 |
 |
 |
|
Friday, February 25, 2005
Kautolak
Cintaku
Dengan
Basmallah
Sebuah Novel Otobiografi
By: Feriawan Agung Nugroho.
BAB I
Cintaku Yang Kandas
Namaku Feriawan Agung Nugroho. Umur 27 tahun. Lagi mencari jodoh untuk dijadikan pendamping hidupku. Katanya sih, juga untuk menjalankan sunatullah, sunnah nabi, melepas hasrat alami, dan lain sebagainya yang bisa saja dijadikan alasan. Intinya, saya ingin lawan jenis yang juga menginginkan saya sebagai lawan jenisnya sesuai syariat Islam.
Konon, sudah 5 kali saya ditolak. Meskipun, lebih banyak nolaknya (yang resmi 7 kali). Tetapi agaknya, lebih enak menceritakan di sini tentang peristiwa-peristiwa penolakan saya. Biasanya, laki-laki atau perempuan akan dengan bangga menceritakan peristiwa penolakannya terhadap seseorang daripada menderitakan ditolaknya dia oleh orang lain. Saya lain, saya lebih suka sebaliknya.
Sejauh yang saya tahu, ditolak atau menolak, sesungguhnya tidak membuat seseorang lebih tinggi, lebih rendah, ataupun menjadi wah. Mereka yang menolak tidak lantas menjadi lebih baik, perkasa, luar biasa, unggul, menang atau apapun daripada yang telah ditolaknya, kecuali orang-orang yang berakhlak rendah. Sebaliknya, mereka yang ditolak tidak lantas menjadi kalah, minder, mati, malu ataupun terkapar…kecuali yang bermental tempe ataupun tahu.
Seorang sahabat saya, Pahrurroji M Bukhori, mengatakan bahwa Rasul pun pernah menolak dan ditolak, meskipun ditolaknya ini hanya dugaan. Maka atas dasar ini saya memproklamirkan diri untuk berani menyatakan cinta, berani ditolak, berani menolak, Lillahi Ta’ala.
Pertemuan dan penemuan cinta pertama kali, diawali ketika saya menjadi seorang pemandu Opspek 97 di UGM. Saat itu, pada pertemuan pertama calon-calon pemandu dikumpulkanlah sekian banyak pemandu dari berbagai fakultas untuk diberi briefing dari sang ketua opspek. Kebetulan, kami satu gugus, yakni gugus gelanggang.
Ada salah seorang yang cukup menarik, tinggi, semampai, wajah melankolis, berjilbab hitam, bulu mata tebal, sorot mata sendu, langkah teratur, angin yang berhembus ketika dia berjalan melambai-lambaikan kisi-kisi jilbab hingga ke renda-rendanya seolah-olah menari-nari menampakkan keanggunan dari putri yang memakainya. Sepatu yang manis, dengan hak rendah dan berujung runcing nampak sekali dua kali muncul dari rok panjang yang menutup kaki-kakinya.
Rasanya, konsentrasiku tidak pada alur rapat. Aku lebih sibuk untuk terus menahan supaya degub jantung ini tidak memenuhi ruangan, supaya sikap dan tindak-tanduk ini tidak tampak sebagai orang yang kehilangan tingkah. Menahan nafas dan kata-kata supaya tidak tampak gagap, karena jarak kami begitu dekat, tidak sampai dua meter dari lingkarang forum yang hanya berisi sepuluh orang. Sesekali dia tersenyum ketika ada hal-hal yang lucu…..alamak…subhanallah…senyum itu sangat-sangat sangat sangat sangat…indah.
Hari itu adalah hari yang tidak pernah kulupakan…
Apa kabar hatiku.
Aduhai..
engkau melayang-layang menghirup wangi nirwana.
Semuanya tampak indah.
Bunga..indah,
dedaunan..indah,
burung-burung …indah,
semua indah….
Inikah cinta yang meluluhrantakkan semua kedukaan.
Inilah waktu dimana aku menjadi seorang penya’ir,
tidak perduli apakah aku sedang mengarang roman picisan ataukah karya pujangga..
tidak perduli akankah ini impian semusim ataukah keabadian…
semuanya indah.
Semuanya milikku.
Seminggu Opspek kulalui dengan pendekatan dan pembahasaan yang sangat menarik. Dia orangnya mudah sekali menemukan topik dan pembicaraan yang memaksaku untuk mampu dekat dengannya. Semua cerita, semua bahasa, semua dunia pantas untuk kami bicarakan. Berdua.
Perasaanku selama seminggu mengatakan bahwa aku dan dia bisa saling mencintai. Tetapi….mungkinkah dia mencintaiku juga. Mungkinkah dia menerima apa yang selama ini ada di hati untuk diungkapkan. Sengguh bagiku lebih layak untuk menikmati semua bayangan ini daripada harus memulai untuk berbicar kepadanya tentang cinta.
Aku mencintaimu dengan ketakutan
Ketakutanku yang pertama, adalah bayangan untuk pertama kali harus menyatakan cinta kepadanya. Bagaimanakah rasanya menyatkan cinta kepada seorang wanita. Ini bukan persoalan main-main! Kata orang, yang paling mudah adalah dengan menggunakan surat. Surat cinta, begitu katanya. Surat yang berisi pernyataan, perasaaan dan curahan hati kita….kayak di filem-filem.
Tetapi, banyak orang menilai bahwa menyatakan cinta melalui surat cinta adalah tindakan pecundang yang pengecut. Betapa tidak! Karena toh sebagai laki-laki kita harus berani menyatakan perasaan kita. Terus terang aja aku ngga mau dikatakan pengecut. Pengecut adalah milik mereka-mereka yang pantas menyandang nama itu..bukan saya.
Cara yang lain adalah dengan mengajaknya kencan, duduk satu meja, kemudian ngomongin diri kita dan perasaan kita….kayak di filem-filem. Tetapi, apa dia mau diajak keluar?
Sebenarnya kalau boleh jujur, saya tidak mampu mengendalikan perasaan saya dan tidak punya keberanian untuk mengaku cinta kepadanya. Pengakuan, kalau dipikir-pikir akan memaksa kita merenungkan hal-hal: Pertama momen, kapan dan dengan cara apa kita mengutarakan I love you. Kedua, bahasa yang seperti apa supaya layak kita sampaikan kepadanya. Untuk merangkai kata-kata saja, aku membutuhkan waktu sebulan sampai ditemukan kata yang kira-kira sesuai. Dihafalkan dan kemudian disimulasikan. Wah, itu pun nampaknya masih kurang pas. Ketiga, apa ya kira-kira reaksi dia. Bayangan-bayangan ketika pernyataan cinta ini sampai kepadanya itulah yang justru membuat saya khawatir. Jangan-jangan dia marah dan menjauh, jangan-jangan ditolak, sebenarnya mungkin tidak apa-apa ketika ditolak..mungkin…tetapi malunya itu ..gimana kalau malu banget. Apakah yang terjadi pada hari-hari kemudian? Apakah kita masih memiliki angan-angan yang melambung, ataukah justru menjadi hari-hari kelabu karena dia jadi membenci kita? Apakah nantinya akan ada mimpi yang tumbuh menjadi kenyataan ataukah menjadi derita dan kekosongan sepanjang usia. Ingat Fer, kataku pada diri sendiri, ini adalah cinta pertamamu. Gagalnya akan terasa sampai ke hati.
Ada hal lain yang sangat mengganggu. Dari penampakannya jelas-jelas dia seorang akhwat. Seorang yang memiliki pancaran cahaya Islam yang demikian kuat dan tidak bisa diajak menjalin ikatan kecuali nikah. Saya mendengar bahwa seorang akhwat akan sangat membenci adanya ikatan di luar pernikahan. Bisa jadi mereka juga membenci cinta kepada lawan jenis. Cinta adi luar nikah adalah bahasa tentang nafsu. Penyakit hati. Mereka begitu berhati-hati dan begitu waspada terhadap virus-virus hati ini. Mereka sungguh-sungguh kaum yang takut kepada Allah sehingga tidak dengan mudah berpacaran, diajak kencan, diajak keluar ataupun melakukan hal-hal yang itu melibatkan perasaan cinta. Bisa jadi, bahwa cinta adalah hal-hal yang mendekati zina.
Tetapi Demi Allah, aku sungguh-sungguh mencintainya. Cinta ini tulus, setulus beningnya embun pagi. Aku tidak sedang bernafsu dengannya. Aku sedang tidak ingin untuk menjauhi Allah dengan perasaanku ini. Aku tidak sedang ingin menanggalkan baju-baju keimananku. Aku tahu bahwa perasaanku ini tidak sedang berbohong tentang kekagumanku padanya. Dia seolah mutiara yang tercipta dari Allah untukku yang sedang tidak ingin aku rusakkan. Kalaupun dia memang harus menjadi seorang akhwat yang memang memandang ikatan di luar nikah adalah haram, apakah salah jika aku mencintainya? Aku bahkan sangat-sangat menerima jika dia ingin bebas, tapi apakah dia juga tidak pernah mengenal cinta dan mengerti perasaanku ini?
Tetapi…….
Apatah guna semua renunganku di atas. Perjumpaan kami terasa sangat singkat…karena hanya dua minggu setelah itu kami berpisah. Aku tidak sempat menanyakan di mana alamatnya. Dia juga tampaknya tidak sedang ingin mengetahui di mana alamatku. Pada perpisahan pemandu Opspek saya rasakan betapa mendalam berpisah dengannya..yang mungkin dia tidak tahu. Aku hanya sempat mencatat namanya: Novita.
Aku melanjutkan aktivitas seperti biasa. Sebulan setelah itu aku pindah kost. Mencoba mencari kehidupan yang berbeda yang mungkin bisa lebih mewarnai hari-hari. Mewarnai aktivitasku dengan kegiatan kemasjidan yang diadakan di kampung setempat. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika kuketahui bahwa si dia, Novita, tercatat pula sebagai aktivis masjid setempat. Kami sama-sama terkejut mendapati diri kami berjumpa secara tidak terduga. Mungkin sudah jodoh…. Begitu perasaanku mengatakan. Allah memang Maha Baik.
Hari-hari begitu berubah. Apa yang selama ini diimpikan seolah-olah menjadi kenyataan. Ada banyak perubahan pada diri saya. Semula, saya merupakan orang yang sangat takut dalam berkomunikasi, ataupun bergaul dengan perempuan, tetapi dia mampu mengajarkan, tanpa menggurui, bagaimana berkomunikasi dengan perempuan. Bagaimana bahas tubuh, bagaimana sikap duduk, bagaimana begini begitunya.
Ada juga hal-hal yang selama ini saya benci menjadi saya sukai. Semisal, pada suatu hari tatkala ada acara pengajian anak, saya bertindak sebagai panitia acara. Tetapi Novita mengajak saya untuk mencuci gelas-gelas kotor sehabis acara selesai. Saat itu di dapur masjid, di bawa keran dia mengajakku membilas gelas-gelas.
“Ya..baiklah. sebenarnya saya tidak tertarik untuk mencuci gelas,”kataku.
“Kenapa?”, tanyanya heran.
“Yah, bukan bermaksud melecehkan, hanya saja ini kan pekerjaan perempuan. Kenapa tidak minta bantuan teman-teman putri yang lain,” tanyaku.
“Aku ingin kamu yang bantu aku,”katanya sambil tersenyum.
“Aku mau..melakukan pekerjaan perempuan,”kataku.
“Hei…,”sergahnya.”Kamu bilang mencuci gelas pekerjaan yang tidak menyenangkan?”
“Ya”
“Mau kalau kutunjukkan kalau mencuci gelas tu menyenangkan.”
“Mana bisa menyenangkan,”aku menantang.
“Ini….!!!!”Senyumya melambung sambil mencipratkan segenggam air cucian ke wajahku.
“Aduh, awas ya.!”kataku sambil membalas.
Kami saling tertawa, saling bercipratan, saling basah dan saling tertawa. Sat itu adalah saat yang layak untuk dikenang dimana aku merasakan betapa bahagianya mencintai. Betapa segalanya menjadi indah, manis. Semanis tebu. Novita memang pandai dalam menciptakan suasana menjadi indah.
Selama beberapa bulan aku mengetahu sifatnya dar a sampai z. Agak keras kepala, tetapi pandai dalam penyampaian. Pengangum orang-orang yang cerdas. Dan masih banyak lagi.
Suatu hari, malam hari di masjid Al-Hidayah. Kami ngobrol.
“Fer, aku mau cerita sesuatu,” katanya. Deg..deg…sepertinya ada sesuatu yang berkaitan dengan kami berdua.
“Apa…sih,”
“Begini, saat-saat ini aku kok merasa ada sesuatu yang membuat saya nggak tenang,”jawabnya. Deg..deg…
“ Kenapa?”tanyaku.
“Ehm …” dia menahan senyuman.
“Kenapa sih.? Pake senyum-senyum segala,”
“Kamu jangan terkejut ya!”
Deg…deg…
“Ada apa, non.”
“Aku …aku sedang memikirkan seseorang.”
Deg..jantungku ….
“Sama.”
Anganku melambung jauh. Akankah saat-saat ini adalah momentum yang kutunggu-tunggu untuk mengutarkan perasaanku. Saat ini bukankah dia begitu siap? Bukankah dia begitu sangat ingin untuk berbuka diri. Bukankah ini waktu yang sesuai dengan yang kau bayangkan Fer. Dia seolah berkata: Ayolah..jujurlah padaku. Ayolah Fer, jangan biarkan aku duluan yang bilang kepadamu. Kita sehati! Kita satu rasa. Kita punya impian yang sama. Mau kapan lagi?
Aku sudah memendam rasa ini sekian lama. Bunga ini sudah bersemi melebihi yang kubayangkan. Bunga cinta ini telah dipupuk, telah dirawat, telah di sirami dengan baik hingga berbuah. Akankah dia engkau biarkan layu bersama waktu bersama kepengecutanmu? Mau kapan lagi engkau raskan nikmatnya kecuali saat ini.
Maka dengan segenap keberanian yang aku susun. Dalam hati aku berkata: sekaranglah saatnya.
“Kamu mau mendengar sesuatu dariku?”kataku.
“Apa itu,”katanya menduga-duga.
“Ehm…”aku seolah hilang kata-kata. Hatiku berdegup kencang. Fer…ayolah… tidak ada waktu untuk menarik kembali kata-katamu. Kamu sudah setengah jalan. Ayolah…sudah basah. Untuk apa lagi dihentikan. Ayooooo…
“Aku…aku..”entah kenapa lidah ini kelu sekali. Bukankah kamu Cuma bilang..aku menyukaimu..itu saja. ITU SAJA. Kenapa mandeg dan berwajah demikian dungu. Kamu saat ini jika dipotret fer..sangat-sangat dungu. Mengapa harus terdiam beberapa menit. Mengapa? Bukankah detik-detik begitu berharga daripada melihat wajahmu yang tolol ini.
“Aku menyukaimu…”, akhirnya…. Akhirnya !!! akhirnya selesai sampai juga ke titik finish.Sedikit terasa lega di dada. Fer..selamat, kamu telah mendapatkan piala sebagai orang yang pernah mengucap cinta kepada seseorang. SELAMAT…tetapi..
Situasi mendadak dicekam keheningan. Suara-suara hening, semua tampak bergelut dengan jantung sendiri. Aku tidak berani menapat wajahnya. Entah gembira, entah benci, sedih atau apa. Ohhh..fer..apakah kamu sudah melakukan tindakan bodoh.
“Ehm…kamu suka saya. Tapi..maaf Fer, yang kumaksud sbenarnya bukan begitu. Kamu salah sangka. Aku bersikap padamu selama ini bukan untuk itu.”katanya dengan nada sedikit mendatar.
“Permisi ya”
Dia melangkah, dengan setiap langkah yang lembut yang masih terdengar di telinga. Dia melangkah pergi. Meninggalkan aku sendiri duduk di ruang tengah masjid. Wajahku, jantungku, perasaanku yang berkecamuk antara benci sendiri, takut, malu, tanda tanya: adakah dia sedang merenungkan perasaanku ataukah memang telah menolakku, ataukah karena dia akhwat yang sebenarnya memendam perasan yang sama tetapi takut untuk bersuara. Ruangan ini menjadi saksi ketakutanku yang meras tolol, bodoh, malu, tidak tahu diri, tidak berguna dan serba salah. Akankah aku bisa menyambut hari esok? Akankah aku bisa tidur malam ini. Akankah semuanya menjadi baik seperti biasa.
Sesobek kertas dengan tulisan jelas kutujukan kepada Novita.
Yts.
Novita
Assalamualaikum wr.wb.
Maaf atas peristiwa kemarin. Terus terang aku tidak paham apa jawabmu meninggalkanku. Sekalipun demikian aku juga tidak memaksamu menjawab. Aku sudah cukup puas dengan saat-saat itu, saat aku bisa jujur padamu. Terimakasih atas semua kebaikanmu.
Semoga kamu masih tetap seperti yang dulu, sebelum aku mengutarakan isi hatiku.
Wassal.wr.wb.
Feriawan
Hari berikutnya, saat pameran buku, aku bertemu lagi dengan Novika. Perasaaanku lagi-lagi berguncang hebat. Ada apa nih. Dia menungguku di luar ruang pameran.
“Fer, harap kamu ketahui bahwa aku selama ini hanya bersikap biasa saja kepadamu. Tidak ada maksud lain.”
“Saya tahu, saya hanya mengutarakan perasaan saya.”
“Kamu..mungkin kamu belum faham bahwa apa yang kumaksudkan kemarin bukan kamu. Jujur saja, kamu bukan tipeku. Maaf kalau ini terlalu kasar, tetapi agar kamu bisa mengerti bahwa memang begitulah adanya.”
PRAKKK, keringat mengucur deras, jantung berdegup kencang, perasaan kalah, arogan dan kesal, dendam dan sakit hari bercampur jadi satu. Apa salah dan kekurangan saya sehingga ditolak? Apa yang menjadikan saya tidak bisa diterimanya? Bukankah selama ini kita saling cocok dan saling bersahabat mesra dengan baik?
Dia telah meninggalkanku.
Mengapa kita harus berjumpa, kalau akhirnya harus berpisah. Sungguh syair-syari cengeng itu menjadi sangat merasuki jiwa lebih mendalam dibandingkan dengan dahulu ketika aku belum mengenal cinta. Semuanya menjadi beku. Dalam sebulan berat tubuhku susut dari 60 kilogram menjadi 57 kilogram. Wajah acak-acakan, tidak terurus, dan sungguh aku tahu bahwa selama ini aku terlalu GR. Gede rasa. Salah sangka. Dasar Feriawan…aku benci dirimu !!!!
Betapa perasaan kalah ini terbawa dalam setiap lagu-lagu yang ku nyanyikan, puisi yang ku ciptakan, senandung yang kulantunkan sampai dengan cerita-cerita yang kupilih untuk mengobati kekecewaan saya. Baru sekali kuutarakan cinta, baru sekali pula ini langsung ditolak. KO telak…
Perasaan sakit hati ini tidak terobati selama empat tahun. Sungguh waktu yang lama untuk menjadikan hati ini menjadi tenang. Sungguh betapa sulit untuk mencoba membangkitkan rasa yang sama pada orang lain. Tiada perempuan seindah dia, tiada wanita sesempurna dia apa adanya. Tidak ada yang bisa menggantikan dia. Tidak ada yang bisa menyamai suasana yang diciptakannya. Tidak ada yang menyetarai dia. Semua perempuan yang melangkah di depanku…semuanya tidak menarik.
Sekali waktu kami masih saling bertemu. Ada waktu-waktu dimana pas kegiatan TPA, kegiatan kerohanian dan keorganisasian yang lain kami masih saling bertemu. Entah mengapa aku agak membencinya, mungkin karena penolakan itu. Rasa benci yang bermula dari tidak berharganya diri ini dihadapannya. Seolah diri ini telah tertendang jauh. Jauuuuh sekali. Tetapi rasa benci ini tidak bisa jauh-jauh terekspresikan kecuali hanya menghindar-dan menghindar layaknya seorang pengecut menemukan orang yang tengah memergoki kebodohannya.
Memang ada yang berbeda dari sikapnya, ada batas, ada jarak, ada yang membuat aku dan dia terpisahkan. Dan mungkin karena memang harus begitu.
Sebenarnya, dalam tempo empat tahun itu kami pernah sama sekali tidak bertemu selama setahun. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di Jama’ah Shalahuddin. Berorganisasi di BEM Fisipol UGM dan semua-mua yang bisa menghanyutkan aku dalam aktifitas kemahasiswaan. Hingga suatu saat badai krisis menghantam yang membuat orang tua tidak mampu lagi membiayai kuliah dan kehidupanku. Aku dipaksakan untuk mandiri secara dini. Sungguh mati aku belum pernah mengalami saat untuk mencari uang sendiri. Cari uang dari mana?
Entah kenapa Novita bertemu dan memberikan solusi. Dia mengajakku untuk bekerja paruh waktu di tetangga dekat rumah. Bu Mus, seorang pembuat roti membutuhkan tenaga kerja yang mau membantu mengolah adonan dan mendistribusikan roti ke sekolah-sekolah terdekat. Kebetulan saja Novita menjadi karyawan paruh waktunya.
Saat itu, benih-benih cinta yang hampir terkubur mendadak muncul kembali. Seolah penolakannya yang dahulu akan dia ralat. Sampai detik itu saya pikir saya akan kembali bersatu dengannya, ataupun barangkali dia telah berubah pikiran.
Ahhh, yang saya dapati justru sebaliknya: dia telah menjalin hubungan dengan ikhwan tetangga, sahabat karib saya sendiri. Pengakuan itu aku dapati ketika sama-sama mengobrol tentang kehidupan masing-masing.
Pada suatu hari kedapatan cerita dengan Mas Parman, teman sekerja yang lain. Mas Parman tidak sengaja melihat Novita yang ternyata cukup ceroboh mengenakan jilbab, sehingga auratnya (tepatnya rambutnya) terlihat. Ternyata rambutnya keriting. Aku agak tidak percaya dan agak risih mendengar aurat wanita diobrolkan.
Tetapi suatu hari ada seuntai rambut tercampur dengan adonan roti yang hendak aku kaliskan. Ketika kuamat-amati, rambut itu sepanjang 50 cm-an. Dan keriting. Rata-rata rambut kami di sini hanya sepanjang 10 cm. Rambut Bu Mus yang tidak memakai jilbab, pun hanya memiliki untaian rambut sepanjang 30 cm-an. Sementara anak perempuannya, SMP dan belum berjilbab, sangat jarang melangkahkan kaki ke dapur. Kalaupun pernah, rambutnya tidak sekeriting ini, cenderung lurus. Maka…kesimpulannya: ini adalah rambut Novita.
Ajaib !!!! Saat itu juga perasaan yang selama ini menggebu-gebu, perasaan yang selama ini menghantui, perasaan yang selama ini perduli, sayang, cinta dan sejuta pengorbanan dan kekalahan karena penolakan…..sungguh ajaib…langsung hilang, sirna, musnah entah ke mana. Ajaib dan sangat-sangat memalukan. Sungguh bodohnya aku selama ini mencintai Novita. Sungguh ironinya aku selama ini hidup dalam bayang-bayang kecantikannya karena membayangkan dia bagaikan si Maudy Koesnaidi dalam iklan sampoo yang membiarkan rambutnya yang lurus, terjuntai dipermainkan angin. Aku seolah melihat wajahnya yang mirip Maudy tetapi berambut a la Edi Brokoli. Ah, Feriawan. Ternyata selama ini cintamu adalah cinta pinggiran. Cinta yang tumbuh untuk menyukai seseorang karena fisiknya semata. Sungguh bodohnya aku selama ini, empat tahun menanti dan menangisi kegagalan cinta dan sekarang harus mendapati kenyataan bahwa semua yang kulakukan itu harus sia-sia, hanya karena rambut keriting. Hanya karena keriting cinta melayang. Dan memang benar, karena ada seuntai rambut keriting yang tertinggal di karpet ruang kerja.
kami semua yang bekerja di sini berambut lurus. Memang ada pria yang keriting, tetapi panjang rambutnya tak lebih dari sepuluh senti. Sementara hanya dia yang berjilbab, dan kemungkinan rambutnya panjang ada.
Betapa rendahnya cintaku.betapa sangat rendahnya kadar pengetahuan ku tentang cinta. Betapa memang diri ini hanya dikuasai oleh nafsu belaka. Aku terlalu tertipu oleh bayang-bayang ilusi tentang kecantikannya. Mana rasa sayang karena sikapnya? Mana rasa kasih karena perhatiannya? Mana rasa pengorbanan karena perhatiannya? Semua itu seolah hilang karena mengetahui rambutnya yang keriting. Feri…feri.. betapa menyedihkannya dirimu. Betapa menggelikannya kisahmu ini.
Ahh..aku sungguh shock dengan peristiwa bodoh ini. Sungguh Allah Maha mengetahui dan maha penyayang kepadaku. Coba seandainya Novita menerima hatiku, lalu menikah, dan lalu kudapati pada malam pertama dia membuka kerudung, dan ternyata….keriting, apakah kenyataan ini tidak menyakitkan dia? Apakah kemudian pernikahan batal hanya gara-gara masalah rambut? Apakah kemudian hari-hari dijalani dengan rasa hambar hanya karena masalah rambut? Apakah dia harus merebonding gara-gara itu? Tidak..tidak!!! Tidak. Untung saja semua itu belum terjadi.
Sejak saat itu, mulailah aku melakukan revisi ulang tentang cinta. Aku, tahu bahwa cinta tidak sekedar melihat dan membayangkan kecantikan, keangguna dan persona fisik saja, tetapi juga penerimaan hati. Aku tahu, cinta yang lebih kuat landasannya dan juga kesejatiannya, yang relatif abadi daripada sekadar syahwat dan ilusi fisik belaka bukanlah cinta yang didasari oleh kekaguman terhadap fisik, apalagi imaninasi konyol tentang rambut. Aku mulai merubah image bahwa aku bisa mencintai orang tidak perduli apakah dia keriting, oval, berintik, botak, brodhol , jabrik, metal atau gundul sekalipun, aku tidak akan melihat fisik sekalipun dia pendek, gendut, buntek, hitam, cacat, anomali atau apalah…Saya tahu kalau semua itu ilusi. Aku harus mendapati hati yang suci, hati yang bisa berbagi dan bercinta dengan aku. Sifat yang sesuai, kharisma yang bersahaja, suara yang menyejukkan dan getar-getar ilahi dari setiap langkah yang dia titi. Aku tahu….itu pasti saya dapatkan.
Aku harus menutup kisah ini dengan tertawa sepuas-puasnya, betapa Allah Maha Baik.
Riwayat penolakan saya kedua, adalah dengan seorang akhwat dari fakultas Psikologi. Ada cerita mengapa konteks keilmuannya, Psikologi, saya tonjolkan. Semenjak gagalnya kisah cinta pertama, saya semakin tertarik untuk mempelajari Psikologi. Aku merasakan bahwa ada yang salah dengan diriku, dengan psikologikum dengan penilaianku kepada seseorang yang hanya didasarkan kepada standar fisik. Aku harus menyibak diri seseorang berdasrkan pengetahuan tentang psikologi, pengetahuan tentang jiwa, tentang segala sesuatu yang melingkupi diri seseorang. Mencintai pribadi seseorang, adalah cinta yang relatif abadi daripada mencintai dari sisi fisik saja yang dibatasi oleh waktu yang singkat. Padahal, pengetahuan psikologi yang kumiliki masih sangat jauh dari memadai.
Dengan dasar alasan untuk mengetahui psikologi, maka kedekatanku dengan mereka-mereka yang berstudi di Psikologi harus diintensifkan. Mereka-mereka itu, dalam pandanganku adalah orang-orang yang bisa membimbing saya dalam memahami cinta. Kebetulan juga, karena di fakultas tersebut cukup banyak perempuan, maka siapa tahu…he..he..he..
Singkat cerita, aku bertemu dengan salah seorang akhwat dari fakultas Psikologi. Dalam imajiku, seorang akhwat dari fakultas ini adalah seorang akhwat yang dewasa. Betapa tidak? Tentunya, dia akan belajar tentang manusia mulai dari lahir sampai dengan tua. Belajar tentang bagaimana bersikap, bertindak, berbahasa sampai dengan setiap gerak yang dia miliki berkesesuaian dengan orang lain. Dari sanalah aku akan bisa belajar banyak untuk menjadi orang yang memahami cinta, memahami tentang lawan jenis, memahami tentang bagaimana menyembuhkan diri sendiri yang terluka karena cinta.
Neni. Dialah perempuan muslimah psikologi yang pertama kukenal. 2 tahun lebih muda dari saya. Wajah melankolis, tinggi, putih, suku Ngapak (Banyumas), kalau dia berbicara akan terasa suasana ramai. Dia termasuk akhwat favorit: banyak didambakan oleh laki-laki. Konon sudah menolak banyak lamaran ikhwan. Dia aktif di berbagai gerakan dakwah. Sip lah pokoknya.
Pertemuan kami tidak sengaja. Dia kebetulan menjadi salah satu staf bidang kaderisasi di Jama’ah Shalahuddin. Saat itu, wajah dia sedang murung karena payahnya kinerja kaderisasi. Mungkin begitu…karena sesungguhnya saya tidak begitu dekat dengan orang-orang dari departemen kaderisasi. Saat pertama kali kutemui di bangku JS (Jama’ah Shalahuddin), wajahnya sedang ingin berbagi.
“Mbak Neni?” sapaku.
“Ya.”
“Sibuk ya?”
“Iya.”
“Gimana rapat koordinasinya? Jadi ga?”
“Aduh..gimana ya. Pokoknya rumit deh..?”
Nampaknya dia sedang tidak ingin bercerita. Barangkali karena kami memang jarang berbincang-bincang. Tetapi saya sangat yakin bahwa dia sedang ingin berbagi. Hanya, sepengetahuanku perempuan tidak mudah untuk berbagi dengan siapapun kecuali mereka yang sudah dikenalnya dengan baik.
“Sepengetahuan saya. Bidangnya mBak Neni merupakan bidang yang dikeluhkan oleh banyak pengurus. Karena dengar-dengar harapan mereka terhadap kader sangat tinggi. Sementara, tidak banyak kader yang diraih. Gitu?”
Dia sedikit mencerna kata-kata saya.
“Ya…sebenarnya tidak terlalu sih. Hanya saja saya jenuh, Bidang kami cari kader, tetapi jika sudah didapat memang tidak mudah untuk dimasukkan ke bidang-bidang lain. Makanya, banyak kader keluar. Yang masalah ruhiyah lah, yang masalah tidak tahu banyak lah, yang tidak pernah diajak koordinasi lah.”
Nah..betul kan? Akhirnya pancingan saya berhasil. Saya mengangguk-angguk. Sebenarnya pendapat saya tadi sangat spekulatif karena…ya Cuma menerka saja. Saya Cuma diam sejenak, karena menurut saya, pada menit berikutnya dia akan menanyakan pendapat saya.
“Kalau menurut Mas…maaf..”dia mencoba mengingat sebuah nama.
“Mas Feri. Iya kan?”,tanyanya memastikan.
“Iya..saya Feri,”jawab saya sambil melemparkan senyum.
“Kalau menurut mas Feri apakah itu adil…Betapa bidang saya harus kerja begini..begitu..” katanya. Perbincangan selanjutnya tidak begitu menarik untuk aku ceritakan. Yang jelas, awal itu adalah awal bagi aku dan dia untuk bisa memasuki sekian banyak perbincangan, sekian banyak diskusi untuk saling dekat.
Namanya juga anak Psikologi. Maka, saya menjadi kelinci percobaan dari sekian kerja praktek dia.Yang ikut tes IQ lah, tes tinta tumpah lah, tes interpertasi gambar lah. Sedemikian pula aku menanyakan perihal tentang psikologi manusia. Beberapa buku-buku yang berkaitan dengan psikologi aku baca dan aku diskusikan jika ada hal-hal yang kemungkinan tidak kufahami.
Banyak pengalaman kudapatkan dari perkenalan dengan Neni. Betapa cara orang untuk berkomunikasi dengan sesama ataupun lawan jenis harus memperhatikan banyak hal. Neni menuturkan, bahwa yang terutama sekali harus di miliki seseorang untuk mampu berkomunikasi dengan orang lain adalah bagaimana menciptakan kesan, khususnya kesan pertama. Bukan karena iklan yang menyatakan bahwa: kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda…tetapi karena memang momentum pertama kita bersentuhan dengan orang lain adalah momentum yang tidak pernah terulang dan banyak kemungkinan tidak terlupakan.
Pada menit pertama seseorang akan memperhatikan penampilan: bagaimana wajahnya, bagaimana pakaiannya, serasi ataukah tidak, bagaimana cara berjalan, sudut mana dari sesosok manusia ini yang pertama kali menonjol dan berkesan keras di hati. Kita tidak pernah tahu kapan akan bertemu dan berkenalan dengan seseorang, untuk itulah perlunya setiap saat berpenampilan yang baik. Intinya, semua ini sangat melibatkan indera pengelihatan.
Pada menit ke dua, barangkali lima menit kedua, seseorang akan memperhatikan kata-kata, diksi yang dipilih, ataupun kalimat apa yang terlontar dari mulutnya: perkenalankah? Canda kah? Atau permintaan dan lain sebagainya. Butuh keberanian untuk melontarkan kata-kata yang bersahabat. Karena, begitu grogi, canggung, ataupun terlalu protektif, akan membuat kalimat yang diucapkan tidak mengalir lancar. Bersyukur jika lawan bicara kita merupakan seseorang yang cool,grapyak, supel ataupun bisa mengerti. Orang yang demikian akan bisa memelihara kelemahan kita seolan-olah tidak ada sesuatu yang mengganggu. Dia seolah memberikan energi, kesempatan ataupun kepercayaan diri kita untuk bisa menata sikap dengan baik, dan kitalah yang nantinya akan terbimbing olehnya.Tetapi sialnya jika orang yang kita ajak bicara merupakan orang yang biasa saja, atau bahkan lebih sulit, maka sikap grogi kita akan merupakan awal yang tidak menyenangkan bagi pembicaraan selanjutnya. Jadi, pada menit ke dua adalah menit milik indera pendengaran.
Pada babak selanjutnya adalah interaksi batiniah dan pikiran. Masing-masing dari kita akan menyusun dan mengidentifikasi tentang sifat-sifat lawan bicara, kecerdasan, tidak tanduk sampai dengan kebiasaan-kebiasaannya. Dalam hal ini, yang perlu dipelajari baik-baik adalah bahasa tubuh, baik bahasa tubuh kita atupun bahasa tubuh lawan. Bahasa tubuh bisa diartikan sebagai gerak ataupun posisi tangan, badan, kerut wajah, sorot mata dan setiap perubahan fisik yang menyertai kata-kata yang terlontar baik disadari maupun tidak. Misalkan saja, mata yang tidak memandang lawan bicara akan menciptakan kesan tidak perhatian, posisi tubuh yang menghadap disertai dagu yang agak dimanjukan menandakan perhatian terhadap lawan bicara.
Neni memberikan banyak pertimbangan tentang cara-cara bergaul yang baik. Neni mempengaruhi perubahan sikapku dalam bergaul. Bersamanya, aku bisa merasakan persahabatan. Bersamanya, aku menjadi orang yang tidak egois. Tidak lagi selalu berkata:…aku itu….aku itu….aku itu…..(sebuah ciri bahwa seseorang sangat egois dan membosankan). Perlahan namun pasti banyak teman yang kudapatkan. Kata-kataku tidak lagi menyinggung perasaan orang.
Neni merepresentasikan anak psikologi yang sempurnya. Sungguh, dalam pikiran saya, anak psikologi tentunya akan menjadi orang yang paling berbahagia karena tahu bagaimana menyenangkan orang lain.
Persahabatan saya dengan Neni menciptakan kesan yang mendalam. Dia telah membuat hidup saya begitu ceria dan berubah menjadi cerah. Maka, rasa cinta yang kedua seolah terlahir kembali.
Pada dasarnya Neni merupakan orang yang keras dalam pendirian. Dia juga cenderung suka berkonflik. Kami biasa bertengkar dalam banyak hal. Akan tetapi kami sama-sama menyadari bahwa pertengkaran di sini bukanlah pertengkaran yang melibatkan kebencian. Sebuah pertengkaran yang lahir karena kemesraan. Pertengkaran yang seolah menjadi bagian cara kami sama-sama saling berkomunikasi. Apa saja bisa menjadi bahan pertengkaran yang menarik: masalah warna baju, selera makan, sampai dengan politik dan agama.
Banyak teman-teman yang melihat kami ini aneh: bertengkar tetapi selalu dekat. Banyak pula yang menggoda kami untuk menjalin ikatan serius. Hanya saja, lebih banyak yang setuju jika hubungan kami dilanjutkan lebih serius. Bagaimana bisa berlanjut, orang setiap hari jika ketemu isinya hanya berkelahi melulu. Apatah keluarga yang kami ciptakan nanti.
Tetapi, hati ini tidak bisa mengingkari bahwa aku menyukai hubungan yang unik ini. Aku tidak bisa mengelak bahwa dia keunikan-keunikan hubungan dan komunikasi kami justru terasa sangat menyenangkan. Berdebat, saling menyentil perasaan......(bersambung)
Posted at 03:45 pm by feriawan
Permalink
BAGAIMANAKAH CARAMU BERISLAM DI ORGANISASI ISLAM
Apakah kamu sudah merasa nyaman menjadi orang di sebuah Lembaga Islam? Banyak sekali orang yang ingin terlibat dalam aktivitas dakwah di sebuah organisasi Islam, entah HMI, KAMMI, SKI dan lain sebagainya, tetapi sampai saat makin banyak keraguan-keraguan bahwa lembaga-lembaga itu sedemikian “berisi”.
Ketika saya masih aktif di Jamaah Shalahuddin, beberapa orang merasakan bahwa di lembaga itu dia ingin bisa aktif dan terlibat sebagai panitia, membantu mengedarkan proposal, terlibat dalam seminar-seminar yang dihadiri tokoh-tokoh penting, ataupun sekadar ingin tahu: apakah gerangan yang sedang terjadi. Hanya saja ketika ditanyakan apakah diantara mahasiswa-mahasiswa yang menjadi panitia itu mau untuk menjadi anggota JS maka secara ciut banyak orang yang merasa enggan. Mengapa?
Sedikit bergeser dari itu, banyak orang bertanya kepada saya tentang pengalaman saya ketika memulai “karier” di lembaga keislaman di kampus dari nol besar (karena SMA saya adalah SMA Katholik dan tidak mempunyai latar belakang Islam) dan kemudian sangat menikmati dan bahkan menjatuhkan tumpuan hidup pada lembaga-lembaga dakwah. Bagaimana saya bisa benar-benar menikmati menjadi seorang kader lembaga dakwah dan bahkan memberikan training-training di berbagai lembaga dakwah selain di JS.
INDAHNYA BERISLAM DARI NOL
Pada tahun 1993 adalah masa-masa dimana pengetahuan saya tentang tuhan mendapat benturan-benturan luar biasa secara filosofis. Semasa SMA, guru agama saya Drs Untung, seorang madura yang murtad kemudian mengajar pendidikan Agama Katholik, demikian bijak memberikan perbandingan asal muasal agama, sejarah agama-agama dan kemudian (khususnya) perkembangan agama katholik sampai dengan dewasa ini. Untuk banyak siswa barangkali hal-hal demikian tidak menggelitik, tetapi bagi orang yang sangat ingin tahu tentang tuhan, tentunya pengalaman sedemikian seperti halnya seseorang yang mendapati berbagai macam hidangan dan harus memilik mana yang paling enak dan tidak menimbulkan racun.
Dari sanalah keinginan tahu saya tentang tuhan berawal. Saya belum bisa memahami Sholat kecuali bahwa sholat berisikan bacaan demikian. Saya tidak pernah jum’atan blas semasa SMA. Saya pun tidak pernah bermimpi tentang menikmati Islam. Satu satunya yang mengganggu saya adalah pertanyaan tentang Tuhan.
Suatu malam saya berdoa tentang keinginan saya untuk ditunjukkan tentang agama Tuhan. Barulah kemudian saya tahu bahwa di UGM lah Allah memberikan jawaban itu.
Di JMF, lewat pendampingan agama Islam, terlihat sekali bagaimana polosnya saya yang banyak bertanya dibandingkan dengan mereka-mereka yang ternyata sudah dibesarkan oleh Rohis ataupun mengetahui Islam sejak awal di kala mereka menapaki bangku sekolah menengah. Mereka menjadi orang yang alim, anteng, ataupun begitu puas dengan keislaman yang diraihnya sehingga tidak memiliki pertanyaan-pertanyaan yang bernada mempertentangkan.
Beberapa orang yang lain, yang bisa dianggab sebagai bagian besar dari manusia ataupun mahasiswa Indonesia, berislam secara biasa saja. Mereka tidak terlalu tertarik berorganisasi Islam, hanya mengikuti kuliah keislaman dan sesekali menghadiri pengajian. Pada akhirnya pun selepas mereka mengikuti Pendampingan, mereka tidak memperoleh penambahan ataupun peningkatan pengetahuan keislaman.
Entah bagaimana yang terjadi dengan orang lain, saya benar-benar menikmati saat-saat saya mengenal Islam, bukan saja ketika saya bisa mengenal tentang sholat, membaca Qur’an ataupun mengerti tentang aliran-aliran Islam, tetapi juga kehidupan yang diajarkan oleh Allah semenjak kehadiran saya di kota Jogjakarta.
Hal yang paling saya awali pertama kali berdiskusi di SKI adalah pertanyaan tentang hidayah. Secara awam, hidayah bisa diartikan bahwa seseorang telah mengenal Allah dan menisbatkan dirinya untuk bersyahadat dan memeluk Islam.
Pada akhirnya saya protes kepada sang pemateri diskusi. Jika hidayah itu hadir sebagai sebuah ritual pemelukan Islam dan bersyahadat, maka beruntunglah anak-anak kiai, anak-anak rohis, anak-anak pengajian ataupun mungkin anak-anak Arab, Muhammadiyah ataupun NU. Sementara orang-orang seperti saya yang dibesarkan di kalangan abangan dan tidak tahu tentang islam adalah orang-orang yang kemudian masuk neraka begitu saja karena tidak pernah sholat, tidak pernah tahu tentang Islam sekalipun dalam hidupnya punya nilai tentang keimanan, kejujuran dan prinsip hidup.
Saya tidak ingat apa jawaban dari pemateri, yang saya gariskan di kepala dari sari jawabannya hanya satu: bahwa saya semestinya menerima saja sebagai pengejahwantahan iman saya kepada Allah dan bersegeralah untuk ber amar ma’ruf nahi munkar.
Ini tidak adil.
Pada akhirnya kuliah maupun training saya rasakan semakin hampa ketika harus menelan sekian banyak materi tentang ma’rifatullah, ma’rifatul Rasul, Ma’rifatul Insan dan sampai dengan Ukhuwah Islamiah. Semuanya tidak masuk kepada pikiran saya. Masuk kuping kiri dan keluar dari kuping kanan. Hanya saja saya semakin tidak mengerti karena banyak pula orang yang berbicara dengan berapi-api dan terus mengulang-ulang tentang hal-hal baik tentang tuhan, tentang nabi dan tentang kehidupan. Semuanya baik, dan semuanya nampak damai damai saja. Sementara saya merasakan yang berbeda: kenapa semuanya tampak buruk dan tidak serba tanda tanya? Hidayah adalah tanda tanya, utusan Allah adalah tanda tanya dan semuanya yang disekitar kita adalah tanda tanya. Barangkali, dunia ini pun berawal dari sebuah tanda tanya.
Barulah saya merasa sangat beruntung bahwa saya boleh untuk mempertanyakan itu semua daripada mereka-mereka yang sudah “dibesarkan” oleh lingkungan Islam. Saya sangat menikmati menjadi bodoh dengan Tuhan dan Dunia sehingga saya bisa bertanya langsung kepada Allah tentang semua-muanya. Sesuatu yang barangkali untuk sebagian umat dirasakan sebagai bid’ah. Sekarangpun barangkali saya merasakan itu sebagai bid’ah.
Tidak semua orang bisa merasakan bahwa Allah itu ada. Ini Fakta! Sekalipun mereka berjilbab ataupun bergamis dan berjenggot panjang. Banyak diantara mereka yang sudah mengalami masa-masa pendidikan Islam dan bahkan dari kalangan Kiai tetapi sedikit yang menjadi “berisi” ketika ditanyakan tentang Allah. Bukan saja karena diskusi tentang Allah menjadi sangat ditakuti, tetapi juga karena tidak ada orang yang mendiskusikannya atau bahkan takut untuk memperbincangkannya. Lalu bagaimana setiap jiwa bisa mengenal Allah?
Sampai dengan sekarang saya merasakan: adalah hak saya untuk bisa berdialog secara pribadi dengan Allah sebagaimana nabi-nabi yang mendapat petunjuk, sebagaimana rasul-rasul yang memperoleh mediasi Jibril, sebagaimana para wali dan para imam yang memperoleh karomah dan keistimewaan dari Allah. Adalah hak saya untuk mendapatkan petunjuk langsung dari Allah tentang siapa Allah dan apapun di sekitar saya.
Aku dan Allah saling berbicara
Entah tepat atau tidak, mungkin inilah makna yang bisa saya petik dari surat Al-Fatihah dimana tiap-tiap pribadi pada akhirnya memohon untuk ditunjukkan mana jalan yang lurus dan bukan jalan yang dimurkai,sesat ataupun yang dholim.
Tidak ada satupun diantara sekian banyak training yang mengajarkan hal ini, kecuali bahwa tiap-tiap pribadi disuruh untuk melakukan Qiyamulllail yang lebih diisi dengan kengantukan ataupun tangis-tangis melankolis. Bagi orang-orang yang tiada pemahaman tentang semua itu, maka sangat tidak paham: apakah demikian berdosanya sehingga Qiyamullail saya hanya mengantuk belaka, malas dan tidak bersemangat, ataupun apakah hati saya demikian keras sehingga tidak sekalipun saya meneteskan air mata kala sholat di masa itu.
Memulai diskusi dengan Allah adalah adanya memulai hari dengan seperti biasa: pagi, matahari bersinar cerah, siang, senja dan malam manakala jengkrik telah berbunyi. Tetapi memulai hari bisa juga diartikan sebagai waktu-waktu berdiskusi dengan Allah tentang segala sesuatu, sebuah kitab maha besar dengan waktu sebagai penjilidnya dimana tiap-tiap halaman adalah hari-hari dan tiap-tiap kata adalah detik per detik peristiwa yang saya alami. Mempertanyakan mengapa saya miskin, mengapa saya kekurangan, mengapa saya harus kuliah dan mengapa saya harus terlahir dengan nama Feriawan dan mengapa..mengapa..yang lain.
Lalu? Entahlah..saya juga tidak tahu bagaimana pasalnya. Saya merasakan dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah berkata kepada saya lewat hari-hari yang saya lalui dengan demikian sistematis dan meyakinkan. Allah telah berbicara kepada saya lewat bahasa bumi yang demikian mudah saya cerna. Lewat pengalaman baik batin maupun hidup.
Saya tidak sedang mengemis iba kepada anda: Suatu ketika saya mendapati diri saya sangat menderita karena tidak mempunyai uang sama sekali. Orang tua telah berhenti membiayai kehidupan saya dan saya harus berjuang sendiri di Jogja untuk bisa makan dan kuliah. Saya putus asa. Nyaris tidak ada ruang dan dunia serasa sempit karena saya tida tahu harus kemana lagi untuk bisa menemukan tempat bekerja sambilan ataupun memperoleh rupiah. Saya sering menuliskan dialog dan kegundahan saya ini, berbicara pada diri sendiri dan mungkin sekali protes kepada Allah yang seolah menjauhkan saya dari rahmatnya.
Saat itu saya tertelungkup di sudut masjid. Kemarin adalah uang terakhir yang saya gunakan untuk membeli nasi tempe penyet terakhir yang kemudian. Sepiring nasi yang terasa sangat nikmat, karena bisa saya nikmati sehari dua kali. Kini, perut saya terlalu melilit karena seharian tidak terisi nasi.
Tidak ada seorang pun yang berada di sekretarian JS (masjid kampus yang masih sebagian dibangun) saat itu sehingga tidak ada yang bisa saya mintai tolong untuk sekadar meminjam uang untuk jajan. Protes saya kepada Allah pun menjadi-jadi.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada orang (perempuan) yang (maaf) gila mengaku-aku sebagai orang yang tinggal di masjid itu. Kemudian dia mengaku bahwa suaminya pergi dan masjid itu sebagai tempat tinggalnya. Tuhan, kenapa pada saat perut sesial ini masih saja ada gangguan.
Diluar dugaan, orang gila ini kengeluarkan suatu bungkusan dan diberikan kepada saya dan dia menyuruh saya memakannya. Dibilangnya bahwa itu dari suaminya yang pergi dan menyuruh saya bermalam di masjid (yang dalam pikirannya adalah rumahnya).
Begitu dia pergi saya agak jijik menerima bungkusan itu. Ketika saya buka, Masya Allah, ternyata isinya adalah tiga potong sate kebab (sate dengan daging tebal berlapis bawang bombai dan tomat), nasi hangat, sayuran, apel dan juga buah peer. Saya menangis, bukan sekedar bersyukur karena telah mendapat shodaqah dari seorang gila sehingga bisa makan, tetapi juga betapa Allah menunjukkan kepada saya betapa cengengnya saya, sedangkan orang gila yang tidak bekerja pun mampu memperoleh rizki, dan bahkan bershodaqah, kenapa saya yang sehat dan waras tidak mampu menghidupi diri sendiri. Atau saya berprasangka bahwa saat itu saya sedang didatangi malaikat. (?)
Beberapa bulan kemudian ketika saya telah memperoleh pekerjaan, saya telah bisa makan enak dan bahkan bisa makan daging, buah serta susu, tetapi ternyata tidak ada yang lebih lezat daripada tempe penyet yang saya makan ketika kelaparan dulu. Justru, saat itu saya mengalami sakit dengan buang air besar berdarah, entah ambeien ataupun diare, yang jelas Allah telah menunjukkan bahwa kenikmatan itu bukan pada materi, tetapi pada kesyukuran.
Masih banyak lagi hikmah-hikmah yang bisa saya petih hasil berdialog dengan Allah, dan sungguh Allah maha pengasih, guru yang bijaksana serta sebenar-benarnya pencipta yang bertanggungjawab terhadap ciptaannya. Begitulah hidayah, adalah sebuah kepercayaan bahwa Allah benar-benar dzat yang maha besar dan dekat…dekat sekali dengan mahluknya.
Semakin jauh, pemahaman saya mendapati bahwa banyak orang berguru pada kiai, berdekat dengan murobbi, ulama ataupun orang-orang alim demi mndapatkan pengetahuan agama. Saya pribadi tidak menyalahkan hal itu. Tetapi sejauh pengalaman saya, sesungguhnya berislam yang paling efektif adalah dengan berdoa. Dengan berdialog langsung kepada Allah dan melihat bahwa apa yang ada di sekitar kita adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Jadi disanalah saya bisa merasa tenang dan tidak khawatir terhadap apapun walaupun saya sangat jauh dari wajah seorang santri yang pernah melalui didikan pondok. Saya lebih bebas memilih setiap pertanyaan dan jawaban yang akan saya cari baik lewat ulama, lewat buku, ataupun lewat apapun yang secara egois saya klaim bahwa itulah jawaban Allah. Saya tidak akan salah, karena jika salah, maka Allah sendirilah yang akan memberikan jalan kebenaran kepada saya, selama saya memohon dan membersihkan hati. Itulah hidayah bagi saya pribadi.
Dakwah Dalam gerakan
Ketika saya bertanya pada sebuah forum tentang apa yang melandasi seseorang menjadi anggota suat lembaga keislaman, hampir semua peserta menjawab bahwa yang mengikat mereka adalah dakwah.
Di Jamaah Shalahuddin, kata dakwah menjadi kata yang paling sering dibicarakan, didiskusikan dan dijadikan jargon dalam setiap kesempatan. Itu karena memang yang melandasi tiap-tiap pribadi yang tergabung dalam setiap lembaga keislaman akan diikat oleh misi yang dengan mudah dikatakan sebagai misi dakwah. Akan tetapi dari sekian banyak hal yang saya amati, ternyata memang sangat sedikit dari setiap manusia yang mampu menjelaskan kepada saya tentang apakah dakwah itu. Padahal, pada tiap-tiap training kata ini selalu diulang dan diulang, tetapi dalam perhatian saya, tiap peserta hanya memperoleh pemahaman yang dangkal tentang dakwah.
Beberapa golongan, menerjemahkan dakwah sebagai sebuah proyek raksasa untuk membuat tiap-tiap kepala menjadi seperti yang dimaui oleh Qur’an dan Hadist. Maka Dakwah adalah sebuah kerja raksasa dengan melibatkan semua daya upaya untuk memperdengarkan semua kebenaran Allah, baik secara sistematis maupun secara organik.
Beberapa golongan lain, menerjemahkan dakwah sebagai sesuatu yang sangat sederhana, tidak muluk-muluk, yakni mengajak setiap orang untuk berbuat baik, terserah dia mau atau tidak. Kalau tidak mau ya sudah, kalau mau ya sukur.
Dari semua pemahaman itu saya mengalami kegamangan. Alangkah sombongnya manusia jika dakwah diartikan sedemikian naif, bahwa diri ini menjadi suci, menjadi bersih dan kemudian mengajak orang lain menjadi sebersih dia. Benarkah bahwa orang yang sangat suci akan mampu membuat orang lain berubah dan mengaca kepadanya? Benarkah orang yang bersih akan membuat orang lain simpati dan menirunya? Ataukah bisa dikatakan the super holy man berteriak-teriak di jalan akan membuat orang lain menjadi ikut di jalannya? Ataukah dengan membuat setiap usaha sistemik entah dengan syariat Islam ataupun dengan semua usaha akan mampu membuat semua mahluk bernama manusia akan menjadi setuju dan tunduk? Maaf, Saya pribadi tidak akan pernah mampu menjadi orang yang sedemikian itu, meskipun saya sangat menghargai bila ada yang mau berbuat demikian!
Pelajaran penting tentang dakwah saya dapati dari beberapa hal: pertama adalah ketika saya KKN di desa Ngluwar. Karena kebodohan kelompok kami dalam bersosialisasi, saya mendapatkan nasihat dari tokoh pemuda di kampung.
“Mas, di Indonesia ini banyak orang pintar mas. Tetapi mas, tidak penting menjadi orang pintar saja. Sudah terlalu banyak. Tetapi yang paling baik adalah orang yang bisa bermasyarakat.”
Teguran ini begitu telak. Betapa ketika dahulu sebelum KKN saya sangat bernafsu mempelajari berbagai macam buku, memenangkan perdebatan wacana, lari dari forum ini ke forum itu, tetapi saya tidak mendapatkan apapun dari semua itu. Saya tidak mendapatkan penghargaan dari apapun kecuali hanya sebatas tepukan tangan ataupun acungan jempol. Pada akhirnya, semuanya hanyalah kemenangan semu.
Pengalaman kedua adalah ketika mengunjungi anak yatim di sebuah panti asuhan. Saya diberi kesempatan untuk mendongeng di hadapan sekumpulan anak panti asuhan. Betapa saya harus mengeluarkan energi untuk membuat cerita yang lucu dan menarik, dengan segenap ekspresi seperti ketika saya mendongeng di TPA. Tetapi anehnya, meski keringat bercucuran dan wajah sudah jadi awut-awutan, tidak seperti di TPA, wajah anak-anak di Panti Asuhan ini kosong dan tidak berisi, tanpa ekspresi. Mereka hanya sibuk memperhatikan gerakan tangan saya dan setiap mainan yang saya pegang, kemudian apa yang saya kenakan dan lain sebagainya. Saya benar-benar merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.
Barulah ketika saya berinisiatif untuk menggendong salah satu peserta, saya mendapati kejadian yang tidak diduga. Hampir semua anak ingin saya gendong dan berebutan. Tidak hanya satu, dua, tetapi lima sekaligus mereka nemplok ke tubuh saya seraya berteriak,”bapak…bapak…gendong”. Masya Allah…apakah yang sedang berkecamuk di kepala saya? Saya sendiri tidak tahu. Mungkin pula saat itu saya menitikkan air mata.
Lebih jauh lagi, suatu pengalaman yang indah adalah ketika berjalan-jalan di sekitar pemukiman Kali Code yang berisi perkampungan yang kumuh. Jemuran di sana-sini dan anak-anak yang lalu lalang. Betapa kemudian saya merasakan bahwa dakwah bukan sekedar berkata, bukan sekedar berbuat, tetapi lebih dari itu adalah ..BERBAGI.
Betapa banyaknya orang-orang yang datang dan menghadiri pengajian. Betapa tiap hari jum’at setiap pribadi mendapati khutbah. Betapa banyaknya dari kita yang naik haji. Tetapi betapa banyaknya perubahan di negeri ini dari masyarakat yang bersahaja, berbudaya, menjadi masyarakat yang semakin tidak beradab. Semua itu telah banyak disinggung sementara banyak para pendengar pidato terkantuk-kantuk dan tidak tahu harus berbuat apa. Maka jika dakwah diartikan sebagai bentuk perilaku yang dilakukan hanya untuk orang lain semata, bukankah itu sangat membebani? Apakah tidak membosankan bahwa setiap juru dakwah adalah ibarat lilin- lilin yang menerangi dunia? Saya tidak bisa mendapati dakwah dengan cara demikian.
Sejauh pengalaman saya dari KKN, dari Anak Yatim dan Dari Fakir miskin, maka saya merasakan bahwa berdakwah adalah mencari rahmat Allah. Betapa susahnya saya melukiskan perasaan bahagia saya ketika setelah KKN saya menjadi orang yang sangat mudah bergaul dengan siapapun, didengarkan siapapun, menjadi damai dan indah dengan siapapun? Betapa saya susah menggambarkan suasana kebahagiaan saya ketika bisa mengangkat dan mengelus kepala anak-anak yatim? Betapa saya sangat terharu mendapati seorang ibu di pemukiman kumuh berterima kasih ketika saya bisa mendengarkan pengalaman hidup dia? Dan alangkah lebih bahagianya ketika saya mampu berbuat lebih dari itu? Apakah dari semua itu kemudian saya menjadi mahluk pasif yang hanya mengartikan dakwah hanya sebatas mencari kebahagiaan dari orang lain? Tidak! Ketika saya ceritakan pengalaman-pengalaman itu kepada orang lain, kepada sahabat-sahabat saya, sungguh bahwa rasa-rasanya kata-kata saya memiliki ruh. Ruh yang jauh lebih dasyat dan mengena di hati, dalam pikiran maupun perbuatan orang lain daripada sekadar kata-kata, ayat-ayat, cerita nabi atau apapun yang disampaikan hanya sebatas membaca buku. Dakwah dengan berbagi pengalaman…..Indah sekali.
Dari sanalah saya sangat tertarik membaca riwayat Rasulullah yang begitu menyatu dengan kehidupan umatnya dari semua kelas, dari semua golongan. Riwayat tokoh-tokoh yang sukses sebagai juru agama dan juga penyebar kedamaian di bumi ini. Hampir dipastikan bahwa semua dari mereka memiliki rasa cinta dan juga semangat untuk berbagi, mendengar dan kemudian menyatu dengan kaumnya. Betapa Rasulullah sangat memahami mengapa seseorang sampai melemparinya dengan batu dan kotoran binatang. Betapa Rasulullah sangat paham mengapa seseorang mengencingi masjid. Betapa Rasulullah sangat paham mengapa seseorang bisa gagal dalam berpuasa. Maka bisa dibayangkan betapa Rasulullah adalah orang yang paling sering berbagi, berdekatan dengan umatnya dan paling mendapatkan kebahagiaan.
Dari sinilah saya sering memulai proses pencerahan teman-teman JS. Saya seringkali membenturkan otak nakal saya, berharap ada nalar kritis yang bisa mereka temukan dalam kehidupan mereka kemudian. Sekedar mengingatkan bahwa dakwah itu tidak didapati pada buku-buku, pada kiai, pada murobbi ataupun pada siapapun di dunia ini. Dakwah itu didapati dari pengetahuan akan tanda-tanda kekuasaan Allah, berbagi dengan mahluk lain dan mengetahui apa yang tahu dan tidak diketahuinya. Maka nikmat manakah yang engkau dustakan.
Awal mula saya bergabung dengan lembaga Islam sebenarnya sederhana: ingin bisa sholat dan membaca Al-Qur’an. Sebagai jebolan sekolah kaum Nasrani tentunya akan sangat penting untuk mendapat legitimasi bahwa dirinya adalah bagian dari orang-orang muslim. Akan tetapi ketika sudah masuk di dalam lembaga Islam seperti JS, JMF ataupun HMI, saya sangat kaget bahwa komunitas-komunitas ini bahkan tidak menyediakan ruang kepada setiap individu untuk mendapatkan hal-hal yang (sekarang saya rasa) sederhana seperti itu. Justru dipaksakan untuk memakan wacana-wacana, keorganisasian, amal jama’I, kepanitiaan dan lain sebagainya serta juga dipaksakan untuk membaca realitas-realitas sosial dan penyikapannya menurut Islam. Jelas dalam tempo singkat saya menjadi eneg dan mumet, karena seolah-olah saya tidak menemukan apa yang selama ini saya cari: Islam, Iman, ketenangan batin dan jaminan akan akhirat saya. Saya menjadi disibukkan dengan ritual-ritual bakti sosial, pendampingan agama Islam, seminar dan lain sebagainya. Saya merasa sebagai robot ataupun jongos yang tidak punya waktu untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri, ataupun bahkan dengan gamblang mendeskripsikan kebutuhan saya sendiri.
Barangkali, rasa bodoh inilah yang mendorong saya untuk mencari tahu banyak hal tentang Islam sendirian. Entah kenapa, tidak ada yang mengajak saya untuk ikut suatu jama’ah tertentu, murobbi tertentu ataupun ustadz tertentu. Akhirnya saya tumbuh berislam secara liar: membaca buku-buku di perpustakaan JS (yang saat itu tidak terurus), di perpustakaan, toko buku, pinjam teman, lalu mendownload artikel-atikel dari internet. Tema-tema sufistik, orientalis sampai fundamentalis saya lahap demi membongkar tentang Islam dan kesejatian kebenarannya. Sejauh itu, saya pun mulai rajin menuliskan pokok-pokok pikiran dan gagasan-gagasan saya, hampir setiap hari. Artikel saya tuliskan di papan mimbar bebas Jamaah Shalahuddin dengan tanpa motifasi, entah dibaca-entah tidak. Selang beberapa waktu kemudian saya sadari bahwa ternyata tidak ada satu pribadipun di JS yang identik dengan saya. Liar, penuh dengan manouver pemikiran dan sangat haus akan membaca.
Di JS, bukannya tidak ada orang yang tertarik dengan membaca, berdiskusi ataupun berasyik masyuk dengan pencarian makna. Banyak diantara mereka menjadi kolektor buku-buku dengan kualitas yang sangat bagus, terbaru ataupun bahkan memiliki perpustakaan pribadi. Sayangnya sangat sedikit diantara mereka yang mengerti betul bagaimana memahami buku-buku yang dimilikinya, apakah mereka sudah membaca buku-bukunya sampai tuntas, apakah dengan itu mereka menemukan “aha” dari buku-buku yang dia baca.
Seseorang membutuhkan waktu berbulan-bulan demi buku yang dia pinjam dari temannya, bahkan seringkali tidak dikembalikan. Secara psikologis pun seringkali orang-orang menjadi mengantuk dan memerlukan energi banyak untuk memulai membaca buku. Saya sangat heran. Ada yang jauh lebih bodoh lagi, yakni bahwa seseorang cenderung memilih buku-buku yang tipis daripada buku-buku yang tebal, yang bergambar ataupun yang memiliki sampul bagus.
Saya dalam sehari mampu melahap satu buku setebal tiga ratus halaman sekalipun dengan font arial ukuran 11. Mengapa? Karena saya memulai segala sesuatu karena saya tertarik, unik, menggelitik ataupun merangsang naluri ingin tahu saya. Saya tidak tahu bagaimana menumbuhkan rasa ingin tahu ini, tetapi banyak pihak menyebutkan bahwa cara saya memahami sesuatu itu lebih dalam daripada orang lain. Lebih nyeleneh ataupun bisa diartikan tidak pernah terpikirkan oleh orang lain.
Jika sudah ada ketertarikan ini, maka bagi saya tebal dan tipisnya buku bukanlah ukuran. Baik dan buruknya sampul bukanlah ukuran. Yang menjadi ukuran adalah seberapa menarik hal itu di kepala saya.
Suatu saat saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memahami pasar modal, Soros dan pengaruhnya kepada kebangkrutan sebuah negara Indonesia. Betapa saya ingin sekali bisa memahami itu. Dan sampai kini pun saya merasakan bahwa konsep zakat ternyata bisa menjadi solusi terhadap kondisi demikian.
Suatu saat saya sangat disibukkan dengan buku tipis berjudul logika hanya untuk memahami bagaimana otak saya bekerja. Suatu saat yang lain saya sangat tertarik dengan pemikiran para tokoh-tokoh agama tentang dunia.
Saya ingin menjelaskan apa yang disebut penyakit otak. Dalam pandangan saya, buku yang baik adalah buku yang memberikan kita jawaban terhadap pertanyaan, baik yang tersirat maupun yang memang dipertanyakan sejak awal. Saya yakin, bahwa setiap kepala memiliki pertanyaan tentang apapun. Tentang hidup, tentang agama, tentang makan, tidur, peristiwa ataupun bahkan yang ghaib-ghaib. Hanya saja saya melihat bahwa banyak orang mengebiri pertanyaan di kepalanya sendiri dengan bermalas-malasan mencari jawaban. Menunggu orang lain yang menjelaskan kepadanya, ataupun tidak terlalu memperdulikan sama sekali apakah dia tertarik ataukah tidak. Maka sampai pada penyakit yang lebih kronis bagi otaknya yaitu tidak lagi mampu bertanya. Tidak ada rasa heran dan curiga mengapa batu itu keras, mengapa pipis itu mengeluarkan air, mengapa si Suto menjadi pengemis, mengapa masjid berbentuk mbelenduk dan lain sebagainya. Dia menerima dunia sebagai sesuatu yang wajar dan biasa saja. Inilah saat dimana dia membiarkan dirinya kosong dan jauh dari mengenal dunia.
Orang sering mengatakan bahwa dunia membuat kita lupa dan lalai, sehingga kita cenderung meninggalkan dunia, semua itu bagi saya hanyalah reduksi bahwa dunia ini adalah harta, tahta dan wanita. Jika dunia ini beserta isinya adalah mahluk terkecil seperti tengu sampai dengan langit yang membahana, ataupun ruang berpikir manusia yang melampaui batas alam, tentulah siapapun tahu bahwa dunia ini adalah jalan bagi manusia untuk menuju Allah. Dunia adalah ayat-ayat Allah yang kasab oleh mata dan batin.
Membaca, adalah mengkoneksikan kepala saya dengan dunia. Saya seolah berhadapan dengan sang penulis yang mencoba bertutur tentang sesuatu kepada kepala saya. Bebas dari jeratan waktu.
Mengetengahkan Pribadi
Lucunya, dengan semakin kuatnya bacaan saya menimbulkan dampak yang tidak terlalu positif. Saya memiliki kerangka logika, sistematika berpikir dan argumentasi yang sangat tajam untuk melawan setiap orang di JS. Saya sadar bahwa banyak orang yang menentang arus berpikir saya. Sayangnya, banyak diantara mereka yang tidak memiliki kekuatan argumentasi untuk melawan logika-logika saya. Bisa jadi karena memang belum terlatik untuk berpikir kritis, berdebat ataupun berargumentasi, kebanyakan diantara mereka menjadi orang-orang yang sakit hati dan hanya memberikan permakluman terhadap logika nakal saya. Tidak jarang tulisan saya dibredel, dirobek, dicerca, didiskusikan diam-diam dan bahkan difatwa sesat.
Saya sakit hati? Awalnya ya, tetapi saya berkaca kepada Rasulullah yang memang memiliki riwayat di tentang dan dicerca beratus-ratus kali lebih hebat dari saya. Semakin berumur membuat saya sadar bahwa terkadang bukan pemikiran dan logika yang dikedepankan ketika orang berinteraksi. Akan lebih baik jika saya memelihara sikap saya, kata-kata saya, dan juga segala sesuatu yang menjadi baik jika dikomunikasikan dengan orang lain.
Demi menjaga sebuah suasana diskusi agar tidak menimbulkan dendam terhadap perdebatan yang ada, saya mulai rajin untuk belajar tentang psikologi. Saya belajar bagaimana memulai pembicaraan, bagaimana menjaga ritme suara, bagaimana mengenal bahasa tubuh, bagaimana memilih topik yang sekiranya tidak membosankan bagi orang lain, bagaimana merangsang orang lain untuk tidak dijadikan sebagai objek pembicaraan tetapi juga menjadi “penting” keberadaannya di dalam diskusi. Lambat laun saya mulai menemukan kunci-kunci pergaulan sehingga pendapat saya, kata-kata saya, perilaku saya menjadi selektif dan bisa diterima banyak orang. Tidak lama juga saya bisa membaca suasana forum, suasana berpikir orang, menebak arah pembicaraan orang, membantu orang menemukan kata-kata, dan yang paling penting adalah membiarkan kita mengerti tentang isi hati ataupun isi kepala orang lain. Dan semua itu sangat-sangat indah.
Orang tua saya yang dulunya tidak tertarik kepada masalah agama, lambat laun menjadi positif thinking kepada saya. Tetangga, anak-anak sampai dengan siswa SMP ataupun SMA bisa berdiskusi dengan saya dari tema yang paling ringan sampai yang paling berat dengan bahasa dan penumbuhan rasa ingin tahu. Sangat indah rasanya bila orang lain merasakan pengalaman batin yang bermakna ketika bertemu dengan kita.
Aku memahami Al-Qur’an
Melihat Al Qur’an yang berbahasa Arab, membacanya dan kemudian menghapalkannya, bagi saya adalah perkara yang dulunya paling menjemukan. Saya berkenalan dengan Al-Qur’an sejak SD dengan Juz Amma yang berbahasa Indonesia. Dan ketika masuk perguruan tinggi saya berhadapan dengan kitab Al-Qur’an, maka dalam otak saya bergelanyut hal-hal yang membuat saya enggan membukanya. Pertama, karena saya harus membaca tulisan dari huruf hijaiyah/huruf Arab, dimana berbeda dengan tulisan latin yang biasanya. Kedua, saya sama sekali tidak tahu apapun dengan bacaan yang saya baca. Kata per kata, kalimat per kalimat berlalu begitu saja tanpa saya tahu maknanya. Ketiga, bahwa sebelum ataupun setelah membaca saya tidak merasakan perubahan apapun di kepala saya selain bahwa ada sebuah iming-iming, saya telah mendapat pahala, selebihnya saya tidak tahu apapun.
Dari hal itu saya bisa dikatakan mulai malas membaca Al-Qur’an. Saya bukannya membenci ataupun menafikan bahwa Al-Qur;an adalah kitabullah. Tetapi saya tidak tahu apa yang bisa saya petik dari membaca sesuatu yang saya tidak tahu untuk apa. Barangkali, nabi Muhammad, masyarakat Arab, ataupun orang yang tahu bahasa Arab adalah orang yang beruntung karena di sana Allah telah berbicara dengan bahasa yang bisa dicerna dengan mudah. Sementara di Indonesia, dengan kebutaan bahasa Arab yang sangat tinggi, untuk apa membaca Al Qur’an? Kalau hanya untuk pahala, alangkah sangat naifnya bahwa Allah menciptakan tulisan-tulisan yang mestinya berisikan makna indah itu hanya untuk dibaca dan dibayar dengan pahala.
Secara ngawur saya menyatakan bahwa umat Islam Indonesia adalah umat Islam yang bodoh. Mereka berislam tanpa tahu apa sebabnya, mereka membaca Al-Qur’an tetapi tidak tahu apa yang dibacanya, bahkan kemungkinan yang lebih jauh: mereka sholat, puasa, syahadat, dan lain sebagainya ritualitas agama tetapi tidak tahu untuk apa semua itu dilakukannya. Sungguh bodoh.
Bagi saya, membaca itu tidak di bibir. Jika membaca adalah di bibir, maka Rasulullah tidak akan terlahir sebagai manusia buta huruf. Jika membaca adalah di bibir, itu berarti yang dilakukannya hanyalah menerjemahkan tanda. Dan tidak ada bedanya anak TPA dengan perguruan tinggi. Anak TPA membaca Iqro sampai Qur’an, dan yang perguruan tinggi membaca Irqo’ dan Qur’an. Bagi saya membaca adalah serangkaian proses membayangkan, melogikakan, mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan bahkan memahami dengan sebaik-baiknya sesuatu yang disampaikan si pemberi pesan. Membaca yang baik adalah laksana sang prajurit yang menjawab: JELAS dan LAKSANAKAN ketika Jendral berbicara. Membaca adalah menjadi saksi atas sebuah peristiwa. Membaca adalah menghadirkan diri kepada sang pemberi berita.
Untuk itulah saya lebih suka menyimak terjemahan Al-Qur’an. Saya tahu bahwa dari sana akan muncul banyak distorsi makna, kata dan bahkan bahasa ketika suatu hal itu dilepaskan dari bahasa Arabnya. Akan tetapi ini jauh lebih baik daripada saya tidak mengerti sama sekali apa kandungan Al-Qur’an. Dan sedikit demi sedikit saya mulai mencoba memahami bahasa Arab.
Sungguh, dalam Al-Quran terjemahan yang saya baca, ternyata beraneka warna pengetahuan bisa saya serap. Ada yang begitu dahsyat sehingga menimbulkan kekaguman saya, ada yang menakutkan, ada yang memberikan solusi dan ada pula yang memberikan pertanyaan, serta ada pula yang terasa seperti humor ataupun hiburan yang bermakna.
Semakin canggihnya teknologi serta semakin majunya piranti elektronik membuat saya semakin mudah dalam memahami Al Qur’an. Dalam beberapa Software seperti Holy Qur’an, Muhaddits, Al Bayan, saya bisa mengklasifikasikan ayat-ayat Allah dan juga menemukan korelasi maksud Allah tentang persoalan-persoalan tertentu. Inilah saat dimana saya benar-benar menikmati Al-Qur’an sebagai surat cinta Allah.
Bagaimana memulai karier aktivis?
Betapa membosankannya sebuah kegiatan di suatu organisasi kampus. Seseorang yang mengaku aktif di suatu organisasi seringkali berakrab ria dengan tugas-tugas kepanitiaan, kepengurusan dan lain sebagainya yang sangat menyita waktu dan tenaga sehingga tugas utamanya menjadi mahasiswa terbengkalai. Organisasi kampus pun layaknya sekumpulan tugas-tugas kepanitiaan dimana setiap bulan dihadapkan kepada program kerja-program kerja, membuat proposal, memanggil pemateri, penceramah, pemandu diskusi, mencari dana ke rektorat maupun dekanat, mengedarkan proposal ke perusahaan-perusahaan terdekat dan kemudian diakhiri dengan seremonial tepukan tangan di kegiatan, untuk akhirnya menyusun LPJ. Itu saja.
Saya bukan saja menjadi orang yang sangat malas untuk menjadi panitia, tetapi juga bosan bahwa setiap anak baru selalu dibebani tugas-tugas kepanitiaan, selain training kepemimpinan (tentu saja). Orang-orang tua di organisasi lebih menyebalkan lagi. Mereka hanya menyusun konsep (yang terkadang usang) dan proposal yang menyontek dari proposal tahun lalu, dengan perhitungan sponsorship yang tidak berbeda dan juga perasaan bahwa panitia hanya dijadikan jongos yang dipekerjakan begitu saja oleh pengurus.
Untuk beberapa orang, kegiatan kepanitiaan sangat menarik. Bukan saja mereka menemukan kesibukan dan aktifitas yang lebih refresh dibandingkan kegiatan perkuliahan, ada kenalan baru, tetapi juga ditambah dengan adanya wahana dan wadah baru untuk menambah pengalaman, berkenalan dengan tokoh dan lain sebagainya. Harus diakui banyak hal yang membedakan bahwa orang pernah mengikuti suatu kepanitiaan dengan orang yang tidak terbiasa mengikuti kepanitiaan. Dalam tugas-tugas kepanitiaan orang dilatih sejak awal untuk memahami tentang perencanaan kerja, pengenalan karakter teman, pengalaman psikis ketika proposal ditolak, ketika pembicara mangkir ataupun gagal dilobby, sampai dengan situasi-situasi mendadak, semisal jumlah peserta sedikit dll. Belum lagi persoalan kekurangan dana, nombok sampai dengan kebingungan menentukan bentuk cinderamata untuk pembicara dll.
Ketika sampai suatu saat saya merasa sangat bosan hanya bergerak dari suatu panitia ke panitia ini itu, saya mulai belajar menciptakan konsep-konsep kegiatan mulai dari seminar, pelatihan sampai dengan kaderisasi.
Dari berbagai kegiatan kepanitiaan inilah, bagi saya, sangat tahu persis bagaimana menghargai kerja keras orang. Setelah sekian waktu saya sudah melanglang buana dari satu kepanitiaan ke kepanitiaan lain, kemudian naik derajat menjadi mc di berbagai acara, melonjak lagi menjadi moderator dengan memoderatori banyak tokoh seperti Amien Rais, Eep Saefullah, Heddy Shri Ahimsa, Revrisond Baswir, Munir Mulkhan, Dosen-dosen UGM, Mahasiswa, Pengamat sosial, Aktifis LSM yang tidak terhitung banyaknya kemudian naik pangkat menjadi penceramah di berbagai forum mahasiswa dengan berbagai issue-issue, dan terakhir mengisi training-training baik di tingkat SMTA sampai dengan para Profesional. Saya merasakan betul bagaimana setiap komponen kepanitiaan itu saling terkait. Saya tidak segan-segan memberi selamat, khususnya kepada panitia-panitia sebagai orang di balik layar yang bekerja keras di lapangan sehingga suatu acara dapat berjalan baik.
Hanya saja, saya yakin bahwa tidak semua orang bisa seperti saya: terlibat organisasi, ikut kepanitiaan, mendapat pengalaman dan kemudian mampu berpikir konseptual sampai dengan operasionalisasi kegiatan. Dalam berbagai dengar pendapat dengan para pelaku organisasi, ada diantara mereka yang lebih menikmati berorganisasi sebagai nuansa romantisme: menemukan teman curhat, menemukan kakak, adik, guru, sahabat, dan lain sebagainya. Ada juga yang menjadikan organisasi sebagai piranti ataupun media untuk mengaktualisasikan diri: mengolah kemampuan yang dimiliki untuk difasilitasi oleh organisasi yang bersangkutan, menemukan media untuk melebarkan pengaruh pribadi, pengaruh kelompok dan atau aliran yang dia yakini. Ada juga yang memang sejak awal memiliki harapan-harapan pribadi yang ingin dia dapatkan di organisasi yang bersangkutan.
Berangkat dari itu semua, seringkali banyak orang keluar dari organisasi karena dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya (sebagaimana awalnya saya masuk JS) hanya diperlakukan sebagai panitia dan tidak sebagai pengkonsep. Banyak orang keluar karena merasakan betapa garingnya dan jayusnya pertemuan demi pertemuan di organisasi. Betapa waktu kuliah yang disisihkan untuk ke JS tidak sepadan dengan manfaat yang diperoleh dari organisasi yang bersangkutan. Betapa membosankannya jika seseorang tidak tahu untuk apa dia berada di organisasi itu. Dan betapa indahnya jika ada orang yang bisa menjelaskan bahwa berorganisasi itu indah. Dan setiap pertemuan ada manfaatnya.
Begitulah…nanti disambung lagi…………….
Posted at 03:27 pm by feriawan
Permalink
Friday, January 28, 2005
Assalamu’alaikum wr.wb.
Salam kenal,
Saya Feriawan Agung Nugroho, salah seorang yang nulis di Al Manar, temennya Saleh, Saherman, dan temen-temen Al Manar lainnya, satu pondokan dengan Adib pas belum nikah. Setelah nikah saya tinggal di Solo.
Pertama kali saya nggak sengaja nyasar di blogmu, ilalang, meski masuknya ke sana suliiit banget karena imagenya gegedean dan memakan space warnet. Pas itu aku lagi nyari-nyari artikel tentang FSLDK di Google. Well, kesannya nyantol dan nancep aja pas baca orek-orekanmu yang berkisar tentang Rani, hidupmu dan semua kesibukanmu yang sepertinya pure gambaran aktivis, atau kalo boleh menuduh lebih lanjut, kamu sedang beringas-beringasnya menduniakan pikiran, perasaan dan idealisme sembari bertanya tentang dunia dan gambaran dunia lewat apa dan siapa saja. Maaf kalo kelewatan.
Kalo ada waktu dan ada ruang pikiran yang sempat kamu sisakan untuk ceritaku ini, saya sangat berterima kasih. Saya mau curhat dikit, yang mungkin akan berguna buat kamu besok..
Sebulan lalu berlalu, dan ketika saya mengetik surat untukmu ini masih ada sedikit serakan di meja kerjaku. Aku bekerja di sebuah BMT di kabupaten karanganyar. Sebulan lalu, kami memasang lowongan di media cetak lokal. Dibutuhkan untuk menjadi manager, marketing, accounting dan teller. Hanya sehari.
Setelah itu, sampai dengan batas waktu terakhir pengumpulan, di meja kerja sudah ada 175 map seisinya yang mewakili para pencari kerja di Solo.
Mungkin sadis, mungkin saja memang inilah zaman dimana yang disingkirkan adalah para pemula dan para manusia non pengalaman dan ketrampilan. Caraku menyeleksi adalah dengan melihat ranking curiculum vitae mereka. Hanya ada SATU syarat yang sejujurnya berlaku: PENGALAMAN KERJA. Tentu saja disertai bukti bahwa mereka telah bekerja di perusahaan dengan level Regional atau kalo perlu Nasional. Kurang dari syarat utama itu: masuk timbunan sampah…………
Sebagai perusahaan yang menghargai MANUSIA ADALAH ASSET, ataupun MODAL, maka perusahaan tidak mau gambling atau kompromi untuk mendidik seorang manusia untuk mampu bergerak seiring langkah perusahaan. Perusahaan tidak mau memulai sesuatu dari nol. Perusahaan butuh sekrup dan bukan besi yang harus ditempa, dibentuk dan diulir sampai menjadi sekrup. Tanpa kompromi….
Hanya hitungan jari…mereka yang terseleksi.
Saya pandangi timbunan sampah dengan sekian foto yang siap dibakar…ada diantara mereka yang sudah beristri, ada sarjana fresh, ada yang memalsu ijazah dengan menutup bagian IP ataupun kualifikasi, ada yang dari agama lain, ada yang sudah memiliki anak banyak, ada yang pensiunan, dan banyak diantaranya yang menyertakan surat tanda pengangguran.
Kertas-kertas itu sedang berbicara bahwa diantara mereka ada doa-doa dan harapan untuk memiliki mata air di telaga kehidupan mereka, baik di siang atau di malam hari. Kertas kertas itu berbicara bahwa untuk mengirimkan kertas-kertas itu sampai ke tanganku mereka telah berusaha memakan bangku dari TK sampai PT dengan segenap perangko, legalisir, SIM yang mungkin habis nembak, KTP dan semua-mua yang ujung-ujungnya berakhir di tempat sampah…..
Aku seolah menjadi saksi sekaligus palu yang menyeleksi hidup-hidup mereka bahwa yang kalah dalam kompetisi harus tergilas dan masuk keranjang sampah. Baik dari UGM, IAIN, UPN, UII, UMY, UNY, UNS dan sejenisnya……
Pada sisi lain saya (lagi-lagi) harus mengeluh bahwa dunia pendidikan sekarang adalah dunia tanpa tanggung jawab terhadap keberhasilan masa depan. Mencetak intelektual bermental kuli, bahwa setiap lulus mereka rela untuk menjadi jongos demi segepok uang…demi hidup menjadi jongos. Jarang dari mereka memiliki mental untuk wirausaha dan mandiri ataupun menjadi tuan dari buda-budak lainnya. Jarang…..
Aku, barangkali, lebih beruntung. IP ku tidak bisa mencapai 3. Belum punya pengalaman kerja. Tidak punya uang ataupun perusahaan untuk menjadi kaya. Tapi dengan kemampuan organisasi, training dan penguasaan software komputer, mampu menjadi super jongos (lagi-lagi jongos), untuk masuk tanpa sogokan, KKN dan bergaji cukup untuk menikahi seorang perempuan.
Aku sedang berpikir tentang kamu dan sekian banyak mahasiswa yang mati-matian mengejar IP tinggi, ataupun sibuk berorganisasi. Bukannya pesimis. Tetapi saya sangat jarang menemukan bahwa seorang mahasiswa memiliki perencanaan tentang hidup dan alasan praktis untuk sekedar bertahan hidup demi hari-hari yang tidak gratis. Akankah mereka terjebak oleh janji-janji MLM? Ataupun buaian lowongan surat kabar dengan gaji 2-3 jt? Ataukah ngantri menjadi pegawai negeri? Ataukah demi arus yang tidak jelas ini mereka hanya ingin hasilnya maksimal. IP maksimal, jadi pemikir maksimal, jadi pendakwah maksimal. Tidak tahu..hanya saja saya selalu bimbang bahwa kertas-kertas lamaran ini hanya berakhir di kiloan pemulung. Pemulung yang mandiri dan mampu menghidupi anak istri dan memiliki simpanan sawah di desanya. Belum terhitung jasa dan pahala yang didapati ketika mendaur ulang dan membersihkan sampah-sampah…
Itu saja…semoga kamu bisa menjadi teman berbagi yang indah. Makasih
Posted at 03:55 pm by feriawan
Permalink
Tentang Pengangguran di Sosialtry UGM
Ini surat saya tempo hari
Assalamualaikum wr.wb.
Hari ini saya habis menyeleksi 80 lebih berkas lamaran yang telah masuk ke perusahaan. Setelah sebelumnya, tiga minggu yang lalu, kami mencantumkan lamaran ke sebuah harian di kota Solo. Yang dibutuhkan hanya tiga posisi, berarti 3/80 dari semua kesempatan yang ada. Dari sanalah saya bisa memandangi wajah-wajah yang mungkin saat ini berdoa dan berharap bahwa dirinya diapresiasi dengan baik untuk masuk kualifikasi.
-*****
Saya masih ingat, beberapa bulan lalu sebelum menikah saya adalah bagian dari sekian sarjana yang mencari lowongan. Sebagai orang baru yang ingin berkarier, jujur saja bahwa saya tidak pernah punya bayangan tentang apa sesungguhnya dunia kerja. Saya hanya berpikir bahwa pengalaman saya berorganisasi, kemampuan, ketrampilan saya, kecerdasan saya yang diwakili dengan beberapa fotocopy-an dan legalisir-an itu menjadi perayu bagian personalia perusahaan-perusahaan yang saya masuki. Setiap hari saya baca koran-koran dan menuju halaman-halaman yang membuka kran-kran lowongan untuk dimasuki dan disesuaikan dengan kriteria saya.
Jangan ditanya kondisi psikologis saya saat itu: stress!!!! Kebutuhan ekonomi selalu menodong saya untuk segera mendapatkan uang. Tidak ada gunanya berhemat ketika di kost-kost-an saya dulu uang semakin menipis walaupun sudah berhemat makan dua kali sehari, sikat gigi sudah jabrik, odol sudah dilipat sampai kurus dan digulung rapat, sabun mandi dari Rinso.. saya bahkan tidak tahu lagi kapan bisa makan daging. Harap diketahui bahwa orang tua saya juga bukan orang yang mampu..jadi mau tidak mau saya harus bisa hidup sendiri.
Stress karena setiap pagi hari hanya menunggu senja supaya bisa tertidur dan berharap esok ada kabar baik. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali setiap hari hanya menunggu lowongan, pasang kuping, cari info lewat teman dan pengumuman di kampus. Di mana letak harga diri ini? Seolah hidup ini begitu sia-sia karena tidak ada kesibukan yang bisa dilakukan. Kalau toh ada tidak mungkin bisa menjawab apakah ini merupakan hal yang menguntungkan untuk diuangkan. Sama sekali tidak berharga, tidak berguna dan rendah sekali.
Stress karena setiap hari hanya menemukan kesemuan-kesemuan: MLM dimana instrukturnya selalu menjanjikan sukses..sukses…sukses…, buku-buku psikologis yang memaksa kita untuk menciptakan harapan-harapan meskipun otak saya sadar bahwa itu semua hanya semu. Dan stress karena menyadari bahwa setiap detik yang saha habiskan sekarang dan esok tidak ada yang gratis……
*****
Sekarang ini, saya dengan selembar kertas berisikan kolom dengan point-point yang saya centangi, tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh tiap-tiap pelamar: jenis kelamin Ijazah, rekap nilai, pas foto, copy KTP, DRH, surat lamaran, bukti pengalaman kerja, pengalaman di bidangnya minimal 2 tahun di perusahaan terkemuka, surat keterangan sehat, SKKB dan beberapa kriterium ringan lainnya.
Saya sedang menjadi hakim…ketika berkas demi berkas itu harus saya ambil hanya yang telah memiliki pengalaman kerja 2 tahun untuk diberi lingkaran besar. Merekalah orang-orang yang diberi kesempatan untuk langsung diwawancarai. Dan dari mereka hanya ada dua buah.
Saya sedang menjadi wasit…ketika diantara sekian banyak tumpukan hanya sepuluh lebih dikit yang terkualifikasi memiliki pengalaman kerja sesuai yang dibutuhkan perusahaan, kuliah di bidang yang sesuai dengan yang dibutuhkan, dan memiliki domisili yang dekat serta sarana yang mendukung (motor).
Saya sedang menjadi ALGOJO..ketika sebagian besar dari sisa-sisa berkas itu akan segera dibuang….masuk ke dalam mesin penghancur. Sebelum dibuang saya pandangi sekali lagi diantara berkas-berkas yang percuma itu:
Sarjana teknik, Sarjana Perkapalan, Ahli Madya, Sarjana pendidikan, Sarjana agama, Sarjana Peternakan, Sarjana Hukum, Sarjana Ekonomi….Pertambangan UPN, UGM, IPB, ITB, UNS, UMS, Akademi Perawat, …………belum kawin, kawin,…belum berpengalaman,……kursus komputer, bahasa inggris, menguasai GPS….. dan Masya Allah..ada yang memalsu ijazah.
******
Tuhanku ya Allah…..ternyata hidup di dunia, di negeri ini memang merupakan takdir yang pahit. Sarjana-sarjana itu sudah terdidik untuk menjadi kuli. Bermental kuli.dan betapa aku juga termasuk dari orang orang yang terdidik untuk bermental kuli. Dihimpit oleh kenyataan bahwa setiap hari segala sesuatu harus diraih dengan uang dan tidak punya waktu untuk berpikir bahwa dia harus berbuat untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, tetapi menunggu sampai ada celah atau lowongan untuk mengabdi kepada orang. Dan betapa pemain-pemain (sarjana-sarjana) baru yang mulai masuk ke dalam waiting list harus siap-siap untuk didepak dan dicutat jauh-jauh karena sama sekali nol dengan dunia kerja. Dan barangkali selamanya mereka tidak pernah kenal dengan dunia kerja.
Sebagai orang yang sudah menjabat di perusahaan ini, tentu saja saya tidak mau rugi. Saya tidak bisa bermodalkan kasihan, mengeluarkan dana terlalu banyak untuk dengan sabar mewawancarai orang per- orang, memberi waktu mereka untuk berpengalaman, ataupun menerima orang yang benar-benar fresh. Perusahaan tidak mau rugi dengan menempatkan orang yang belum punya pengalaman, apalagi mendidik mereka sampai berpengalaman.
Padahal, dari persaingan keras itu pun perusahaan masih memberlakukan aturan yang demikian ketat: menahan ijazah bila sudah diterima, melalui masa training dan penyesuaian dengan hanya diberi uang makan dan transport selama tiga bulan. Dan harus memenuhi target perusahaan. Karena bagi perusahaan: menambah karyawan berarti menambah omset ataupun keuntungan perusahaan. Menerima karyawan berarti BERMINTRA dengan PERUSAHAAN. TIDAK ADA LOWONGAN YANG DIBUKA TANPA MENGAMBIL KEUNTUNGAN YANG LEBIH BESAR BAGI PERUSAHAAN..!!!!
Ya..Allah. Ijinkan aku memohon ampun apabila telah mematahkan harapan-harapan dari suami yang memiliki istri dan anak, dari sarjana dan kaum intelektual yang telah memohon restu dari ibunya, dari mereka yang membayar fotocopy dan uang sogokan untuk karyawan PT agar legalisir ijazahnya lancar. Bagi mereka yang telah tekun mendapatkan IP sangat cum-laude. Bagi mereka yang berdoa di malam hari..karena hari ini mungkin saya telah membuang harapan mereka itu di tempat sampah. Dan semoga bangsa ini dapat belajar, bahwa menciptakan pekerjaan jauh lebih baik dan bermartabat daripada ikut pada barisan pencari kerja di perusahaan, karena setiap saat kesempatannya semakin sempit dan hasilnya mungkin tidak sebanding dengan ongkon kuliah mereka. Berbahagialan simbok yang berjualan di pasar, mereka mampu menyelamatkan diri mereka. Dan semoga para intelektual yang terhempas itu diberi kekuatan iman, diberi ketabahan dan rejeki yang dimudahkan supaya tidak menjadi barisan orang-orang yang melawan takdirmu.
Wassalam wr.wb.
Ditulis dengan diiringi lagu "sarjana muda" Iwan Fals. Mungkin sekarang jadi sarjana Sosiatri….
Feriawan Agung Nugroho, S.Sos.
Posted at 03:54 pm by feriawan
Permalink
|
|
 |
|
 |
 |
 |
Namaku Feriawan. Berkarier sebagai aktifis mahasiswa muslim sejak 1996 di Jamaah Shalahuddin UGM sampai lulus. Pernah di HMI, pernah di LABDA Shalahuddin PP Budi Mulia. Sekarang kerja di sebuah BMT di Karanganyar solo. SUdah menikah. Ingin berbagi pengalaman dengan mereka yang masih mencari pujaan hati, di jalan yang Islami.
|
 |
|