidak masuk angin pun bisa merah. Itu Cuma sugesti saja. Padahal bisa diobati dengan cara lain.”
Mau tak mau aku harus mendengarkan nasihatnya. Dia adalah mahasiswi Farmasi yang sudah makan kuliah banyak. Yah..siapa tau ilmiah.
“Terus? Gimana dong obatnya?”
Dayu Tersenyum.
“Masih ingat pucuk-pucuk kayu putih yang membuat bintang-bintang menari? Disanalah obatnya.”
Kenangan kemarin masih begitu kuingat. Rupanya kenangan itu membekas di benaknya.
“Tetapi pucuk-pucuk kayu putih itu mau dia apakan? Saya masih belum jelas,”tanyaku.
“Mas Feri ambil saja daun kayu putih yang ada di luar. Semangkuk saja. Nanti lihat saja, saya akan buat obatnya.
Aku keluar dengan kepala yang pusing dan ditambah bingung. Beberapa daun kayu putih bukan hal yang sulit untuk dipetik. Semuanya bisa dijangkau dengan tangan. Maka tidak sampai semenit kupenuhi sepanci kecil yang kuambil di dapur JS dengan daun-daun kayu putih.
Dayu menerima panci kecil itu. Secepat itu dia menuangkan sedikit minyak tanah ke dalam panci itu. Diremas-remasnya daun kayu putih beberapa menit. Tangan-tangan lentiknya begitu terampil melumatkan helai demi helai kayu putih sampai lumat benar. Sebentar kemudian diperasnya daun-daun itu, ampasnya dipisahkan. Sari perasan daun kayu putih itu dibiarkan dalam panci dan diberikan kepadaku.
“Ini obatnya. Sudah jadi. Sekarang balurkan minyak kayu putih ini ke badan, sampai masuk anginnya hilang.”
Aku tersenyum. Betapa menyenangkannya ketika sakit dirawat oleh seseorang yang dicintai. Tetapi…dia kan bukan siapa-siapa. AH..sudahlah. Buang pikiran itu jauh-jauh.
“Ini dipakai sekarang?”tanyaku.
“Iya.”
“Di sini?”
Tawanya mengembang.
Posted at 10:33 am by feriawan