|
(lanjutan KTDB II) (Engkau Bintangku, Engkau Kayu Putihku, Engkau Si Hitamku). (Pada episode kemarin terpotong sebuah surat kepada Neni, itu hanya sekilas iklan bahwa pada akhirnya Neni telah menikah. Kemarin...perkenalanku dengan Dayu mesra banget, dan kemudian suatu hari aku masuk angin. Dayu memberikanku ramuan kayu putih...buatannya sendiri.) “Ya tidak hal. Nanti bisa nakutin akhwat. Sana..sambil berbaring di ruang putra.”dia berkata sambil sedikit ada nada memerintah halus. Sampai di ruang putra au segera berbaring dan melakukan apa yang dia sarankan. Kaos kubuka. Minyak dengan bau rada tidak karu-karuan kuoleskan ke tubuh. “Lho? Lho? Mas Feri mau ngapain!”tanya Huda yang tiba-tiba saja masuk ruangan putra. “Mbakyumu itu. Suruh saya ngobati masuk angin sama minyak kayu putih ini.” “Lho..kok baunya minyak tanah?”tanyanya sambil ketawa. “Ini apa?”tanyanya lagi. “Sari kayu putih sama mimyak tanah.” “Siapa yang bikin?” “Ya..mbakyumu itu. “Entahlah..yang penting mari”, jawabku sekenanya. Huda berlalu keluar sambil tertawa. DI luar tampak kudengarkan dia berbincang-bincang dengan Dayu. Tak lama kemudian dia masuk lagi ke ruangan putra. “Mas Fer. Kata Mbak Dayu kalau mau lebih cepat, nah minyaknya tadi diminum sedikit. Pasti ces pleng,”katanya. “Ah..gak percaya. Itu akal-akalanmu saja, mau ngapusi aku.” “Lho. Tenan iku.” “Masak minyak seperti ini diminum?” “Yaaa… terserah,”jawabnya sambil ngeloyor pergi. Aku seolah tidak menanggapi kata-kata Huda. Tetapi lama-lama kok termakan juga. Seolah-olah ada bayangan Dayu yang sedang berbicara kepadaku ketika dia tadi berkata-kata. AH…apa salahnya. Dengan sedikit menutup mata kuminum seteguk minyak yang bau dan aromanya minta ampun. Ah, mengapa aku seperti kerbau dicocok hidung ketika membayangkan Dayu. Biarlah. “Lho? Mas? Diminum juga. Ha…ha…ha…orang saya tadi bercanda. Mbak! Mbak Dayu! Mas Feri minum minyak kayu putih campur minyak tanah. Ha..ha.ha.” Huda muncul dan pergi keluar begitu saja meninggalkan aku yang dongong. Aseeeeeemmmm. Sesudah itu, interaksi aku dan Dayu makin sering. Sampai saat itu aku tidak terlalu gegabah untuk menebak bahwa dia mencintai aku. Bagaimanapun, mungkin saja saya dihinggapi rasa ge-er. Trauma terhadap rasa ge-er di benak ini sangat tinggi. Bagiku, ge-er itu sesat dan menyesatkan. Perasaan itu bisa jadi adalah indera yang paling sesat. Resiko ge-er bukan saja malu, tetapi juga membuat sejarah hidup menjadi memalukan. Tolol. Bodoh dan ingin menghilang dari kenyataan yang memalukan. Jadi, lebih mudah menipu perasaan daripada harus menanggung malu karena ge-er. Suatu hari, Nur, Tia dan Ani, adik-adik yang meng-kakak-kan aku di JS mengajak aku berbincang-bincang di ruang atas masjid. “Mas Feri. Tahu ngga’ tadi malam aku ngobrol sama siapa. Enggak Aku ngobrol sama mBak Dayu. Tentang? Tengan Mas Feri. Tentang Aku? Iya. Masa? Sungguh. Dia kan nginap di kos ku.Kami mgobrol sampai jam tiga malam. Intinya, dia itu suka sama mas Feri. Deg..deg… Ah? Masa? Begini, Mas. Waktu itu aku sedang bercerita tentang semua teman-teman kita di JS. Tetapi, saat kami membicarakan mas Feri. Eeeh..dia memintaku untuk lebih banyak bercerita tentang Mas, Gimana sifat-sifat Mas, gimana pengalamannya. Gimana kalo Mas lagi ngomong, lagi …ya..pokoknya gitu-gitu lah. Wah, wajahnya itu Mas. Wajahnya berbinar-binar dan bersemangat. Aku sempat kaget lho mas melihat perubahan raut wajahnya. Kok bisa, gitu bayanganku. Lalu dia nambahi banyak tentang pengalamannya bersama mas Feri. Terus… Terus apa? Terus dia malah bertanya apakah dia bisa cocok sama Mas Feri. Dia bayangkan bagaimana besok kalo hidup bersama mas Feri. Katanya, dia akan banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman yang menarik. Ehm Iya. Wah, pokoknya seru baaangeeet. Kami ngomongin mas sampai tengah malam. Tahu ngga, ketika saya tanya bagaimana jika saya beritahukan percakapan kami sama Mas Fer, dia gak keberatan. Naaahhh…sekarang gimana Mas Fer? Gimana apanya? Mas Feri bisa tidak menerima dia? Menerima apanya. Aduh..mas feri ini pura-pura gak tahu deh. Mas Feri menyukainya apa tidak? Ehm. …. Ah, saya tahu mas Feri menyukainya. Saya yakin itu. Nah, sekarang saya ucapkan selamat buat Mas Feri. Semoga cintanya tetep anget. Dah ya mas. Selamat Tinggal Assalamu’alaikum Wa’alaikum salam..hei mau ke mana. Aku masih pengen mgomong-ngomong nih. Hei..!! Nur, Tia dan Ani meninggalkan saya sendirian di dalam masjid. Kepalaku masih diliputi tanda tanya. Tetapi perasaanku tidak bisa berbohong, aku bahagia sekali. Bahagiaaaa sekali. Harapan-harapan yang dulu pupus seolah dinyalakan kembali. Seminggu berlalu. Seminggu lalu telah kuberikan padanya sepucuk surat tentang apa yang dikatakan Nur, Tia dan Ani Seminggu yang telah menelan tanda-tanya.. Seminggu lalu suratku berisikan semua harapanku yang tidak berbeda dengan harapan-harapannya. Ada perasaanku, ada isi hatiku, ada impian tentang masa depan. Akan tetapi mengapa sekarang menjadi dilema? Kenapa dia justru tidak muncul-muncul di JS? Mengapa justru terasa perpisahan yang berat? Adakah aku akan gagal lagi. “Mas Feri,”kata Huda pagi itu. “Ini ada surat dari Mbak Dayu. Jreg..jreng..jreng….!!! “Sudah sana pergi saja. “Oke Bos “Makasih lo ya. “Siiip. Mas Feri di Tempat manusia boleh berharap, tetapi Allah jua yang menentukan. Saya takut mendahului takdir. Saya memang punya harapan, tetapi saya sadar bahwa itu bisa menjadi masalah ketika kita memang belum saatnya dipertemukan. Semua memang salah saya. Saya minta maaf jika mas jadi seperti ini. Saya mohon luruskan kembali niat kita. Jangan ada lagi noda-noda yang membuat kita kehilangan arah. Semoga Allah menunjukkan jalan yang lurus. Dan semoga kita bertemu di pintu sorga, kelak. Wassalam Ini…?..Ini maksudnya apa? Saya tidak mendapatkan jawaban terhadap suratku terdahulu. Bukankah aku memang ingin melamarnya? Bukankahrasa hati ini lepas dari semua yang dia katakan kepada Tia, Ani dan teman-teman lainnya? Bukankah semua adalah mauku? Mengapa harus ada maaf? Lalu apakah dia menerima atukah menolak? Sungguh aku tidak tahu makna surat ini.Tapi biarlah……. Mungkin ini bukan sebuah surat untukmu, tetapi seandainya kamu tahu Dayu. Aku akan menunggu jawaban darimu. Aku akan menyelesaikan skripsi secepatnya. Secepat-cepatnya dan melamarmu kemudian. Kamu tahu bahwa cinta bisa memberikan kekuatan. Cinta bisa membuat kesetiaan tumbuh. Cinta mampu menguatkan rasa-rasa yang mulanya hanya kecil, lalu bersemu, kuat dan kemudian mengakar. Sekarang Dayu, semua itu telah berakar kuat dan semakin kuat. Aku tidak lagi begitu perduli apakah nanti akan kau terima atau kau hempas, yang jelas, dalamnya cinta adalah keyakinan. Aku tidak sekedar berjanji kepadamu, tetapi Allahlah saksinya bahwa aku akan setia di sini menunggumu, menunggumu sampai kau kembali. Siapa bilang penantian itu membosankan? Penantian itu menyenangkan. Lima bulan berlalu. Aku masih setia membangun impian. Aku masih belum lupa dengan impian-impian itu. Skripsiku telah kelar. Semuanya telah usai. Betapa semua ilmu telah kuserap dengan sempurnya. Bayangkan: dua bulan menguasai statistik, SPSS dan teori penelitian kuantitatif sembari menngumpulkan data penelitian. Sungguh bukan hal yang mudah untuk membagi waktu, konsentrasi dan juga biaya. Semua bahan-bahan tentang penguasaan statistik dan SPSS dapat dengan mudak ditemui di internet. Sungguh dunia maya membuat segalanya menjadi mudah. Malam hariku adalah malam-malam di warnet untuk menggali data guna menggenapi teori dan penguasaan statistik. Siang hari adalah saat-saat berjanji bertemu dosen pembimbing dan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ada. Sungguh bukan hal yang ringan untuk mendapatkan energi itu. Tetapi energi mana lagi yang mampu membuat manusia bergerak hebat, kecuali energi cinta. Hari itu dua hari menjelang ujian skripsi. Semuanya telah selesai aku kerjakan. Pagi itu, Huda datang membawa berita. “Assalamualaikum, Mas Fer,”sapanya. “Waalaikum salam. Minta doa ya Hud, skripsiku ini biar dapat A.” “Pasti kudoakan mas Hei, wajahmu kok seperti itu. Ada apa nih. Gak pa pa kok mas. Anu, saya ada berita Berita apa Berita sedih. Ini tentang mas Feri. Aku? Aku tidak apa-apa kok. Apanya yang sedih. Mas Feri cukup kuat kan kalau saya beritakan hal ini. Ya. Saya kira begitu. Apa sih Ini tentang Mbak Dayu. Mbakmu itu? Ada apa Besok dia menikah? Apa…. ……. Ya. Ohh….. Ya….bagus lah. Mestinya kita bahagia dong. Kok malah sedih. Ha..ha..ha. Mana undangannya. Dia tidak memberikan undangan untuk kita. Katanya kehabisan. Oh…ya… sudah. Sayang ya. Di hadapan Huda aku masih bisa tersenyum. Masih sangat bisa untuk menguatkan kepala ini agar tidak tertunduk. Masih bisa kualihkan pembicaraan kepada lelucon-lelucon yang membuat dia tertawa dan tidak bersedih. Masih bisa kualihkan percakapan tentang hal-hal serius tentang organisasi dan skripsiku. Tetapi hatiku tidak bisa berbohong. Aku hancur. Hancur….. Ketika awal mula mengenal cinta dan kemudian kehilangan, sungguh kurasakan betapa susahnya menyusun kepingan-kepingan hati untuk bisa membangun ruang kosong demi cinta yang lain. Sungguh sekian banyak waktu harus dikorbankan demi menekan ego dan kekerdilan jiwa untuk tidak terkungkung dalam jeruji kekecewaan. Tetapi, begitu aku mencicipi sedikit saja manisnya cinta dalam ruang hati yang pernah hancur, mengapa demikian mudah roboh hanya dengan sekali tepuk. Mengapa tak seindah kisah dalam komik dan novel-novel. Ada tanya dalam hati ini, kepada Allah, betapa berlikunya hidupku. Tetapi,mungkinkah ini awal dari semua yang indah-indah? Aku tak pernah tahu. Aku harus melanjutkan hidup. Sore itu, aku terduduk di tangga tempat kita pernah berbincang, Dayu. Bintang di atas itu, tidak lagi bersinar. Bintang di atas itu telah gelap bersama hilangnya angin yang menarikan pohon-pohon kayu putih. Sinar surya tak lagi menyeruak ke dalam lorong-lorong tangga. Burung-burung tidak lagi melagukan nyanyian rindu. Daun-daun di luar berjatuhan dan terhempas di atas tanah kering, sekering hatiku. Kini, aku harus membangun kembali hati yang remuk ini. Apa yang ada dalam benak Dayu ketika meninggalkanku? Sudah lupakah dia terhadap impian-impiannya? Mas Fer. Mbak dayu kecewa mas. Kecewa Ya. Mbak Dayu malu karena telah banyak orang yang tahu tentang cintanya. Maksudmu Mas. Maaf kalau saya katakan bahwa mas terlalu menyebarkan kegembiraan mas ini kepada siapa saja. Dayu mendapat teguran dari murobi, terkucil dari komunitas dan kemudian langkah kontemplasinya adalah segera menikah. Segera menikah dengan orang yang dirasanya memiliki kekuatan agama yang lebih. Lebih baik dibandingkan dengan Mas Fer. Oh……. Ya. Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu besar mulut. Aku terlalu gembira sehingga terlalu banyak yang tahu. Lupa bahwa Dayu adalah anak tarbiyah yang demikian hati-hati menjaga hati. Lupa bahwa cinta harus tumbuh di atas garis yang benar, garis yang telah ditentukan oleh syariat. Selamat jalan Dayu. Semoga kita benar-benar bertemu di pintu sorga. Aku di sini akan selalu memperbaiki diri. Doakan aku..
“Aku harus konsultasi dengan dosen. Kamu mau kan nunggu sebentar”, kata Setyoko. “Baiklah. Lagian kita kan nggak terlalu sibuk,”jawabku. “Yo wis.” Belum sempat Yoko masuk ruang rapat…. “Asalamualaikum,” “Waalaikum salam Fer, kenalkan, ini Endah. Teman satu bimbingan Feri Endah. Satu angkatan ya dengan Yoko Iya. Mas anak pondok juga? Enggak. Cuma nyambi kerja di Laboratorium Dakwah. Oh…senang berkenalan dengan mas. Sama-sama. Sebentar ya mas. Saya mau bicara dengan Yoko urusan skripsi. Enam bulan berlalu sejak Dayu meninggalkanku. Ternyata tidak selama yang kubayangkan untuk menghapus luka lama. Sehabis menamatkan studi di perguruan tinggi, kulanjutkan hidup di LSM Labda Shalahuddin, LSM yang berkantor satu kompleks dengan Pondok Pesantren Budi Mulia. Adalah Setyoko, teman kerja satu LSM yang kebetulan masih kuliah di Teknologi Pertanian angkatan 97. Setyoko adalah orang yang memperkenalkan aku kepada Endang Subekti, mahasiswi Teknologi Pertanian angkatan 97, yang kemudian menjadi salah satu perempuan yang memasuki episode cintaku yang ke empat. Pertemuanku dengan Endah yang terjadi secara tidak sengaja, ternyata menjadi awal dari kisah cinta yang baru.....(tentang ini akan dikupas padan KTDC edisi Menikah) |
| Leave a Comment: |