Entry: Tentang Pengangguran di Sosialtry UGM Friday, January 28, 2005



Ini surat saya tempo hari

Assalamualaikum wr.wb.

Hari ini saya habis menyeleksi 80 lebih berkas lamaran yang telah masuk ke perusahaan. Setelah sebelumnya, tiga minggu yang lalu, kami mencantumkan lamaran ke sebuah harian di kota Solo. Yang dibutuhkan hanya tiga posisi, berarti 3/80 dari semua kesempatan yang ada. Dari sanalah saya bisa memandangi wajah-wajah yang mungkin saat ini berdoa dan berharap bahwa dirinya diapresiasi dengan baik untuk masuk kualifikasi.

-*****

Saya masih ingat, beberapa bulan lalu sebelum menikah saya adalah bagian dari sekian sarjana yang mencari lowongan. Sebagai orang baru yang ingin berkarier, jujur saja bahwa saya tidak pernah punya bayangan tentang apa sesungguhnya dunia kerja. Saya hanya berpikir bahwa pengalaman saya berorganisasi, kemampuan, ketrampilan saya, kecerdasan saya yang diwakili dengan beberapa fotocopy-an dan legalisir-an itu menjadi perayu bagian personalia perusahaan-perusahaan yang saya masuki. Setiap hari saya baca koran-koran dan menuju halaman-halaman yang membuka kran-kran lowongan untuk dimasuki dan disesuaikan dengan kriteria saya.

Jangan ditanya kondisi psikologis saya saat itu: stress!!!! Kebutuhan ekonomi selalu menodong saya untuk segera mendapatkan uang. Tidak ada gunanya berhemat ketika di kost-kost-an saya dulu uang semakin menipis walaupun sudah berhemat makan dua kali sehari, sikat gigi sudah jabrik, odol sudah dilipat sampai kurus dan digulung rapat, sabun mandi dari Rinso.. saya bahkan tidak tahu lagi kapan bisa makan daging. Harap diketahui bahwa orang tua saya juga bukan orang yang mampu..jadi mau tidak mau saya harus bisa hidup sendiri.

Stress karena setiap pagi hari hanya menunggu senja supaya bisa tertidur dan berharap esok ada kabar baik. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali setiap hari hanya menunggu lowongan, pasang kuping, cari info lewat teman dan pengumuman di kampus. Di mana letak harga diri ini? Seolah hidup ini begitu sia-sia karena tidak ada kesibukan yang bisa dilakukan. Kalau toh ada tidak mungkin bisa menjawab apakah ini merupakan hal yang menguntungkan untuk diuangkan. Sama sekali tidak berharga, tidak berguna dan rendah sekali.

Stress karena setiap hari hanya menemukan kesemuan-kesemuan: MLM dimana instrukturnya selalu menjanjikan sukses..sukses…sukses…, buku-buku psikologis yang memaksa kita untuk menciptakan harapan-harapan meskipun otak saya sadar bahwa itu semua hanya semu. Dan stress karena menyadari bahwa setiap detik yang saha habiskan sekarang dan esok tidak ada yang gratis……

*****

Sekarang ini, saya dengan selembar kertas berisikan kolom dengan point-point yang saya centangi, tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh tiap-tiap pelamar: jenis kelamin Ijazah, rekap nilai, pas foto, copy KTP, DRH, surat lamaran, bukti pengalaman kerja, pengalaman di bidangnya minimal 2 tahun di perusahaan terkemuka, surat keterangan sehat, SKKB dan beberapa kriterium ringan lainnya.

Saya sedang menjadi hakim…ketika berkas demi berkas itu harus saya ambil hanya yang telah memiliki pengalaman kerja 2 tahun untuk diberi lingkaran besar. Merekalah orang-orang yang diberi kesempatan untuk langsung diwawancarai. Dan dari mereka hanya ada dua buah.

Saya sedang menjadi wasit…ketika diantara sekian banyak tumpukan hanya sepuluh lebih dikit yang terkualifikasi memiliki pengalaman kerja sesuai yang dibutuhkan perusahaan, kuliah di bidang yang sesuai dengan yang dibutuhkan, dan memiliki domisili yang dekat serta sarana yang mendukung (motor).

Saya sedang menjadi ALGOJO..ketika sebagian besar dari sisa-sisa berkas itu akan segera dibuang….masuk ke dalam mesin penghancur. Sebelum dibuang saya pandangi sekali lagi diantara berkas-berkas yang percuma itu:

Sarjana teknik, Sarjana Perkapalan, Ahli Madya, Sarjana pendidikan, Sarjana agama, Sarjana Peternakan, Sarjana Hukum, Sarjana Ekonomi….Pertambangan UPN, UGM, IPB, ITB, UNS, UMS, Akademi Perawat, …………belum kawin, kawin,…belum berpengalaman,……kursus komputer, bahasa inggris, menguasai GPS….. dan Masya Allah..ada yang memalsu ijazah.

******

Tuhanku ya Allah…..ternyata hidup di dunia, di negeri ini memang merupakan takdir yang pahit. Sarjana-sarjana itu sudah terdidik untuk menjadi kuli. Bermental kuli.dan betapa aku juga termasuk dari orang orang yang terdidik untuk bermental kuli. Dihimpit oleh kenyataan bahwa setiap hari segala sesuatu harus diraih dengan uang dan tidak punya waktu untuk berpikir bahwa dia harus berbuat untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, tetapi menunggu sampai ada celah atau lowongan untuk mengabdi kepada orang. Dan betapa pemain-pemain (sarjana-sarjana) baru yang mulai masuk ke dalam waiting list harus siap-siap untuk didepak dan dicutat jauh-jauh karena sama sekali nol dengan dunia kerja. Dan barangkali selamanya mereka tidak pernah kenal dengan dunia kerja.

Sebagai orang yang sudah menjabat di perusahaan ini, tentu saja saya tidak mau rugi. Saya tidak bisa bermodalkan kasihan, mengeluarkan dana terlalu banyak untuk dengan sabar mewawancarai orang per- orang, memberi waktu mereka untuk berpengalaman, ataupun menerima orang yang benar-benar fresh. Perusahaan tidak mau rugi dengan menempatkan orang yang belum punya pengalaman, apalagi mendidik mereka sampai berpengalaman.

Padahal, dari persaingan keras itu pun perusahaan masih memberlakukan aturan yang demikian ketat: menahan ijazah bila sudah diterima, melalui masa training dan penyesuaian dengan hanya diberi uang makan dan transport selama tiga bulan. Dan harus memenuhi target perusahaan. Karena bagi perusahaan: menambah karyawan berarti menambah omset ataupun keuntungan perusahaan. Menerima karyawan berarti BERMINTRA dengan PERUSAHAAN. TIDAK ADA LOWONGAN YANG DIBUKA TANPA MENGAMBIL KEUNTUNGAN YANG LEBIH BESAR BAGI PERUSAHAAN..!!!!

Ya..Allah. Ijinkan aku memohon ampun apabila telah mematahkan harapan-harapan dari suami yang memiliki istri dan anak, dari sarjana dan kaum intelektual yang telah memohon restu dari ibunya, dari mereka yang membayar fotocopy dan uang sogokan untuk karyawan PT agar legalisir ijazahnya lancar. Bagi mereka yang telah tekun mendapatkan IP sangat cum-laude. Bagi mereka yang berdoa di malam hari..karena hari ini mungkin saya telah membuang harapan mereka itu di tempat sampah. Dan semoga bangsa ini dapat belajar, bahwa menciptakan pekerjaan jauh lebih baik dan bermartabat daripada ikut pada barisan pencari kerja di perusahaan, karena setiap saat kesempatannya semakin sempit dan hasilnya mungkin tidak sebanding dengan ongkon kuliah mereka. Berbahagialan simbok yang berjualan di pasar, mereka mampu menyelamatkan diri mereka. Dan semoga para intelektual yang terhempas itu diberi kekuatan iman, diberi ketabahan dan rejeki yang dimudahkan supaya tidak menjadi barisan orang-orang yang melawan takdirmu.

Wassalam wr.wb.

Ditulis dengan diiringi lagu "sarjana muda" Iwan Fals. Mungkin sekarang jadi sarjana Sosiatri….

Feriawan Agung Nugroho, S.Sos.

   3 comments

Stepanus Tri Hartanto
October 1, 2009   09:47 PM PDT
 
Mas, sy juga sarjana sosiatri UGM. ankatan masuk 2004. mas angkatan brapa? mohon dinfokan bila ad lowonngan buat sosiatri ke steptri@yahoo.co.id. trimakasih. salam sosiatri
Ruri Riezqa
July 9, 2007   05:04 PM PDT
 
berhubung aku kurang kerjaan, aku tinggalkan komentarku di sini.
btw, salut aku mas..
Aini
March 25, 2005   06:00 AM PST
 
he he ternyata dirimu mengalami perjalanan yang berliku untuk menemukan cintamu :) salut nih

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments