Entry: Kisah cintaku Friday, February 25, 2005



Kautolak

Cintaku

Dengan

Basmallah

 

Sebuah Novel Otobiografi

 

By: Feriawan Agung Nugroho.

 


BAB I

 

Cintaku Yang Kandas

 

 

Namaku Feriawan Agung Nugroho. Umur 27 tahun. Lagi mencari jodoh untuk dijadikan pendamping hidupku. Katanya sih, juga untuk menjalankan sunatullah, sunnah nabi, melepas hasrat alami, dan lain sebagainya yang bisa saja dijadikan alasan. Intinya, saya ingin lawan jenis yang juga menginginkan saya sebagai lawan jenisnya sesuai syariat Islam.

 

Konon, sudah 5 kali saya ditolak. Meskipun, lebih banyak nolaknya (yang resmi 7 kali). Tetapi agaknya, lebih enak menceritakan di sini tentang peristiwa-peristiwa penolakan saya. Biasanya, laki-laki atau perempuan akan dengan bangga menceritakan peristiwa penolakannya terhadap seseorang daripada menderitakan ditolaknya dia oleh orang lain. Saya lain, saya lebih suka sebaliknya.

Sejauh yang saya tahu, ditolak atau menolak, sesungguhnya tidak membuat seseorang lebih tinggi, lebih rendah, ataupun menjadi wah. Mereka yang menolak tidak lantas menjadi lebih baik, perkasa, luar biasa, unggul, menang atau apapun daripada yang telah ditolaknya, kecuali orang-orang yang berakhlak rendah. Sebaliknya, mereka yang ditolak tidak lantas menjadi kalah, minder, mati, malu ataupun terkapar…kecuali yang bermental tempe ataupun tahu.

Seorang sahabat saya, Pahrurroji M Bukhori, mengatakan bahwa Rasul pun pernah menolak dan ditolak, meskipun ditolaknya ini hanya dugaan. Maka atas dasar ini saya memproklamirkan diri untuk berani menyatakan cinta, berani ditolak, berani menolak, Lillahi Ta’ala.


Pertemuan dan penemuan cinta pertama kali, diawali ketika saya menjadi seorang pemandu Opspek 97 di UGM. Saat itu, pada pertemuan pertama calon-calon pemandu dikumpulkanlah sekian banyak pemandu dari berbagai fakultas untuk diberi briefing dari sang ketua opspek. Kebetulan, kami satu gugus, yakni gugus gelanggang.

Ada salah seorang yang cukup menarik, tinggi, semampai, wajah melankolis, berjilbab hitam, bulu mata tebal, sorot mata sendu, langkah teratur, angin yang berhembus ketika dia berjalan melambai-lambaikan kisi-kisi jilbab hingga ke renda-rendanya seolah-olah menari-nari menampakkan keanggunan dari putri yang memakainya. Sepatu yang manis, dengan hak rendah dan berujung runcing nampak sekali dua kali muncul dari rok panjang yang menutup kaki-kakinya.

Rasanya, konsentrasiku tidak pada alur rapat. Aku lebih sibuk untuk terus menahan supaya degub jantung ini tidak memenuhi ruangan, supaya sikap dan tindak-tanduk ini tidak tampak sebagai orang yang kehilangan tingkah. Menahan nafas dan kata-kata supaya tidak tampak gagap, karena jarak kami begitu dekat, tidak sampai dua meter dari lingkarang forum yang hanya berisi sepuluh orang. Sesekali dia tersenyum ketika ada hal-hal yang lucu…..alamak…subhanallah…senyum itu sangat-sangat sangat sangat sangat…indah.

Hari itu adalah hari yang tidak pernah kulupakan…

 

Apa kabar hatiku.

 Aduhai..

engkau melayang-layang menghirup wangi nirwana.

Semuanya tampak indah.

Bunga..indah,

dedaunan..indah,

burung-burung …indah,

semua indah….

Inikah cinta yang meluluhrantakkan semua kedukaan.

Inilah waktu dimana aku menjadi seorang penya’ir,

tidak perduli apakah aku sedang mengarang roman picisan ataukah karya pujangga..

tidak perduli akankah ini impian semusim ataukah keabadian…

semuanya indah.

Semuanya milikku.

 

Seminggu Opspek kulalui dengan pendekatan dan pembahasaan yang sangat menarik. Dia orangnya mudah sekali menemukan topik dan pembicaraan yang memaksaku untuk mampu dekat dengannya. Semua cerita, semua bahasa, semua dunia pantas untuk kami bicarakan. Berdua.

Perasaanku selama seminggu mengatakan bahwa aku dan dia bisa saling mencintai. Tetapi….mungkinkah dia mencintaiku juga. Mungkinkah dia menerima apa yang selama ini ada di hati untuk diungkapkan. Sengguh bagiku lebih layak untuk menikmati semua bayangan ini daripada harus memulai untuk berbicar kepadanya tentang cinta.

Aku mencintaimu dengan ketakutan

Ketakutanku yang pertama, adalah bayangan untuk pertama kali harus menyatakan cinta kepadanya. Bagaimanakah rasanya menyatkan cinta kepada seorang wanita. Ini bukan persoalan main-main! Kata orang, yang paling mudah adalah dengan menggunakan surat. Surat cinta, begitu katanya. Surat yang berisi pernyataan, perasaaan dan curahan hati kita….kayak di filem-filem.

Tetapi, banyak orang menilai bahwa menyatakan cinta melalui surat cinta adalah tindakan pecundang yang pengecut. Betapa tidak! Karena toh sebagai laki-laki kita harus berani menyatakan perasaan kita. Terus terang aja aku ngga mau dikatakan pengecut. Pengecut adalah milik mereka-mereka yang pantas menyandang nama itu..bukan saya.

Cara yang lain adalah dengan mengajaknya kencan, duduk satu meja, kemudian ngomongin diri kita dan perasaan kita….kayak di filem-filem. Tetapi, apa dia mau diajak keluar?

Sebenarnya kalau boleh jujur, saya tidak mampu mengendalikan perasaan saya dan tidak punya keberanian untuk mengaku cinta kepadanya. Pengakuan, kalau dipikir-pikir akan memaksa kita merenungkan hal-hal: Pertama momen, kapan dan dengan cara apa kita mengutarakan I love you. Kedua, bahasa yang seperti apa supaya layak kita sampaikan kepadanya. Untuk merangkai kata-kata saja, aku membutuhkan waktu sebulan sampai ditemukan kata yang kira-kira sesuai. Dihafalkan dan kemudian disimulasikan. Wah, itu pun nampaknya masih kurang pas. Ketiga, apa ya kira-kira reaksi dia. Bayangan-bayangan ketika pernyataan cinta ini sampai kepadanya itulah yang justru membuat saya khawatir. Jangan-jangan dia marah dan menjauh, jangan-jangan ditolak, sebenarnya mungkin tidak apa-apa ketika ditolak..mungkin…tetapi malunya itu ..gimana kalau malu banget. Apakah yang terjadi pada hari-hari kemudian? Apakah kita masih memiliki angan-angan yang melambung, ataukah justru menjadi hari-hari kelabu karena dia jadi membenci kita? Apakah nantinya akan ada mimpi yang tumbuh menjadi kenyataan ataukah menjadi derita dan kekosongan sepanjang usia. Ingat Fer, kataku pada diri sendiri, ini adalah cinta pertamamu. Gagalnya akan terasa sampai ke hati.

Ada hal lain yang sangat mengganggu. Dari penampakannya jelas-jelas dia seorang akhwat. Seorang yang memiliki pancaran cahaya Islam yang demikian kuat dan tidak bisa diajak menjalin ikatan kecuali nikah. Saya mendengar bahwa seorang akhwat akan sangat membenci adanya ikatan di luar pernikahan. Bisa jadi mereka juga membenci cinta kepada lawan jenis. Cinta adi luar nikah adalah bahasa tentang nafsu. Penyakit hati. Mereka begitu berhati-hati dan begitu waspada terhadap virus-virus hati ini. Mereka sungguh-sungguh kaum yang takut kepada Allah sehingga tidak dengan mudah berpacaran, diajak kencan, diajak keluar ataupun melakukan hal-hal yang itu melibatkan perasaan cinta. Bisa jadi, bahwa cinta adalah hal-hal yang mendekati zina.

Tetapi Demi Allah, aku sungguh-sungguh mencintainya. Cinta ini tulus, setulus beningnya embun pagi. Aku tidak sedang bernafsu dengannya. Aku sedang tidak ingin untuk menjauhi Allah dengan perasaanku ini. Aku tidak sedang ingin menanggalkan baju-baju keimananku. Aku tahu bahwa perasaanku ini tidak sedang berbohong tentang kekagumanku padanya. Dia seolah mutiara yang tercipta dari Allah untukku yang sedang tidak ingin aku rusakkan. Kalaupun dia memang harus menjadi seorang akhwat yang memang memandang ikatan di luar nikah adalah haram, apakah salah jika aku mencintainya? Aku bahkan sangat-sangat menerima jika dia ingin bebas, tapi apakah dia juga tidak pernah mengenal cinta dan mengerti perasaanku ini?

Tetapi…….

Apatah guna semua renunganku di atas. Perjumpaan kami terasa sangat singkat…karena hanya dua minggu setelah itu kami berpisah. Aku tidak sempat menanyakan di mana alamatnya. Dia juga tampaknya tidak sedang ingin mengetahui di mana alamatku. Pada perpisahan pemandu Opspek saya rasakan betapa mendalam berpisah dengannya..yang mungkin dia tidak tahu. Aku hanya sempat mencatat namanya: Novita.

 

Aku melanjutkan aktivitas seperti biasa. Sebulan setelah itu aku pindah kost. Mencoba mencari kehidupan yang berbeda yang mungkin bisa lebih mewarnai hari-hari. Mewarnai aktivitasku dengan kegiatan kemasjidan yang diadakan di kampung setempat. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika kuketahui bahwa si dia, Novita, tercatat pula sebagai aktivis masjid setempat. Kami sama-sama terkejut mendapati diri kami berjumpa secara tidak terduga. Mungkin sudah jodoh…. Begitu perasaanku mengatakan. Allah memang Maha Baik.

  Hari-hari begitu berubah. Apa yang selama ini diimpikan seolah-olah menjadi kenyataan. Ada banyak perubahan pada diri saya. Semula, saya merupakan orang yang sangat takut dalam berkomunikasi, ataupun bergaul dengan perempuan, tetapi dia mampu mengajarkan, tanpa menggurui, bagaimana berkomunikasi dengan perempuan. Bagaimana bahas tubuh, bagaimana sikap duduk, bagaimana begini begitunya.

Ada juga hal-hal yang selama ini saya benci menjadi saya sukai. Semisal, pada suatu hari tatkala ada acara pengajian anak, saya bertindak sebagai panitia acara. Tetapi Novita mengajak saya untuk mencuci gelas-gelas kotor sehabis acara selesai. Saat itu di dapur masjid, di bawa keran dia mengajakku membilas gelas-gelas.

“Ya..baiklah. sebenarnya saya tidak tertarik untuk mencuci gelas,”kataku.

“Kenapa?”, tanyanya heran.

“Yah, bukan bermaksud melecehkan, hanya saja ini kan pekerjaan perempuan. Kenapa tidak minta bantuan teman-teman putri yang lain,” tanyaku.

“Aku ingin kamu yang bantu aku,”katanya sambil tersenyum.

“Aku mau..melakukan pekerjaan perempuan,”kataku.

“Hei…,”sergahnya.”Kamu bilang mencuci gelas  pekerjaan yang tidak menyenangkan?”

“Ya”

“Mau kalau kutunjukkan kalau mencuci gelas tu menyenangkan.”

“Mana bisa menyenangkan,”aku menantang.

“Ini….!!!!”Senyumya melambung sambil mencipratkan segenggam air cucian ke wajahku.

“Aduh, awas ya.!”kataku sambil membalas.

Kami saling tertawa, saling bercipratan, saling basah dan saling tertawa. Sat itu adalah saat yang layak untuk dikenang dimana aku merasakan betapa bahagianya mencintai. Betapa segalanya menjadi indah, manis. Semanis tebu. Novita memang pandai dalam menciptakan suasana menjadi indah.

Selama beberapa bulan aku mengetahu sifatnya dar a sampai z. Agak keras kepala, tetapi pandai dalam penyampaian. Pengangum orang-orang yang cerdas. Dan masih banyak lagi.  

Suatu hari, malam hari di masjid Al-Hidayah. Kami ngobrol.

“Fer, aku mau cerita sesuatu,” katanya. Deg..deg…sepertinya ada sesuatu yang berkaitan dengan kami berdua.

“Apa…sih,”

“Begini, saat-saat ini aku kok merasa ada sesuatu yang membuat saya nggak tenang,”jawabnya. Deg..deg…

“ Kenapa?”tanyaku.

“Ehm …” dia menahan senyuman.

“Kenapa sih.? Pake senyum-senyum segala,”

“Kamu jangan terkejut ya!”

Deg…deg…

Ada apa, non.”

“Aku …aku sedang memikirkan seseorang.”

Deg..jantungku ….

“Sama.”

Anganku melambung jauh. Akankah saat-saat ini adalah momentum yang kutunggu-tunggu untuk mengutarkan perasaanku. Saat ini bukankah dia begitu siap? Bukankah dia begitu sangat ingin untuk berbuka diri. Bukankah ini waktu yang sesuai dengan yang kau bayangkan Fer. Dia seolah berkata: Ayolah..jujurlah padaku. Ayolah Fer, jangan biarkan aku duluan yang bilang kepadamu. Kita sehati! Kita satu rasa. Kita punya impian yang sama. Mau kapan lagi?

Aku sudah memendam rasa ini sekian lama. Bunga ini sudah bersemi melebihi yang kubayangkan. Bunga cinta ini telah dipupuk, telah dirawat, telah di sirami dengan baik hingga berbuah. Akankah dia engkau biarkan layu bersama waktu bersama kepengecutanmu? Mau kapan lagi engkau raskan nikmatnya kecuali saat ini.

Maka dengan segenap keberanian yang aku susun. Dalam hati aku berkata: sekaranglah saatnya.

“Kamu mau mendengar sesuatu dariku?”kataku.

“Apa itu,”katanya menduga-duga.

“Ehm…”aku seolah hilang kata-kata. Hatiku berdegup kencang. Fer…ayolah… tidak ada waktu untuk menarik kembali kata-katamu. Kamu sudah setengah jalan. Ayolah…sudah basah. Untuk apa lagi dihentikan. Ayooooo…

“Aku…aku..”entah kenapa lidah ini kelu sekali. Bukankah kamu Cuma bilang..aku menyukaimu..itu saja. ITU SAJA. Kenapa mandeg dan berwajah demikian dungu. Kamu saat ini jika dipotret fer..sangat-sangat dungu. Mengapa harus terdiam beberapa menit. Mengapa? Bukankah detik-detik begitu berharga daripada melihat wajahmu yang tolol ini.

“Aku menyukaimu…”, akhirnya….  Akhirnya !!! akhirnya selesai sampai juga ke titik finish.Sedikit terasa lega di dada. Fer..selamat, kamu telah mendapatkan piala sebagai orang yang pernah mengucap cinta kepada seseorang. SELAMAT…tetapi..

Situasi mendadak dicekam keheningan. Suara-suara hening, semua tampak bergelut dengan jantung sendiri. Aku tidak berani menapat wajahnya. Entah gembira, entah benci, sedih atau apa. Ohhh..fer..apakah kamu sudah melakukan tindakan bodoh.

“Ehm…kamu suka saya. Tapi..maaf Fer, yang kumaksud sbenarnya bukan begitu. Kamu salah sangka. Aku bersikap padamu selama ini bukan untuk itu.”katanya dengan nada sedikit mendatar.

“Permisi ya”

Dia melangkah, dengan setiap langkah yang lembut yang masih terdengar di telinga. Dia melangkah pergi. Meninggalkan aku sendiri duduk di ruang tengah masjid. Wajahku, jantungku, perasaanku yang berkecamuk antara benci sendiri, takut, malu, tanda tanya: adakah dia sedang merenungkan perasaanku ataukah memang telah menolakku, ataukah karena dia akhwat yang sebenarnya memendam perasan yang sama tetapi takut untuk bersuara. Ruangan ini menjadi saksi ketakutanku yang meras tolol, bodoh, malu, tidak tahu diri, tidak berguna dan serba salah. Akankah aku bisa menyambut hari esok? Akankah aku bisa tidur malam ini. Akankah semuanya menjadi baik seperti biasa.

Sesobek kertas dengan tulisan jelas kutujukan kepada Novita.

 

Yts.

Novita

 

Assalamualaikum wr.wb.

Maaf atas peristiwa kemarin. Terus terang aku tidak paham apa jawabmu meninggalkanku. Sekalipun demikian aku juga tidak memaksamu menjawab. Aku sudah cukup puas dengan saat-saat itu, saat aku bisa jujur padamu. Terimakasih atas semua kebaikanmu.

Semoga kamu masih tetap seperti yang dulu, sebelum aku mengutarakan isi hatiku.

Wassal.wr.wb.

 

Feriawan

 

Hari berikutnya, saat pameran buku, aku bertemu lagi dengan Novika. Perasaaanku lagi-lagi berguncang hebat. Ada apa nih. Dia menungguku di luar ruang pameran.

“Fer, harap kamu ketahui bahwa aku selama ini hanya bersikap biasa saja kepadamu. Tidak ada maksud lain.”

“Saya tahu, saya hanya mengutarakan perasaan saya.”

“Kamu..mungkin kamu belum faham bahwa apa yang kumaksudkan kemarin bukan kamu. Jujur saja, kamu bukan tipeku. Maaf kalau ini terlalu kasar, tetapi agar kamu bisa mengerti bahwa memang begitulah adanya.”

PRAKKK, keringat mengucur deras, jantung berdegup kencang, perasaan kalah, arogan dan kesal, dendam dan sakit hari bercampur jadi satu. Apa salah dan kekurangan saya sehingga ditolak? Apa yang menjadikan saya tidak bisa diterimanya? Bukankah selama ini kita saling cocok dan saling bersahabat mesra dengan baik?

Dia telah meninggalkanku.

Mengapa kita harus berjumpa, kalau akhirnya harus berpisah. Sungguh syair-syari cengeng itu menjadi sangat merasuki jiwa lebih mendalam dibandingkan dengan dahulu ketika aku belum mengenal cinta. Semuanya menjadi beku. Dalam sebulan berat tubuhku susut dari 60 kilogram menjadi 57 kilogram. Wajah acak-acakan, tidak terurus, dan sungguh aku tahu bahwa selama ini aku terlalu GR. Gede rasa. Salah sangka. Dasar Feriawan…aku benci dirimu !!!!

Betapa perasaan kalah ini terbawa dalam setiap lagu-lagu yang ku nyanyikan, puisi yang ku ciptakan, senandung yang kulantunkan sampai dengan cerita-cerita yang kupilih untuk mengobati kekecewaan saya. Baru sekali kuutarakan cinta, baru sekali pula ini langsung ditolak. KO telak…

Perasaan sakit hati ini tidak terobati selama empat tahun. Sungguh waktu yang lama untuk menjadikan hati ini menjadi tenang. Sungguh betapa sulit untuk mencoba membangkitkan rasa yang sama pada orang lain. Tiada perempuan seindah dia, tiada wanita sesempurna dia apa adanya. Tidak ada yang bisa menggantikan dia. Tidak ada yang bisa menyamai  suasana yang diciptakannya. Tidak ada yang menyetarai dia. Semua perempuan yang melangkah di depanku…semuanya tidak menarik.

Sekali waktu kami masih saling bertemu. Ada waktu-waktu dimana pas kegiatan TPA, kegiatan kerohanian dan keorganisasian yang lain kami masih saling bertemu. Entah mengapa aku agak membencinya, mungkin karena penolakan itu. Rasa benci yang bermula dari tidak berharganya diri ini dihadapannya. Seolah diri ini telah tertendang jauh. Jauuuuh sekali. Tetapi rasa benci ini tidak bisa jauh-jauh terekspresikan kecuali hanya menghindar-dan menghindar layaknya seorang pengecut menemukan orang yang tengah memergoki kebodohannya.

Memang ada yang berbeda dari sikapnya, ada batas, ada jarak, ada yang membuat aku dan dia terpisahkan. Dan mungkin karena memang harus begitu.

Sebenarnya, dalam tempo empat tahun itu kami pernah sama sekali tidak bertemu selama setahun. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di Jama’ah Shalahuddin. Berorganisasi di BEM Fisipol UGM dan semua-mua yang bisa menghanyutkan aku dalam aktifitas kemahasiswaan. Hingga suatu saat badai krisis menghantam yang membuat orang tua tidak mampu lagi membiayai kuliah dan kehidupanku. Aku dipaksakan untuk mandiri secara dini. Sungguh mati aku belum pernah mengalami saat untuk mencari uang sendiri. Cari uang dari mana?

Entah kenapa Novita bertemu dan memberikan solusi. Dia mengajakku untuk bekerja paruh waktu di tetangga dekat rumah. Bu Mus, seorang pembuat roti membutuhkan tenaga kerja yang mau membantu mengolah adonan dan mendistribusikan roti ke sekolah-sekolah terdekat. Kebetulan saja Novita menjadi karyawan paruh waktunya.

Saat itu, benih-benih cinta yang hampir terkubur mendadak muncul kembali. Seolah penolakannya yang dahulu akan dia ralat. Sampai detik itu saya pikir saya akan kembali bersatu dengannya, ataupun barangkali dia telah berubah pikiran.

Ahhh, yang saya dapati justru sebaliknya: dia telah menjalin hubungan dengan ikhwan tetangga, sahabat karib saya sendiri. Pengakuan itu aku dapati ketika sama-sama mengobrol tentang kehidupan masing-masing.

Pada suatu hari kedapatan cerita dengan Mas Parman, teman sekerja yang lain. Mas Parman tidak sengaja melihat Novita yang ternyata cukup ceroboh mengenakan jilbab, sehingga auratnya (tepatnya rambutnya) terlihat. Ternyata rambutnya keriting. Aku agak tidak percaya dan agak risih mendengar aurat wanita diobrolkan.

Tetapi suatu hari ada seuntai rambut tercampur dengan adonan roti yang hendak aku kaliskan. Ketika kuamat-amati, rambut itu sepanjang 50 cm-an. Dan keriting. Rata-rata rambut kami di sini hanya sepanjang 10 cm. Rambut Bu Mus yang tidak memakai jilbab, pun hanya memiliki untaian rambut sepanjang 30 cm-an. Sementara anak perempuannya, SMP dan belum berjilbab, sangat jarang melangkahkan kaki ke dapur. Kalaupun pernah, rambutnya tidak sekeriting ini, cenderung lurus. Maka…kesimpulannya: ini adalah rambut Novita.

Ajaib !!!! Saat itu juga perasaan yang selama ini menggebu-gebu, perasaan yang selama ini menghantui, perasaan yang selama ini perduli, sayang, cinta dan sejuta pengorbanan dan kekalahan karena penolakan…..sungguh ajaib…langsung hilang, sirna, musnah entah ke mana. Ajaib dan sangat-sangat memalukan. Sungguh bodohnya aku selama ini mencintai Novita. Sungguh ironinya aku selama ini hidup dalam bayang-bayang kecantikannya karena membayangkan dia bagaikan si Maudy Koesnaidi dalam iklan sampoo yang membiarkan rambutnya yang lurus, terjuntai dipermainkan angin. Aku seolah melihat wajahnya yang mirip Maudy tetapi berambut a la Edi Brokoli. Ah, Feriawan. Ternyata selama ini cintamu adalah cinta pinggiran. Cinta yang tumbuh untuk menyukai seseorang karena fisiknya semata. Sungguh bodohnya aku selama ini, empat tahun menanti dan menangisi kegagalan cinta dan sekarang harus mendapati kenyataan bahwa semua yang kulakukan itu harus sia-sia, hanya karena  rambut keriting. Hanya karena keriting cinta melayang. Dan memang benar, karena ada seuntai rambut keriting yang tertinggal di karpet ruang kerja.

kami semua yang bekerja di sini berambut lurus. Memang ada pria yang keriting, tetapi panjang rambutnya tak lebih dari sepuluh senti. Sementara hanya dia yang berjilbab, dan kemungkinan rambutnya panjang ada.

Betapa rendahnya cintaku.betapa sangat rendahnya kadar pengetahuan ku tentang cinta. Betapa memang diri ini hanya dikuasai oleh nafsu belaka. Aku terlalu tertipu oleh bayang-bayang ilusi tentang kecantikannya. Mana rasa sayang karena sikapnya? Mana rasa kasih karena perhatiannya? Mana rasa pengorbanan karena perhatiannya? Semua itu seolah hilang karena mengetahui rambutnya yang keriting. Feri…feri.. betapa menyedihkannya dirimu. Betapa menggelikannya kisahmu ini.

Ahh..aku sungguh shock dengan peristiwa bodoh ini. Sungguh Allah Maha mengetahui dan maha penyayang kepadaku. Coba seandainya Novita menerima hatiku, lalu menikah, dan lalu kudapati pada malam pertama dia membuka kerudung, dan ternyata….keriting, apakah kenyataan ini  tidak menyakitkan dia? Apakah kemudian pernikahan batal hanya gara-gara masalah rambut? Apakah kemudian hari-hari dijalani dengan rasa hambar hanya karena masalah rambut? Apakah dia harus merebonding gara-gara itu? Tidak..tidak!!! Tidak. Untung saja semua itu belum terjadi.

Sejak saat itu, mulailah aku melakukan revisi ulang tentang cinta. Aku, tahu bahwa cinta tidak sekedar melihat dan membayangkan kecantikan, keangguna dan persona fisik saja, tetapi juga penerimaan hati. Aku tahu, cinta yang lebih kuat landasannya dan juga kesejatiannya, yang relatif abadi  daripada sekadar syahwat dan ilusi fisik belaka bukanlah cinta yang didasari oleh kekaguman terhadap fisik, apalagi imaninasi konyol tentang rambut. Aku mulai merubah image bahwa aku bisa mencintai orang tidak perduli apakah dia keriting, oval, berintik, botak, brodhol , jabrik, metal atau gundul sekalipun, aku tidak akan melihat fisik sekalipun dia pendek, gendut, buntek, hitam, cacat, anomali atau apalah…Saya tahu kalau semua itu ilusi. Aku harus mendapati hati yang suci, hati yang bisa berbagi dan bercinta dengan aku. Sifat yang sesuai, kharisma yang bersahaja, suara yang menyejukkan dan getar-getar ilahi dari setiap langkah yang dia titi. Aku tahu….itu pasti saya dapatkan.

Aku harus menutup kisah ini dengan tertawa sepuas-puasnya, betapa Allah Maha Baik.

 


Riwayat penolakan saya kedua, adalah dengan seorang akhwat dari fakultas Psikologi. Ada cerita mengapa konteks keilmuannya, Psikologi, saya tonjolkan. Semenjak gagalnya kisah cinta pertama, saya semakin tertarik untuk mempelajari Psikologi. Aku merasakan bahwa ada yang salah dengan diriku, dengan psikologikum dengan penilaianku kepada seseorang yang hanya didasarkan kepada standar fisik. Aku harus menyibak diri seseorang berdasrkan pengetahuan tentang psikologi, pengetahuan tentang jiwa, tentang segala sesuatu yang melingkupi diri seseorang. Mencintai pribadi seseorang, adalah cinta yang relatif abadi daripada mencintai dari sisi fisik saja yang dibatasi oleh waktu yang singkat. Padahal, pengetahuan psikologi yang kumiliki masih sangat jauh dari memadai.

Dengan dasar alasan untuk mengetahui psikologi, maka kedekatanku dengan mereka-mereka yang berstudi di Psikologi harus diintensifkan. Mereka-mereka itu, dalam pandanganku adalah orang-orang yang bisa membimbing saya dalam memahami cinta. Kebetulan juga, karena di fakultas tersebut cukup banyak perempuan, maka siapa tahu…he..he..he..

Singkat cerita, aku bertemu dengan salah seorang akhwat dari fakultas Psikologi. Dalam imajiku, seorang akhwat dari fakultas ini adalah seorang akhwat yang dewasa. Betapa tidak? Tentunya, dia akan belajar tentang manusia mulai dari lahir sampai dengan tua. Belajar tentang bagaimana bersikap, bertindak, berbahasa sampai dengan setiap gerak yang dia miliki berkesesuaian dengan orang lain. Dari sanalah aku akan bisa belajar banyak untuk menjadi orang yang memahami cinta, memahami tentang lawan jenis, memahami tentang bagaimana menyembuhkan diri sendiri yang terluka karena cinta.

Neni. Dialah perempuan muslimah psikologi yang pertama kukenal. 2 tahun lebih muda dari saya. Wajah melankolis, tinggi, putih, suku Ngapak (Banyumas), kalau dia berbicara akan terasa suasana ramai. Dia termasuk akhwat favorit: banyak didambakan oleh laki-laki. Konon sudah menolak banyak lamaran ikhwan. Dia aktif di berbagai gerakan dakwah. Sip lah pokoknya.

Pertemuan kami tidak sengaja. Dia kebetulan menjadi salah satu staf bidang kaderisasi di Jama’ah Shalahuddin. Saat itu, wajah dia sedang murung karena payahnya kinerja kaderisasi. Mungkin begitu…karena sesungguhnya saya tidak begitu dekat dengan orang-orang dari departemen kaderisasi. Saat pertama kali kutemui di bangku JS (Jama’ah Shalahuddin), wajahnya sedang ingin berbagi.

“Mbak Neni?” sapaku.

“Ya.”

“Sibuk ya?”

“Iya.”

“Gimana rapat koordinasinya? Jadi ga?”

“Aduh..gimana ya. Pokoknya rumit deh..?”

Nampaknya dia sedang tidak ingin bercerita. Barangkali karena kami memang jarang berbincang-bincang. Tetapi saya sangat yakin bahwa dia sedang ingin berbagi. Hanya, sepengetahuanku perempuan tidak mudah untuk berbagi dengan siapapun kecuali mereka yang sudah dikenalnya dengan baik.

“Sepengetahuan saya. Bidangnya mBak Neni merupakan bidang yang dikeluhkan oleh banyak pengurus. Karena dengar-dengar harapan mereka terhadap kader sangat tinggi. Sementara, tidak banyak kader yang diraih. Gitu?”

Dia sedikit mencerna kata-kata saya.

“Ya…sebenarnya tidak terlalu sih. Hanya saja saya jenuh, Bidang kami cari kader, tetapi jika sudah didapat memang tidak mudah untuk dimasukkan ke bidang-bidang lain. Makanya, banyak kader keluar. Yang masalah ruhiyah lah, yang masalah tidak tahu banyak lah, yang tidak pernah diajak koordinasi lah.”

Nah..betul kan? Akhirnya pancingan saya berhasil. Saya mengangguk-angguk. Sebenarnya pendapat saya tadi sangat spekulatif karena…ya Cuma menerka saja. Saya Cuma diam sejenak, karena menurut saya, pada menit berikutnya dia akan menanyakan pendapat saya.

“Kalau menurut Mas…maaf..”dia mencoba mengingat sebuah nama.

“Mas Feri. Iya kan?”,tanyanya  memastikan.

“Iya..saya Feri,”jawab saya sambil melemparkan senyum.

“Kalau menurut mas Feri apakah itu adil…Betapa bidang saya harus kerja begini..begitu..” katanya. Perbincangan selanjutnya tidak begitu menarik untuk aku ceritakan. Yang jelas, awal itu adalah awal bagi aku dan dia untuk bisa memasuki sekian banyak perbincangan, sekian banyak diskusi untuk saling dekat.

Namanya juga anak Psikologi. Maka, saya menjadi kelinci percobaan dari sekian kerja praktek dia.Yang ikut tes IQ lah, tes tinta tumpah lah, tes interpertasi gambar lah. Sedemikian pula aku menanyakan perihal tentang psikologi manusia. Beberapa buku-buku yang berkaitan dengan psikologi aku baca dan aku diskusikan jika ada hal-hal yang kemungkinan tidak kufahami.   

 Banyak pengalaman kudapatkan dari perkenalan dengan Neni. Betapa cara orang untuk berkomunikasi dengan sesama ataupun lawan jenis harus memperhatikan banyak hal. Neni menuturkan, bahwa yang terutama sekali harus di miliki seseorang untuk mampu berkomunikasi dengan orang lain adalah bagaimana menciptakan kesan, khususnya kesan pertama. Bukan karena iklan yang menyatakan bahwa: kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda…tetapi karena memang momentum pertama kita bersentuhan dengan orang lain adalah momentum yang tidak pernah terulang dan banyak kemungkinan tidak terlupakan.

Pada menit pertama seseorang akan memperhatikan penampilan: bagaimana wajahnya, bagaimana pakaiannya, serasi ataukah tidak, bagaimana cara berjalan, sudut mana dari sesosok manusia ini yang pertama kali menonjol dan berkesan keras di hati. Kita tidak pernah tahu kapan akan bertemu dan berkenalan dengan seseorang, untuk itulah perlunya setiap saat berpenampilan yang baik. Intinya, semua ini sangat melibatkan indera pengelihatan.

Pada menit ke dua, barangkali lima menit kedua, seseorang akan memperhatikan kata-kata, diksi yang dipilih, ataupun kalimat apa yang terlontar dari mulutnya: perkenalankah? Canda kah? Atau permintaan dan lain sebagainya. Butuh keberanian untuk melontarkan kata-kata yang bersahabat. Karena, begitu grogi, canggung, ataupun terlalu protektif, akan membuat kalimat yang diucapkan tidak mengalir lancar. Bersyukur jika lawan bicara kita merupakan seseorang yang cool,grapyak, supel  ataupun bisa mengerti. Orang yang demikian akan bisa memelihara kelemahan kita seolan-olah tidak ada sesuatu yang  mengganggu. Dia seolah memberikan energi, kesempatan ataupun kepercayaan diri kita untuk bisa menata sikap dengan baik, dan kitalah yang nantinya akan terbimbing olehnya.Tetapi sialnya jika orang yang kita ajak bicara merupakan orang yang biasa saja, atau bahkan lebih sulit, maka sikap grogi kita akan merupakan awal yang tidak menyenangkan bagi pembicaraan selanjutnya. Jadi, pada menit ke dua adalah menit milik indera pendengaran.

Pada babak selanjutnya adalah interaksi batiniah dan pikiran. Masing-masing dari kita akan menyusun dan mengidentifikasi tentang sifat-sifat lawan bicara, kecerdasan, tidak tanduk sampai dengan kebiasaan-kebiasaannya. Dalam hal ini, yang perlu dipelajari baik-baik adalah bahasa tubuh, baik bahasa tubuh kita atupun bahasa tubuh lawan. Bahasa tubuh bisa diartikan sebagai gerak ataupun posisi tangan, badan, kerut wajah, sorot mata dan setiap perubahan fisik yang menyertai kata-kata yang terlontar baik disadari maupun tidak. Misalkan saja, mata yang tidak memandang lawan bicara akan menciptakan kesan tidak perhatian, posisi tubuh yang menghadap disertai dagu yang agak dimanjukan menandakan perhatian terhadap lawan bicara.

Neni memberikan banyak pertimbangan tentang cara-cara bergaul yang baik. Neni mempengaruhi perubahan sikapku dalam bergaul. Bersamanya, aku bisa merasakan persahabatan. Bersamanya, aku menjadi orang yang tidak egois. Tidak lagi selalu berkata:…aku itu….aku itu….aku itu…..(sebuah ciri bahwa seseorang sangat egois dan membosankan). Perlahan namun pasti banyak teman yang kudapatkan. Kata-kataku tidak lagi menyinggung perasaan orang.

Neni merepresentasikan anak psikologi yang sempurnya. Sungguh, dalam pikiran saya, anak psikologi tentunya akan menjadi orang yang paling berbahagia karena tahu bagaimana menyenangkan orang lain.

Persahabatan saya dengan Neni menciptakan kesan yang mendalam. Dia telah membuat hidup saya begitu ceria dan berubah menjadi cerah. Maka, rasa cinta yang kedua seolah terlahir kembali.

Pada dasarnya Neni merupakan orang yang keras dalam pendirian. Dia juga cenderung suka berkonflik. Kami biasa bertengkar dalam banyak hal. Akan tetapi kami sama-sama menyadari bahwa pertengkaran di sini bukanlah pertengkaran yang melibatkan kebencian. Sebuah pertengkaran yang lahir karena kemesraan. Pertengkaran yang seolah menjadi bagian cara kami sama-sama saling berkomunikasi. Apa saja bisa menjadi bahan pertengkaran yang menarik: masalah warna baju, selera makan, sampai dengan politik dan agama.

Banyak teman-teman yang melihat kami ini aneh: bertengkar tetapi selalu dekat. Banyak pula yang menggoda kami untuk menjalin ikatan serius. Hanya saja, lebih banyak yang setuju jika hubungan kami dilanjutkan lebih serius. Bagaimana bisa berlanjut, orang setiap hari jika ketemu isinya hanya berkelahi melulu. Apatah keluarga yang kami ciptakan nanti.

Tetapi, hati ini tidak bisa mengingkari bahwa aku menyukai hubungan yang unik ini. Aku tidak bisa mengelak bahwa dia keunikan-keunikan hubungan dan komunikasi kami justru terasa sangat menyenangkan. Berdebat, saling menyentil perasaan......(bersambung)

   1 comments

Muntaha
April 11, 2008   12:35 PM PDT
 
Wek, He 333 X

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments