Entry: KIsah CInta V Saturday, February 26, 2005



KAU TOLAK CINTAKU DENGAN BASMALLAH V

Jama’ah Shalahuddin menjelang Ramadhan

 

 

 
BAB II

PIR 21

Saat Cinta Disemaikan

 

17 Oktober 2003

 

“Aku merencanakan untuk mendapatkan tujuan sampingan pada PIR21 kali ini, Jujur saja, apakah ada yang keberatan dengan itu?”tanyaku dengan nada agak berseloroh.

“Gaaaaakk” jawab teman-teman pemandu hampir serempak sambil tertawa. Mereka maklum dan tahu persis betapa aku, dengan usiaku yang 27 tahun, sudah layak untuk dapat pendamping. Mengingat momentum PIR demikian penting bagiku untuk menjadi sarana berinteraksi dengan mereka-mereka yang diluar. Sebenarnya, agak pesimis juga untuk mencari pendamping via PIR. Kenapa? Karena menurutku pesertanya adalah mahasiswa yang notabene lagi anget-angetnya kuliah. Jadi, paling-paling nyantolsama pemandu-pemandu yang ada di luar Budi Mulia (BM).

“Oke, kalo gitu ya ayo dilanjutin koordinasi selanjutnya,”tawar Andri, bos pemanduan yang berbadan rada tambun.

 

23 Oktober 2003

***

Ruang Kelas BM, malam hari pas pelatihan calon-calon pemandu. Semuanya baru kelihatan, baik ikhwan dan akhwat. Paling tidak saya tahu siapa-siapa yang menjadi pemandu, baik dari dalam dan dari luar.

“Ehm, sekarang permainan melempar bola untuk media saling kenalan ya,” kata pak Ismara. “Nah, dimulai kamu. Saya lempar bola kemudian sebutkan nama dan umur.”

Bola dilempar  ke teman sebelahku. Lalu ke aku.

“Feriawan, 27 tahun”

“Haaaa…ha….ha…”

Yah, nasib. Apa salahnya usiaku? Ya nggak salah. Tapi di kelas ini aku paling tua. Jadi lucu memang.

“Permainan ini bisa dikembangkan lagi, misalkan ditambahi sudah punya jodoh pa belum…”

“Belum,”selorohku polos. Baru tahu kalo aku tidak tahu malu.

 

20 November 2003

 

Kamal, salah satu peserta PIR menghampiriku.

“Eh, geneyo antum durung nikah-nikah. Ngenteni apa sih?(Eh, kenapa kamu belum nikah-nikah. Nunggu apa sih?)

“Wah, ditolak terus je?”(Wah, Ditolak melulu )

“Mosok ganteng-ganteng koyok sampeyan ditolak”

“Lha poso-poso ngopo goroh?”(Lha puasa-puasa kenapa harus bohong)

“Ping piro?”(Berapa kali)

“lima”

“Haaa..  ha..ha..”(Ketawa)

“Cak, sebenarnya saya ini memang lagi cari pendamping. Tapi, sekarang ini saya kan gak tahu siapa-siapa yang siap untuk  dinikahi.”

Kamal mengrenyitkan dahi.

“Ada sepasang suami istri yang lagi I’tikaf juga di sini. Saya pikir mereka akan bisa membantu, menghubungkan lah. Kamu nulis dan doa aja. Nanti biar yang lainnya saya atur. Insya Allah mereka akan carikan yang terbaik untuk kamu.”kata Kamal.

“Bener? Wah Jazakallah”

 

22 November 2003

 

“ Surat sudah saya sampaikan”kata Kamal. Makin banyak doanya saja.

“Siapa sih dia?”

“Aku ga tahu. Kamu nanti  akan dihubungi sama Suami Istri yang sekarang dah pulang itu.”

Kriiiiing, sore hari telpon LABDA berbunyi.

“Ass ww, Halo, yaaaa..saya sendiri.”

“Oh..begitu”

“Siapa? Melati?(Disamarkan)…. Yaa..ya… nomornya 081XXXXXXXXX baiklah…ya…ya…IA saya akan kontak dia secepatnya. Heeh..wah makasih atas bantuan mbak ya. Ya…ya… Jazakillah. Wassalam wr.wb.

 

24 November 2003

 

<SMSMelati> Akhi, apa akhi yang menuliskan biodata. Saat ini saya bawa biodata akhi. Saya kira akhi perlu tahu yang mana saya. Saya yang tadi malam pake kacamata, baju bunga-bunga, rok hijau.

<SMS balas>ya, benar. Cuma saya tidak ingat yang mana Ukhti. Apa bisa pagi ini saya mengetahuinya?

<SMSMelati>Pagi ini saya akan pakai jilbab putih baju biru rok hitam.

<SMSbalas>Baiklah, saya akan perhatikan dari beranda masjid.

Jam 6 Pagi di beranda masjid. GIIIIILLAAA, kok hari ini yang pake rok hitam, kerudung putih dan baju biru ada 4 orang. Yang mana ini, wah bisa gila aku.

<SMSbalas>Maaf, pagi ini saya melihat orang dengan ciri yang sama ada empat orang. Saya jadi pusing.

<SMSMelati>Saya yang dijemput bapak ibu pake mobil merek kijing.

<SMSbalas>alhamdulillah, ternyata itu ukhti. Seperti yang saya duga.

 

24 November 2003

Siang Dalam bis kota jurusan Jogja-Semarang

“Rini, suatu saat nanti akan ada akhwat yang menanyakan tentang siapa saya. Jawab saja sejujur-jujurnya”

“Wah, siapa mas. Pemandu ya?”

“Maunya?”

“Siapa?”

“Ah, nanti kamu juga tau.”

“Penasaran aku mas.”

………

 

27 November 2003

<SMS asing> Aww. Halo..ini mas Feri ya. Lagi ngapain nih?

<SMSbalas> www. Benar, ini siapa?  Ukhti atau Akhi.

<SMSasing> Ukhti, mas ferry yang rajin cuci piring itu khan?

<SMSbalas> Lho kok tahu. Memangnya Ukhti siapa.

<SMSasing> Jelas. Mas juga yang pernah ditolak 5 orang khan?

<SMSbalas> Lho? Kok tahu juga. Ukhti ini siapa sih.

<SMSasing> Tebak aja. Kapan saya bisa main ke LABDA.

<SMSbalas> Kapan saja. Nanti saya ajak Ukhti jalan-jalan ke dekat sungai, indah lho pemandangannya.

<SMSasing> Gak ah..nanti kecebur

 

28 November 2003

<SMSasing> Oke dah. Nama saya Carrie, peserta PIR.

<SMSbalas> Yang mana Ya?

<SMSasing> Yang kemarin nawarin Kaos Amien Rais itu.

<SMSbalas>   Gak ingat ah…

 

14 Desember 2003

 

Taaruf pertama dengan Ukhti Melati. Ilham dan Mas Gofur ngobrol agak jauh. Saya, Ukhti dan Bu Ghofur membentuk forum sendiri. Tidak banyak yang diialogkan kecuali saya mesti membalas pertanyaan-pertannyaan Ukhti berkaitan dengan  akhlak, aqidah, keanggotaan liqo saya dll.

Malam hari, muncul pula sms dari Ukhti:

<SMSMelati> Akhi orangnya sok, sombong dan menyebalkan. Saya benci akhi

<SMSbalas > Untuk itulah saya butuh ukhti sebagai pendamping.

<SMSMelati> Saya bisa gila punya suami seperti akhi. Saya tidak mau. Saya tidak suka Akhi yang modelnya baca-baca pemikiran seperti pak Munir, cak Nur dll

<SMSBalas> Saya tidak keberatan ditolak. Saya terima. Tapi tolong jangan benci saya. Apakah sesama muslim dibenarkan saling membenci?

<SMSMelati> Maaf, saya khilaf

<SMSBalas> Tak apa, saya bisa mengerti. Ingat kata Aa Gym. Akhlak adalah apa yang keluar dari mulut kita secara spontan. Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk kita.

 

15 Desember 2003

<SMSMelati> Saya sudah menghubungi beliau, orang yang sanggup menjadi murobbi akhi.

<SMSbalas> Terimakasih, sekarang tidak ada lagi hutang ukhti kepada saya. Maka ukhti bisa melupakan saya agar tidak membebani pikiran Ukhti.

<SMSMelati> akhi, maafkan saya. Apakah akhi bersedia memaafkan saya?

<SMSbalas> Sudah saya maafkan. Sekarang jangan pernah hubungi saya lagi.

<SMSMelati> AKHIIII SAYA SUNGGUH MINTA MAAF. APAKAH AKHI MEMAAFKAN SAYA

<SMSBalas>SUDAH SAYA BILANG JANGAN HUBUNGI SAYA LAGI. UKHTI AKAN SESAT KAN, JIKA MASIH BERHUBUNGAN DENGAN SAYA?

 

16 Desember 2003

….waduh….kemarin saya ngomong apa. Waduh, gimana nih? Namanya sudah saya hapus di phonebok saya. Gimana cara saya minta maaf? Mana buku kenangannya gak ada lagi, udah habis dibagiin sama peserta. Ya Allah. Nasib dah !

17 Desember 2003

Suatu pagi, ba’da sholat dhuha.

<SMSMelati>Akhi, apakah akhi bermaksud mengakhiri taaruf kita.

Deg….jantungku deg-degan. Alhamdulillah, masih ada harapan untuk minta maaf

<SMSbalas>Tentu saja saya masih ingin. Maafkan saya ya Ukhti, kemarin saya telah berkata kasar kepada Ukhti.

<SMSMelati>Tidak apa-apa. Sekarang saya jadi tahu bagaimana meledaknya Akhi. Jujur saja, saya memang ada shock menerima surat Akhi. Saya tidak menduga mendapat peristiwa secepat ini.

 

Dan..selama seminggu pun kita saling berSMS ria untuk bisa tahu pribadi masing-masing.

 

 


BAB III

30 Hari Mengejar Ta’aruf

 

 

Melompat Lebih Tinggi

by Sheila On 7

 

Kita berlari dan teruskan bernyanyi

Kita buka lebar pelukan mentari

Bila ku terjatuh nanti

Kau siap mengangkat aku lebih tinggi

 

Seperti pedih yang telah kita bagi

Layaknya luka yang telah terobati

Bila kita jatuh nanti

Kita siap untuk melompat lebih tinggi

 

Bersama kita bagai hutan dan hujan

Aku ada karena kau telah tercipta

 

Kupetik bintang, untuk kau simpan

Cahayanya tenang, berikan kau perlindungan

Sebagai pengingat teman

Juga sebagai jawaban

Semua tantangan

 

Sebelum waktu memisahkan detikku, detikmu

Sebelum dewasa, menua, memisahkan kita

Degupan jantung kita akan selalu seirama

Bila kau rindu aku

 

--

 

 

Sebuah Email dariku melayang ke alamat Ukhti…..melati122108@surga.com 

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Sholawat ba’da tahmid wa tahlil.

Ukhti yang dirahmati Allah SWT, lengkap seminggu lebih kita dipertemukan Allah dalam lingkar ta’aruf dengan niatan untuk menikah, membangun mahligai rumah tangga yang insya Allah SAMARA (Sakinah Mawwadah Warahmah). Maka, adakah yang………………………………………………………………………………………………………..^-^ (kok kayak naskah pidato gini???) jadi kebablasan. Hi..hi..

Ukhti, sampai detik ini saya masih tidak merubah sikap saya kepada Ukhti, sejak pertama berkenalan dulu. Tetapi, saya belum tahu gimana sih ceritanya ukhti yang katanya sampai sakit perut dan …..ahh…terlalu mikir kali ye???Tapi memang tiap orang berhak memaknai segala sesuatu yang itu dirasa penting bagi dirinya. Might be, bagi Ukhti taaruf tersebut begitu penting. Dan saya yakin bahwa ini adalah yang PERDANA bagi ukhti sementara saya sudah ISI ULANG.

Mari kita reviu sejenak seminggu ini: masih ingat bagaimana saya menjadi ‘terdakwa’ yang diinterogasi oleh pertanyaan-pertanyaan Ukhti. Wis jan, ini bedaaaaa banget dengan taaruf-taaruf saya sebelumnya dimana saya menjadi pengendali forum dan bisa memainkan suasana sehingga santai, menyenangkan dan ada tawa sana-sini. Ini kok lain: bayangkan saja, Ukhti bawa segepok pertanyaan yang isinya ‘menelanjangi’ keislaman saya. Mana pertanyaannya berat-berat lagi.

Sudah saya tekatkan dari pondok bahwa saya akan berkata jujur, apa adanya, apapun yang terjadi, apapun hasilnya. Bagi saya kejujuran adalah yang terbaik untuk memulai segalanya, bagaimanapun dalam taaruf yang dilibatkan bukan hanya logika, perasaan tetapi juga hati dan yang terpenting adalah persaksian Allah atas niat yang dimulai sebelumnya.

Sekilas nampak memang wajah ukhti begitu tenang walaupun ada sesuatu yang tertahan. Sesuatu yang nampaknya berasal dari ‘kurang persiapannya’ukhti. Dan…..pertanyaan demi pertanyaan sudah saya jawab dan saya sangat yakin hasilnya akan negatif.

Benar saja…..dan lebih parah lagi karena di sms yang tertera di monitor hp saya berhiaskan NYANYIAN yang MERDU. Ha..ha….Jujur saja kalo saya sakit banget karena kejujuran dan ungkapan perasaan Ukhti. Dalam hati saya mbatin: ini orang sudah diberi kejujuran kok malah marahin saya. Tetapi bukankah segala yang diniatkan untuk Allah mesti diterima apa adanya, sepahit apapun? Saya ingat nasihat Aa Gym: kalau minder bisa nylesein masalah..ya minder aja ! Kalo marah bisa ngeberesin masalah..ya marah aja…Hai dengar !!!Mendingan menyelesaikan masalah tanpa marah, minder, dll. Senyum…tegar…!!!

Ya..udah senyum aja. Sok kuat…gitu …ha..ha dan singkat cerita sampai puncak kemarahan saya itu.

Eh..kalo boleh jujur saat itu nama Ukhti telah terhapus di phonebox HP saya. Semuanya telah berakhir. Semua sudah tamat sampai di sini. Eh..selang beberapa detik saya nyesel banget..kenapa? Karena saya udah salah: menutup persoalan dengan amarah. Saya dosa.

Jadi dalam hati saya b’doa semoga masih diberi kesempatan untuk minta maaf. Saya harus mencari di buku kenangan PIR nomor Ukhti yang ndilalahnya gak ada satu pun yang tersisa di pondok selain di dokumen PIR komputer yang saat itu terpassword.

Tepat di kebingungan saya selama sehari muncul hp saya nada sms masuk. Dan ternyata nomor Ukhtilah yang masuk. Kita pun ‘rujuk’lagi.

Momentum yang seperti apa yang membangun komunikasi, sehingga jika kita mesti berpisah maka tidak ada dendam dan sakit hati? Begitu yang terngiang-ngiang di dalam pikiran saya. Ah… momentum tarbiyah ini adalah jalan yang baik untuk membuka katub-katub yang selama ini ada di antara kita. Yang jelas, saya masih ‘asing’ untuk memasuki dunia ukhti. Layaknya virus yang mendapat serangan bertubi-tubi dari antibodi tubuh. Tetapi, pendekatan yang paling baik adalah hati. Maka gunakan bahasa hati.

So…mulailah serangan-serangan nakal saya via sms yang kesemuanya berisi keisengan-keisengan ringan. Targetnya satu: Ukhti tersenyum aja kepada saya dan tidak menganggap saya mahluk aneh yang sok serius dan nyeleneh: kaya pak munir atau kayak nurcholis.

Alhamdulillah : entah apa yang terjadi, saya berdoa saja semoga Allah membukakan pintu hati Ukhti agar bisa menerima saya seperti apa adanya. Niat saya Cuma itu, saya gak ada target  diterima sebagai calon suami. Bagi saya, diterima sebagai sahabat saja dah cukup. Masak minta lebih…..

Dari jawaban-jawaban Ukhti saya bisa tahu bahwa Ukhti ternyata tidak seSANGAR topeng yang dulu dipasangnya. Jalinan komunikasi bisa terbangun baik sehingga kalaupun harus berpisah maka bisa dilakukan dengan cara baik-baik.

Hari kelima dan keenam, jauh dari target yang saya duga, ternyata kita malah bisa bicara idealisme, sifat-sifat dan sampai perihal bayangan tentang pernikahan besok. Bahkan, saya merasakan bahwa kita sudah bisa mulai merasa sehati: ingat ketika saya medapat kecelakaan: nada sms ukhti menunjukkan batapa perhatian ukhti pada saya. Lebih jauh lagi malam-malam ada telepon masuk ke BM (saya yakin itu telepon Ukhti). Misscall dan lain sebagainya. Saya tersanjung (kayak sinetron aja).

Meskipun….pada akhirnya saya belum mendapatkan ketegasan dari Ukhti: sanggupkah Ukhti menerima pria seperti ini? Ketika pagi-pagi dengan tertatih-tatih (karena jari kaki kiri saya remuk) saya setengah berlari dari kamar saya ke kantor LABDA dan mengusir beberapa teman yang ada di sana ketika nonton film kartun. Saya membujuk mereka dengan alasan ini adalah persoalan masa depan. Maka walaupun menggerutu mereka masih bisa senyum kepada saya. Ah..mereka adalah teman yang baik.

Sampai dengan hari ini. Adalah hari dimana saya harus menjaga hati saya: bahwa semua ini masih pada dataran taaruf dan saya masih belum punya ikatan apapun dengan Ukhti kecuali ikatan taaruf itu sendiri. Semua khayalan yang melitas di kepada saya coba tepiskan walaupun setiap saat saya bermimpi-mimpi indah: Masya Allah, seolah saya tidak mau kehilangan Ukhti. Tetapi saya sadar bahwa inilah ujian dari Allah yang paling berat: saya harus rela kehilangan jika sewaktu-waktu Ukhti memang tidak mengikhlaskan saya sebagai calon suami Ukhti. Ukhti, ini lauh lebih berat daripada taaruf-taaruf sebelumnya yang hanya berjalan tiga hari sampai dengan empat hari dan tidak ada kecocokan apapun dari saya kepada mereka yang taaruf. (kalau yang ditolak, itu karena memang saya ngomong  langsung kepada Ukhti, tanpa proses taaruf).

Ukhti, setiap orang memang boleh memiliki harapan, dan harapan saya adalah menjadi suami bagi Ukhti. Sementara bagi ukhti, mungkin saya bukan pria yang sempurna seperti yang terbayang dalam mimpi-mimpi Ukhti. Mungkinkah dua hal itu menyatu?

Ketika Ukhti bercerita tentang Ikhwan UPD, bagi saya ini adalah bahan menarik buat saya untuk bercermin. Sayangnya, saya berusaha menggali apapun yang berkaitan dengan ikhwan2 UPD. Saya tanyai teman-teman JS, saya gali informasi dari internet. Tetapi memang saya tidak berhasil mendapatkan…ah..ya sudah…jadi diri sendiri aja.

Andai ukhti bersedia, saya ingin memperoleh informasi tentang teman2 UPD itu. Semoga saja saya bisa seperti mereka, sebaik mereka. Sekalipun itu hanya untuk diri sendiri. Dan mungkin …esok hari ukhti sudah bersama yang lain.

Ah….mungkin itu saja evaluasi seminggu bersama Ukhti. Ukhti boleh menanggapi, boleh membalas, untuk dilupakan ataupun untuk dikenang. Yang jelas saya senang bisa mengenal orang seperti Ukhti.

Barakallahu mina wa minkum

Wassalamualaikum wr.wb.

 

 

 

 

Feriawan

 


Memilihku atau Tidak Sama Sekali

 

Kriiiing…..

Telpon di Kantor Labda Berdering.

“Hallo, Assalamu’alaikum.”

“Waalaikum salam.”suara perempuan yang ada di seberang sana.

“Bisa Bicara dengan Feriawan?”

“Ya. Saya Sendiri!”

“Ooh. Ini saya, Melati,”katanya dengan sedikit ketawa.

“Melati siapa?”, kataku pura-pura tidak tahu.

“Melati…Melati Khairun Nisa, masa gak kenal sama suara saya?”katanya masih agak tertawa.

“Ya..ya..sudah tahu kok..ha..ha..ha, saya Cuma bercanda”

“Akhi ini lho. Selalu saja njahilin saya.”

“Habis Ukhti bawaannya serius melulu. Memangnya urat-urat di kepala gak pernah dikendorin tuh.”

“Enggak.”

“Wah…”

“Kenapa?”

“…….”aku mendiamkannya selama beberapa detik

“Kenapa?”katanya tidak sabar.

“Sssst….jangan diganggu dulu…!!!!”kataku setengah menghardik.

“Kenapa Akhi?”

“Saya sedang berkonsentrasi untuk serius !!!!”kataku dengan nada seperti robot.

“ Akhiiiiiiii………iiii”

“Haaa.haaa…ha..ha…!”

“Akhi, sebenarnya ada hal yang harus saya utarakan. Akhi tahu, segalanya sangat mendadak bagi saya. Saya sangat takut memutuskan sesuatu tanpa hadirnya murobi saya. Dulu, di UPD, segala hal bisa saya konsultasikan dengan murobi. Apalagi yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang menyangkut hal-hal penting dalam hidup saya. Saya udah transfer Murobi ke Jogja. Tapi untuk konsultasi ini itu sangat tidak mungkin bagi saya, dalam waktu sesingkat ini, bisa mendialogkan tentang akhi.”

“Hmm, lalu?”

“Ya…saya minta Akhi bersabar, ya. Kalau memang jodoh, toh nantinya akan bertemu juga.”

“Jangan khawatir Ukhti. Sampai saat ini saya bisa ngerti kok, gimana sulitnya Ukhti buat ngambil keputusan. Ukhti tu orangnya gampang gugup ya?”

“Iya. Saya ni orangnya homesick banget. Dulu awal-awal masuk UPD, saya paling sering pulang ke rumah Ortu. Seminggu sekali, bayangkan. Padahal jarak UPD dengan Jogja kan 300-an km. Saya sangat tergantung banget dengan rumah. Dengan Bapak sama Ibu. Teman-teman saya pun di sini dikit. Paling-paling teman seangkatan dan satu kuliah bareng.”

“Ukhti juga gak punya teman laki-laki.”

“He-eh.”

“Terus, komunitas bergaul Ukhti ?”

“Ya..itu, hanya di Liqo-an. Jujur aja Akhi, di rumah, saya banyak banget dapat pelajaran agama dari Ortu. Mereka kan aktivis Muhammadiyah. Sehingga nilai-nilai agama, ibadah dan lain-lain udah ditanamkan semenjak kecil. Tapi, baru dari komunitas tarbiyah ini saya mendapatkan sesuatu yang saya rasakan selama ini hilang. Bagaimana kita dijaga dari hal-hal yang tidak baik. Dapat ketenangan dan pencerahan. Kemudian…pokoknya banyak lah. Yang jelas kedekatan saya dengan Allah dapat terjaga.”

“Hmmm…saya ngerti.”

“Akhi, gimana tarbiyahnya?”

“Lancar, saya disuruh hapalan 10 ayat surah Ali Imron. Tapi Masya Allah…susah banget masuknya.”

“Latihan terus Akhi.”

“Ukhti, memangnya belum pernah taaruf sebelumnya ya.”

“He eh.”

“Keliatan,” kataku sambil tertawa kecil.”

“He..kenapa. Akhi, ada yang salah ya.”

“Ngga…ngga…tenang aja.”

“Akhi sendiri sudah berapa kali?”

“Emmm….lima kali, dan gagal semua?”

“Kenapa?”

“Pannnnjjanggg…nanti kalau kita bisa ketemu langsung.”

“Oohh”

“Emang kapan saya bisa ketemu sama Ukhti?”

“Belum saatnya.”

“Kapan?”

“Yaa..nanti kalau Murobbi Akhi dan Murobbi saya bisa dialog. Nanti biar dimusyawarahkan segala sesuatunya. Yang jelas Akhi baik-baik saja tarbiyahnya. Biar lancar.”

“Yahh…”

“Kenapa?Bukannya Akhi udah tau gimana fisik saya?”

“Ya..taunya kan pas kita ketemu dulu. Boleh gak saya minta fotonya?”

“Untuk apa?”

“Untuk ditunjukkan Bapak Ibu saya”

“Oohh…”

“Boleh gaaa,”kataku memelas.

“Nggak”katanya sambil tersenyum.

“Uh..”

“Kan yang pas foto di PIR dulu udah ada. Kenapa gak pake yang itu aja?”

Aku tersenyum kecil. Di kepalaku saya membayangkan fisiknya yang agak kecil, berkulit hitam,mengenakan jilbab warna biru kelam.

“ Ha..ha…”tawaku.

“Kenapa ketawa Akhi?”

“Engga, ukhti belum pernah liat fotonya kan?”

“Belum”

“Nah, fotonya itu kan pake kamera poket. Pas suasananya cahaya kurang, malam kan?”

“Terus?”

“Ya..itu. apalagi pake asa 200. Jangankan Ukhti, (menahan senyum,hi..hi…) orang mereka-mereka yang putih aja keliatan item…..(aku gak bisa menahan tawa) apalagi….(Ha..ha…ha…meledaklah tawa kami berdua).”

“Akhiiiiii……”dia juga tertawa meladak.

“Udah ya, Akhi. Segini dulu..Assalamu’alaikum.”

“Waalaikum Salam”

 

 

22 Desember 2003

Saya sudah baca Email dari Akhi. Terimakasih. Ternyata Akhi pandai sekali menulis.Tapi saya tidak tahu harus membalas apa.

Rilek aja. Itu kan Cuma evaluasi rutin, keisengan saya nulis. Ukhti ada aktivitas apa hari ini

Akhi. Apa pendapat akhi terhadap wanita karier. Saya sedang mencoba untuk memasukkan lamaran ke PT Kab Farma.

Memangnya? Saya sadar kalau biaya hidup tidak cukup seandainya disangga sama saya seorang. Asalkan, keluarga tetap menjadi prioritas dan suami dihargai sebagai kepala keluarga.

Terimakasih akhi. Ternyata baru beberapa hari tarbiyah Akhi sudah bisa menjadi qowwam yang baik. Saya tahu, saya harus belajar menjadi istri yang baik.

Oke. Ukhti bisa memasak? Seleranya masakan pedas? Asin dll?

Wah..tidak bisa memasak. Gak mahir, kecuali masakan sehari-hari. Selera masakan saya pedas tetapi tidak suka asin.

Bagus. Saya suka asin tetapi tidak bisa pedas. Terus saya akan mengajari Ukhti untuk bisa memasak kue, donat, kemudian daging dll.

Eh, akhi. Kalo taaruf, ngobrolnya jangan banyak-banyak. Entar pas nikah ga ada bahan yang mo diobrolin.

Ya…wiss..wassalam. Padahal kan sekarang ga termasuk taaruf.

 

24 Desember 2003

Aww.Akhi aktifitasnya hari ini apa. Saya sedang membaca koran dan siroh.

Www.Seperti biasa. Cek komputer, servis komputer dll. Apa kabar Ukhti?

Alhamdulillah. Baik. Akhi, apabila nanti saya bekerja di Jakarta bagaimana?

Saya akan berusaha

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments