Entry: surat untuk ilalang Friday, January 28, 2005



Assalamu’alaikum wr.wb.

Salam kenal,

Saya Feriawan Agung Nugroho, salah seorang yang nulis di Al Manar, temennya Saleh, Saherman, dan temen-temen Al Manar lainnya, satu pondokan dengan Adib pas belum nikah. Setelah nikah saya tinggal di Solo.

Pertama kali saya nggak sengaja nyasar di blogmu, ilalang, meski masuknya ke sana suliiit banget karena imagenya gegedean dan memakan space warnet. Pas itu aku lagi nyari-nyari artikel tentang FSLDK di Google. Well, kesannya nyantol dan nancep aja pas baca orek-orekanmu yang berkisar tentang Rani, hidupmu dan semua kesibukanmu yang sepertinya pure gambaran aktivis, atau kalo boleh menuduh lebih lanjut, kamu sedang beringas-beringasnya menduniakan pikiran, perasaan dan idealisme sembari bertanya tentang dunia dan gambaran dunia lewat apa dan siapa saja. Maaf kalo kelewatan.

Kalo ada waktu dan ada ruang pikiran yang sempat kamu sisakan untuk ceritaku ini, saya sangat berterima kasih. Saya mau curhat dikit, yang mungkin akan berguna buat kamu besok..

Sebulan lalu berlalu, dan ketika saya mengetik surat untukmu ini masih ada sedikit serakan di meja kerjaku. Aku bekerja di sebuah BMT di kabupaten karanganyar. Sebulan lalu, kami memasang lowongan di media cetak lokal. Dibutuhkan untuk menjadi manager, marketing, accounting dan teller. Hanya sehari.

Setelah itu, sampai dengan batas waktu terakhir pengumpulan, di meja kerja sudah ada 175 map seisinya yang mewakili para pencari kerja di Solo.

Mungkin sadis, mungkin saja memang inilah zaman dimana yang disingkirkan adalah para pemula dan para manusia non pengalaman dan ketrampilan. Caraku menyeleksi adalah dengan melihat ranking curiculum vitae mereka. Hanya ada SATU syarat yang sejujurnya berlaku: PENGALAMAN KERJA. Tentu saja disertai bukti bahwa mereka telah bekerja di perusahaan dengan level Regional atau kalo perlu Nasional. Kurang dari syarat utama itu: masuk timbunan sampah…………

Sebagai perusahaan yang menghargai MANUSIA ADALAH ASSET, ataupun MODAL, maka perusahaan tidak mau gambling atau kompromi untuk mendidik seorang manusia untuk mampu bergerak seiring langkah perusahaan. Perusahaan tidak mau memulai sesuatu dari nol. Perusahaan butuh sekrup dan bukan besi yang harus ditempa, dibentuk dan diulir sampai menjadi sekrup. Tanpa kompromi….

Hanya hitungan jari…mereka yang terseleksi.

Saya pandangi timbunan sampah dengan sekian foto yang siap dibakar…ada diantara mereka yang sudah beristri, ada sarjana fresh, ada yang memalsu ijazah dengan menutup bagian IP ataupun kualifikasi, ada yang dari agama lain, ada yang sudah memiliki anak banyak, ada yang pensiunan, dan banyak diantaranya yang menyertakan surat tanda pengangguran.

Kertas-kertas itu sedang berbicara bahwa diantara mereka ada doa-doa dan harapan untuk memiliki mata air di telaga kehidupan mereka, baik di siang atau di malam hari. Kertas kertas itu berbicara bahwa untuk mengirimkan kertas-kertas itu sampai ke tanganku mereka telah berusaha memakan bangku dari TK sampai PT dengan segenap perangko, legalisir, SIM yang mungkin habis nembak, KTP dan semua-mua yang ujung-ujungnya berakhir di tempat sampah…..

Aku seolah menjadi saksi sekaligus palu yang menyeleksi hidup-hidup mereka bahwa yang kalah dalam kompetisi harus tergilas dan masuk keranjang sampah. Baik dari UGM, IAIN, UPN, UII, UMY, UNY, UNS dan sejenisnya……

Pada sisi lain saya (lagi-lagi) harus mengeluh bahwa dunia pendidikan sekarang adalah dunia tanpa tanggung jawab terhadap keberhasilan masa depan. Mencetak intelektual bermental kuli, bahwa setiap lulus mereka rela untuk menjadi jongos demi segepok uang…demi hidup menjadi jongos. Jarang dari mereka memiliki mental untuk wirausaha dan mandiri ataupun menjadi tuan dari buda-budak lainnya. Jarang…..

Aku, barangkali, lebih beruntung. IP ku tidak bisa mencapai 3. Belum punya pengalaman kerja. Tidak punya uang ataupun perusahaan untuk menjadi kaya. Tapi dengan kemampuan organisasi, training dan penguasaan software komputer, mampu menjadi super jongos (lagi-lagi jongos), untuk masuk tanpa sogokan, KKN dan bergaji cukup untuk menikahi seorang perempuan.

Aku sedang berpikir tentang kamu dan sekian banyak mahasiswa yang mati-matian mengejar IP tinggi, ataupun sibuk berorganisasi. Bukannya pesimis. Tetapi saya sangat jarang menemukan bahwa seorang mahasiswa memiliki perencanaan tentang hidup dan alasan praktis untuk sekedar bertahan hidup demi hari-hari yang tidak gratis. Akankah mereka terjebak oleh janji-janji MLM? Ataupun buaian lowongan surat kabar dengan gaji 2-3 jt? Ataukah ngantri menjadi pegawai negeri? Ataukah demi arus yang tidak jelas ini mereka hanya ingin hasilnya maksimal. IP maksimal, jadi pemikir maksimal, jadi pendakwah maksimal. Tidak tahu..hanya saja saya selalu bimbang bahwa kertas-kertas lamaran ini hanya berakhir di kiloan pemulung. Pemulung yang mandiri dan mampu menghidupi anak istri dan memiliki simpanan sawah di desanya. Belum terhitung jasa dan pahala yang didapati ketika mendaur ulang dan membersihkan sampah-sampah…

Itu saja…semoga kamu bisa menjadi teman berbagi yang indah. Makasih

   1 comments

dhimas lazuardi
June 27, 2007   11:50 PM PDT
 
eh, hubungan sama fsldk jadinya apa ya???

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments